“Kau bilang kau diundang menjadi bintang tamu di Tunner Show, kenapa jadi ada Byron di tempatmu?”
“Byron juga menjadi bintang tamu di sana dan dia mengajakku minum kopi.”
Zac duduk di sampingnya. “Lalu kenapa kau membawanya ke Crystal Angels?”
“Aku tidak mau menyenangkan paparazzi dengan mengajaknya ke tempat umum, Zac.”
“Tetapi kenyatanya kau tetap melihatnya di berita ‘kan?”
Zoe mengerang lagi. Bencana besar. Ia tidak akan bisa keluar rumah lagi sampai berita ini mereda. Atau sampai Byron membuat klarifikasi.
“Paparazzi ada di mana-mana, Sweetie. Kau juga harus berhati-hati mulai sekarang karena kau mulai menapaki dunia entertainment meski hanya dari bukumu,” sambung Zac kemudian. “Jangan sampai mereka menganggapmu sengaja mendekati Byron agar bukumu cepat terkenal.”
“Tidak ada yang mengenalinya di Sault.” Mungkin ada beberapa, tapi gadis-gadis di ladang lavender itu pasti turis.
Zac terkekeh. “Sault lebih banyak diisi orang tua daripada anak muda.”
“Lalu aku harus bagaimana?” Zoe menoleh pada kakaknya.
“Telepon Byron!” Ucap Zac dengan tegas.
Zoe memejamkan matanya, kembali teringat sorot terluka di mata Byron saat ia mengusir pria itu pergi. Tidak. Ia tidak bisa bicara dengan pria itu lagi. Matanya, suara terluka Byron, semua masih diingat Zoe dengan jelas.
“Aku tidak punya nomor teleponnya,” ucap Zoe pelan.
“Zoellina Miller, kau bercanda?? Kalian sudah berciuman berkali-kali tetapi tidak saling bertukar nomor telepon?”
Zoe memberengut dan bangkit dari tidurnya. “Baru dua kali!” Dia keluar menuju dapur dan tahu Zac mengekor di belakangnya.
“Dan itu sudah cukup untuk membuat kalian saling bertukar nomor telepon. Demi Tuhan, kalian keluar hampir setiap hari di Sault!”
“Zac,” Zoe berbalik dan bersandar di counter, “kau mengenalku lebih dari siapapun juga. Kau tahu apa masalahku.”
Sorot mata Zac melembut dan pria itu merengkuhnya dalam pelukan. Sesaat, Zoe merasa kembali berumur enam belas tahun. Ia terpuruk dan hanya memiliki bahu Zac untuk bersandar. Jika nanti Zac pulang ke Perancis, siapa yang akan menjadi tempatnya bersandar?
Selama ini mungkin orang melihatnya sebagai sosok yang mandiri baik secara kehidupan maupun finansial, tetapi ia tidak sekuat itu. Ia butuh seseorang yang akan memeluk bahunya saat ia menangis dan seseorang yang menyediakan bahu dengan suka rela untuk dia bersandar.
“Itu sudah lama berlalu, Sweetheart. Dia sudah membusuk di penjara.”
Zoe terisak di d**a Zac. Kenangan malam itu membanjiri kepalanya seperti air bah. Jeritan, tangis, bau alkohol yang dia cium. Zoe mendengar pekikan pelan dan menyadari bahwa itu suaranya sendiri. Zac menenangkannya dengan lembut.
Sudah lama Zoe berhenti histeris dan mimpi buruk. Sudah lama ia mencoba mengubur kenangan buruk itu. Namun ternyata hal itu tetap ada di sana. Menunggu untuk menghantuinya lagi. Ia tidak akan bisa menjalin hubungan dengan siapapun juga. Dan terutama Byron.
“Tenang, Baby. Aku di sini.” Suara Zac yang selembut bulu terdengar sangat pelan. Zac mengusap punggungnya naik turun hingga Zoe tenang.
“Aku ... aku minta maaf.” Zoe melepas pelukannya dan menunduk menghapus air matanya.
Zac menangkup pipinya dan menengadahkan kepalanya. “Kau ikut aku ke Perancis, oke? Aku tidak mau khawatir terus-terusan karena meninggalkanmu sendirian.”
“Aku baik-baik saja.” Zoe menurunkan tangan Zac dan membuka lemari dapur untuk mengambil Cherios.
“Atau setidaknya biarkan Byron menjagamu. Ini kota besar, Sweetie.”
“Dan aku sudah tinggal di kota besar ini seumur hidupku.”
Zac menghela napas lelah dan pergi ke ruang tengah untuk menyalakan televisi. Zoe menyusulnya setelah menuang s**u pada serealnya. Ia tidak ingin bertengkar dengan Zac selama kakaknya itu pulang. Dua hari lagi Zac akan kembali terbang ke Perancis. Ia harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama tidak ada madam medusa di samping kakaknya itu.
Zoe meringkuk di pangkuan Zac dan meninggalkan sarapannya begitu saja di meja kopi di hadapan mereka. Lengan Zac melingkari tubuhnya dengan erat seperti sangkar besi. Dulu Zac sering memangkunya seperti ini setiap malam setelah kematian orangtua mereka.
“Kenapa kau memperbaiki televisi itu?” Dagu Zac menunjuk televisi tua warisan orangtuanya. “Kau kan bisa membeli yang baru. Atau mau aku membelikannya untukmu?”
Zoe menggeleng. “Benda itu mengingatkanku pada Dad. Aku tidak mau menggantinya.”
“Aku merindukan mereka.”
Zoe meringkuk semakin erat di pangkuan kakaknya. Hampir setiap malam dia selalu masuk ke kamar orangtuanya dan tidur di sana hanya sekedar untuk 'merasakan' mereka kembali.
“Apa menurutmu Dad akan marah karena tahu aku menghamili Lena sebelum menikah?”
Zoe tertawa pelan. “Dad akan mengebirimu karena tidak bisa menjaga kemaluanmu.”
Guncangan d**a Zac yang tertawa terdengar seperti musik bagi Zoe. Ia sudah terlalu lama sendirian di rumah ini.
“Kenapa kau tidak pindah saja kemari?”
Kakaknya itu bisa diterima bekerja di maskapai mana saja di negara ini karena nama besar ayah dan kakek mereka di dunia penerbangan.
“Lena tidak mau pindah.”
Sekuat tenaga Zoe mencoba untuk tidak mendengkus. “Tinggalkan saja dia di sana kalau begitu.”
“Dia istriku, Rabbit. Ibu dari calon anakku.”
“Apa kau mencintainya?”
Zac mengangkat bahunya. “Apa kau jatuh cinta pada Byron?”
“Zac, ini bukan tentangku! Ini tentangmu!” Zoe menegur.
“Kenapa kau tidak mau jatuh cinta padanya?”
“Karena dia pria bekas istrimu.”
Zac tertawa. “Byron sudah tidak mencintai Lena lagi. Dia jatuh cinta padamu, Zoey.”
“Jangan sok tahu!” Zoe meraih remote dan mengganti saluran televisi.
“Aku bertemu dengannya di Central Park pada malam aku kembali.”
Central Park? Zoe teringat bagaimana pria itu memintanya untuk bertemu di Central Park satu waktu. Tidak secara khusus kapan Byron ingin mereka bertemu dan Zoe sudah menolaknya. Apa pria itu menunggunya? Tetapi kenapa selarut itu?
“Apa ...”
Tayangan di televisi menghentikan apapun yang akan Zoe ucapkan. Di televisi nampak Byron sedang dikejar para wartawan saat keluar dari sebuah gedung yang Zoe tahu sebagai apartemen mewah di pusat kota. Para wartawan itu menanyakan kenapa Byron berada di Crystal Angels kemarin dan dengan siapa.
Namun Byron yang pagi itu mengenakan kaos lengan panjang berwarna hitam dan celana putih, memilih bungkam dan berjalan cepat keluar gedung apartemen. Kira-kira ke mana pria itu akan pergi? Kenapa dia berjalan kaki?
“Apa kau bersama seorang gadis di sana? Apa yang kalian lakukan?” Seorang wartawan menanyainya dan Byron menatap mereka semua dengan lelah.
Byron menatap salah satu kamera dan berkata dengan tegas. ”Bukan sesuatu yang penting. Aku hanya mampir untuk melihat-lihat dan sama sekali tidak ada yang penting di sana.”
Tidak ada yang penting?? Zoe merasa amarahnya menggelegak mendengar jawaban itu.
“Lalu dengan siapa kau di sana? Wanita yang mengendarai Cadillac itu? Apa dia kekasihmu? Tampaknya kau cukup lama berada di sana.”
Oh, paparazzi itu pasti sudah membuntuti mereka sejak awal dan menunggu cukup lama hingga Byron keluar dari studio tarinya.
Zoe merasakan dadanya menegang menunggu jawaban Byron. Byron tampak diam tidak sampai satu menit, meskipun terasa satu abad bagi Zoe. Saat akhirnya pria itu berbicara, suara itu bagai lonceng kematian bagi Zoe.
“Dia bukan siapa-siapa. Bukan seseorang yang cukup berarti bagiku.”
Dan lubang itu kini semakin membesar.