25

923 Words
           Suara pintu yang terbanting dengan keras dan mobil yang melesat tak sabar itu membuat Zoe terbangun. Ia mengerjapkan mata dan menatap kegelapan di sekelilingnya. Matanya melirik warna hijau jam mejanya yang menunjuk bahwa ini masih tengah malam. Siapa yang pergi tengah malam begini?           Dengan sedikit menaikkan kepalanya, Zoe mengintip melalui jendela rendah yang persis di sebelah ranjangnya. Rumah di sebelah, yang tadinya gelap sekarang tampak ada lampu yang menyala. Jelas pemilik rumah itu baru saja pulang. Atau baru saja pergi? Dan jika melihat tidak tampak mobil yang ada di depan rumah itu, jelas orang yang baru saja keluar adalah pemilik rumah itu.           Sudah satu bulan ini, rumah milik keluarga Sullivan itu terisi. Keluarga kecil itu pindah ke Florida dan rumah mereka disewakan. Namun hingga saat ini, Zoe belum mengetahui siapa yang menempati rumah itu. Tampaknya si penyewa bukanlah sebuah keluarga karena Zoe hampir tidak pernah mendapati aktivitas di rumah itu. Mungkin penyewa rumah itu memang orang yang sangat sibuk sehingga tidak pernah ada waktu untuk di rumah.           Zoe kembali berbaring dan mencoba untuk memejamkan mata, tetapi tidak juga terpejam. Tiba-tiba saja ia merasa gelisah meskipun tidak tahu apa sebabnya. Sepertinya ada hal buruk yang telah terjadi. Tetapi apa?           Tangan Zoe meraba-raba meja di samping tempat tidur dan meraih ponselnya. Ia memeriksa pesan terakhirnya dengan Zac beberapa jam yang lalu. Zac sedang berada di Italia dan baru akan pulang dua hari lagi.           Zac?           Hanya itu. Zoe tidak ingin mengetikkan kata terlalu banyak karena ia tidak ingin Zac tahu bahwa ia khawatir. Entah pada apa.           Yes, Rabbit? Kau belum tidur?           Mau tidak mau, Zoe mendesah lega membaca balasan dari Zac. Kakaknya baik-baik saja di Italia.           Baru mau. Aku baru saja menulis novelku.           Gadis bandel, tidurlah! Nanti kau sakit.           Air mata Zoe merebak membaca pesan terakhir Zac. Dia tahu bagaimana Zac mencintainya dan itu membuatnya terharu. Zac adalah pria yang sangat mencintai keluarga dan kakaknya itu pasti akan menjadi seorang ayah dan suami yang hebat seandainya istrinya bukanlah seorang penyihir berwajah cantik seperti Lena.           Saat kakaknya itu pulang, Zac tidak menampik bahwa rumah tangganya yang baru seumur jagung itu tidak harmonis. Lena terus menerus menyalahkan Zac karena kehamilannya. Wanita itu bahkan sudah berkata ingin bercerai begitu anak mereka lahir. Sebenarnya terbuat dari apakah hati wanita itu? Atau justru dulu Tuhan lupa memberikan hati untuknya hingga ia menjadi wanita yang sangat kejam? Apa sebenarnya yang membuat Zac dan Byron jatuh cinta pada iblis berwujud wanita itu?           Byron.           Zoe menghela napas lelah dan memejamkan matanya. Pria itu selalu hadir di kepalanya. Setiap saat. Mereka dekat, tetapi terasa jauh. Byron tidak pernah bicara lagi padanya semenjak hari itu. Kecuali tentang peran yang tengah dilakoninya sebagai John. Dan tebakan Mary seratus persen benar. Byron sangat pantas menjadi John. Lebih dari pantas. Rasanya seolah dulu Zoe membayangkan Byron saat menulis itu meskipun mereka belum pernah bertemu saat itu.           Dengan gusar, Zoe menyibak selimutnya dan bangkit dari tempat tidur. Ia yakin tidak akan bisa tidur lagi setelah ini. Entah mengapa ia masih merasa gelisah.           Zoe duduk di kursi kayu, kursi semenjak dirinya masih kecil, dan menyalakan laptop yang terbuka di atas meja. Dia sedang menulis cerita baru. Cerita tentang dua saudara yatim piatu yang harus pergi dari rumah peninggalan orangtuanya karena orangtuanya meninggalkan banyak hutang. Zoe bergidik sendiri saat ide menulis cerita itu datang. Beruntung ayah dan ibunya tidak meninggalkan hutang dan malah meninggalkan warisan yang cukup untuknya dan Zac.           Hingga pagi menjelang, Zoe akhirnya menyelesaikan dua bagian ceritanya. Ia menguap dan mematikan laptop seraya menyeret kakinya ke dapur. Kopi. Ia butuh kopi. Hari ini ia tidak ada kelas menari, karena itulah ia akan berada di tempat syuting seharian. Zoe suka melihat Byron berakting. Pria itu benar-benar memukau. Pantas banyak wanita tergila-gila padanya.           Termasuk dirimu.           Zoe menggeram pada dirinya sendiri dan meminum kopinya. Ia tidak tergila-gila pada Byron dan tidak akan pernah. Pria itu tidak pernah mendekatinya bahkan ketika mereka hanya berjarak beberapa inci. Kadang, Zoe sering mendapati Byron menatapnya, tetapi hanya itu. Mata mereka akan bertemu sesaat sebelum akhirnya Byron mengalihkan pandangannya.           Mungkin ini gila karena ia menginginkan Byron untuk mendekatinya lagi. Ia sendiri yang telah melemparkan pria itu untuk menjauh. Bahkan mungkin Zoe sudah menginjak-injak harga diri pria itu. Tidak mungkin Byron mau bersikap baik padanya lagi. Akan tetapi ini juga yang terbaik untuknya karena Byron menjauh. Byron pantas mendapatkan seorang wanita yang jauh lebih baik daripada dirinya.           Zoe membuang kopinya ke wastafel dan mencuci cangkirnya. Ia masuk kembali ke kamarnya dan mandi dengan cepat. Ia sangat ingin melihat Byron. Setiap hari, ia pergi ke tempat syuting lebih dulu sebelum ke studio hanya untuk bisa melihat pria itu. Kemarin, seharusnya ia melihat adegan saat John berpisah dengan Nicole karena itu menjadi titik balik yang penting pada hubungan John dan Nicole. Akan tetapi ia mendadak harus ke studio. Ada tamu penting dari Juilliard yang ingin bertemu dengannya.           Dua setengah jam kemudian, mobil Zoe sudah berada di tengah kepadatan kota Manhattan.  Hari ini adalah syuting terakhir di New York sebelum mereka akan terbang ke Paris beberapa hari lagi. Lokasi syuting sudah tampak sibuk, tetapi Zoe tidak melihat Byron di manapun. Manajer pria itu, yang pagi ini tampak muram, sedang berbincang serius dengan sutradara.           “Pagi, Andy!” Zoe duduk di samping Mandy, makeup artist, yang tengah merias Domi, sang aktris utama.           “Hai, Zoey! Apa yang terjadi dengan matamu? Kau bertukar kantong mata dengan Panda?”           Zoe terkekeh dan meraih script yang tergeletak di samping Domi.           “Byron tidak datang,” ucap Domi padanya.           Mata Zoe terangkat dari script yang tengah dibacanya. “Kenapa?”           “Dia harus pulang ke Perancis. Ayahnya meninggal pagi ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD