30

802 Words
                Zoe melirik Byron yang menikmati kopinya. Ia merasa gugup. Ada banyak hal yang ingin ia katakan pada Byron, tetapi bibirnya seolah tersumbat.           “Byron?” panggil Zoe pelan.           Byron mengangkat kepalanya yang menunduk. “Ya?”           “Apa ... apa ...” Zoe menyadari suaranya serak dan dia berdeham pelan. “Apa rencanamu selanjutnya setelah ayahmu meninggal?”           Dalam hati, Zoe sedikit kesal tetapi juga lega dengan pertanyaan yang ia ucapkan. Tadinya, ia ingin bertanya apa Byron akan menjalin hubungan lagi dengan Lena jika wanita itu telah bercerai dari Zac. Akan tetapi, hal itu hanya akan membuat Byron menduga perasaannya untuk pria itu. Zoe tidak mau itu terjadi.           Byron menggeleng. “Aku belum tahu. Aku tidak bisa meninggalkan ibuku sendirian di sini. Tetapi aku juga tahu ibuku tidak akan pernah mau pergi ke Amerika.” Byron menghela napas lelah. “Aaron memberiku waktu tiga hari dan aku harus kembali menyelesaikan syuting film kita.”           Ada rasa hangat menelusup d**a Zoe saat mendengar Byron mengucapkan kata 'kita', meski Zoe tahu itu tidak berarti apa-apa untuk Byron.           “Apa tidak bisa lebih lama lagi waktu untukmu berkabung?”           Zoe ingat, dulu dirinya dan Zac hampir tiga minggu penuh tidak keluar rumah.           “Biaya akan semakin membengkak, Zoe. Mungkin jika syuting hanya dilakukan di New York saja, aku bisa meminta cuti dan beristirahat sedikit lebih lama. Tetapi untuk ini tidak.” Byron menghela napas panjang. “Aku tidak khawatir harus bekerja kembali. Aku hanya mengkhawatirkan ibuku.”           Kembali mereka saling terdiam selama beberapa saat. Byron memutar-mutar cangkir kopi di tangannya, sementara Zoe melipat-lipat serbet meja.           “Aku akan menemani Ana di sini sementara kau pergi ke Paris.”           Byron menatapnya dengan kaget. “Tidak, Zoe, kau tidak perlu melakukan itu. Bibi Mathilda bisa menemani ibuku. Kau ...”           “Aku memaksa, Byron. Aku akan di sini.”           “Tetapi kau juga harus ada di sana ‘kan? Kau penulisnya. Kau harus ...”           Byron menghentikan perkataannya saat melihat Zoe menggeleng.           “Kau dan Domi sudah sangat mendalami karakter kalian. Aku tidak dibutuhkan lagi di sana.”           Meskipun ia sangat ingin melihat Byron berakting, tetapi ia bisa menahannya. Ana butuh seorang teman di sisinya. Lagipula, ia masih bisa melihat akting Byron nanti saat filmnya telah selesai dibuat.           “Tetapi ...”           “Aku tidak ingin melihatmu mati.” Zoe melotot agar Byron tidak lagi membantahnya.           Byron tersenyum padanya. “Kalau kau tidak suka melihat John mati, kenapa kau tidak membuat akhir yang bahagia untuk mereka berdua?” Tanya Byron dengan penasaran.           Ini dia. Pertanyaan yang selalu diajukan setiap orang yang telah membaca bukunya. Kenapa dirinya tidak pernah membuat akhir yang bahagia untuk kedua tokoh utamanya.           “Konsep happily ever after itu tidak pernah ada, Byron. Bahkan untuk dua orang yang saling mencintai. Hal-hal seperti itu hanya ada dalam dunia dongeng bukan dunia kita.”           Byron menatapnya lekat seolah mencerna setiap kata yang ia ucapkan. Pipi Zoe kembali terasa panas sehingga ia harus menunduk untuk menyembunyikan ronanya.           “Zoe?”           Zoe mengangkat wajahnya.           “Kenapa kau begitu tidak percaya dengan cinta?”           Mata Zoe terpaku pada mata Byron saat pria itu bertanya. Byron mengamatinya dengan lekat seakan ingin mengetahui apa yang Zoe telah sembunyikan. Zoe sangat ingin berkata jujur pada Byron, tetapi ia takut Byron akan menjauh darinya. Ia sudah banyak kehilangan 'teman' setelah peristiwa itu terjadi. Ia tidak ingin Byron pergi. Tidak di saat ia mulai nyaman berada dekat dengan pria itu.           “Karena bahagia selamanya itu konyol. Tidak ada hidup yang hanya berisi kebahagiaan. Kau sudah mengalaminya sendiri ‘kan? Lena meninggalkanmu. Ayahmu baru saja meninggal. Apalagi? Pasti masih banyak kekecewaan yang kau rasakan ‘kan?”           Sungguh, Zoe tidak ingin berbicara dengan kasar seperti itu, tetapi ia tidak mampu mengontrol nada sarkatisnya. Setiap bicara masalah bahagia, hatinya selalu hancur mengingat apa yang dialaminya dulu. Zoe mengerjap-ngerjap untuk menahan air matanya menetes keluar.           “Siapa, Zoe?”           “Maaf?”           “Siapa yang telah melukai hatimu hingga sedalam itu?”           Semua pertanyaan itu hanya berupa bisikan, tetapi menampar Zoe sama kerasnya dengan sebuah teriakan. Byron tahu dirinya 'bermasalah' dan pria itu ingin tahu lebih dalam lagi. Tidak. Byron tidak boleh tahu.           “Aku lelah. Aku akan ke kamar.”           Zoe melempar serbet yang dipegangnya ke counter dan hendak berbalik pergi sebelum Byron meraih tangannya dan mengurungnya dalam kukungan tangan pria itu. Zoe berdiri di antara kedua kaki Byron yang terbuka dan tangan pria itu melingkari punggungnya dengan posesif.           “Byron ...”           Tepat saat mulutnya terbuka, mulut Byron membungkamnya dengan ciuman panas. Lidah pria itu mendesak masuk dan mencecapnya dengan rakus. Kedua tangan Byron mengeratkan pelukannya dan membawa tubuh Zoe menempel semakin erat ke tubuh pria itu. Zoe meleleh saat merasakan ciuman itu semakin dalam. Dia yakin akan terjatuh jika tubuh Byron tidak menahan tubuhnya. Kedua tangan Zoe meremas paha Byron dan pria itu mengerang di dalam mulutnya.           Ya Tuhan, Zoe tidak pernah berciuman dengan pria hingga seintim ini. Dan rasanya ... rasanya begitu ... nikmat.           Byron melepas ciumannya dan mereka berdua terengah-engah. Mereka saling berpacu untuk menghirup oksigen. Byron menempelkan dahinya di dahi Zoe dan kedua tangannya merangkum pipi Zoe.           “Zoe, aku ... aku .. .mencintaimu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD