37

926 Words
           “Lihat siapa yang datang! Penulis terkenal kita!”           Zoe tertawa mendengar teriakan Sue dan berlari menghampiri sahabatnya itu. Mereka berpelukan dengan erat. Rasanya sudah sangat lama mereka tidak bertemu meski kenyataanya bahkan hanya kurang dari satu minggu.           Mary bergabung dengan mereka dan mereka bertiga duduk di lantai studio tari sambil memakan pizza yang Zoe bawa. Hari ini sebenarnya tidak ada kelas menari, tetapi Zoe meminta mereka berdua datang. Ia sangat merindukan kedua orang itu.           “Jadi Hiraeth akan difilmkan juga?” Sue bertanya seraya menggigit besar-besar pizzanya.           Zoe mengangguk. Itu kejutan untuknya. Myra menelpon dan berkata bahwa novel itu juga dilirik produser Hollywood bahkan sebelum film dari novel pertamanya dirilis. Baginya itu terasa seperti gambling. Bagaimana jila film sebelumnya tidak laku di pasaran? Bukankah seharusnya mereka melihat dulu bagaimana reaksi publik baru memutuskan untuk membuat kontrak untuk ceritanya yang lain?           Namun tentu saja Myra berhasil meyakinkannya bahwa filmnya akan sukses di pasaran. Mendebat Myra untuk sesuatu yang sangat ia yakini seperti menunggu babi terbang. Myra tidak akan pernah mengalah. Wanita itu bahkan memaksanya segera pulang ke New York untuk menandatangani kontraknya. Dan kebetulan ada perwakilan dari Juilliard yang harus ia temui, maka mau tidak mau ia harus meninggalkan Ana.           “Apa si seksi Lord Byron Moreau lagi yang akan menjadi Ned? Ya Tuhan, ceritakan padaku bagaimana seksinya dia, Zoe!!” Mary mengguncang-guncangkan tubuhnya dengan heboh.           Byron. Dia belum mengabari pria itu jika dia pulang. Seharusnya jadwal syuting Byron sudah selesai dan pria itu sudah pulang ke Sault. Byron mungkin akan marah karena ia pergi tanpa bilang apa-apa.           “Dia tidak seksi.” Zoe meraih satu potong pizza dan menggigitnya. Memejamkan mata saat keju yang lembut itu lumer di mulutnya.           “Kau pasti buta! Kau harus melihat film-film yang pernah ia mainkan, Zoe! Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkan dipeluk d**a bidang itu.” Kali ini giliran Sue yang berkomentar.           Dirinya bisa. Pelukan Byron adalah pelukan ternyaman kedua yang ia rasakan setelah pelukan Zac. Tangannya yang kuat akan menyelubungi tubuh Zoe bagai kungkungan baja. Harum tubuhnya menghipnotis indra penciuman Zoe seperti heroin. Tidak akan ada satu gadis pun yang menolak dipeluk oleh Byron.           “Aku tidak perlu melihat filmnya untuk tahu jika dia seksi.”           Sejujurnya, Zoe sudah menonton semua film Byron. Dan pada akhirnya ia tahu kenapa para wanita tergila-gila padanya. Hampir di semua filmnya, Byron selalu berperan sebagai pria macho dan gentleman. Chemistry yamg ia bangun dengan lawan mainnya pun selalu luar biasa kuat. Byron pasti akan bisa mengalahkan pesona Pierre Brosnan nantinya.           “Apa dia sombong? Biasanya artis-artis tidak mau bicara dengan orang biasa. Dan saat ia ke sini, tampaknya kalian sudah kenal akrab.” Mata Mary menatapnya dengan curiga.           Yah, dirinya berhutang penjelasan tentang itu pada Sue dan Mary. Akan tetapi, apa yang bisa ia katakan pada mereka? Bahwa kini ia adalah kekasih dari pria pujaan mereka itu? Apa mereka akan percaya?           “Lihat, katanya Byron berpacaran dengan Dominique Lively. Mereka terpergok berpelukan usai syuting di Paris.”           Mary mengulurkan ponselnya kepada Sue, tetapi Zoe merebutnya secepat kilat bahkan tanpa ia sadari. Matanya membaca dengan cepat kolom gosip itu lengkap dengan foto mereka berdua yang tengah berpelukan sambil tertawa riang. Di keterangannya bahkan Aaron membenarkan jika mereka memiliki hubungan khusus. b******k! Apa-apaan ini?           “Zoe? Kau baik-baik? Wajahmu merah.”           Kepala Zoe terangkat dari layar dan ia bertemu dengan tatapan dua sahabatnya yang melihatnya dengan bingung. Oh, bagus! Dirinya cemburu di depan dua sahabatnya! Ini kebodohan besar karena ia tidak bisa mengendalikan emosinya.           Zoe mengembalikan ponsel Mary dan meminum kopinya dengan gugup. Kedua gadis itu masih menatapnya. Menunggu penjelasannya.           “Aku sudah curiga saat dia tiba-tiba datang kemari,” Sue berbicara, “dan sekarang saat melihat reaksimu tentang gosip itu, aku bisa menyimpulkan satu hal.”           Zoe mengerang dan melempar sisa pizzanya ke kardus. Perutnya terasa mual karena, mau tidak mau, ia harus mengatakan yang sebenarnya pada kedua gadis ini.           “Kau berpacaran dengan Byron ‘kan?” Tatapan Sue tampak menyelidik.           Sue adalah salah satu orang yang sangat mengenal baik dirinya selain Zac. Mereka sudah bersahabat sejak mereka masih sangat kecil. Sue tinggal tidak jauh dari rumahnya di East Hampton. Bahkan ketika Zoe berhenti kuliah dan mengalami saat-saat buruk itu, Sue selalu ada di sampingnya. Sue adalah salah satu orang yang membuatnya bisa seperti sekarang ini. Dan Zoe tidak pernah bisa berbohong pada Sue.           Dengan sangat pelan, Zoe mengangguk dan tidak berani lagi mengangkat kepalanya. Teriakan histeris Sue dan Mary-lah yang membuat kepalanya terangkat. Kedua gadis itu memekik dan menghujaninya dengan pelukan. Mau tidak mau Zoe tertawa melihat reaksi kedua sahabatnya itu.           “Gila!! Novelmu difilmkan untuk pertama kalinya dan kau langsung menjadi kekasih pemeran utamanya? Ini benar-benar gilaaa, Zoe!!”           Zoe memutar bola mata mendengar ucapan Mary itu. “Aku mengenalnya sebelum aku tahu dia adalah Lord Byron yang kalian puja itu.”           “Ceritakan pada kami!!!” Sue melonjak-lonjak dari duduknya.           Pada akhirnya, yang terjadi adalah Zoe sibuk 'mendongeng' pada kedua gadis itu yang tidak henti-hentinya berdecak. Saat akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, langit sudah mulai gelap. Zoe tersenyum saat melambai pada Mary dan Sue. Rasanya sudah sangat lama ia tidak tertawa sebanyak ini.           Hari benar-benar sudah malam saat dia sampai di rumah. Zoe menatap rumah yang Byron sewa dan tersenyum. Pria itu menjaganya tanpa pernah ia tahu dan menurutnya itu sangat manis sekali.           Hah! Manis. Byron pasti akan tertawa jika menyebut pria itu manis.           Zoe membuka pintu rumahnya sambil masih tersenyum. Ya Tuhan, dia begitu merindukan Byron. Rasanya ia ingin cepat-cepat kembali ke Sault dan bertemu dengan pria itu. Ia akan segera membereskan urusan kontrak ini dan terbang ke Sault. Besok, ia akan mengurusnya dengan Mary. Sekarang, ia hanya ingin tidur. Namun tiba-tiba, ia mendengar suara menakutkan itu dari dalam rumahnya yang gelap. “Welcome home, Zoellina.” Dan Zoe tahu, mimpi buruknya telah kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD