34

1115 Words
Ana tertawa dan meraih tangannya untuk bangkit. Zoe mengangkat cangkir coklat dengan tangan lainnya dan mengikuti Ana ke ruang keluarga. Ana menyuruhnya duduk di sofa tua yang sangat nyaman dengan banyak bantal dan selimut di atasnya. Beberapa hari di sini, Zoe jadi tahu jika itu sofa favorit Byron sejak pria itu masih kecil.           Kemudian Ana bergabung dengannya membawa lima album foto yang tampak sudah tua.           “Frank dulu suka sekali memotret. Apa saja yang Byron lakukan tidak pernah luput dari lensanya.”           Zoe mengangguk setuju. Rumah ini telah mengatakan segalanya dengan banyaknya foto masa kecil Byron yang terpajang.           “Ini saat dia baru lahir.” Ana menunjuk foto Ana dan Frank dengan bayi yang sangat tampan di antara mereka. “Kami harus menunggu selama tiga tahun sebelum memilikinya. Dia adalah anugrah paling indah untuk kami berdua.”           “Dia tampan sekali.” Zoe tidak bisa menutupi rasa kagum dalam suaranya. Byron kecil tampak begitu tampan dan menggemaskan.           “Dia bayi paling tampan di Sault. Hampir semua orang di sini datang untuk melihatnya. Rumah ini sampai penuh dengan berbagai macam hadiah.”           “Itu karena keluarga kalian orang yang baik.”           Ana mengangkat bahunya. “Aku tidak akan menyangkal itu. Keluarga Frank adalah satu-satunya boulanger di sini, dan mereka benar-benar malaikat. Aku belajar begitu banyak hal bersama mereka. Kau tahu, aku dulu juga sepertimu. Sendirian di tanah asing.”           “Ceritakan padaku!” Zoe berteriak dengan antusias. Kisah cinta orangtua Byron sangat menarik perhatiannya. Ia sangat ingin menuliskan kisah cinta mereka dalam sebuah novel.           “Betul-betul mirip dengan yang kau alami, Nak. Aku tidak tahu jika taksi ataupun bus tidak sampai ke daerah ini. Aku lelah, kotor, dan kelaparan.” Ana tertawa mengenang kembali kisahnya. “Hanya saja, saat itu bukan Frank yang galak padaku tapi Mathilda. Dia benci padaku karena mencuri kakaknya.”           Zoe ikut tertawa. Mathilda, wanita mungil yang sangat enerjik. Zoe bisa membayangkan bagaimana masa mudanya. Wanita itu juga tampak sangat menyayangi Ana sekarang. Ah, seandainya Byron memiliki adik perempuan, Zoe pasti juga akan akrab dengannya.           “Byron bermain boneka?” Zoe menunjuk satu foto anak kecil bersepeda memboncengkan boneka beruang coklat.           “Itu hadiah dari Neneknya. Ibuku memberikan boneka itu hanya tiga hari sebelum ia meninggal dan Byron benar-benar tidak mau berpisah dari boneka itu.”           Zoe sering mendengar hal semacam itu. Tentang seorang anak yang tidak mau berpisah dengan benda kesayangannya. Zoe juga punya satu. Sebuah selimut warna merah muda hadiah ulang tahun dari ayahnya. Dia selalu membawanya ke mana-mana bahkan hingga saat ini.           “Kenapa warna rambut Byron berubah-ubah? Wajahnya saat kecil juga lebih mirip anak Eropa.” Zoe melihat foto lain yang hampir semuanya diambil dengan boneka itu yang selalu ada di dekat Byron.           “Karena itulah dulu kami memanggilnya baby chameleon. Warna rambutnya selalu berubah-ubah. Mungkin itu pengaruh boneka teddynya.”           Mereka berdua terkikik seperti anak remaja.           “Apa Byron masih menyimpannya, Ana?”           “Aku yang menyimpannya. Ayahnya tidak mau dia terus-terusan main boneka. Saat itu dia marah karena Frank menyembunyikan bonekanya. Lihat ekspresinya waktu itu.” Ana menunjuk sebuah foto.           “Ya Tuhan, dia imut sekali!!” Pekik Zoe melihat anak pria berambut agak panjang tanpa baju yang sedang cemberut dan duduk di kursi dengan kaki terangkat. “Apa dia benar-benar  Byron??”           Tangan Zoe gatal ingin membuka plastik pelindung foto itu dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Rambut tebal yang ikal itu tampak begitu lembut dan menggoda untuk disentuh.           Tuhan, dia sangat ingin memiliki duplikat anak kecil ini. Apa jika dirinya dan Byron menikah, mereka bisa memiliki anak selucu ini?           Seolah Byron mau menikahimu saja! Ingat siapa kau sebenarnya.           Tikaman rasa sakit itu terasa tepat di jantungnya. Dirinya sudah berharap terlalu banyak hanya dengan melihat foto masa kecil Byron, dan ia tahu dirinya akan berharap lebih lagi jika tidak mengatakan yang sebenarnya. Zoe harus mengatakannya sebelum ia tidak bisa menguasai hatinya.           “Nak? Kenapa kau menangis?” Suara lembut Ana menghalau lamunannya.           Zoe mengusap pipinya yang basah. “Maaf ... maafkan aku. Aku ...” Zoe menunduk menggigit bibirnya.           “Ada apa?” Ana kembali bertanya dengan lembut.           Mata coklat Ana, yang sangat serupa dengan milik Byron, menatapnya dengan sabar. Bibir Ana menyunggingkan senyum yang keibuan.           “Ana, aku ingin mengakui sesuatu padamu,” akunya dengan gugup. Sebelum Byron tahu, ia harus mengatakannya lebih dulu pada Ana. Sikap Ana setelah ini akan sedikit memberinya petunjuk tentang sikap Byron nantinya.           Ana menunggu dengan sabar sementara Zoe meremas-remas kausnya dengan gugup. Ia merasa seperti berada di tiang gantungan dan harus mengatakan kata terakhirnya.           “Aku ... aku dan Byron ...”           “Tidak usah kau katakan. Aku sudah tahu. Kalian sepasang kekasih sekarang ‘kan?”           Dengan wajah merah padam Zoe mengangguk. “Aku minta maaf. Ini memang bukan waktu yang tepat karena Frank baru saja pergi. Aku ...”           “Itu keinginan Frank, Sayang. Sejak bertemu denganmu, dia selalu berkata padaku jika dia ingin kau yang menjadi menantunya.”           “Tetapi, Ana, aku ...” Zoe menarik napas dalam-dalam untuk mencari kekuatan. “Ada sesuatu yang harus aku beritahu padamu.”           Rasanya sulit sekali mengatakannya, tetapi Zoe tahu ia harus segera mengatakannya atau ia tidak akan memiliki keberanian lagi.           “Ada yang harus kau ketahui tentang aku.”           Dan pengakuan itu meluncur bak air bah. Air mata Zoe tak terbendung lagi saat ia mengutarakan saat kelam dalam hidupnya itu. Sepanjang bercerita, Zoe tidak berani mengangkat wajahnya. Meskipun kedua tangan Ana menggenggam erat tangannya, ia takut untuk menatap Ana. Ana pasti menganggapnya kotor.           “Oh, Sayang.” Ana memeluknya dengan erat dan Zoe menangis tersedu-sedu di d**a Ana.           Dulu, Zoe berharap bisa memeluk ibunya saat peristiwa itu terjadi. Namun, ibunya tidak pernah bisa memeluknya seperti ini. Dan kini, akhirnya ia bisa merasakan lagi pelukan seorang ibu meski bukan dari ibunya.           Jujur saja, reaksi Ana membuatnya terkejut. Ia pikir Ana akan memandangnya dengan jijik dan mengusirnya. Mengutukinya dan melarangnya bertemu lagi dengan Byron.           “Byron sudah tahu tentang ini?”           Zoe menggeleng tanpa berani mengangkat kepalanya. “Aku ... aku takut dia...”           “Takut dia akan meninggalkanmu?”           Zoe mengangguk. “Aku jatuh cinta padanya, Ana. Aku tidak akan sanggup lagi jika dia pergi.”           Ana meregangkan tubuhnya dan meraih wajahnya. Wanita itu menatapnya masih dengan tatapan yang sama. Tidak ada kesinisan ataupun rasa jijik yang coba Ana sembunyikan.           “Dia tidak akan ke mana-mana, Zoe. Dia mencintaimu.”           “Bagaimana kau bisa yakin?”           “Aku mengenal anakku. Dia berbeda semenjak bertemu denganmu, dan dia bahagia. Dia tidak akan meninggalkanmu.”           Zoe ingin percaya, tetapi ia takut. Ia takut melambungkan harapannya dan pada akhirnya harapan itu harus kandas. Rasanya akan lebih menyakitkan. Bahkan mungkin akan seribu kali lebih sakit. Dan jika Byron memintanya untuk pergi, ia yakin akan bisa menemukan tempat untuk bersembunyi. Namun sebelum itu terjadi, ia hanya ingin dicintai oleh Byron. Setidaknya, nanti ia bisa hidup dengan kenangan itu. Kenangan bahwa Byron pernah mencintainya.           “Ana, aku mohon jangan katakan apapun pada Byron. Aku ... aku belum siap dia ...”           “Tetapi berjanjilah kau akan jujur padanya nanti.”           Zoe menatap Ana dan mengangguk. Ia pasti akan menceritakan semuanya pada Byron nanti saat dirinya telah siap. Saat ia merasa siap untuk ditinggalkan. Nanti. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD