24

1501 Words
Semua kembali seperti dahulu saat di mana belum ada Zoe dalam hidupnya dan Byron menikmatinya. Atau setidaknya, mencoba untuk menikmatinya. Zoe sangat dekat tetapi terasa jauh. Byron bisa melihatnya tertawa, bisa melihatnya tersenyum dan bercanda, tetapi hanya itu. Melihatnya dari jauh.           Kebersamaan mereka selama syuting sudah berlangsung hampir satu bulan. Mereka kadang berbicara jika Zoe merasa Byron kurang menjiwai atau ada yang salah dengan peran yang ia mainkan. Namun di luar itu, mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Dan memang seperti itulah mereka. Orang asing.           Dua orang asing yang pernah berbagi tawa bersama meskipun sangat singkat. Dua orang asing yang pernah merasakan percikan rasa dari ciuman yang mereka bagi. Dan kini semua itu menghilang. Setidaknya untuk Zoe karena Byron tidak pernah bisa melupakannya.           Sebagai penulis, Zoe memang diharapkan berada di lokasi syuting untuk membantu para pemain menyelami karakternya. Meski tidak setiap hari datang, tetapi Zoe selalu menyempatkan diri sebisa mungkin. Dan itu seperti sebuah kado natal bagi Byron. Satu hal yang selalu diinginkannya.           Sejak terakhir kali bertemu, mereka belum berbicara lagi secara personal. Tentang kabar yang muncul di koran waktu itu, beritanya perlahan meredup karena mereka memang tidak pernah bertemu lagi. Tujuan Byron mengatakan apa yang ia ucapkan dulu, bahwa Zoe bukan siapa-siapa untuknya, adalah untuk melindungi Zoe dari media. Byron tidak ingin membuat Zoe tertekan dengan publikasi. Karena itulah ia memilih untuk berbohong.           Apa Byron bahagia dengan itu? Tidak. Tentu saja tidak. Jika ia ingin bertindak egois, ia bisa saja mengatakan pada media bahwa mereka memiliki hubungan khusus. Akan tetapi, Byron tidak ingin seperti itu. Ia tidak ingin Zoe membencinya karena itu.           Melihat Zoe dari jauh saja sudah membuatnya tenang dan bahagia. Meski tidak akan ada masa depan untuk mereka berdua, saat ini semua sudah cukup untuknya. Biarlah Zoe tidak menganggapnya ada. Biarlah Zoe tidak peduli padanya. Byron hanya cukup melihatnya tersenyum.           “Zoe, kunci mobilmu!!”           Byron tersenyum saat melihat Zoe tertawa dan meraih kunci mobil yang diacungkan salah seorang crew. Gadis itu sangat ceroboh. Sering sekali ia ketinggalan atau kehilangan sesuatu. Itu kadang menjadi lelucon di antara para crew dan Zoe sendiri. Mereka bilang Zoe pikun karena tidak punya kekasih.           “Sampai kapan kau akan menjadi pengagum rahasianya?”           Byron meraih script di pangkuannya dan pura-pura tidak mendengar apa yang Aaron katakan padanya.           Aaron berdecak dan merebut script-nya. “Kenapa kau ini konyol sekali? Katakan padanya kau menyukainya.”           “Aaron, aku tidak menyukainya.” Aku jatuh cinta padanya. Aku mencintainya tanpa aku sadar bahwa aku telah mencintainya.           “Kau ini Lord Byron Moreau! Tidak akan ada yang menolakmu.” Aaron hampir saja berteriak dengan keras.           Byron menatap sekelilingnya, memastikan tidak ada yang mendengar mereka. Byron beruntung ia duduk cukup jauh dari semua orang. Gosip akan kembali bermunculan jika ada yang mendengarnya.           “Sudahlah, itu urusan pribadiku. Bukan urusanmu.” Byron merebut script di tangan Aaron dan kembali membaca. Waktu take akan dimulai setengah jam lagi. Ia mencoba berkonsentrasi untuk mengingat setiap dialog yang ada di sana.           Seharusnya Zoe ada di sini. Ini adalah bagian paling romantis dari film ini. Saat di mana John melepas kepergian Nicole dan berjanji akan mengunjungi gadis itu di Paris. John seharusnya juga mengungkapkan perasaannya, tetapi pria itu tidak mampu mengatakannya. Sama seperti dirinya. Hanya mampu mencintai dalam diam. Sungguh menyedihkan.           Sejak awal, Byron berharap Zoe yang menjadi Nicole. Byron tidak bisa membayangkan wanita lain meski akhirnya ia harus puas beradu akting dengan si cantik Dominique Lively. Domi luar biasa bagus berakting sebagai Nicole, tetapi tetap saja, Byron ingin gadis itu adalah Zoe.           “Byron! Waktunya bekerja lagi!” Sang sutradara berteriak dan Byron bangkit dari kursinya.           Waktu syuting terasa sangat lama meski ia menikmati pekerjaannya ini. Domi menghampirinya dengan ceria seperti biasa. Adegan di taman ini akan menjadi adegan perpisahan John dan Nicole.           “Apa kau akan kembali?” John bertanya dengan pelan. Berharap Nicole akan mengatakan ya.           Nicole tersenyum, tetapi kemudian menggeleng. “Aku ragu ayahku akan memberi ijin.”           “Tapi...”           “CUT!” Sang sutradara berteriak dengan suara menggelegar kemudian menatap Byron. “Kau kurang dalam menatapnya, Byron. John sangat jatuh cinta pada Nicole. Lihatlah dia seperti kau menatap  gadis yang kau cintai.”           Menatap gadis yang ia cintai? Kelebat Zoe muncul di benaknya dan ia melirik Domi. Ya Tuhan, Domi dan Zoe jelas berbeda. Entah Byron sanggup menatap Domi seperti ia menatap Zoe atau tidak.           “Baiklah,” jawab Byron pelan dan kembali menatap Domi.           Waktu syuting ini sebenarnya tidak terlalu lama, tetapi Byron merasa sangat lama. Dia tahu penyebabnya karena tidak ada Zoe di sini. Biasanya ia akan berakting sebaik mungkin demi Zoe. Lucu. Bagaimana dulu ia bisa berakting senatural mungkin dan bukan demi siapa-siapa, tetapi kini ia bertanya-tanya apakah Zoe menyukai aktingnya.           Ini gila. Byron merasa dirinya sudah begitu terobsesi pada Zoe. Dan ia berharap ini hal yang wajar karena Byron tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Bahkan tidak dengan Lena. Apa yang ia rasakan pada Lena sangat jauh berbeda dengan apa yang kini ia rasakan pada Zoe. Apakah benar dirinya dulu benar-benar jatuh cinta pada Lena?           Kening Byron berkerut saat melihat ponselnya berkedip-kedip dengan nama Lena di sana. Byron mendesah. Seharusnya dia tidak memikirkan Lena tadi. Byron tergelitik untuk membiarkan telepon itu, tetapi ia segera mengetahui bahwa Lena tidak akan menyerah. Mengenal Lena sejak mereka berdua masih kecil, membuat Byron tahu bagaimana watak gadis itu. Yah, meskipun kini Lena tampak lebih mirip dengan Madam Medusa daripada gadis yang pernah ia cintai dulu.           “Halo.” Byron menjawab seraya masuk ke dalam mobilnya. Waktu sudah menunjuk pukul sebelas malam berarti di Perancis sudah pukul lima pagi. Untuk apa Lena meneleponnya pagi-pagi begini?           “Byron! Oh!” Lena terisak senang saat mendengarnya.           “Ada apa?” Byron bertanya dengan waspada.           Di mana Zac? Kenapa dia membiarkan istrinya menelepon pria lain pagi-pagi buta begini?           Lena mendesah. ”Aku merindukanmu.”           Dulu, Byron mungkin akan berbunga-bunga mendengarnya. Mungkin ia akan mengepalkan tangan di udara dan memekik puas karena akhirnya Lena balas merindukannya. Namun itu dulu. Sekarang justru Byron merasa jijik mendengarnya.           “Lena, sudahlah, kau sudah menikah sekarang.”           “Memangnya kenapa kalau aku sudah menikah? Jika bukan karena anak sialan ini, aku tidak akan menikah dengan Zac.”           “Lena! Jaga bicaramu!” Byron membentak. Bagaimana mungkin seorang ibu berkata seperti itu tentang anaknya sendiri? Bayi itu tidak berdosa. Orangtuanya lah yang membuatnya harus hadir ke dunia ini. Byron merasa kasihan kepada bayi itu bahkan sebelum ia dilahirkan.           “Kau membentakku, Byron? Kau tahu keluargaku lebih kaya dari keluargamu yang berarti kau tidak berhak membentakku seperti itu! Ayahmu hanya tukang roti di Sault!”           Ini yang sangat Byron benci dari Lena. Gadis itu selalu membangga-banggakan keluarganya yang memang tergolong keluarga paling kaya di Provence. Selain rumah peristirahatannya di Sault, keluarga Lena juga memiliki properti serupa di Avignon. Dulu mereka lebih sering tinggal di Avignon, selain Lena tentunya, tetapi beberapa tahun terakhir ini mereka tinggal di Sault.           “Tidak usah membawa keluargamu. Memangnya apa jasa mereka padaku hingga aku harus takut pada mereka ataupun padamu?”           “Kau ...”           “Dengar, Lena! Jangan pernah hubungi aku lagi satu kali pun. Kita sudah berakhir. Kau sudah menikah dan akan memiliki anak sebentar lagi. Jadi sebaiknya ...”           “Aku akan bercerai dengan Zac dan meninggalkan anak ini padanya begitu bayi ini lahir. Aku tidak mau mengurusnya. Karir modellingku akan hancur jika aku harus mengasuh bayi sialan ini.”           Ya Tuhan. Astaga. Iblis macam apa yang bicara seperti ini? Lena pasti benar-benar jelmaan madam medusa.           “Kau menyakiti Zac, kau berhadapan denganku.”            Entah dari mana ia bisa mengatakan hal itu. Namun Byron merasa kedekatannya dengan Zac jauh berbeda semenjak mereka sering bicara di telepon. Pria itu menitipkan Zoe padanya. Zac juga bicara tentang kekhawatirannya meninggalkan Zoe sendirian di sini. Zac pria yang baik dan sangat mencintai keluarganya.           “Oh, kau budaknya atau apa sekarang?”           Nada menghina yang keluar dari mulut Lena benar-benar membuat Byron ingin mencekik wanita ular itu.           “Aku malas bicara denganmu. Selamat tinggal.”           Byron melempar ponselnya ke bangku belakang dan menghidupkan mobil untuk pulang ke rumah. Ya, rumah. Satu bulan lalu, saat Zac menemuinya lagi di Central Park, akhirnya Byron tahu di mana rumah keluarga mereka berada. Rumah peninggalan orangtua mereka di East Hampton.           Byron menyewa satu rumah yang berada tepat di sebelah rumah keluarga Miller. Dan meski harus menyetir dua jam lebih ke sana, tetapi sejauh ini Byron menikmatinya. Terlebih ia bisa menatap jendela kamar Zoe dari rumahnya.           Zoe tidak pernah tahu jika Byron tinggal di dekat rumahnya. Sebisa mungkin, Byron menghindari keluar rumah di siang hari. Ia selalu berangkat syuting pagi-pagi dan pulang hampir tengah malam seperti ini. Atau jika ia di rumah, ia lebih memilih untuk tidak keluar rumah.           Rumah Zoe tampak gelap saat Byron sampai. Hanya lampu teras yang dan lampu belakang rumah yang menyala. Kamar Zoe juga tampak gelap. Gadis itu pastilah sudah tidur.           Byron baru akan masuk ke rumahnya saat teleponnya kembali berbunyi. Ia baru akan mematikan benda itu, tetapi urung melakukannya karena melihat nama ibunya yang menelepon.           “Hai, Mom.”           “Byron!”           Byron mengerutkan kening mendengar suara ibunya yang terdengar seperti menangis. “Ada apa, Mom?”           “Ayahmu ...”           “Kenapa Dad?” Kepanikan mulai menggerogoti lehernya, menimbulkan sensasi merinding yang aneh di sekujur tubuhnya.           “Ayahmu ...” ibunya terisak, ”jatuh di kamar mandi ...”           Ya Tuhan!           “Apa Dad baik-baik saja, Mom?” Desak Byron kemudian.           Ibunya kembali menangis.           “Mom! Katakan padaku Dad baik-baik saja.” Byron semakin terdengar tidak sabar.           “Ayahmu ... dia ... telah meninggal, Nak.”           
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD