Sebenarnya sulit bagi Arfan untuk membiarkan Kia pergi. Bukan karena ingin mengekang, tapi dia masih tidak percaya dengan Kia. Memang selama tinggal bersama gadis itu mulai melunak. Kia sudah mulai bisa mengontrol waktu dan keuangan, tapi tidak dengan emosinya. Gadis itu masih sering marah meskipun ujung-ujungnya selalu kalah.
Arfan masih menatap mobil van yang mulai menjauh dari pekarangan rumah. Dia menghela napas kasar dan menunduk. Di sampingnya ada Mbok Sum tampak menatapnya khawatir.
"Mas Arfan nggak papa?"
"Kia nggak bakal aneh-aneh kan, Mbok?" tanya Arfan, "Saya sudah janji sama Pak Surya buat jaga dia."
"Mbok yakin Mbak Kia nggak aneh-aneh, Mas."
"Saya masih kurang percaya sama teman-temannya. Mereka juga yang ajak Kia pergi di malam kecelakaan itu."
"Itu udah takdir, Mas."
Betul, Arfan tahu jika semua itu adalah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Mulai dari kecelakaan Kia sampai koma, hingga akhirnya Pak Surya ikut tumbang karena penyakit jantungnya. Semua terjadi begitu cepat dan hanya ada dirinya di sana yang mengurus semuanya, satu-satunya orang yang dipercaya Pak Surya.
"Saya berangkat dulu, Mbok." Arfan pamit dan masuk ke dalam mobil. Dia akan berangkat ke kantor sekarang.
***
Arfan mencoba untuk fokus, tapi tidak bisa. Sesekali dia melirik ponselnya untuk mengecek keberadaan Kia. Ya, Arfan sendiri yang meminta lokasi gadis itu selama berlibur. Tidak berlebihan menurutnya, karena Arfan memang harus berjaga-jaga.
"Jadi gimana, Pak?" Suara Nadia membuyarkan lamunan Arfan.
Saat ini mereka sedang berada di ruang rapat. Hanya ada dirinya dan Nadia untuk membahas hasil rapat yang baru saja selesai.
"Gimana?"
Nadia berdeham dan kembali menjelaskan. Sebenarnya dia tahu jika Arfan tidak fokus hari ini. Pria itu selalu menatap ponselnya setiap detik. Nadia penasaran, tapi dia menahannya. Dia tidak mempunyai hak untuk bertanya.
"Nanti kamu hubungi departemen keuangan. Minta datanya dan kirim ke saya," putus Arfan pada akhirnya. Dia tidak bisa membahas pekerjaan lebih lanjut atau semuanya akan berubah kacau.
Nadia mengangguk, "Baik, Pak."
Arfan berdiri dan kembali ke ruangannya. Tangan kananya membawa beberapa map dan tangan kirinya masih membawa ponsel untuk memantau lokasi Kia. Saat sudah berada di ruangan, Arfan mulai menghubungi Kia. Seharusnya gadis itu sudah sampai tapi lokasi menunjukkan jika mereka masih berada di perjalanan.
"Halo, Kia? Kenapa kamu belum sampe?" tanya Arfan langsung.
Kia mendengkus mendengarnya. Dia tahu jika Arfan sedang mengawasinya saat ini, "Ban mobil bocor, Mas. Ini lagi berhenti di bengkel."
Arfan menghela napas kasar. Belum sampai saja sudah ada masalah. Dia jadi semakin ragu sekarang. Tanpa menjawab ucapan Kia, Arfan merubah panggilan telepon menjadi panggilan video.
"Saya mau liat," ucap Arfan langsung setelah melihat wajah Kia.
Kia mulai memperlihatkan keadaan sekitarnya. Dia memang tidak berbohong dan berhenti di bengkel saat ini.
"Udah berapa lama?" tanya Arfan.
"Sebentar lagi selesai kok."
"Mau ganti mobil? Biar saya kirim."
"Nggak perlu! Lagian ini bagian asiknya kalau lagi liburan," ucapnya tertawa.
"Dasar aneh."
"Udah ya, sana Mas Arfan kerja lagi. Jangan korupsi waktu. Aku mau liburan dulu."
Arfan mendengkus saat panggilan sudah terputus. Dia duduk di kursi dan mengusap wajahnya pelan. Dia harus kembali fokus bekerja. Arfan sadar jika dia sudah berlebihan dalam mengkhawatirkan Kia. Namun setelah apa yang terjadi pada gadis itu dan ayahnya, sepertinya sikap Arfan tidak berlebihan. Kia yang ceroboh memang harus selalu diawasi.
***
Di malam hari, Kia tampak menikmati waktunya bersama teman-teman. Di halaman villa, mereka semua tampak bersemangat untuk membakar jagung. Udara malam yang dingin seolah mendukung suasana yang ada.
Gio duduk di samping Kia dan memberikan jagung bakar yang sudah matang. Kia bergumam terima kasih dan mulai menikmatinya.
"Akhirnya kita bika kumpul lengkap," ucap Gio menatap teman-temannya yang tampak bahagia. Ada yang bermain gitar, bernyanyi, membakar jagung, bahkan ada yang tertidur di atas rerumputan.
"Sorry, ya. Gara-gara gue, liburan kalian ketunda terus, tapi untung sekarang bisa."
"Mas Arfan emang galak gitu ya?" tanya Gio.
Kia berpikir dengan tatapan menerawang, "Galak banget!"
"Kok bokap lo bisa percaya sama dia? Lo juga nggak keliatan bahagia."
Kia tersenyum kecut, "Meskipun galak, tapi gue tau kalau Mas Arfan itu baik."
Gio mengerutkan keningnya bingung, "Nggak paham gue, galak tapi baik? Gimana sih?"
"Susah dijelasin, gimana ya..." Kia tampak berpikir, "Gue tau gue nakal, suka keluar jalur. Nah, Mas Arfan itu yang suka ngingetin."
"Dengan nggak boleh keluar dan nggak kasih uang jajan? Nggak asik tau, Ki."
"Buktinya gue boleh keluar sekarang, buktinya gue dikasih uang jajan. Ya.. meskipun harus maksa dulu sih."
"Tetep aja dia nyebelin."
Kia mengangguk setuju, "Mas Arfan emang nyebelin, tapi dia paling tau apa yang gue butuhin. Ibaratnya ya, dia lebih milih buat beli beras dari pada lauk."
"Lo bilang kaya gini karena dikasih izin pergi dan dapet uang jajan kan?" Mata Gio menyipit, "Kalo enggak, gue yakin lo udah sumpahin dia pake kata-kata mutiara."
Kia tertawa mendengar itu. Ucapan Gio ada benarnya, tapi apa yang ia ucapkan tadi juga bukanlah kebohongan. Arfan itu seperti bunglon. Kadang baik dan juga menyebalkan. Kia mulai tahu kapan waktunya Arfan berubah menjadi orang baik dan tidak.
"Terus gimana rencana lo habis ini?"
Kia tahu arah pembahasan ini. "Luar kota mungkin."
"Lo yakin Mas Arfan izinin?"
"Demi pendidikan masa enggak? Lagian enak tinggal sendiri dari pada sama dia." Kia mulai terkekeh.
"Gue sama yang lain rencana kuliah di luar kota. Mau coba juga?" tanya Gio.
"Boleh! Nanti gue coba omongin sama Mas Arfan."
"Oke, gue seneng kalau lo mau ikut," ucap Gio tersenyum manis.
"Dih, geli gue."
Gio masih tersenyum, "Serius, Ki. Kita udah deket lama, jadi gue seneng kalau kita masih bisa bareng terus nanti."
Kia mengangguk dan mengalihkan pandangannya. Dia memang sudah lama berteman dengan Gio, sejak dari SMP. Sedangkan teman-temannya yang lain ia kenal saat duduk di bangku SMA.
***
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Mata Kia belum juga terpejam. Mungkin dia belum terbiasa tidur di tempat asing. Dia melihat teman-teman wanitanya yang sudah tertidur. Hanya tinggal dirinya yang masih terjaga. Untuk para pria? Mereka memilih untuk tidur di ruang tengah sambil bermain game.
Getaran pada ponselnya membuat lamunan Kia buyar. Ada nama Arfan di sana. Dahi Kia mulai berkerut. Untuk apa pria itu menghubunginya di tengah malam seperti ini? Apa terjadi sesuatu?
Tidak ingin berpikir buruk, dengan cepat Kia mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Kenapa belum tidur?"
"Belum ngantuk," jawab Kia memiringkan badannya, "Mas Arfan ada apa telepon?"
"Nggak papa."
"Kok belum tidur?" tanya Kia lagi. Dia tidak sadar dengan pertanyaan yang terdengar perhatian itu.
"Nggak bisa tidur."
Cukup lama mereka terdiam sampai akhirnya Arfan berdeham pelan, "Kalau gitu saya matiin teleponnya."
"Oke."
"Habis ini langsung tidur."
Kia menelan ludahnya pelan, "Iya, Mas."
Setelah panggilan terputus, Kia mengedipkan matanya berulang kali. Apa itu tadi? Apa dia baru saja berbicara santai dengan Arfan tanpa adanya pertengkaran? Rasanya sangat asing tapi juga damai.
Rasanya aneh.
***
TBC