22

769 Words
Ini salah. Sangat salah. Byron tidak boleh merindukannya. Bahkan sedikit pun tidak. Ia tidak pantas untuk siapapun. Terlebih lagi untuk seorang Lord Byron Moreau. Pria yang sangat dipuja gadis-gadis di Amerika. Tidak mungkin Byron merindukan apalagi menginginkannya. Mungkin ini hanya kegilaan sesaat karena kebersamaan mereka di Sault.           Zoe melirik spion dan melihat mobil Byron masih mengikuti di belakangnya. Ia setengah berharap Byron hanya bercanda saat mengajaknya minum kopi. Akan tetapi Byron tidak bercanda, dan ia tidak tahu seperti apa ekspresi Byron saat bercanda. Ia hanya tahu satu ekspresi saat pria itu menciumnya. Pria itu menginginkannya.           Menginginkanmu untuk ranjangnya.           Zoe tidak pernah bisa menghalau pikiran itu sejak pertama kali Byron menciumnya. Lagipula, apalagi yang diinginkan pria itu selain tidur dengannya? Pria itu masih mencintai jalang sialan yang kini telah menjadi kakak iparnya. Zoe bisa melihatnya di mata Byron. Pria itu tidak akan bisa mencintai lagi. Terutama mencintai gadis seperti dirinya.           Zoe menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pikiran dari ciuman Byron. Ia kembali melirik mobil Byron dan berpikir ke mana mereka akan pergi. Tidak mungkin mereka berdua keluar di tempat umum. Itu akan menjadi santapan empuk para paparazzi dan ia tidak menyukai gagasan wajahnya terpampang di New York Times besok pagi.           Oh, ia mungkin memang akan muncul di koran. Namun itu hanya karena sekarang public tahu bahwa ia adalah penulis novel dan bukannya wanita yang sedang dekat dengan Lord Byron Moreau yang tersohor.           Setelah berkeliling selama beberapa saat dan tidak menemukan tempat yang tepat yang cukup sepi, Zoe mengarahkan mobil ke studio tari miliknya. Tidak ada tempat yang lebih aman selain di sana. Lagipula Byron hanya mengajak minum kopi kan?           Setelah memarkir Cadillac-nya, Zoe membuka pintu studio yang terkunci dan segera masuk. Ia tidak merasa perlu untuk menunggu Byron. Lagipula, paparazzi bisa ada di mana-mana. Zoe langsung menuju ke dapur dan membuat kopi untuknya dan Byron. Saat ia kembali, pria itu sedang duduk di sofa membaca majalah lama.           “Kenapa kau mengajakku kemari?”           “Kau ingin minum kopi ‘kan?” Zoe meletakkan satu cangkir di hadapan Byron. “Ini kopimu. Minum dan pulanglah.”           Byron menatap Zoe seolah kepalanya telah tumbuh menjadi dua. “Kau ... Ya Tuhan, Zoe, kenapa kau sangat membenciku?? Kau bahkan tidak tahan lama-lama berduaan denganku. Apa salahku padamu?”           Rasa sakit hati di suara Byron mau tidak mau membuat Zoe mengernyit. Ia tidak membenci Byron. Tidak akan pernah. Akan tetapi, ia tidak boleh memberi harapan pada pria itu atau ia akan terluka. Zoe sudah terlalu sering terluka dan ia selalu berhasil untuk bertahan. Jika satu pria ini menambah lagi lukanya, ia yakin dirinya tidak akan bisa bertahan. Hidupnya akan hancur.            “Aku tidak membencimu.” Zoe berbisik menatap kopinya.           “Lalu kenapa kau berpura-pura tidak mengenalku? Kenapa kau membawaku kemari? Kau malu keluar denganku??”           Zoe merasakan amarahnya bangkit. b******k! Kenapa Byron sepicik ini? Dia justru melindungi pria ini dari pemberitaan media. Jika mereka keluar bersama, gossip pasti akan langsung beredar di luar sana.           “Aku tidak mau paparazzi melihatmu keluar denganku!! Kau akan menjadi santapan empuk mereka!”           “Aku tidak peduli paparazzi! Aku hanya menginginkanmu!”           Kini mereka saling berteriak dan melotot. Oh Tuhan, rasanya Zoe ingin meloncati meja dan mencungkil bola mata Byron. Kenapa pria ini suka sekali memaksa?           “Pulanglah!” Zoe menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.           “Apa masalahmu sebenarnya, Zoe?” Suara Byron mulai melunak.           “Apa pedulimu? Kau bukan kekasihku. Kau bukan orangtuaku. Kau bukan kakakku. Kau bahkan bukan temanku. Aku tidak peduli padamu. Pulanglah.”           Sorot mata terluka itu akan selalu menghantui Zoe seumur hidupnya. Byron terluka dan sakit hati dengan penolakannya. Namun Zoe harus melakukan ini demi hatinya sendiri. Ia sudah lebih dari terpengaruh oleh ciuman itu. Zoe tidak mau merasakan yang lain lagi dan berisiko menghancurkan hatinya. Byron akan lari terbirit-b***t jika tahu masa lalunya. Lebih baik ia membentengi diri sebelum itu terjadi.           “Selamat tinggal, Zoe.”           Suara Byron hanya selirih angin tetapi seolah seperti jeritan final. Mereka tidak akan bertemu lagi setelah ini. Atau mereka bertemu tetapi tidak akan seperti orang yang pernah saling mengenal. Dan itu sudah meninggalkan sebuah lubang besar di d**a Zoe. ....           Esok paginya, Zoe baru saja membuka mata saat Zac masuk ke kamarnya dan melemparkan sebuah surat kabar.           “Siap-siap dikejar wartawan, Rabbit.” Zac menyeringai dari samping ranjangnya.           Zoe bangkit meraih surat kabar itu dan membelalak membaca judulnya. LORD BYRON MOREAU TERTANGKAP KAMERA KELUAR DARI TEMPAT KURSUS TARI “CRYSTAL ANGELS”           Lalu terpampang foto mobilnya, foto Byron saat memasuki SUV-nya, dan papan nama studio tarinya.           Zoe mengerang dan menjatuhkan kembali surat kabar itu di pangkuannya. Apa yang dia takutkan menjadi kenyataan. Wartawan akan menyerbu tempatnya dan ia akan diincar. Anak-anak akan merasa tidak nyaman lalu orangtua mereka akan memindahkan tempat les tari mereka dan ia akan bangkrut. Oh, ini benar-benar mimpi buruk yang sempurna!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD