20

1305 Words
Satu minggu berlalu sejak Byron mencium 'seorang gadis' untuk terakhir kalinya dan ia bertekad tidak akan pernah melirik gadis itu lagi. Tidak peduli seberapa seringnya gadis itu merasuki pikirannya atau membuatnya terangsang di malam-malam yang dingin. Byron tidak akan mengemis lagi pada gadis itu. Ia adalah Lord Byron Moreau. Tidak ada satu gadis pun yang pernah melakukan penolakan seperti itu padanya. Ia bisa mendapatkan siapa saja gadis yang ia inginkan untuk menghangatkan ranjangnya.           Tetapi apa benar kau menginginkan gadis lain?           Untuk saat ini memang tidak, tetapi itu bukan masalah baginya. Toh, ia sudah terbiasa mematikan hatinya. Siapapun wanita yang ditidurinya sekarang tidak perlu tahu bahwa dia membayangkan orang lain. Orang yang terus menerus menolaknya dan berkata bahwa orang itu tidak terpengaruh oleh ciumannya. Orang yang bahkan tidak sadar telah menorehkan luka baru di atas luka lama yang belum kering. Orang yang mati-matian ingin Byron lupakan, tetapi tidak sanggup ia lakukan.           “Pulanglah. Aku sudah selesai denganmu.” Byron bangkit dari tempat tidur dan melepas kondom dengan hati-hati lalu mengikatnya.           “Kau yakin tidak ingin tambah lagi?”           Sekuat tenaga, Byron menahan bibirnya untuk tidak mencibir. Wanita ini tidak terasa nikmat sedikit pun, besok dia harus protes pada Aaron karena mencarikan wanita tidak berpengalaman seperti ini. Syukurlah ia tidak mencium wanita jalang ini sebelum mereka berhubungan seks.           “Tidak. Aku lelah. Besok aku bekerja.” Byron meraih celana panjang dan mengambil dompet, mengeluarkan beberapa lembar dollar dari sana. “Aaron akan meneleponmu jika aku membutuhkanmu.” Dan itu tidak akan pernah terjadi lagi.           Wanita itu meraih uangnya dengan cepat dan bergegas berpakaian. Segera setelah wanita itu pergi, Byron ikut keluar dan pergi dari tempat itu. Apartemen milik Aaron yang selalu menjadi tempatnya untuk berhubungan satu malam dengan para p*****r-p*****r seperti tadi. Dia turun ke basement dan meluncurkan mobilnya membelah jalanan kota New York yang tidak pernah sepi.           Bahkan kau yang aku pikirkan berada di bawahku tadi, Zoe.           Ini pasti kegilaan sesaat karena ia belum berhasil meniduri gadis itu. Jika itu sudah terjadi, mungkin ia akan melupakan Zoe dengan mudah. Mungkin ...           Sial! Byron memukul setirnya dengan kesal. Wanita jalang tadi adalah p*****r pertama yang tidur dengannya setelah berbulan-bulan dan Byron bahkan merasa semakin kesal. Pertama, karena ia benar-benar tidak bisa 'bereaksi' meski wanita itu sudah telanjang bulat. Kedua, ia harus, lagi-lagi, memikirkan Zoe agar bisa bereaksi. Dan ketiga, wanita itu benar-benar tidak memuaskannya sedikit pun. Entah hal apa yang membuat wanita itu bisa menjadi p*****r jika servisnya saja tidak memuaskan.           Mobil Byron berhenti tepat di depan apartemennya dan ia keluar dari mobil seraya melempar kunci mobil dan beberapa lembar dollar pada Brooke, security gedungnya.           “Bawa mobilku ke basement, Brooke.”           “Aye, Captain.”           Byron berjalan pelan menuju Central Park yang hanya beberapa blok dari apartemennya. Udara terasa sedikit menusuk karena malam sudah hampir larut, tetapi itu tidak menyurutkan langkah Byron untuk pergi ke taman. Ini adalah saat yang paling tepat untuk berdiam diri di sana. Saat hampir tidak ada orang yang bisa mengenalinya sebagai Lord Byron.           Akhir-akhir ini ia tidak bisa berpikir jernih. Terlebih setelah penolakan itu. Jujur, hal itu sangat mengganggunya. Atas dasar apa sebenarnya Zoe menolaknya?           Byron tahu gadis itu terpengaruh oleh ciumannya, bahkan mungkin sama besarnya dengan apa yang ia rasakan. Namun Byron juga tahu bahwa ada sesuatu yang Zoe sembunyikan darinya. Trauma masa lalu? Apa gadis itu pernah menerima perlakuan tidak menyenangkan dari kekasihnya dulu?           Taman terlihat sepi saat Byron sampai. Yah, siapa juga yang mau menghabiskan malam sedingin ini di luar. Akan tetapi Byron selalu memanfaatkan waktu menjelang ditutupnya taman ini setiap malam saat ia ada waktu. Byron berjalan pelan dan duduk di bangku kayu tepat di bawah lampu jalan yang menyala redup. Di sinilah ia biasa merenung setiap malam tiba. Memikirkan apa saja yang telah ia alami.           Dulu, pikirannya adalah selalu tentang Lena. Tentang mengapa gadis itu menolaknya habis-habisan. Dan ternyata kini ia mengalami itu lagi. Hanya saja dengan gadis yang berbeda. Dengan perasaan yang juga jauh berbeda.           Sebenarnya apa yang dirasakannya pada Zoe? Tidak mungkin kan dia jatuh cinta pada gadis itu? Benar kan ini hanya hasrat gilanya karena belum berhasil meniduri gadis itu? Ya Tuhan, kenapa sulit sekali melupakan gadis itu??           “Byron??” Suara itu memanggilnya ragu.           “Zac!” Serunya kaget saat melihat Zac berdiri tak jauh darinya masih dengan seragam pilotnya.           Zac tersenyum dan mendekat. “What's up, dude?” Sapanya akrab seraya menepuk bahu Byron. “Bagaimana kabarmu?”           “Buruk,” jawabnya tanpa berusaha menutup-nutupi.           Zac terkekeh dan duduk di sampingnya. “Syndrome usai liburan? Masih belum siap bekerja?”           “Kau pulang sendiri?” Tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaan Zac. Apa pengantin baru seperti Zac bisa tahan meninggalkan istrinya di benua lain?           “Aku bekerja, Byron. Tidak mungkin mengajak istriku.”           “Bagaimana kabar Lena?” Byron tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Mungkin memang sudah tidak ada lagi perasaannya untuk Lena, tetapi ia tidak bisa berhenti peduli. Biar bagaimanapun, dirinya dan Lena pernah membagi mimpi mereka bersama.           Zac mengangkat bahu dan mengeluarkan rokok dari saku jasnya.           Byron mengerutkan kening. “Ada apa, Zac? Kalian baik-baik saja kan?” Tidak mungkin pengantin baru ada masalah kan?           “Baik ... mungkin. Entahlah, Byron, aku merasa tidak mengenal istriku sendiri,” gumam Zac seraya menerawang. “Dia terus menyalahkanku karena kehamilannya.”           “Dia tidak mengharapkan kehamilannya?” Kerutan di dahi Byron semakin dalam.           “Aku tidak tahu. Dia hanya ... akhir-akhir ini dia sangat sering marah-marah.”           Byron menghela napas. Sedikit lega bukan dirinya yang mengalami itu. Ia sendiri juga merasa tidak lagi mengenal Lena. Gadis itu telah menjelma menjadi wanita yang asing baginya.           “Mungkin dia merasa stress dengan kehamilannya. Seharusnya kau di rumah menemaninya, Zac. Bukannya terbang melintasi benua seperti ini.”           “Dia sudah beberapa hari pulang ke Sault.”           “Demi Tuhan! Kalian baru saja menikah!” Byron tidak tahan untuk berseru.           Ada apa sebenarnya dengan mereka berdua? Mereka bahkan baru menikah ... dua minggu? Tiga minggu?           “Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini malam-malam seperti ini?” Tanya Zac mengalihkan pembicaraan.           “Adikmu.” Lagi-lagi Byron memilih untuk mengatakan yang sebenarnya. Entahlah, dengan Zac, dia merasa sedikit kenyamanan seperti saat ia bersama ayahnya.           “Zoey kenapa? Kalian sudah sempat bertemu lagi?”           “Dia menolak menemuiku di sini saat aku memintanya bertemu satu hari nanti. Dan ketika aku mendapatkan kontrak film dari buku yang ditulisnya, aku pikir itu kesempatan bagiku. Tetapi, dia menolakku lagi. Dia bahkan ...” Byron tidak menyelesaikan perkataannya. Ia sudah bilang kan, dia jarang mengungkapkan perasaannya? Ini benar-benar bukan seperti dirinya.           “Zoe ... dia ...” Zac menghisap rokok untuk terakhir kali dan mematikannya. “Bersabarlah, Byron. Dia butuh waktu untuk percaya padamu.”           Lagi-lagi rasa penasaran itu mengusiknya. “Sebenarnya dia kenapa, Zac? Aku tahu dia tertarik padaku, tapi ...”           “Dia akan menceritakannya padamu jika dia siap. Bersabarlah, okey?” Zac kembali menepuk bahunya dan kini pria itu berdiri. “Kau mau di sini sampai kapan? Aku mau pulang.”           “Di mana rumahmu?” Byron ikut berdiri.           Zac tertawa, tampak menyadari niat Byron. “Kau serius dengan adikku, Byron? Karena jika tidak, jangan harap aku mengijinkanmu ikut pulang bersamaku.” Sekarang dia sangat serius saat mengatakannya.           “Aku ...” Byron menggaruk tengkuknya. Ia sendiri belum menemukan jawaban atas perasaannya, bagaimana mungkin ia bisa menjawab pertanyaan Zac?           “Atau jika kau hanya ingin meniduri adikku, lebih baik kau pergi.” Zac mulai melangkah meninggalkannya.           “Zac ...” Byron mengikuti Zac. “Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu, tapi ...”           “Cukup!  Dia tidak membutuhkan lebih banyak b******n dalam hidupnya. Pergi sekarang.” Nada bersahabat yang tadi Zac tunjukkan telah menghilang dan berganti dengan nada tajam melindungi.           “Tapi ...”           “Pergi, Byron!” Sorot mata Zac menandakan jika dirinya tak ingin dibantah.           Byron menatap Zac sesaat sebelum berbalik dan pergi. Ia tidak ingin menjanjikan sesuatu yang ia sendiri belum bisa menyakininya. Namun tentu saja hal itu tidak menghalanginya untuk mengetahui di mana Zoe tinggal. Ia tahu dirinya lemah, tetapi jika hanya ini kesempatan untuknya, dia akan menyambarnya. Segera setelah Byron melihat Zac berjalan, ia mengikuti pria itu. Sedikit berharap Zac tidak naik mobil. Namun harapannya pupus saat pria itu memasuki sebuah mobil berwarna hitam yang di parkir di pinggir jalan. Itu berarti, tempat tinggal Zoe jauh dari sini. Dan itu berarti, tipis sudah harapannya untuk tahu di mana Zoe tinggal.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD