Kembali Terulang

1184 Words
Hari Sabtu bukan lagi menjadi hari yang menyenangkan untuk Cia. Biasanya dia akan tidur seharian untuk mengganti jam tidur siangnya yang sering terlewat saat bekerja, tetapi kali ini ia tidak bisa melakukannya. Pagi hari dia harus sudah berada di kantor. Sesuai jadwal yang diinginkan Agam, mereka akan bermain golf hari ini. Sekaligus rapat katanya. Meskipun Cia ragu, tetapi dia tetap menurut. Agam masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk berangkat. Namun dia menghela napas lelah saat mendengar suara cekikikan dari kursi belakang. Dia melihat ke belakang melalui center mirror sambil berpikir. Kenapa dia harus berurusan dengan dua wanita aneh di belakangnya? "Kok nggak jalan?" tanya Febi menatap kakaknya polos. Ya, gadis itu juga ikut dengan kegiatan mereka kali ini. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Cia tiba-tiba datang bersama Febi. Agam hanya bisa pasrah saat melihat adiknya itu tidak bisa lepas dari Cia. Bahkan saat Agam mengusirnya pergi, Febi kembali beraksi sambil merengek. "Kita mau main golf. Bukannya kamu nggak bisa?" tanya Agam. "Kan ada Cia, dia juga nggak bisa," jawab Febi dengan senyuman manis. Cia mengangguk setuju, "Iya, saya juga nggak bisa, Pak." "Saya juga, Pak." Terdengar suara berat dari sebelahnya. Mata Agam terpejam dan melirik pria yang duduk di sampingnya. Pria itu terlihat meliriknya takut sambil memeluk tas di pangkuannya erat. Bukan hanya Febi yang membuatnya kesal, tetapi juga pria aneh itu. "Kamu juga. Kenapa ikut?" tanya Agam bingung. Ridho berdeham pelan dan melirik Febi meminta pertolongan. "Aku yang ajak. Santai aja kali." "Ini bukan liburan tapi rapat penting. Kalian nggak bisa seenaknya." "Kan mereka juga karyawan kantor, Pak." Cia membuka suara. "Udah, deh. Jangan berantem. Salah sendiri culik Cia di hari libur. Acara nyalon aku sama Cia jadi gagal." "Pak, sudah jam setengah delapan." Ridho mengingatkan. Bukannya berterima kasih, Agam malah menatapnya semakin tajam. "Kamu yang nyetir," perintah Agam. Ridho mulai panik. "Anu—Pak. Anuu, kata Mama saya, saya nggak boleh nyetir di hari libur. Jalanan pasti rame." Kali ini bukan hanya Agam yang terkejut, tetapi Cia dan Febi juga. Mereka merutuki tingkah Ridho yang tak paham situasi. Pria itu benar-benar polos dan mampu membuat tensi darah semua orang yang berada di dekatnya naik. Tidak ada perlawanan dari Agam. Pria itu dengan segera menjalankan mobilnya mengabaikan tiga orang yang tidak sefrekuensi dengannya. Jika seperti ini, dia seperti tengah mengurus tiga bayi. Apalagi saat ini mereka tanpa tahu malunya mulai bernyanyi dengan diiringi musik yang Febi putar. *** "Jadi Dika sudah nggak kerja sama kamu, Gam?" tanya Pak Dandung sambil memukul bola golf. "Untuk sementara tidak, Pak. Dika masih dalam pemulihan." "Jadi Dika akan balik lagi?" tanya Pak Dandung melirik Cia. Gadis itu hanya diam dan memilih untuk berdiri di belakang Agam, mencoba berlindung di punggung pria itu dari panasnya matahari yang menyengat kulit. Dia tidak bisa fokus karena memang dia tidak menyukai kegiatan ini. "Setelah Dika sembuh, dia akan kembali, Pak. Untuk sementara saya dibantu Cia." Agam menarik Cia untuk berdiri di sampingnya. Mendengar namanya yang disebut, Cia hanya bisa tersenyum manis. Sebisa mungkin dia menunjukan keramahannya karena itu juga salah satu tugasnya. "Cantik, sih. Tapi kayaknya Dika lebih cekatan." Pak Dandung kembali fokus pada permainan. Senyum Cia seketika luntur. Dia melirik Agam yang ternyata juga menatapnya. Cia tidak bisa menutupi ekspresi kesalnya. Apalagi saat melihat Agam yang diam tanpa membelanya. Tentu saja! Apa yang Cia harapkan? "Saya ikut Febi sama Ridho aja ya, Pak?" bisik Cia kesal. "Tetap di sini." Bagaikan sebuah perintah yang tak bisa dibantah, Cia lagi-lagi menurut. Dengan hati terpaksa dia kembali berlindung di balik punggung Agam. Selain tidak suka dengan permainan ini, Cia juga tidak menyukai bagaimana rekan kerja Agam itu melihatnya. Cia memang tidak seperti Dika yang berpengalaman, tetapi dia juga tidak bodoh. Jika diberikan waktu, Cia yakin jika dia bisa bekerja dengan lebih baik lagi. "Giliran kamu." Agam kembali menarik Cia. "Saya nggak bisa, Pak," jawab Cia mendongak karena tinggi tubuh Agam. Matanya mulai menyipit saat terkena cahaya matahari. Melihat itu, Agam melepas topinya dan memasangkannya di kepala Cia. "Lain kali bawa topi." Ucapan Agam terdengar biasa dan tak berarti. Namun Cia menanggapinya berbeda. Jantungnya mulai berdegup kencang. Apalagi saat Cia merasakan tangan besar Agam di kepalanya. Rasanya benar-benar luar biasa. Kayak di puk-puk ayang. "Bisa lebih cepat?" Suara Pak Dandung membuyarkan lamunan Cia. "Saya nggak bisa, Pak," bisik Cia lagi pada Agam. "Saya bantu." Setelah itu Agam mulai berdiri di belakang Cia. Dia menyentuh tangan gadis itu dan memberitahu cara memegang tongkat golf yang benar. "Pegang erat," perintah Agam. Cia menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Berusaha untuk menenangkan hatinya yang semakin tak karuan. Berdiri dekat dengan Agam membuat kaki Cia mulai lemas. Aroma itu, Cia sangat mengingatnya dengan jelas. Aroma tubuh pria itu masih sama. "Buka kaki kamu selebar bahu," ucap Agam lagi sambil menepuk pelan paha Cia. Sialnya sentuhan kecil itu membuat tubuh Cia bagai tersengat listrik. Dia berdoa dalam hati semoga Agam tidak menyadari rasa gugupnya. Bahkan tangannya sudah sangat dingin saat ini. Berbanding terbalik dengan cuaca yang cukup terik. "Fokus, Cia." Tidak! Bagaimana dia bisa fokus dalam keadaan seperti ini? Yang ada, Cia malah dibuat tidak fokus. Jangankan fokus, untuk berdiri saja Cia mengeluarkan tenaga besar saat ini. Dia berusaha agar tetap berdiri karena tubuhnya yang lemas. Sebenarnya apa yang Agam lakukan saat ini? Apa pria itu sadar dengan efek yang ditimbulkan? "Sekarang ayunkan dan pukul," ucap Agam yang kali ini terdengar jelas di telinga Cia. Cia menoleh dan terkejut melihat wajah Agam yang begitu dekat dengannya. Tatapan mata mereka pun bertemu tanpa disengaja. Kali ini Cia benar-benar menahan napasnya. Tubuhnya mulai membeku, seolah paham jika posisi ini adalah posisi yang akan jarang ia dapatkan. "Papa!" Suara melengking itu membuat Cia tersadar dan mendorong tubuh Agam menjauh. Dia menoleh ke arah sumber suara dan terkejut melihat siapa yang datang. "Mbak Barbie?" gumam Cia tidak percaya. Apalagi saat wanita itu memeluk Pak Dandung. "Maaf aku telat, Pa." Kebetulan macam apa ini? Ternyata Nadira Santoso adalah anak Pak Dandung. Sekarang Cia paham kenapa Pak Dandung melihatnya dengan tatapan tidak suka. Pasti ada hubungannya dengan anaknya. "Maaf, Pak. Saya ke toilet dulu. Biar saya diganti sama Ibu Nadira aja." Tanpa menunggu jawaban, Cia memberikan tongkat golf-nya dan berlari pergi. Dia harus cepat sebelum dia benar-benar terjatuh karena lemas. Belum tenang dengan tingkah Agam, kedatangan Nadira juga membuat Cia terkejut. Yang ada di kepalanya saat ini adalah pergi. Sepertinya lari dari kenyataan adalah kebiasaan buruknya. Sesampainya di toilet, Cia membasuh wajahnya dengan air dingin. Mencoba menyadarkan diri agar tidak terbawa situasi. Matanya menatap penampilannya di cermin dengan sendu. Meratapi nasibnya yang entah kenapa begitu sial. Buat apa dia lari jauh-jauh jika kembali bertemu dengan keadaan yang seperti ini? Cia menyentuh dadanya yang masih berdebar. Dia mulai bertanya-tanya. Kenapa rasanya masih sama? "Cia!" Tiba-tiba Febi masuk dengan tergesa. "Lo nggak apa-apa?" tanyanya khawatir. Cia menatap Febi dengan nanar. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Yang ada malah air mata yang keluar, membaur dengan air yang membasahi wajahnya. Sayangnya Febi menyadari itu semua. Ini yang ia takutkan. Dia takut Cia kembali terjebak dengan perasaan ini. Itu yang membuatnya memaksa untuk ikut. "Feb...," panggil Cia dengan serak. "Kayaknya gue masih suka sama Kak Agam." *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD