Di kamarnya, Byron hanya duduk di ranjang. Matanya menatap kosong ke arah jendela kamar yang terbuka. Angin mengetuk-ngetukkan daun jendela ke tembok. Suara itu lebih baik daripada kesunyian yang ia rasakan. Kenangan-kenangan masa kecil bersama ayahnya berlarian di benaknya.
“Dad, yakin kau akan menjadi orang besar satu hari nanti, Nak.” Frank mengusap
Kepala Byron dengan penuh kasih sayang.
“Apa aku nanti akan menjadi raksasa, Dad?” Byron yang saat itu baru berusia enam tahun bertanya dengan lugu.
Tawa ayahnya meledak dan terdengar membahana di dapur ruang keluarga mereka. Ana sedang sibuk dengan kegiatannya di dapur. Aroma roti yang baru keluar dari pandangan tercium harum oleh hidung mereka.
“Bukan itu, Mon fils.[1] Kau akan menjadi orang hebat.”
“Lebih hebat darimu, Dad?”
“Bien sûr![2] Pasti lebih hebat dari Dad, Nak. Dan nanti, tugasmu adalah membahagiakan ibumu jika kau sudah besar.”
“Aku juga akan membahagiakanmu, Dad.”
Frank tersenyum dan mencium keningnya dengan sayang. “Kebahagiaanku adalah melihat kalian berdua bahagia.”
Leher Byron terasa sakit karena desakan rintihan yang ingin ia keluarkan untuk meminta ayahnya kembali. Namun lagi-lagi Byron menahannya. Ia menolak dengan keras untuk menangis. Ia tidak boleh menangis.
Byron tidak tahu sudah berapa lama ia duduk diam karena kini langit sudah gelap dan udara dingin mulai terasa di wajahnya. Ia tidak ingin bangkit untuk menutup jendela atau menghidupkan lampu. Ia ingin tetap seperti ini.
Ia mendengar pintu kamarnya terbuka dan menutup pelan, tetapi tidak ingin memalingkan wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Mungkin Bibi Mathilda atau Paman Arthur. Atau saudara sepupu Byron dari Brazil.
Orang itu duduk di sampingnya. Tubuhnya begitu harum dan orang ini jelas bukan paman atau bibinya. Ia mengenali harum tubuh ini. Zoe! Ya Tuhan, ini Zoe!
“Kau bisa sakit jika duduk di depan jendela seperti ini sepanjang malam.”
Byron ingin menoleh, tetapi lehernya mendadak kaku. Ia takut ini mimpi. Mungkin saja ia sudah tertidur tanpa sadar dan memimpikan Zoe berada di sampingnya.
“Aku baru saja pulang bermain saat telepon di rumahku berbunyi.” Zoe kembali membuka suara saat Byron tidak sanggup bersuara bahkan untuk menyapanya.
Zoe ingin bercerita saat orangtuanya meninggal. Byron tetap terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Zoe.
“Ayah dan ibuku pergi menghadiri wisuda kelulusan Zac, jadi tidak ada siapa-siapa di rumah. Aku pikir itu telepon dari maskapai mencari ayah. Atau dari Nyonya Hest yang ingin berbagi gosip dengan ibu. Atau dari seorang gadis tetangga yang sedang naksir Zac.”
Suara gadis itu bergetar. Byron ingin menggenggam tangan Zoe, tetapi ia tidak mampu bergerak sedikit pun. Tubuhnya masih sekaku papan.
“Tetapi ternyata, itu telepon dari orang yang tidak pernah ingin aku dengar seumur hidupku. Mereka bilang Mom dan Dad mengalami kecelakaan dan aku harus ke rumah sakit. Aku berteriak marah padanya karena telah membohongiku, tetapi dia bilang jika dia tidak berbohong.”
Kepala Byron mendadak pening. Saat itu Zoe pasti masih seorang gadis kecil. Dengan siapa ia pergi ke rumah sakit?
“Lalu tiba-tiba Zac pulang. Dia masih memakai toga.” Zoe melanjutkan monolognya. “Dia menyeretku ke garasi dan mendudukkanku di mobil Mom. Dia tidak bilang apa-apa, tetapi wajahnya merah padam. Dia menyetir seperti orang gila. Aku takut kami juga akan mengalami kecelakaan saat itu.”
Byron menghela napas dan memejamkan mata. Udara di sekitarnya terasa berat seiring desakan air matanya yang semakin menguat. Cerita Zoe telah membuka bendungan itu sedikit demi sedikit.
“Saat kami sampai di sana, ayah dan ibuku sudah terbujur kaku. Zac berteriak dan menangis. Memohon mereka untuk membuka matanya dan kembali pada kami. Dad berjanji akan mengajak kami ke Miami. Mom berjanji akan mengajariku berdandan jika aku sudah masuk SHS nanti. Apalagi pagi itu aku baru saja mengalami fase pertamaku sebagai gadis remaja. Zac menjerit-jerit menyuruh dokter membangunkan mereka.” Suara Zoe mulai dipenuhi air mata. “Tetapi mereka tidak akan pernah bangun lagi. Dad tidak akan pernah mengajariku berdansa waltz lagi. Mom tidak akan pernah memanggang kue untukku lagi.”
“Lalu ...” Byron berbisik dengan serak, “kau ... apa yang kau lakukan?” Sungguh, mengucapkan beberapa patah kata itu terasa seperti menelan bongkahan batu. Lehernya semakin terasa sakit.
“Aku duduk memeluk Zac yang menangis di lantai rumah sakit. Aku juga ingin menangis, tetapi tidak ada yang memelukku. Nanti siapa yang akan menenangkan kami jika aku menangis? Aku harus kuat di depan Zac. Hanya aku yang dia punya.”
Lalu Zoe meraih tangan Byron dan menggenggamnya. “Byron,” bisiknya dengan lembut, “aku berharap hari itu ada yang mengatakan ini padaku, menangislah sepuasmu, aku di sini memelukmu.”
Satu bulir air jatuh di pipi Byron diikuti bulir lainnya.
“Setelah ini, kau harus menjadi lebih kuat untuk orang-orang yang kau sayangi.”
Suara Zoe seolah terdengar dari tempat yang sangat jauh. Perlahan tangan kecil itu meraih bahunya dan isakan pertama keluar dari mulut Byron. Isakan penuh derita yang sejak kemarin ia tahan. Zoe mengusap punggungnya dengan lembut dan berbisik, ”tidak apa-apa. Pria juga boleh menangis. Tidak usah ditahan.”
Mereka berdua berpelukan dalam kegelapan kamar Byron. Angin berembus semakin dingin dan Byron merasa mereka berdua menggigil. Dia melepas pelukan Zoe dan ganti mendekap erat gadis itu di dadanya. Bibirnya menciumi rambut Zoe seraya mengucapkan terima kasih. Byron bisa merasakan Zoe tersenyum di dadanya.
“Tidurlah, Byron. Besok kita akan mengadakan misa pagi-pagi. Semua keluargamu sudah berkumpul.” Zoe menepuk d**a Byron pelan dan melepas tubuhnya dari pelukan Byron.
“Aku tidak ingin tidur.”
“Tidur, Anak bandel. Atau aku akan memukulmu.”
“Kau mau ke mana?”
“Menemani Ana. Dia juga harus istirahat.” Zoe mulai bangkit dari duduknya.
“Zoe?” Bisik Byron sebelum gadis itu mencapai pintu.
“Hmm?” Zoe menoleh.
“Apa kau ini malaikat?”
Tawa renyah Zoe terdengar begitu merdu di telinga Byron bagai lonceng Natal yang berbunyi riang.
“I'm your fairy godmother.”
Dan untuk pertama kalinya sejak dua hari kemarin, sebuah senyum tersungging di bibir Byron. Kau malaikat hidupku, Zoe.
[1] Anakku
[2] Tentu saja