“Jadi kalian berkencan sekarang?”
Pertanyaan Zac itu menimbulkan semburat merah di pipi Zoe dalam seketika. Zoe memilih untuk tidak menjawabnya dan tetap asyik dengan kegiatan menulis novelnya. Tangannya menari lincah di atas keyboard seakan pertanyaan Zac tidak menimbulkan efek apapun untuknya. Walaupun kenyataannya sangat berbanding terbalik. Ia merasa gugup.
Berkencan? Ia masih agak sulit menerima kenyataan itu. Bukan berarti ia tidak bahagia. Bukan. Zoe bahagia. Sangat bahagia. Hanya saja, ganjalan itu masih ada. Semua tentang masa lalunya yang tidak Byron ketahui. Dan ia merasa bersalah karenanya.
Zoe tahu jika Byron tahu ia menyimpan rahasia dari masa lalunya, tetapi ia juga tahu Byron memilih untuk tidak bertanya. Dan itu hanya membuat Zoe semakin merasa bersalah. Hati nuraninya terus menerus memaksanya untuk berkata yang sejujurnya pada Byron. Sebelum semua terlalu jauh. Sebelum ia terlalu dalam mencintai Byron.
“Kau sudah bilang padanya?” Tanya Zac lagi setelah tidak ada jawaban apapun dari Zoe.
Zoe menggeleng. Ia tidak berani menatap Zac karena kakaknya itu pasti akan marah padanya. Suasana hening, yang terasa sangat menegangkan untuk Zoe. Mata Zoe beralih dari layar laptop dan menatap hamparan lavender di hadapannya. Mereka berdua sedang duduk di halaman belakang rumah Byron. Ana sedang beristirahat di kamarnya dan Byron berangkat ke Paris kemarin.
“Kau tahu apa akibatnya jika kau tidak jujur pada Byron?” Tanya Zac lagi.
Zoe mengangguk. Byron akan langsung meninggalkannya begitu tahu yang sebenarnya. Dan ia akan kehilangan pria itu juga Ana. Ya Tuhan, sanggupkah ia kehilangan Ana? Wanita itu sudah seperti seorang ibu untuknya. Zoe merasa Tuhan memberinya kesempatan kedua saat ia bertemu Ana. Apakah ia bisa menjalani lagi kehidupan lamanya tanpa Ana?
“Byron berhak tahu yang sebenarnya, Zoey.”
Zoe menghela napas. “Aku tahu. Aku akan bilang padanya, tetapi tidak sekarang, Zac. Aku belum siap.” Zoe berbisik di akhir kalimatnya.
“Kau pengecut, Zoe!” Zac berdiri dan meninggalkannya sendirian di halaman.
Zoe menegakkan kepalanya, menolak untuk menangis. Ia tidak peduli apa yang Zac katakan karena Zac tidak tahu bagaimana menjadi dirinya. Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi dirinya.
Menjadi seorang gadis yang ternoda dan dijauhi teman-temannya karena hal itu. Tidak ada orangtua yang mau anaknya berteman dengan Zoe. Bahkan orangtua pria b******n itu menuduhnya telah merayu putra mereka. Semua orang menuduhnya p*****r. Semua orang mengganggap bahwa dialah yang memulai semua kejadian itu.
Apa salah jika sekarang Zoe ingin merasakan sedikit kebahagiaan itu sebelum Byron tahu dan meninggalkannya? Ia juga ingin merasakan memiliki seorang kekasih. Seorang kekasih yang mencintainya.
Sebuah tangan melingkar di bahunya dengan lembut dan Zoe mengerjap untuk mengusir air mata yang sudah menggenang. Ana duduk di sampingnya setelah meletakkan secangkir coklat panas di hadapan Zoe.
“Kau bertengkar dengan kakakmu?”
Zoe menoleh pada Ana dan tersenyum. “Pertengkaran antar saudara. Kau pasti pernah mengalaminya bersama Roberto kan?”
Ana tertawa kecil. Matanya menerawang menatap semak di hadapannya. Zoe mengamati wanita itu dengan seksama. Beberapa hari setelah kepergian suaminya, Ana terlihat begitu berbeda. Wajah cerianya masih belum kembali, matanya masih tidak bersinar dan tampak begitu lelah. Zoe tahu Ana sering berpura-pura tidur saat malam dan menangis sendirian saat wanita itu pikir Zoe sudah tertidur.
Ia sering terbangun dan mendapati Ana terisak di sampingnya atau di kursi panjang di dekat ranjang. Zoe ingin bangun dan memeluk Ana, tetapi ia tahu Ana tidak membutuhkannya. Wanita itu merindukan suaminya. Sama seperti dulu yang selalu Zoe lakukan karena merindukan orangtuanya.
“Satu hal yang selalu aku rindukan setelah aku pergi dari rumah adalah bertengkar dengan kakak atau adik-adikku.”
Itu juga satu hal yang Zoe rindukan. Namun untuk pertengkaran konyol mereka. Bukan pertengkaran seperti yang baru saja ia dan Zac ributkan.
“Sayang sekali Byron tidak pernah memiliki kesempatan itu,” lanjut Ana lagi.
“Kenapa kau dan Frank tidak memberikan dia adik?” Tanya Zoe penasaran. Meski orangtuanya terlahir sebagai anak tunggal, ia beruntung bisa memiliki saudara.
Ana menoleh padanya. “Aku tidak bisa hamil lagi setelah melahirkan Byron.” Mata Ana berkilauan oleh air mata. “Rahimku harus diangkat karena ada masalah.”
“Oh, Ana, maafkan aku.” Zoe memeluk bahu Ana dengan menyesal. Seharusnya ia tidak bertanya. Itu pasti akan membuat Ana mengingat lagi sakitnya.
“Tidak apa-apa. Aku cukup bahagia dengan hanya memiliki Byron. Dia anak yang sangat manis hingga aku sendiri juga tidak pernah berpikir untuk memberikannya seorang adik.”
“Dia tidak pernah memintanya pada kalian?” Zoe membayangkan Byron kecil yang bersikap manis dan tidak pernah menuntut apapun pada orangtuanya. Anak itu pasti manis sekali.
“Pernah satu kali, ketika adik Lena lahir. Tetapi ayahnya bilang, aku tidak bisa hamil lagi karena aku sakit. Byron menangis dan memelukku. Dia bilang dia tidak ingin seorang adik. Dia hanya ingin aku sehat,” suara Ana berubah serak karena air mata.
“Berapa usia Byron saat itu?”
“Lima tahun.”
Ah, Zoe benar-benar penasaran seperti apa Byron saat kecil dulu.
“Apa kau punya foto Byron saat masih kecil, Ana?”