Bersandar di kepala ranjang menjadi pilihan Arfan kali ini. Telinganya masih aktif mendengarkan petuah ibunya di seberang telepon. Mau tidak mau Arfan hanya bisa mengangguk. Dia tidak bisa membantah ibunya.
"Kamu jangan keras-keras sama Kia."
Selalu itu yang ibunya ucapkan saat mereka bertelepon. Meskipun hanya bertemu satu kali, tapi entah kenapa ibu Arfan sangat peduli dengan Kia. Ditambah fakta jika gadis itu sudah yatim piatu sekarang. Hanya Arfan satu-satunya orang yang dia harap bisa menjaga Kia. Seperti wasiat Pak Surya.
"Kalau nggak dikasih ketegasan nanti dia ngelunjak, Buk."
Suara helaan napas terdengar dari mulut ibunya. Wanita paruh baya itu memang paling mengerti anaknya. Arfan adalah tipe orang yang perfeksionis. Bagus memang, tapi tidak semua hal harus sama seperti apa yang ia inginkan. Seharusnya anaknya tahu jika sikap itu tidak bisa diterapkan pada Kia.
"Terus kamu mau gimana? Sampai kapan pun Kia nggak akan nyaman kalau kamu gini terus."
"Aku bingung mau gimana. Tadi dia juga minta izin buat liburan sama temen-temennya."
Lagi-lagi ibunya menghela napas, "Ya kasih izin lah, Fan. Kia juga mau seneng-seneng sama temennya. Masa harus sama kamu terus?”
Arfan berdecak, "Di Bandung, Buk. Dia juga mau nginep."
Beberapa detik ibunya terdiam sampai akhirnya ia berbicara, "Kamu khawatir?"
"Iya," jawab Arfan tanpa ragu.
Setelah kecelakaan hebat yang Kia alami hingga koma membuatnya sedikit berlebihan dalam menjaga gadis itu. Bukan hanya tuntutan wasiat tapi juga dorongan dari hatinya.
"Kamu mau larang Kia?"
"Tapi nanti dia marah." Arfan menunduk dan menatap album foto di pangkuannya. Album foto yang menjadi kenangan terakhir sebelum Pak Surya menutup mata. Arfan sangat menjaganya dengan rapat agar Kia tidak mengetahuinya.
"Kalau gitu ya izinin."
"Kalau dia aneh-aneh gimana?"
"Aduh, Fan. Ibuk pusing sama kamu. Terserah kamu aja, ibuk nggak ikut-ikut."
Arfan memijat pangkal hidungnya pelan. Sepertinya ibunya sudah putus asa mendengar keluh kesahnya selama ini tentang Kia. Arfan hanya ingin gadis itu berubah dan menurut. Semua yang ia lakukan semata untuk kebaikan gadis itu sendiri. Selama ini Kia dimanja oleh ayahnya, itu yang membuatnya tumbuh menjadi gadis pembangkang seperti sekarang. Jika tidak dituruti maka dia akan marah dan Arfan harus sabar dengan kemarahannya yang menyebalkan.
"Ya udah, aku pikirin besok aja. Ibuk tidur sekarang."
"Inget pesen Ibuk, Fan. Jangan buat Kia nangis."
"Iya," jawabnya ragu. Padahal kenyataannya entah sudah berapa kali Arfan membuat Kia menangis karena kesal dengan semua peraturan yang ia buat.
Arfan mematikan lampu tidur dan mulai berbaring. Dia menarik napas dalam dan membuangnya. Sejak mendapatkan wasiat untuk menjaga Kia, beban di pundaknya terasa semakin berat. Kia adalah anak kesayangan Pak Surya. Gadis itu layaknya batu permata yang harus dijaga karena hanya satu di dunia ini, sendirian.
***
Pagi telah tiba dan Kia bertingkah mencurigakan. Dia tidak bangun siang seperti kebiasaannya saat libur. Saat ini dia berada di meja makan bersama Arfan. Meskipun belum mandi, tapi Kia tampak segar saat ini. Arfan hanya bisa menatapnya bingung.
"Mas Arfan mau tambah sop?" tawar Kia.
Mata Arfan kembali menyipit. Keanehan Kia kembali muncul. Lagi-lagi dia berubah manis. Ada apa ini?
"Nggak usah basa-basi. Kamu mau apa?" tanya Arfan mengelap bibirnya dengan tisu.
Kia terkejut dan mengerjabkan matanya berulang kali. Setelah sadar, dia berdiri dan berpindah duduk di samping Arfan.
"Izinin aku buat ikut liburan ya?" tanya Kia menarik lengan Arfan.
Dengan cepat Arfan menarik tangannya dan memggeleng. Benar bukan? Tidak mungkin Kia berubah baik secara tiba-tiba seperti ini. Jika memang kerasukan pun, Arfan ragu jika Kia masih akan bersikap baik padanya.
"Saya belum ambil keputusan."
"Ih, Mas Arfan! Udah mepet nih." Kia berdecak kesal.
"Kasih saya alasan dan buat saya percaya kalau kamu nggak bakal aneh-aneh di sana."
Kia terdiam dan berpikir. Alasan apa yang ia berikan agar Arfan mau memberikan lampu hijau? Dia memang tidak akan berbuat aneh-aneh, tapi belum tentu dengan teman-temannya. Kadang para lelaki suka melakukan hal yang gila.
"Aku janji nggak aneh-aneh." Akhirnya Kia memilih untuk berjanji.
Arfan menatap Kia lekat, mencoba mencari celah kebohongan dari mata itu.
"Oke, saya izinin. Selama di sana, kamu harus angkat telepon dari saya."
Senyum Kia merekah. Dia berdiri dan berteriak senang. "Akhirnya bongkahan es meleleh juga! Yes!"
"Jangan seneng dulu...," Arfan berdiri dan mulai meraih tas kerjanya, "Karena saya nggak akan kasih uang saku," ucapnya berlalu pergi meninggalkan Kia yang mendadak terdiam.
Tanpa uang saku? Apa Arfan sudah gila? Tidak mungkin Kia berangkat jika tidak memiliki uang. Tabungannya saja tidak akan cukup jika digunakan untuk berbelanja buah tangan nanti.
"Nyebelin banget sih!" teriak Kia setelah tersadar. Dia menatap Arfan yang berjalan keluar rumah dengan pandangan marah.
Kenapa pria itu tidak bisa membuatnya senang untuk sehari saja? Kenapa dia selalu bisa menghancurkan kesenangannya dalam waktu sedetik?
***
Arfan menghentikan langkahnya saat melihat pintu kamar Kia yang terbuka. Dia berjalan mendekat dan bersandar di pintu. Tangannya terlipat di d**a sambil memperhatikan Kia yang tengah menutup tasnya. Gadis itu sedang bersiap-siap untuk berangkat besok. Ternyata ancamannya dengan tidak memberi uang saku tidak membuat Kia berubah pikiran. Benar-benar keras kepala.
"Buka tas kamu."
Kia terkejut dan menatap Arfan bingung, "Ngapain? Udah selesai aku packing-nya."
"Saya mau liat." Arfan mengambil tas Kia dan mulai membukanya.
Kia hanya pasrah saat Arfan mulai mengacak-acak isi tasnya.
"Cari apa sih, Mas?"
"Ini." Arfan mengambil baju tidur Kia dan melemparnya ke atas kasur, "Ganti yang panjang."
Bibir Kia terbuka mendengar itu, "Mana enak tidur pake baju panjang, lagian itu panjangnya masih selutut kok."
"Bandung itu dingin," jawab Arfan tak acuh dan mulai membuka lemari Kia. Tanpa ragu dia mengambil pakaian tidur yang menurutnya pas untuk Kia bawa.
"Panas tau!" Kia merebut bajunya dari tangan Arfan.
"Ada laki-laki di sana."
"Ya terus kenapa? Temenku nggak bakal aneh-aneh kok."
Arfan menggeleng dan kembali mengambil pakaian Kia lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Mas Arfan nyebelin banget sih?Apa nggak bosen larang-larang aku terus?! Aku capek, Mas. Aku nggak boleh ini, nggak boleh itu, nggak dikasi uang saku! Aku capek!" Kia dengan kesal keluar dari kamar meninggalkan Arfan yang tampak terkejut melihat emosinya yang meledak.
"Dia marah lagi," gumam Arfan pasrah.
Setelah selesai mengecek tas Kia, Arfan keluar dari kamar dan mencari keberadaan gadis itu. Terlihat Kia sedang duduk di teras rumah sambil memakan es krim. Saat mendekat, Arfan bisa mendengar suara isak tangis.
Lagi-lagi dia membuat Kia menangis.
"Udah malem," ucap Arfan pada akhirnya.
Kia terkejut dan menghapus air matanya cepat. Dia masih memunggungi Arfan sambil berusaha menghabiskan es krim di tangannya.
"Tidur sekarang, kamu bisa kesiangan besok."
"Nanti," jawab Kia dengan suara serak.
"Saya sudah transfer uang ke rekening kamu."
Kia terkejut dan berbalik dengan cepat, "Apa, Mas?"
"Buat jajan kamu besok. Sekarang tidur." Arfan menepuk kepala Kia pelan dan berlalu masuk ke dalam rumah.
Kia menatap punggung Arfan dengan bingung, "Mas Arfan kesurupan? Kenapa nggak tiap hari aja kesurupannya?"
Memang tidak mudah menyatukan dua sifat yang sama-sama keras kepala. Namun apa yang bisa mereka lakukan selain bertahan untuk empat tahun ke depan?
***
TBC