Aruna mundur selangkah, jantungnya berdegup liar. "Aku tidak lari. Aku sudah bilang, berikan aku waktu sampai akhir bulan."
"Akhir bulan itu kemarin, Aruna," pria itu melangkah maju, mencengkeram lengan Aruna dengan kasar. "Ayahmu, Yudha si pecundang itu, baru saja menambah taruhannya semalam dan kalah lagi. Sekarang hutangnya naik dua kali lipat. Bos kami sudah hilang kesabaran. Kau harus membayarnya sekarang juga."
"Lepaskan! Aku sedang mengusahakan uangnya!" Aruna meringis kesakitan.
"Mengusahakan? Dengan bekerja sebagai petugas kebersihan di gedung mewah ini?" Pria itu tertawa mengejek, matanya menatap tajam ke arah gedung Wiratama yang menjulang tinggi. "Atau kau sudah menemukan 'sugar daddy' di atas sana? Kalau begitu, minta dia membayar sekarang, atau kami akan menyeret adikmu, Renata, ke tempat hiburan di Viance Bawah malam ini sebagai jaminan."
"Jangan sentuh Renata!" Aruna berteriak histeris, mencoba melepaskan diri.
“Lalu, apa harus kau saja yang menggantikannya dan bekerja di tempat hiburan?” ucap pria itu dengan nada yang membuat Aruna mual. “Rapi sebelumnya, kami harus menikmati tubuhmu dulu.” pria itu lalu tertawa keras dan memberikan isyarat pada anak buahnya.
Aruna memberontak sekuat tenaga. Ia bergerak hingga dua pria yang memeganginya merasa kewalahan.
DASH!
Kaki Aruna berhasil mendarat di paha pria itu hingga tubuhnya tidak seimbang dan jatuh. Pria itu lalu bangkit dengan kemarahan yang membara. Pria itu akan mengangkat tangannya dan Aruna pun memejamkan matanya sambil memalingkan wajahnya.
Saat pria itu mengangkat tangannya, hendak mendaratkan tamparan ke wajah Aruna, sebuah suara klakson mobil yang berat dan panjang memecah ketegangan. Sebuah sedan mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di belakang mobil van tersebut.
Kaca jendela belakang turun perlahan, menampakkan sosok Leonardi yang duduk dengan tenang di kegelapan kabin mobil. Ia bahkan tidak menoleh ke arah mereka, matanya tetap menatap lurus ke depan.
"Bram," ucap Leonardi pelan, namun terdengar jelas di tengah hujan.
Pria bernama Bram yang duduk di balik kursi kemudi mengangguk, tangan kanan Leonardi, keluar dari pintu seolah memberikan isyarat yang hanya mereka yang mengetahui artinya. Ia tidak membawa senjata, namun kehadirannya yang dingin membuat para penagih hutang itu menghentikan aksi mereka.
Bram turun dari mobil dengan tangan kanan memegang gagang payung dan tangan kiri memegang sebuah koper hitam di bawah. Ia berjalan mendekati kumpulan preman yang menyandera Aruna dan menyodorkan sebuah koper kecil ke arah pemimpin preman itu.
"Sesuai perintah Tuan Wiratama. Semua hutang Yudha Ayudya, lunas. Beserta bunga dan denda keterlambatannya," ucap Bram datar. "Dan ini peringatan terakhir, Jika kalian, atau siapa pun dari kelompok kalian, mendekati wanita ini atau keluarganya lagi, kalian tidak akan pernah melihat matahari terbit di Viance lagi."
Pemimpin preman itu membuka koper, matanya membelalak melihat tumpukan uang tunai di dalamnya. Ia menelan ludah dan menatap Bram yang masih berdiri bergeming, lalu menatap Leonardi yang masih diam di dalam mobil. Tanpa sepatah kata pun, ia melepaskan cengkeramannya pada Aruna, memberi kode pada anak buahnya untuk segera masuk ke van dan pergi dari sana.
Aruna jatuh terduduk di aspal yang basah. Napasnya tersengal, air mata bercampur dengan air hujan di pipinya. Ia menatap mobil mewah itu dengan perasaan campur aduk, antara lega dan ketakutan yang lebih besar.
Pintu mobil terbuka. Leonardi melangkah keluar, payung hitam yang dipegang Bram segera melindunginya dari hujan. Ia berdiri di depan Aruna yang bersimpuh, menatapnya dari ketinggian dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Sekarang kau mengerti, Aruna?" Leonardi mengulurkan tangan sarung tangan kulitnya. "Dunia di luar sana akan menghancurkanmu tanpa ampun. Hanya di dalam dinding rumahku kau akan aman."
Aruna menatap tangan itu. Ia tahu, jika ia menyambutnya, ia tidak akan pernah bisa kembali lagi ke kehidupannya yang lama. Namun bayangan Renata yang terancam dan ibunya yang sekarat membuatnya tidak punya pilihan.
“Tidak.” tolak Aruna dengan keras kepala. Aruna masih mempertahankan harga dirinya.
“Kau tidak punya pilihan lain, Aruna.” ucap Leonardi dingin. Ekor mata Leonardi memberikan isyarat pada Bram untuk membuat Aruna masuk ke dalam mobil. Bram yang berdiri memegang payung, mengangguk dan membukakan pintu.
“Aku tidak mau ikut denganmu.” Aruna masih bertahan dengan harga dirinya.
Leonardi mengangguk dan Bram langsung meraih lengan Aruna dan setengah menyeretnya untuk duduk di bangku belakang di samping Leonardi.
"Kenapa Anda melakukan itu?" pekikan Aruna memecah keheningan di dalam kabin sedan mewah yang kedap suara itu. Di sampingnya, Leonardi duduk dengan ketenangan yang memuakkan. Aroma sandalwood dari tubuh pria itu mengepung Aruna, terasa seperti jerat yang perlahan mencekik lehernya hingga ia sulit bernapas.
Leonardi tidak langsung menoleh. Ia justru sibuk mengusap permukaan jam tangan mahalnya dengan ibu jari, seolah Aruna tidak lebih dari sekadar gangguan kecil yang ada di mobil mewahnya. "Melakukan apa? Menyelamatkanmu dari preman yang hampir menikmati tubuhmu?"
"Anda membayar mereka seolah saya adalah barang dagangan! Anda memamerkan kekuasaan Anda di depan saya!" Aruna mencengkeram tasnya kuat-kuat.
Leonardi akhirnya menoleh. Tatapannya sedingin es, tanpa ada sedikit pun empati. "Kamu memang sudah kubeli, Aruna." ucap Leonardi ringan.
“Jadi, sekarang kau harus ikut denganku. Karena kau milikku.” imbuh Leonardi sambil menoleh ke arah Aruna dan tersenyum simpul.
PLAK!
Suara tamparan itu bergema keras di dalam kabin mobil. Tangan Aruna mendarat telak di pipi Leonardi sebelum otaknya sempat memerintahkan untuk berhenti.
Bram, sang sopir yang sedang menyetir di depan, melirik melalui spion tengah dengan mata membelalak.
Namun, ia cukup profesional untuk menjaga kemudi tetap stabil meski suasana di belakangnya mendadak menjadi sangat berbahaya.
Suasana di dalam mobil berubah mencekam. Leonardi tidak membalas. Ia hanya memalingkan wajahnya perlahan kembali menatap Aruna.
Ada bekas merah di pipinya yang putih bersih, namun matanya memancarkan kilatan gelap yang jauh lebih mengerikan daripada amarah biasa.
Itu adalah tatapan seorang tuan yang baru saja diserang oleh peliharaannya.
Namun, dalam sorot mata Leonardi entah kenapa ada sedikit ketenangan dan kehangatan setelah tangan Aruna berhasil mendarat di pipinya hingga menimbulkan bekas merah. Raut monster penguasa yang dingin seolah luntur untuk beberapa detik.
"Buka pintunya," desis Aruna, tubuhnya gemetar hebat.
"Kita belum sampai di mansion," sahut Leonardi pelan. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang sangat nyata.
"Buka pintunya atau aku akan melompat sekarang juga!" Aruna menarik tuas pintu dengan kalap, namun sistem penguncian otomatis tetap menguncinya di dalam.
Ia mulai memukul kaca jendela dengan kepalan tangannya yang kecil. "Buka! Aku tidak mau pergi dengan monster seperti Anda! Aku lebih baik mati daripada bersamamu!"