Rasanya Byron ingin segera menyelesaikan syuting dan pulang. Pulang kepada ibunya. Pulang kepada Zoe-nya. Menyenangkan rasanya memikirkan hal itu. Bahwa ada seseorang yang menunggunya di rumah.
Biasanya Byron menikmati pekerjaannya dan tidak terlalu memikirkan kapan itu akan berakhir, tetapi sekarang semua terasa berbeda. Ia sungguh tidak sabar untuk pulang ke rumahnya.
Setelah bertemu Zoe, Byron percaya bahwa seseorang ternyata bisa menjadi 'rumah'. Rumah untuk tempatnya memberikan seluruh hatinya. Home is not just a place, but a feeling. It's just not four walls. It's two eyes and a heartbeat. Dan ia yakin telah menemukan rumahnya. Byron tidak ingin yang lain lagi. Segala yang ia inginkan hanyalah memiliki Zoe selamanya.
Lalu, nikahi dia!
Beberapa hari ini, konsep menikah dengan Zoe selalu memenuhi kepalanya. Tidak ada jalan yang lebih masuk akal selain menikah jika ia ingin memiliki Zoe seutuhnya. Akan tetapi, apa gadis itu bersedia menikah dengannya? Ia bahkan tidak yakin jika Zoe mencintainya sedalam Byron mencintai gadis itu. Zoe belum pernah berkata mencintainya.
Bukan berarti Byron ragu, tetapi ia takut gadis itu terpaksa menerima cintanya. Lebih baik Zoe menolaknya daripada harus berpura-pura mencintainya.
“Sampai jumpa besok, Byron!” Teriakan Domi membuyarkan lamunannya.
Byron melambai dan tersenyum pada gadis itu. Domi telah menjadi partner syuting yang luar biasa untuknya. Chemistry-nya dengan Domi sangat kuat meskipun Domi benar-benar berbeda dengan sosok Nicole yang ada di kepalanya. Dan sepertinya hal itu sudah menimbulkan gosip di luar sana. Kedekatannya dengan Domi banyak disalah artikan oleh media.
Dulu mungkin Byron tidak akan peduli dengan semua gosip tentang dirinya. Namun sekarang ada hati yang harus ia jaga. Ia tidak ingin Zoe berpikiran buruk tentangnya. Oke, dirinya memang bukan orang suci. Hampir setiap malam ia selalu berganti dari satu wanita ke wanita lainnya. Akan tetapi kini, Byron berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah. Ia tidak ingin membuat Zoe kecewa.
“Apa kau akan pulang ke Sault lagi setelah ini?” Aaron duduk di sampingnya setelah menyerahkan satu gelas kopi untuknya.
Besok hari terakhir syuting dan setelah itu ia akan disibukkan dengan promo-promo. Byron tidak yakin ibunya mau ikut dengannya ke New York.
“Ya. Aku akan di rumah sampai kau memanggilku untuk promo.” Byron menatap Aaron dan tersenyum.
Aaron adalah manajer yang luar biasa untuknya. Pekerjaan Aaron tidak pernah membuatnya kecewa.
“Apa rencanamu selanjutnya, Byron?” Tanya Aaron dengan hati-hati.
Byron menunduk memandang gelas plastik yang ada di genggamannya. Sejujurnya, ia sedang menimbang untuk membuat keputusan besar bagi kariernya, tetapi ia belum bisa mengatakannya pada Aaron. Tidak sebelum dia berbicara dengan ibunya.
“Aku harus bicara dulu dengan ibuku, Aaron. Hanya ibuku yang aku punya sekarang.”
Aaron menepuk bahunya. “Aku harap ibumu tetap mendukung kariermu. Kariermu sedang naik, By. Aku yakin tidak lama lagi kau akan lebih berjaya daripada saat ini.”
Tatapan Byron jatuh kepada para kru film yang telah membereskan peralatan syuting. Ia memang menikmati pekerjaannya, tetapi Byron juga tahu ini sama sekali bukan dunia yang ia inginkan untuk terus berada di dalamnya. Industri Hollywood terkenal kejam. Mungkin saat ini dirinya dipuja, tetapi nanti jika ada yang lebih bersinar, ia akan dilupakan begitu saja.
Tentu saja Byron sudah mempersiapkan dirinya untuk 'pensiun'. Tabungan, rumah, tanah, saham, semua sudah ia miliki. Ia tidak akan ragu jika memang harus berhenti berakting. Karena memang, cepat atau lambat, ia harus berhenti berakting.
“Kau mau kembali ke hotel sekarang?” Byron bangkit dari duduknya dan meraih jaketnya.
Aaron menggeleng. “Aku mau berolahraga dulu,” jawabnya sambil menyeringai. “Kau mau ikut? Pria Perancis luar biasa tahu. Aku dengar para wanitanya juga begitu.”
Byron mengangkat alisnya. “Seolah kau tahu bedanya gadis Perancis dan gadis dari negara lain. Tidak. Aku tidak tertarik.”
Aaron mengangkat alisnya. “Karena penulis itu? Katakan padaku, apa dia masih di rumah ibumu? Dia tampak sangat menyayangi ibumu.”
“Ya, dia masih di rumah.”
“Jadi ...” Aaron sengaja menggantung kalimatnya. Matanya menatap Byron dengan curiga
Byron tertawa. “Jadi mulai sekarang, berhenti menawariku gadis-gadis.”
....
Semua kru saling bersorak riang saat pengambilan gambar terakhir sore itu. Mereka saling memeluk dan bersalaman, tidak sabar ingin segera kembali ke rumah mereka di New York.
Byron mencium pipi Domi dan memeluk gadis itu. Mengucapkan terima kasih karena sudah menjadi partner kerja yang luar biasa.
“Kau ikut malam ini?” Tanya Domi saat Byron melepas pelukannya. Malam ini seluruh kru dan pemain akan mengadakan pesta kecil-kecilan di hotel tempat mereka menginap.
“Tidak. Aku akan pulang ke Sault.”
Domi mengangguk mengerti. “Sampaikan salamku untuk ibumu dan Zoe.”
“Tentu. Zoe pasti merindukanmu.”
“Suruh dia meneleponku. Sombong sekali pacarmu itu.” Domi bersungut-sungut, tetapi kemudian tersenyum. “Dia gadis yang menyenangkan. Jangan lepaskan dia.”
“Kau tahu?” Tanya Byron dengan terkejut. Ia sengaja tidak mengumbar hubungan asmaranya. Ia tidak ingin orang-orang tahu dan kehidupan Zoe akan mulai terusik oleh segala macam pemberitaan.
Domi terkikik dan memukul dadanya pelan. “Semua orang juga tahu kau tidak bisa melepaskan matamu dari dia.”
“Aku harap dia tidak membaca gosip tentang kita.”
Domi kembali terkekeh. “Jika dia tidak percaya padamu, suruh dia menemuiku dan bertanya langsung padaku.”
Byron mengacak rambut Domi dan tersenyum. Setelah itu, ia berpamitan pada semua kru dan Aaron. Byron sudah membawa kopernya, ia akan langsung pulang ke Sault.
Ia begitu merindukan Zoe. Komunikasi mereka beberapa hari ini hanya sebatas mengobrol singkat lewat telepon. Syuting benar-benar sibuk karena mereka semua mencoba mengefisienkan waktu. Dua hari terakhir, Byron bahkan belum menelepon Zoe lagi.
Beberapa jam kemudian, Byron sudah berdiri di depan rumah ayahnya. Harum roti yang tengah dipanggang tercium di hidungnya. Meski toko belum buka, Byron senang ibunya menyibukkan diri dengan tetap membuat roti.
“Mom? Aku pulang.” Byron membuka pintu tanpa mengetuk.
“Byron!” Teriak Ana dari dapur dan tidak lama wanita itu muncul dengan apron bunga-bunga yang belepotan tepung menempel di tubuhnya yang mungil.
Byron mencium rambut Ana saat wanita itu memeluknya dengan erat. Ia baru sadar jika dirinya sangat merindukan ibunya. Rasanya Byron tidak ingin melepas pelukan ini selamanya.
“Aku merindukanmu, Mom.”
Biasanya Byron tidak seperti ini. Bahkan saat dirinya terlalu lama tidak pulang ke Sault. Entahlah, setelah kepergian ayahnya, Byron merasa tidak ingin jauh dari ibunya. Ia benar-benar ingin selalu dekat dengan ibunya. Ia takut tidak memiliki waktu lagi seperti apa yang terjadi pada ayahnya.
“Tidak biasanya kau merindukanku,” canda Ana, “kau bahkan baru pergi lima hari lalu. Kau ingat dulu berapa bulan sekali pulang kemari?”
Byron mengangkat bahu dan melepas pelukannya untuk menatap wajah Ana. Meski tidak seperti dulu, Byron bisa melihat sudah ada sedikit perubahan di mata Ana. Mulai ada secercah sinar di sana.
“Aku tidak mau jauh darimu lagi, Mom.”
Satu titik bening bergulir di pipi ibunya. “Aku baik-baik saja, Nak.”
“Mom, aku ingin mengajakmu tinggal di New York. Aku tidak ingin kau tinggal sendirian di sini.”