36

819 Words
           Ana cemberut mendengar permintaan Byron dan menggeleng dengan tegas. “Tidak. Aku tidak akan pergi dari rumah ini sampai aku mati, Byron.”           “Mom ...”           “Kau boleh pulang ke New York, tetapi aku tidak akan ke mana-mana.” Ana berbalik dan kembali masuk ke dapur.             Byron menghela napas lelah. Ia sudah menduga akan mendapati jawaban seperti ini dari Ana. Ana jauh lebih mencintai Sault daripada tanah kelahirannya sendiri.           “Mom, aku ... Di mana Zoe?” Tanyanya heran saat mendapati di dapur hanya ada ibunya. Biasanya gadis itu akan menemani Ana di dapur.           “Hai, Byron!” Zac masuk ke dapur melewati pintu kasa yang ada di dapur. Di tangannya, Zac membawa beberapa batang lavender yang masih segar. Ana biasa menghias rumah mereka dengan bunga lavender yang masih segar.           Byron menunggu Zoe menyusul di belakang Zac, tetapi pintu itu tidak terbuka lagi.           “Di mana Zoe?” tanyanya lagi dengan tidak sabar.           “Zoe pulang ke New York kemarin,” jawab Zac seraya meminum kopinya.           “Apa??”           Zoe pulang ke New York? Tetapi kenapa?           “Agennya menelepon. Ada kontrak baru yang harus dia tanda tangani.” Zac menjawab pertanyaan Byron yang tak terucap itu.           “Kontrak?”           Zac mengangguk. “Bukunya akan difilmkan lagi. Tetapi karena dia juga harus segera bertemu dengan produser film ini, maka dia harus pulang. Hanya beberapa hari, Byron. Tenanglah.” Zac mengerling padanya.           Byron duduk di kursi dengan lemas. Tadinya, begitu sampai di rumah, dia berharap bisa memeluk gadis itu malam ini. Byron tidak akan tahan untuk menunggunya beberapa hari lagi. Ya Tuhan, dia sudah menahan rindunya berhari-hari dan sekarang harus menahannya lagi. Sial!           “Susullah dia, Byron.”           Byron menoleh pada Ana. “Tapi, Mom ...”           “Ana aman bersamaku.” Zac memotong perkataannya.           “Kau tidak terbang?”           “Aku mengambil cuti,” Zac menyeringai.           Byron terdiam ragu. Ia memang merindukan Zoe, tetapi ia juga belum ingin meninggalkan ibunya. Ana belum dalam kondisi yang baik untuk ditinggal sendirian.           “Pergilah, Nak. Dia sendirian di sana. Kau kekasihnya, sudah seharusnya kau menemaninya.”           “Kau yakin tidak apa-apa aku tinggal, Mom? Aku ...”           “Kau tidak percaya padaku?” Zac melotot padanya. “Aku memang tidak tidur di sini, tetapi aku hampir seharian di sini. Dan jika kau pergi, aku akan menginap di sini. Aku janji. Aku akan tidur di kamarmu.”           “Istrimu tidak marah?”           Zac mengangkat bahunya. “Dia hampir setiap hari marah. Aku justru heran jika dia tidak marah.”           Byron tertawa seraya menyantap roti yang dihidangkan ibunya.           “Aku beruntung dia tidak menjadi menantuku.”           “Anaaa ...” Zac protes dengan manja membuat Byron kembali tertawa.           “Kau tidak cerdas memilih perempuan, man!”           “Kau juga pernah menjadi kekasihnya!” Zac melotot padanya.           “Aku beruntung ‘kan hanya menjadi kekasihnya dan bukan suaminya. Apalagi aku mendapatkan bidadari sekarang.”           Zac mencibir. “Kalau aku tidak merestuimu?”           “Hell, no! Kau harus merestui kami! Aku akan melamarnya.”           Suara terkesiap Ana dan Zac membuat Byron terkejut. Ia menatap mereka berdua dengan heran.           “Ada apa? Kenapa kalian terkejut begitu? Kalian pikir aku tidak serius dengannya?”           “Byron,” Zac berdeham untuk menghilangkan suara seraknya, “kau ... kalian belum lama saling mengenal. Aku ...”           “Kau tidak mau adikmu mendapatkan suami sepertiku? Aku memang tidak sempurna, Zac. Aku juga sering tidur dengan wanita yang berbeda-beda ...” Byron meringis melihat ibunya melotot. “Itu dulu, Mom. Aku belum tidur dengan siapa-siapa lagi sejak berbulan-bulan lalu.”           Baik Zac maupun Ana tidak juga bersuara. Mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Byron menatap Ana yang tampak gelisah. Jadi ibunya tahu apa yang Zoe sembunyikan? Yang bahkan belum Zoe katakan padanya?           “Byron, aku bahagia kau mencintai adikku dan berniat menikahinya. Kau mendapat restuku bahkan sebelum kau melamar Zoey.”           “Tetapi?”           Zac mengembuskan napas. “Aku tidak yakin dia akan menerima lamaranmu.”           “Karena?”           Otak Byron berputar cepat memikirkan segala macam kemungkinan Zoe menolak lamarannya. Apa gadis itu sebenarnya tidak mencintainya? Atau Zoe tidak pernah ingin menikah? Atau karena dia seorang artis?           “Masalahnya bukan ada padamu, percayalah.” Zac menepuk bahunya. “Aku hanya punya satu permintaan padamu.”           “Apa itu?”           Zac menatap Byron lama seakan tidak ingin mengatakan apa yang ingin ia minta dari Byron.           “Zac?”           “Aku mohon jangan tinggalkan dia.”           “Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? Aku mencintainya, Zac. Aku tidak akan meninggalkannya.”           “Kau yakin?”           Byron mengangguk.           “Bahkan jika dia bukan perawan?”           Byron tertawa sarkatis. Jadi sejak tadi hanya itu yang Zac khawatirkan? Bahwa ia akan pergi hanya karena Zoe sudah tidak perawan? Itu sangat tidak masuk akal.           “Kau konyol, Zac. Jadi sejak tadi kau hanya mengkhawatirkan hal itu?”           “Ada hal lain lagi, tetapi aku tidak bisa mengatakannya padamu. Itu hak Zoey sepenuhnya untuk bilang padamu.”           Byron duduk dengan waspada. Ia mengamati Zac yang ada di hadapannya dengan kewaspadaan yang sama dengan yang ia rasakan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dengan Zoe?           “Apa sesuatu yang buruk, Zac?” Byron berbisik. Apa Zoe mengidap penyakit berbahaya? Kanker? AIDS?           “Nak,” Ana mendekat dan meraih bahunya, “ketika kau mencintai seseorang, apapun kesalahannya atau masa lalunya, tidak akan mengubah perasaanmu padanya. Kau mungkin marah, tetapi hatimu akan selalu peduli. Dan ingatlah, bahwa dalam satu hubungan selalu ada satu orang yang mencintai lebih banyak, peduli lebih banyak, dan memaafkan lebih banyak. Jadilah orang itu, Nak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD