29

1050 Words
           Melihat Byron menangis rasanya membuat Zoe kembali merasakan luka hatinya sendiri. Ia tahu apa yang Byron rasakan karena ia sendiri juga pernah mengalaminya. Berpura-pura kuat di depan orang lain hanya untuk menyembunyikan kepedihan hatinya sendiri.           Keinginan untuk terus memeluk Byron terasa begitu kuat. Byron sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya dan pria itu butuh tempat untuk bersandar. Dan yang Zoe lihat, tidak ada orang lain di sekitar pria itu yang bisa. Oke, mungkin mereka bisa, tetapi bahkan hati Zoe tahu siapa yang Byron inginkan untuk berada di sisinya.           Setelah hari ini, Zoe tahu ia tidak akan bisa menghindar lagi. Ketertarikan itu terasa semakin kuat justru di saat ia melihat titik terlemah Byron. Zoe tahu, cepat atau lambat ia akan jatuh cinta pada pria itu. Bahkan mungkin, saat ini hal itu sudah terjadi.           Zoe sangat ingin bertindak egois untuk satu kali ini saja. Membiarkan hatinya jatuh untuk Byron dan mungkin memiliki hubungan 'lebih' dengan pria itu. Byron tidak perlu tahu masa lalunya dan ia bisa menyimpannya untuk dirinya sendiri. Toh bukan hal aneh jika dirinya sudah tidak perawan. Hampir semua gadis Amerika di atas usia tujuh belas tahun sudah tidak perawan. Byron pasti tidak akan curiga padanya. Lagipula, pria itu juga pasti sudah memiliki banyak hubungan seks sebelumnya. Tidak akan ada salah satu pihak yang merasa dirugikan.           Tetapi Byron berhak tahu yang sebenarnya.           Benar. Zoe tidak bisa membohongi Byron. Dan karena ia tidak akan mengatakan apapun tentang masa lalunya pada Byron, itu berarti tidak akan ada masa depan untuk mereka berdua. Mereka akan selamanya seperti ini. Berhubungan tanpa status. Atau mungkin mereka bisa mulai menjadi teman. Ia bisa bersikap layaknya seorang teman yang baik mesti itu berisiko akan menyakitkan hatinya lebih dalam. Namun itu lebih baik. Setidaknya Byron dekat dengannya.           Seorang teman yang bisa menjadi tempat Byron berkeluh kesah atau bercerita saat filmnya sukses. Atau saat pria itu patah hati. Atau saat Byron bertemu gadis yang membuatnya jatuh cinta lagi. Zoe mengernyit. Sanggupkah ia dengan bagian itu?           “Zoellina Miller, back to earth!”           Bisikan tajam itu membuat Zoe tergagap, dan Zac mengguncang bahunya. Astaga, bagaimana bisa ia melamun sepanjang misa berlangsung! Ia menoleh pada Zac yang menatapnya dan tertunduk malu.           “Kau yakin bisa menemani Ana ke pemakaman? Tampaknya kau kelelahan.” Zac berbisik padanya.           “Aku baik-baik saja, Zac.” Zoe tersenyum pada Zac dan mendekati Ana yang berada di dekat peti jenazah. Byron berada di samping Ana dan memeluk bahu ibunya dengan protektif.           Ia menepuk bahu Byron pelan dan berdiri di sisi tubuh lain Ana. Satu tangan Ana meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Zoe melirik Byron. Pria itu sudah tampak sedikit lebih baik. Yah, sangat sedikit. Masih akan butuh waktu lama sebelum mereka berdua betul-betul baik saja. Dirinya dan Zac butuh waktu hampir lima tahun penuh untuk kembali seperti semula. Zoe harap, Ana dan Byron tidak butuh waktu selama itu.           Pemakaman Frank dihadiri begitu banyak orang. Frank benar-benar adalah pria yang sangat baik sehingga banyak orang yang merasa kehilangan. Dan Zoe tahu, meskipun sudah tiada, kebaikan Frank akan selalu dikenang. Pria rendah hati, dermawan, dan periang. Itulah Frank di mata orang-orang yang mengenalnya. Zoe beruntung bisa mengenalnya meski hanya sebentar.           Tangis Ana kembali pecah saat peti suaminya dimasukkan ke liang kubur. Zoe memeluk wanita itu dengan erat tanpa mencoba untuk menghalau air matanya sendiri. Ia juga sama seperti Byron, tidak ingin menangis, tetapi ia tidak bisa. Ia sudah merindukan senyum Frank. Kenapa Frank harus pergi secepat ini? Di saat ia baru saja kembali menemukan figure seorang ayah. Byron terlihat tegar meski air mata juga menetes di pipinya. Zac berdiri di samping pria itu, menepuk bahunya pelan untuk memberi Byron sedikit semangat. Dan Lena, yah, wanita itu juga ada di sana, di samping Zac. Dia sempat melotot pada Zoe yang memeluk Ana. Mungkin wanita itu berharap jika dirinya yang ada di posisi Zoe saat ini.           “Tidurlah, Ana. Kau tampak lelah.” Saran Zoe saat mereka kembali ke rumah.           “Betul kata gadis ini, Sissy. Kau sudah berhari-hari tidak tidur dengan nyenyak.” Adik kandung Ana, Roberto, menyarankan hal yang sama.           Ana mengangguk dan pergi ke kamarnya tanpa bicara apa-apa. Sejak kematian Frank, Ana berbicara sedikit sekali. Zoe pergi ke dapur dan mulai membereskan dapur. Karena banyak saudara Ana dan Frank yang datang, dapur penuh dengan berbagai makanan yang mereka bawa maupun yang mereka pesan. Semua orang tampaknya ingin beristirahat hari ini jadi tidak ada yang membersihkan dapur.           “Zoe?”           Zoe tersenyum mendengar kembali nada memanggil dengan bertanya itu. Ia menoleh dan mendapati Byron berdiri di ambang dapur. Pria itu sudah mengganti jasnya dengan kaus lengan panjang warna hitam yang digulung sampai ke siku dan celana jeans warna putih. Byron belum bercukur dan rambutnya tampak berantakan.      ”Kenapa kau bersih-bersih? Kau seharusnya istirahat.” Byron melangkah mendekatinya dan mengamatinya yang tengah membersihkan meja dapur. “Aku bisa memanggil jasa bersih-bersih nanti.”           “Tidak apa-apa. Aku sudah hampir selesai. Kau mau makan? Ada pizza dan casserole di kulkas.”           Byron menggeleng dan duduk di kursi tinggi. “Aku mau kopi.”           “As your wish, My Lord.” Zoe membungkuk layaknya pelayan dan ia mendengar Byron terkekeh. Tawa pertama pria itu.           Mereka terdiam selama beberapa saat, tetapi Zoe tahu dengan indera keenamnya bahwa Byron tengah mengamati dirinya. Hal itu membuat pipinya bersemu merah. Secara tidak kentara, ia menunduk untuk mengamati penampilannya. Hari ini ia hanya mengenakan blus warna abu-abu tua dan celana hitam. Tidak ada yang istimewa. Seharusnya tadi Zoe memakai rok.           “Di mana Zac?” Tanya Byron memecah keheningan.           Rumah benar-benar sunyi karena tidak ada satu manusia pun yang berkeliaran. Beberapa saudara Byron menginap di rumah orangtua Frank yang tidak jauh dari sini. Rumah itu lebih besar dari rumah ini dan memiliki banyak kamar.           Zoe mengangkat bahunya dan menyerahkan cangkir kopi Byron. “Mungkin di rumah istrinya.”           Byron mengangkat alis dari balik cangkir yang tengah berada di bibirnya. Oh, sial, seharusnya Zoe memotretnya! Byron sangat seksi saat sedang seperti itu.           “Tidak usah sinis begitu. Mereka kan memang masih suami istri.”           Zoe memutar bola matanya. ”Masih!” Ulangnya dengan sinis hingga membuat Byron tertawa.           “Kau benar-benar tidak sabar mendengar Zac menyandang status duda ya?”           Zoe mengangguk. “Dan menunggu saat wanita ular itu pergi dari hidup kakakku.” Dan hidupmu.            Byron kembali terkekeh. Ia tampak tidak terganggu dengan pembicaraan ini. Tidak seperti dulu saat keningya selalu berkerut jika mendengar nama Lena disebutkan. Apa itu artinya Lena sudah tidak memiliki arti apa-apa di hidup Byron? Atau pria itu sedang berakting dan berpura-pura bahwa ia tidak peduli?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD