Kehadiran Zoe sungguh seperti oase di tengah gurun pasir. Byron tidak pernah menyangka jika ibunya akan bisa sedikit ceria lagi bahkan hanya dalam waktu kurang dari tiga hari. Gadis itu pastilah memang benar malaikat.
Ana tidak pernah mau jauh dari Zoe dan meminta gadis itu tidur bersamanya. Bibi Mathilda dan saudara Ana yang lain telah pulang kemarin ke negara mereka masing-masing. Hanya tinggal Zoe di rumah ini yang menemani Ana.
Sekarang, lagi-lagi Byron dihadapkan pada pemandangan paling indah yang pernah ia lihat di dapur ibunya. Dua wanita yang sangat ia cintai itu sedang asyik memanggang roti. Byron pikir, masih akan sangat lama sebelum ibunya mau memanggang roti lagi.
Ana mengajari Zoe apa-apa saja yang harus ia lakukan saat membuat roti. Dan Byron bisa melihat secercah sinar di mata Ana yang kemarin sempat hilang. Kehadiran Zoe telah mengurangi sedikit kesedihan Ana.
Jika sudah seperti ini, Byron sangat ingin menikahi Zoe. Satu gagasan yang dulu tidak pernah ia pikirkan setelah Lena membuangnya. Dirinya tidak pernah berniat menikah sesudah masa itu. Namun kini ia beruntung karena Lena telah 'menendangnya' sehingga akhirnya dia bertemu Zoe. Malaikatnya.
Byron masuk ke dapur dan memeluk pinggang Ana. “Selamat pagi, Mom,” sapanya seraya mencium pipi Ana.
Ana menoleh dan balas mencium pipinya. “Tidurmu nyenyak, Sayang?”
Byron mengangguk dan melepas pelukannya. Kini, ia berbalik ke arah Zoe. Namun, seolah tahu jika Byron akan menciumnya, gadis itu melotot lebih dulu. Byron tidak peduli, ia mencuri satu ciuman cepat dari bibir Zoe dan menyingkir sebelum gadis itu memukulnya dengan kayu penggiling adonan.
“Kau yakin tidak melupakan sesuatu pada rotimu, Zoe?” Byron menyeringai seraya menunjuk adonan roti Zoe dengan dagunya.
Zoe memandangi rotinya dan menggeleng. “Aku sudah memasukkan semua bahan dan mencampurnya seperti yang Ana bilang.”
“Kau yakin, Sayang? Coba ingat-ingat lagi.” Byron meminum kopi yang ia yakin pasti milik Zoe. Ibunya tidak minum kopi.
“Ana, aku sudah memasukkan semuanya ‘kan?”
“Berhenti menggodanya, Anak nakal!” Ana memukul lengan Byron dengan tangan yang berlumuran tepung. “Semua sudah kau masukkan, Sayang. Panggang rotimu sekarang.”
Tawa Byron meledak saat lagi-lagi mata Zoe melotot padanya. Menyenangkan sekali mengganggu Zoe yang tengah asyik bekerja seperti ini. Ia membayangkan menggoda Zoe seperti ini setiap hari di rumahnya sendiri. Rumah mereka. Rasanya pasti akan ...
“Zoey, aku mau kopi!”
Teriakan itu membuyarkan lamunan Byron. Zac masuk ke dapur dengan setelan olahraganya. Tubuhnya bersimbah keringat.
“Memangnya istrimu tidak bisa membuat kopi sehingga kau harus meminta kopi di rumahku?”
Zac melotot pada Byron. “Istriku masih tidur.”
Byron kembali terbahak-bahak. Tentu saja ia tidak serius menanyakan hal itu. Ia senang Zac kemari untuk mengunjungi Zoe dan juga ibunya. Byron hanya tidak menyangka Zac akan menjawabnya dengan serius.
“Berikan juice, Zoe, jangan kopi.” Saran Ana sebelum Zoe meraih cangkir kopi.
“Ana ...” Zac mencoba protes.
“Kau akan mendapat kopimu nanti setelah sarapan.”
“Yes, Ma'am,” ujar Zac dengan pasrah.
“Serius istrimu masih tidur, Zac?” Tanya Zoe saat ia menyerahkan segelas orange juice pada kakaknya.
Zac mengangkat bahu. “Dia tidur di rumah besar dan aku tidur di kamarku,” jawab Zac tanpa mencoba menutupi yang sebenarnya.
Lagi-lagi Byron bersyukur dalam hati, bukan dirinya yang menjadi suami Lena. Ia pasti akan mati muda jika memiliki istri seperti Lena. Beda ceritanya jika ia memiliki istri seperti Zoe.
Gadis itu pasti akan sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuknya dengan rambut yang berantakan karena percintaan mereka pada malam sebelumnya. Lalu kaki Zoe yang telanjang akan menari-nari sembari membuat pancake. Lalu ...
“Berhenti memandangi adikku seperti itu!”
Peringatan itu tidak terdengar mengancam, mungkin memang hanya gurauan, tetapi tetap membuat Byron menggerutu dan mengalihkan pandangannya dari Zoe dengan enggan. Ia melotot pada Zac yang menyeringai menatapnya.
“Kapan kau berangkat ke Paris?”
“Besok malam.” Byron mengembuskan napas. “Aku benar-benar tidak ingin pergi.”
Ana menghentikan kegiatannya menggulung adonan roti dan menoleh padanya. “Aku akan baik-baik saja, Nak,” bisik Ana dengan lembut.
Ya, Byron tahu ibunya akan baik-baik saja dengan Zoe di sini, tetapi memang dirinya yang tidak ingin pergi. Sekarang, ia hanya tinggal memiliki ibunya, rasanya Byron ingin setiap saat berada dekat dengan wanita itu. Ia takut ibunya akan pergi dari sisinya secepat ayahnya pergi.
“Oh, anakku sayang.” Ana mendekat dan memeluk Byron dengan erat.
Byron memejamkan mata dan menghirup aroma tubuh ibunya. Berjuang mati-matian agar dirinya tidak menangis. Karena itulah ia tidak mengatakan apapun karena takut akan menangis jika ia mengucapkan satu patah kata.
Satu tangan mungil yang bisa dipastikan itu milik Zoe, bergabung dalam pelukannya. Dan tepukan kuat di bahu Byron menegaskan bahwa Zac juga ada di sisinya.
“Jangan khawatir, Byron, aku akan menemani Ana di sini. Aku mendapat jatah libur sepuluh hari dari maskapai.”
“Dan aku mendapat jatah libur tak terbatas. Ana akan aman di tangan kami.”
Byron membuka matanya dan langsung berhadapan dengan sepasang wajah kakak beradik itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengungkapkan terima kasihnya pada mereka berdua. Dua orang asing yang dalam sekejap menjadi orang yang teramat penting dalam hidupnya. Sungguh, ia beruntung mengenal mereka berdua. Sangat beruntung.