BAB 3

1078 Words
Leonardi memberi isyarat kecil dengan tangannya pada Bram. Mobil itu pun melambat dan berhenti mendadak di pinggir jalan raya Viance yang sepi. Di luar, lampu jalan yang berkedip-kedip tertutup kabut tebal, memberikan suasana yang suram. Klik. Kunci pintu terbuka. "Turun," perintah Leonardi datar. Aruna tidak menunggu perintah kedua. Ia menyambar tasnya dan langsung keluar, menerjang guyuran hujan deras yang langsung membasahi seluruh tubuhnya. Namun, baru dua langkah ia menjauh dari mobil, suara Leonardi kembali terdengar, lebih tajam dan lebih dingin daripada petir yang menyambar di langit. "Jalanan Viance sangat gelap malam ini, Aruna." ucap Leonardi setengah meremehkan. Leonardi keluar dari mobil. Bram dengan sigap memayunginya, memastikan tidak ada satu tetes air pun yang mengenai jas mahal pria itu. Leonardi berdiri tegak, menatap Aruna yang berdiri di tengah jalan dengan pakaian basah kuyup yang melekat pada tubuhnya. Aruna berbalik, menatapnya dengan api kebencian yang menyala di matanya. "Aku benci padamu!" "Benci adalah perasaan yang sangat melelahkan, Aruna. Kau akan butuh energi itu untuk hal lain nanti," Leonardi melangkah mendekat, mengabaikan cipratan air hujan yang mengenai sepatu kulitnya yang mengkilap. "Pikirkan baik-baik tawaranku saat kau sampai di rumah kumuhmu nanti." imbuhnya Lenardi berhenti tepat di depan Aruna, jarak mereka begitu dekat hingga Aruna bisa mencium bau hujan yang bercampur dengan parfum maskulin Leonardi yang mahal. "Ingat satu hal, Aruna.” Leonardi mengatakan dengan penuh penekanan. “Saat kau melangkah masuk ke rumah sakit malam ini dan melihat ibumu sesak napas karena kau tidak punya uang untuk membeli tangki oksigen berikutnya, atau saat para preman itu kembali datang untuk mengambil adikmu, Renata, sebagai ganti hutang judi ayahmu, jangan pernah sungkan datang memohon padaku." “Tidak akan.” bantah Aruna. “Menarik.” desis Leonardi pelan. Aruna hanya mengerutkan kening, tidak mengerti maksud Leonardi. “Aku tidak peduli, pergilah! Menjauh dari kehidupanku dan keluargaku.” bentak Aruna. Leonardi tersenyum meremehkan. “Kau sungguh tidak sopan, Aruna.” sindirnya. “Kau membentak pria yang sudah membantumu melunasi semua hutang ayahmu.” “Aku tidak meminta bantuanmu.” Aruna masih bertahan dengan harga dirinya. Leonardi tertawa. “Jadi, harusnya aku biarkan saja kau dibawa dan melihat mereka menikmati tubuhmu?” sindir Leonardi tajam. Aruna kehabisan kata-kata. “Aku akan membayarnya padamu.” ucapnya akhirnya. Lalu berjalan menjauhi pria itu. Leonardi menipiskan bibirnya, sebuah senyum kejam tersungging di sana. Leonardi menatap punggung Aruna dengan perasaan yang berkecamuk. "Pintu Obsidian Manor selalu terbuka untukmu. Tapi ingat satu hal, setiap menit yang kau habiskan untuk merenung di luar sana, 'harga' yang harus kau bayar di dalam kamarku nanti akan semakin mahal. Aku bukan pria yang sabar, dan aku tidak suka hutang dariku dibayar telalu lama." teriak Leonardi pada Aruna yang semakin menjauh. Leonardi menatap tubuh Aruna yang menggigil sambil berjalan menjauhinya dengan pakaian yang sudah basah. Tanpa menunggu respons dari Aruna, Leonardi masuk kembali ke dalam mobil. Sedan hitam itu melesat pergi dengan cepat, meninggalkan Aruna yang masih berjalan sendirian menantang hujan untuk mempertahankan sisa harga diri yang dimilikinya. “Brengsek.” Aruna mengumpat dan mempercepat langkahnya menuju Halte di depannya. “Aku bersumpah tidak akan menyerah padamu, Leonardi.” geram Aruna dalam hati. Tangannya mencengkeram tali tasnya dengan erat, walaupun tubuhnya masih menggigil kedinginan karena hujan. Aruna terduduk di bangku kayu halte yang dingin, memeluk tasnya erat-erat. Pakaian kerjanya yang elegan kini lepek dan kotor, mencerminkan hancurnya harapan yang tadi ia bawa ke gedung Wiratama. Aruna menghembuskan napasnya pelan. Hari ini adalah hari yang berat untuknya. Aruna menatap lurus ke depan, tatapannya kosong tapi isi kepalanya riuh. Batinnya memberontak kenapa ia harus menghadapi ketidak adilan ini. Kota Viance memang kejam untuk manusia kelas bawah seperti dirinya ini. Sedangkan kehidupan di Viance akan berjalan mudah jika kau berada di posisi kelas atas. Apalagi kelas Konglomerat seperti Leonardi. Wiratama Corp. merupakan salah satu perusahaan besar di Negara Eldoria. Kelas Elite seperti Leonardi sudah pasti tidak akan mampu Aruna hadapi karena orang seperti Leonardi di Negara Eldoria, bisa mengatur hukum birokrasi yang berlaku. Jadi sebelum terlibat terlalu jauh, sebaiknya Aruna menjauh sejauh-jauhnya dari pria dingin itu. Aruna mendadak terkesiap, ketika tiba-tiba, ia mendengar ponselnya bergetar dari dalam tasnya. Aruna membuka tasnya dan mengaduk isinya hingga menemukan benda yang bergetar itu. Aruna membaca bagian layarnya sekilas. Sebuah panggilan dari Rumah Sakit Viance Central. "Nona Aruna, Ibu Maya mengalami penurunan kesadaran drastis," belum sempat Aruna menyapa, tiba-tiba suara seorang suster di seberang sana terdengar mendesak. "Transplantasi ginjal harus dilakukan dalam dua puluh empat jam ini. Pihak administrasi menunggu deposit dua miliar sebelum pukul delapan pagi besok, atau kami tidak bisa menjadwalkan ruang operasi kembali." Dua miliar. Angka itu terngiang seperti lonceng kematian. Aruna menutup wajahnya dengan telapak tangan, terisak di tengah deru angin malam Viance. Ia tidak mungkin kembali merangkak pada Leonardi. Pria itu terlalu berbahaya, terlalu manipulatif. “Suster, apakah ada cara lain untuk menyelamatkan ibu saya?” tanya Aruna. Secercah harapan, masih ia tunggu. “Karena ini sangat mendesak, saya rasa tidak ada jalan lain selain operasi Nona.” jelas suster di seberang sana. “Tapi untuk lebih jelasnya, Nona Aruna bisa menghubungi dokter atau pihak admisnistrasi rumah sakit besok.” tambah suster itu. Menumbuhkan sedikit harapan untuk Aruna. “Baik sus, saya akan kesana. Terimakasih.” ucap Aruna. Klik. Sambungan telepon terputus. Aruna kembali meletakkan ponselnya ke dalam tasnya yang sudah basah. Ia menghela napas untuk kesekian kalinya hari ini. Aruna ingin menangis rasanya, tapi air matanya sudah kering. Ia dipaksa kuat oleh keadaan. Tidak ada pelukan dan tidak ada kehangatan. Semua ini, harus ia telan sendirian. "Pasti ada jalan lain," bisiknya meyakinkan diri sendiri. "Besok... besok aku akan mencari pekerjaan apa pun." seolah teringat sesuatu, Aruna mengerjapkan mata beberapa kali. Dengan jari gemetar, Aruna kembali mengambil ponselnya lalu membuka layarnya. Aa mencari satu nama di kontaknya. Siska, teman kuliahnya dulu yang kini bekerja di industri hiburan Viance. Aruna tahu Siska punya banyak koneksi. "Halo, Siska? Maaf menelepon malam-malam..." Aruna berusaha menahan isak tangisnya. "Aku... aku butuh pekerjaan. Sekarang juga. Pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat." Di seberang telepon, terdengar suara musik dentum yang samar. Siska terdiam sejenak. "Aruna? Kau serius? Aku dengar kau melamar di perusahaan-perusahaan besar." "Aku butuh uang dua miliar besok pagi, Sis. Tolong aku." Siska menghela napas panjang. "Dua miliar dalam semalam? Aruna, satu-satunya tempat yang bisa memberikan uang banyak dengan cepat di Viance hanyalah The Velvet Room, tempat hiburan malam paling elit di Distrik Merah. Mereka butuh 'pendamping' untuk tamu-tamu VVIP malam ini. Tapi aku tidak yakin kamu akan bisa mengumpulkan dua milyar dalam semalam, Aruna."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD