31

992 Words
           Byron tahu jika ini bukan saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya pada Zoe. Namun, dirinya juga tahu jika tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk mereka berdua berbicara. Dirinya akan pergi ke Paris tiga hari lagi, dan Zoe akan lebih memilih menemani Ana daripada harus pergi berdua dengannya. Atau yang lebih buruk, Zoe akan menghindarinya. Lagi.           Entah apa yang merasukinya hingga ia nekat mengucapkannya sekarang. Mungkin karena ciuman mereka. Mungkin karena Zoe terlalu mempengaruhinya. Atau mungkin karena dirinya sudah gila. Tergila-gila pada Zoe lebih tepatnya.           “Byron, aku ...”           Satu jari Byron membungkam bibir gadis itu. Zoe masih berdiri di antara kedua pahanya dengan satu tangan Byron yang melingkari tubuh Zoe seperti capit kepiting raksasa. Ia tidak ingin Zoe pergi dari sisinya. Rasanya sangat menyenangkan dan menenangkan memiliki gadis itu dalam pelukannya. Seolah ia telah menemukan rumahnya untuk pulang.           Ini aneh. Sangat aneh. Dirinya dan Zoe belum mengenal terlalu lama. Satu bulan? Dua bulan? Sungguh mengherankan ia bisa jatuh cinta secepat ini pada Zoe.           “Please, Zoe, aku benar-benar mencintaimu.”           Mata bulat Zoe mengerjap seakan mencari celah pada wajah Byron yang bisa mengungkapkan bahwa dirinya tidak serius dengan perkataannya. Namun Byron yakin, Zoe tidak akan menemukan itu karena ia sangat serius dengan gadis ini.           Zoe tersenyum dan entah mengapa perut Byron terasa tergelitik oleh senyum itu. Inikah yang sering para gadis-gadis katakan tentang ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perut mereka? Byron tidak menyangka jika ia akan pernah mengalami hal ini, tetapi memang dia merasakannya. Mereka tidak pernah sedekat ini sebelumnya. Zoe selalu menjaga jarak. Sekarang pun gadis itu menjaga jarak, hanya saja Byron tahu ia sudah bisa meruntuhkan sedikit dinding pembatas itu.           “Kau pasti kelelahan hingga meracau seperti ini. Sebaiknya kau istirahat,” ucap Zoe masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.           Byron menggeleng dengan tegas. “Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Kau tidak percaya ‘kan? Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau percaya.”           Mata Zoe berkaca-kaca menatapnya. Gadis itu tampak begitu tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Hal itu menimbulkan rasa nyeri di dalam hati Byron. Sebenarnya apa yang terjadi pada Zoe hingga ia seperti ini?           “Byron,” isak Zoe lirih, “kau tidak ... kau tidak tahu apa yang kau ucapkan. Aku ...”           “Aku tahu apa yang aku inginkan. Aku ingin bersamamu. Selamanya kalau bisa.”           Satu titik air mata lolos di pipi Zoe. Gadis itu menunduk untuk menghindari mata Byron, tetapi Byron lebih dulu merangkum wajahnya dan mengusap lembut pipi Zoe. Gadis itu tergugu dan Byron meraih tubuh Zoe dengan pelan kemudian melingkupi Zoe dengan pelukannya yang hangat.           Tubuhnya terasa sangat damai. Ini bukanlah mimpi yang selalu dialaminya setiap malam. Saat ia mendambakan tubuh hangat Zoe dalam pelukannya. Ini nyata dan ia benar-benar memeluk Zoe. Zoe-nya.           “Kau pasti akan menyesal nanti. Masih banyak gadis di luar sana yang menginginkanmu.” Gadis itu memainkan jemarinya membentuk pola-pola lingkaran di d**a Byron.           Byron tertawa kecil. “Tetapi aku hanya menginginkanmu, Sayang.”           “Jika nanti Zac bercerai dengan Lena, kau pasti akan berlari pada wanita ular itu dan meninggalkanku.”           Kali ini Byron melepas pelukannya dan meregangkan tubuh Zoe untuk melihat wajah gadis itu. “Mereka benar-benar akan bercerai?”           Zoe mengangguk dengan masam. “Lena sudah tidak tahan hidup dengan Zac yang lebih sering terbang daripada di rumah. Dia bilang, dia membenci bayi itu. Zac sangat marah dan bertekad mengasuh anak itu sendirian. Lagipula, mereka juga tidak sangat saling mencintai.”           “Kasihan Zac.” Byron kembali memeluk Zoe, masih tidak ingin melepasnya. Dalam hati ia bersyukur bukan dirinya yang mengalami itu. Dirinya mungkin tidak akan sekuat Zac jika hal yang sama menimpanya.           “Kau belum menjawab pertanyaanku.”           Byron terkekeh dan mencium kening Zoe. “Tidak. Aku tidak akan berlari padanya.”           “Kau yakin?” Suara Zoe terdengar sangat ragu.           Byron mengangguk dengan mantap. “Ada pertanyaan lain yang ingin kau tanyakan? Atau kita bisa resmi berkencan sekarang?”           “Byron, apa ini tidak terlalu cepat? Ayahmu baru saja meninggal. Kau masih dalam suasana berduka. Dan aku ...”           “Ayahku akan senang melihat kita bersama, Sayang.”           Frank tidak pernah menyukai Lena. Bahkan dulu saat Lena masih seorang gadis baik-baik yang belum menjelma menjadi wanita ular. Frank bahkan selalu berkata dengan terang-terangan agar dirinya mencari gadis lain yang lebih baik dari Lena. Padahal, saat itu, di mata Byron, Lena adalah gadis terbaik untuknya.           Zoe menghela napas. “Satu pertanyaan lagi.”           Byron memutar bola matanya tetapi menunggu satu pertanyaan terakhir yang akan Zoe ucapkan.           “Kau tahu di mana aku tinggal?”           Byron mengangguk. Mengerti sepenuhnya ke arah mana pertanyaan itu mengarah. Zoe gadis yang cerdas, ia pasti pintar menghubung-hubungkan sesuatu.           “Apa kau yang menyewa rumah kosong yang ada di sebelah rumahku?”           “Itu lebih dari satu pertanyaan, Sayang.”           “Jawab saja atau aku pergi sekarang.”           Oh Tuhan, sejak kapan gadis ini menjadi seorang pemaksa?           “Iya, Miss Miller. Aku yang menyewa rumah kosong di sebelah rumahmu. Aku yang selalu mengawasimu dari rumahku. Melihatmu asyik menulis novel di kamarmu atau berbaring di halaman belakang. Kau sangat seksi dengan kamisol birumu itu.”           Seperti tebakan Byron, gadis itu melotot. Hampir murka lebih tepatnya, tetapi pada akhirnya sorot mata itu melembut. Byron tidak tahan untuk tersenyum dan mengecup bibir Zoe. Gadis ini tampak sangat menggemaskan.           “Kenapa kau menyewa rumah itu?”           Byron tergelak dan mencubit hidung Zoe. Gadis itu menepis tangannya dan kembali melotot lalu mengusap-usap hidungnya.           “Kau terlalu banyak bertanya. Kita masih punya banyak waktu. Jadi kita berkencan sekarang?”           Zoe mengangkat bahunya. “Terserah kau saja.”           Byron tahu, masih ada keraguan di sana. Sangat tahu. Zoe menyembunyikan sesuatu darinya. Namun ia tidak akan memaksa Zoe untuk bercerita karena itu bukan urusannya. Bukan berarti Byron tidak peduli. Byron peduli. Sangat peduli. Akan tetapi itu hak Zoe sepenuhnya untuk bercerita padanya atau tidak.           Sebuah luka tetaplah sebuah luka. Mungkin ia bisa sembuh, tetapi akan selalu ada bekas yang tertinggal. Dan jelas, bekas itu akan selalu menjadi semacam peringatan untuk masa depan yang dijalaninya. Ia hanya ingin melangkah di samping Zoe dan membalut luka itu sedikit demi sedikit.           Yang penting baginya sekarang adalah Zoe sudah mau membuka sedikit hatinya. Untuk yang lainnya, itu bisa menunggu. Dan ia akan sanggup menunggu. Selama apapun itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD