Ini pastilah mimpi buruk. Byron ingin bangun dan melihat bahwa ayahnya baik-baik saja. Atau akan ada kamera di salah satu sudut rumah, kemudian ayahnya akan terbangun dari tidur dan tertawa lalu memeluknya seperti biasa. Akan tetapi ini bukan mimpi. Ini kenyataan dan ayahnya tidak akan pernah terbangun lagi.
Byron mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis karena tidak ingin membuat ibunya semakin hancur. Sudah cukup buruk Ana harus berpisah dengan Frank secara tiba-tiba. Ia tidak ingin menambah luka hati ibunya dengan melihatnya menangis meraung-raung. Meski sebenarnya ia ingin.
Kenapa Tuhan begitu cepat memanggil ayahnya? Ia belum bisa melihat senyum bahagia Frank saat menyaksikan film terbarunya meledak di pasaran. Saat ia menerima penghargaan. Saat ia menikah. Saat ia memberikan cucu pertama bagi ayahnya.
Byron mendongak dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia belum tidur sejak kemarin malam. Byron tidak bisa tidur di pesawat karena ia terlalu takut untuk melihat wajah kaku ayahnya. Ana menangis tersedu-sedu di pelukannya dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain memeluk wanita itu tanpa bicara apa-apa. Byron mengurus semuanya mulai dari keperluan di rumah sakit hingga membawa jenazah ayahnya pulang.
Ana tidak pernah mau jauh dari Frank dan Byron tidak berusaha untuk meminta ibunya pergi. Ia tahu Ana sedang mempersiapkan diri untuk perpisahan yang sebenarnya. Dan itu menambah luka di hati Byron. Senyum ibunya tidak akan pernah sama lagi setelah ini.
Ayah dan ibunya adalah satu dari sedikit pasangan yang tidak pernah terpisahkan. Frank jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ana. Seorang gadis Brazil pemberani yang menjelajah Eropa seorang diri. Cinta mereka sangat kuat meski terhalang perbedaan budaya yang sangat kental. Mereka sering bertengkar tentu saja, tetapi hal itu tidak pernah mengurangi cinta mereka berdua.
Dan Byron tahu dengan sangat yakin jika kepergian ayahnya ini akan mengubah hidup ibunya. Dirinya hanya berharap semoga itu tidak berarti buruk. Bahkan mungkin hidupnya juga akan berubah.
“Byron.”
Byron menoleh mendengar suara lembut itu. Ia bangkit dan memeluk Bibi Mathilda dengan erat. Bibi Mathilda adalah satu-satunya adik ayahnya yang kini tinggal di London bersama suami dan anak-anaknya. Wanita itu menangis tersedu di dadanya. Dan lagi-lagi, Byron hanya bisa memeluk wanita itu dalam diam.
“Bibi, tolong kau temani Mom. Keluarga dari Brazil baru akan sampai di sini malam ini.”
Wanita itu mengangguk dan mengusap pipi Byron pelan lalu berlalu menemui Ana. Byron mengamati kedua wanita itu berpelukan dan saling menangis. Ia memalingkan wajah untuk menghalau air matanya yang sudah mengambang di pelupuk mata.
“Byron! Oh, Byron! Aku turut berduka! Kau baik-baik saja ‘kan??”
Suara berisik itu tiba-tiba menembus keheningan rumah dan Lena muncul seraya memeluknya erat. Wanita itu terisak di dadanya. Byron menyingkirkan tangan Lena dari pinggangnya dan mundur satu langkah untuk melepaskan wanita itu. Semua orang menatap mereka dengan berbisik-bisik.
“Aku minta maaf baru sempat datang. Tadi pagi aku muntah-muntah karena bayi si... karena bayi ini.”
Byron mundur lagi saat Lena hendak menyentuhnya kembali. “Mana suamimu?” Tukasnya dengan tajam.
“Di Italia.”
Byron mengangguk. “Kalau kau memang datang untuk berduka, lebih baik kau menemui ibuku.”
“Byron! Kau ...” Lena menutup mulutnya saat sadar dirinya telah memekik keras. “Kau ...”
“Byron.” Suara Zac memutus ucapan Lena. Pria itu melangkah melewati istrinya dan memeluk Byron sekilas seraya menepuk bahunya. “Aku ikut berduka untuk Frank.”
Byron mengerjap dan mengangguk. “Terima kasih, Zac,” bisiknya dengan lirih. “Kapan kau pulang?”
Zac menolehkan kepala ke koper yang ia letakkan di ambang pintu. “Aku baru sampai. Zoey sedang dalam perjalanan.”
“Untuk apa dia kemari?” Sengit Lena dengan kasar.
Zac menoleh pada istrinya tetapi tidak mengatakan apa-apa. “Aku temui Ana dulu,” ucap Zac pada Byron disambut Byron dengan anggukan.
Lena mencibir melihatnya. “Kau lihat ‘kan? Dia tidak menghargai aku sebagai istrinya. Aku tidak ...”
“Itu karena kau tidak menghargainya sebagai seorang suami.” Byron meninggalkan Lena untuk menyusul Zac menemani ibunya. Ia tidak ingin mendengar omong kosong Lena sekarang.
“Byron, istirahatlah. Kau kelelahan.”
Byron menolak usul Zac dengan menggeleng. Ia duduk di samping Bibi Mathilda karena Zac sudah duduk di sisi lain Ana. Zac memeluk bahu Ana dengan sayang dan wanita itu bersandar di d**a Zac.
“Tidurlah, Byron. Mom tahu kau belum tidur sejak entah kapan.” Suara Ana terdengar serak karena terlalu banyak menangis.
“Kau juga belum tidur,” protesnya.
Bibi Mathilda tertawa kecil dan meraih bahu Byron. “Sini, tidur di bahu bibi Mathilda seperti dulu.”
Byron tidak ingin tidur, tetapi ia menuruti saran bibinya itu dan bersandar di bahu Bibi Mathilda. Wanita itu memeluknya seperti saat ia masih kecil. Bibi Mathilda beraroma seperti ayahnya. Dan itu membuat d**a Byron sesak karena ia sangat ingin menangis. Byron melepaskan bibinya dan bangkit dari duduknya.
“Aku ke kamar sebentar,” katanya tanpa menoleh. Ia hampir tidak bisa menahan air matanya saat ini dan itu tidak boleh terjadi. Ia tidak akan menangis di depan ibunya.