21

986 Words
“Tetap bersama kami, ladies. Lord Byron Moreau akan kembali memanaskan sarapan Anda.”           Byron menyandarkan bahunya dengan lelah di sofa kulit mewah yang ia duduki. Pagi ini, ia harus menerima undangan sebagai bintang tamu di acara talk show pagi hari. Ia tidak bisa tidur semalam, alhasil pagi ini tubuhnya dalam kondisi tidak fit.           “Kau tampak lelah.” Aaron menyerahkan secangkir kopi.           “Hanya sedikit mengantuk,” jawab Byron seraya meminum kopinya. Kopi yang enak.           “Kau bersenang-senang tadi malam?” Aaron mengerling padanya.           Byron mengamati sekelilingnya dan berbisik. “Jangan pernah sekalipun kau memanggilnya lagi. Dia payah.”           Aaron terkekeh dan berlalu pergi saat sang sutradara mengarahkan bahwa acara bincang-bincang pagi itu akan dimulai kembali.           “Nah, Lord Byron, apa kau sudah membaca novel yang akan kau perankan ini?” Tracy Tunner, sang pembawa acara, bertanya padanya.           Byron tersenyum. “Ya, aku membacanya, dan itu kisah yang menakjubkan. Tragis memang, tetapi benar-benar, yah ...” Byron mengangkat bahunya dan para wanita yang menjadi audience ber-ooh panjang. Setelah tahu bahwa Zoe yang menulisnya, Byron meminta novel itu pada Aaron dan membacanya. Aaron benar, gadis itu sangat berbakat dalam menulis sebuah cerita. Byron bahkan menyelesaikan novel setebal lima ratus halaman itu dalam dua hari. Ia tidak suka membaca novel, tetapi membaca novel Zoe membuatnya tidak bisa berhenti sebelum ia sampai di halaman terakhir.           “Dapatkah kalian membayangkannya? Pria seksi ini membaca novelnya. Apa kau bahkan menangis saat John mati?” Tanya Tracy lagi disambut tawa penonton dan juga Byron sendiri.           “Yah, kurasa aku agak sedikit ... meneteskan air mataku,” akunya malu meski para wanita menanggapinya dengan histeria.                     “Yah, aku sendiri, dan pasti juga para wanita di luar sana juga, tidak bisa berhenti mengucurkan air mata,” Tracy mengakui. “Dan, sebagai kejutan untuk kalian, hari ini selain ada si tampan ini, kami juga telah mengundang sang penulis untuk kalian. Please, welcome,  Zoellina Miller.”           Oh, tidak, oh, tidak. Ini tidak ada di dalam script! Dan Byron betul-betul ternganga seperti orang bodoh saat melihat gadis itu masuk. Itu betul-betul Zoe! Zoe-nya!           Sesaat Byron lupa di mana dirinya berada. Saat gadis itu melangkah memasuki studio, dunia seakan memudar. Riuh rendah suara para audience tidak lagi di dengarnya. Ia hanya bisa menatap Zoe tanpa berpaling. Zoe tampak cantik seperti biasa dengan make up tipis dan sweater berwarna ungu pucat juga celana jins yang menutupi kaki jenjangnya yang seksi. Rambutnya yang berwarna brunette itu terurai di punggungnya. Byron merasa dirinya tidak bisa bernapas. Pasti udara di sekitarnya memuai karena kemunculan gadis ini.            “Lord Byron, kuasai dirimu. Kau hampir meneteskan air liurmu.” Suara Tracy yang menggodanya membuatnya tersentak dan semua orang tertawa.           Zoe duduk di seberangnya dengan anggun tetapi gadis itu tidak pernah menatapnya.           “Apa kalian pernah bertemu sebelumnya? Byron tampak ... sangat terpesona?” Tracy bertanya dengan ingin tahu.           “Tidak. Belum pernah.” Zoe yang menjawab pertanyaan itu untuk mereka.           Belum pernah?           Byron ingin berteriak, tetapi tahu itu tidak mungkin. Oke, mungkin ia akan mengikuti permainan Zoe untuknya. Jika Zoe bisa berakting tidak mengenalnya, ia juga bisa.           “Yeah, kami belum pernah bertemu,” katanya dengan sedikit sarkasme di dalamnya. Berharap Zoe akan menyadari itu.           “Bukankah dia sangat cantik?” Tanya Tracy yang disambut anggukan Byron. “Kenapa kau tidak pernah mempublikasikan dirimu kepada penggemarmu, Zoe?”           Zoe mengangkat bahunya. “Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan normal.”           Apakah itu alasan Zoe menolaknya? Karena jika mereka menjalin hubungan, maka kehidupan pribadi Zoe akan terekspos media.           “Lalu, kenapa semua novelmu berakhir tragis? Tidakkah para pembaca menyukai akhir yang bahagia?”           Zoe tersenyum. “Tidak semua kisah cinta selalu berakhir bahagia. Dunia percintaan tidak seindah itu.”           Nada getir dalam suara Zoe membuat Byron menoleh sepenuhnya pada gadis itu. Byron tahu ada sesuatu. Gadis itu pasti memiliki masa lalu yang buruk dalam percintaannya.           “Byron, apa yang membuatmu akhirnya memutuskan untuk mengambil peran ini? Selain karena kau spesialis aktor dengan akhir tragis?”           Byron mengangkat bahu. “Mungkin karena aku jatuh cinta dengan cerita itu.”    Zoe menatapnya dan pandangan mereka terkunci selama satu menit. Atau mungkin lebih. Zoe buru-buru mengalihkan pandangan saat gadis itu sadar di mana mereka berada. Byron tersenyum menatap wajah Zoe yang merah padam.           “Yah, memang. Meski berakhir tragis, cerita itu benar-benar membuat siapa saja jatuh cinta. Apa yang menjadi inspirasimu, Zoe?” Zoe menjawab pertanyaan Tracy dengan gugup dan Byron mendengarkan dengan seksama setiap jawaban yang Zoe lontarkan hingga sesi acara mereka pagi itu berakhir.           “Minum kopi denganku?” Byron meraih tangan Zoe saat gadis itu akan beranjak pergi.           “Aku tidak ...”           “Please, Zoe. Sekali saja dan aku tidak akan mengganggumu lagi.” Tentu saja Byron berbohong. Ia tidak akan mungkin mundur lagi setelah ini. Tidak setelah ia mengenali Zoe sedikit lebih dalam lewat tanya jawab dengan Tracy tadi.           Zoe mengangguk. “Tetapi kita akan pergi dengan mobil masing-masing.”           Oh, itu bukan masalah!           “Aaron, kau pulang naik taksi. Aku ada keperluan mendadak.” Byron menemui Aaron yang menantinya di luar studio. Matanya mengawasi Zoe yang memasuki ruang rias.           “Apa maksudmu, Moreau? Aku menjemputmu, ingat? Itu mobilku.”           Oh, sial! Byron lupa akan hal satu itu.           “Please. Ini sangat ... mendesak.”           Aaron menatapnya dengan curiga. “Kau benar-benar tidak pernah bertemu Miss Miller ini sebelumnya, Byron?”           Byron tahu sejak minggu lalu -saat Byron memaksa meminta alamat agen Zoe- Aaron sudah curiga padanya. Namun Byron tidak bisa membuka mulutnya saat ini. Terlebih setelah 'akting' Zoe tadi yang berkata mereka belum pernah bertemu sebelumnya.           “Aku ...” Byron menangkap dari sudut matanya, Zoe keluar dari ruang rias. “Oh, berikan saja kunci mobilmu, Aaron. Anggap saja aku menyewanya.”           Aaron menyerahkan kunci mobilnya dengan merengut. “Pastikan kau menyewanya dengan mahal!” Teriaknya sebelum Byron berlari mengikuti Zoe yang sudah masuk ke dalam lift.           Lagi -lagi Byron merasa kehilangan napasnya saat mereka hanya berdua saja di dalam lift. Zoe berdiri sangat dekat dengannya, tetapi juga terasa sangat jauh. Byron ingin menyentuh Zoe dan merasakan kelembutan kulit itu.           “Zoe ...” Byron menelan kembali suaranya.           Zoe menoleh tetapi tidak mengucapkan apapun. Gadis itu tidak mengalihkan tatapannya meskipun Byron juga menatapnya tepat di mata Zoe.           Sesaat, Byron merasa tersesat di mata indah itu. Dan ia tahu, dengan sepenuh hatinya, ia tidak akan bisa berpaling lagi. Dengan pelan, tetapi mantap, Byron berbisik lirih. “Aku merindukanmu, Zoe. Sangat merindukanmu.”                  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD