Barbie Hidup

1335 Words
Hari kedua, Cia masih mengalami culture shock. Pekerjaan yang bukan di bidangnya membuatnya sedikit kewalahan. Namun bukan berarti Cia tidak bisa. Dia hanya memerlukan sedikit waktu untuk adaptasi. Andai saja Cia tidak bekerja untuk Agam mungkin dia akan dengan senang hati belajar. Namun sejak awal dia bekerja di sini karena terpaksa dengan keadaan. Harapan Cia tidak banyak. Dia hanya akan bekerja untuk mendapatkan uang dan tanpa gangguan. Itu saja. Dering telepon kantor di meja Cia kembali berdering. Ini sudah ke-4 kalinya sejak 15 menit terakhir. Kehidupannya sebagai sekretaris benar-benar luar biasa. Ingatkan Cia untuk memberi pujian pada Dika yang memiliki kesabaran dan keuletan yang tinggi. "Kamu ke ruangan saya sebentar." Mata Cia terpejam mendengar suara berat di seberang telepon. Lagi-lagi Agam yang menelponnya. Padahal dia baru saja menghubunginya delapan menit yang lalu. Dengan malas Cia berdiri dan masuk ke dalam ruangan. "Ada apa, Pak?" "Keluar." Tanpa meliriknya Agam berbicara. "Hah?" tanya Cia bingung. "Kamu keluar terus masuk lagi." Cia menarik napas panjang dan mulai keluar. Satu detik kemudian dia kembali masuk sesuai perintah Agam. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Agam mulai melepas kaca mata bacanya dan menatap Cia sepenuhnya. Pria itu menatapnya dengan datar. Tatapan yang tidak Cia sukai. Dengan tatapan itu, dia tidak bisa mengetahui apa yang Agam pikirkan saat ini. "Pak Agam ada perlu ap—" "Keluar," perintah Agam lagi. "Astaga!" Cia menjambak ramburnya frustrasi. Bahkan dia tidak malu menunjukkannya di depan Agam. "Mau Pak Agam apa?!" "Saya mau kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk ruangan saya." Cia membuka mulutnya tidak percaya. Agam mengucapkan kalimatnya tanpa rasa bersalah. Seolah apa yang Cia lakukan merupakan kesalahan yang sangat besar. Baiklah, Cia sadar jika ia salah. Agam sudah sering mengingatkannya untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Kebiasaannya sangat buruk. Namun Cia hanya lupa, bukan karena tidak mau. Agam yang terlalu sering memanggilnya membuatnya gemas sendiri dan ingin waktu segera cepat berlalu. Ingat, bagi Cia berhadapan dengan Agam sama saja berhadapan dengan tembok beton yang keras dan kokoh. Tak ingin membuang banyak waktu, Cia pun kembali keluar dan mengetuk pintu. Dia melakukan perintah Agam dengan setengah hati. "Masuk," jawab Agam dari dalam. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" tanya Cia sabar. "Ada." Cia berjalan mendekat untuk mendengar lebih jelas permintaan Agam. "Hari Sabtu saya ada jadwal?" Kening Cia berkerut mendengar itu. "Nggak ada, Pak. Kan libur." "Kalau gitu saya mau main golf sama Pak Dandung." Cia masih dibuat bingung. Sebenarnya apa perintah Agam yang harus ia kerjakan? "Ya, terus, Pak?" Agam menatapnya kesal. "Main golf setelah itu meeting, Cia." Lagi! Hampir saja Cia terjatuh karena Agam yang memanggil namanya. Kakinya yang mendadak lemas membuat Cia gugup dan terbatuk. Akhirnya dia memilih untuk menarik kursi dan duduk di depan Agam. Saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja kerja. "Kamu kenapa?" tanya Agam bingung. Cia menggeleng dan mulai mengeluarkan ponselnya. Dia akan mencatat jadwal baru sesuai dengan perintahnya. "Jadi, Pak Agam akan meeting sama Pak Dandung hari Sabtu besok." "Hm." "Kenapa di hari libur, Pak?" Cia mulai resah saat tahu jika hari liburnya juga tidak akan tenang. "Karena saya pingin." "Saya nggak ikut kan, Pak?" tanya Cia hati-hati. "Kenapa nggak ikut?" "Karena saya nggak pingin," jawab Cia polos. Melihat wajah Agam yang ingin marah membuat Cia bergegas meminta maaf. "Bercanda, Pak." "Kamu yang reservasi. Saya mau main pagi." Agam mulai berdiri sambil melirik jam tangannya. "Baik, Pak." Agam tidak menjawab dan mulai berjalan keluar ruangan. Cia menatap kepergian pria itu bingung. "Mau ke mana? Kok tiba-tiba pergi?" tanya Cia merasa aneh. Tak lama pintu kembali terbuka dan Agam menatapnya dengan alis terangkat. "Kamu ngapain?" "Lah, Pak Agam ngapain?" tanya Cia balik. "Saya mau makan siang. Keluar sana!" perintah Agam yang kembali pergi. Cia terkejut dan melihat jam tangannya cepat. Benar saja, waktu jam makan siang sudah tiba. Sibuk dengan pekerjaan dan emosinya sendiri membuat Cia tidak fokus. "Bilang kek dari tadi. Main nyelonong pergi aja. Kan gue bingung," cibir Cia kesal. *** Hari ini jam istirahat Cia berlangsung dengan tenang. Akhirnya dia bisa makan siang dengan normal seperti karyawan lainnya. Kali ini Cia, Febi, dan Ridho memilih kafe depan kantor untuk sekedar menghabiskan waktu setelah makan siang. Kopi menjadi pilihan Cia saat ini agar ia memiliki tenaga untuk kembali bertempur nanti. "Baru kali ini gue makan siang sama sekretaris Pak Bos," ucap Ridho yang sedari tadi tak bisa berhenti menatap Cia. Awalnya Cia cukup risih dengan tingkah Ridho saat Febi mengenalkan mereka. Namun seiring berjalannya waktu dia mulai terbiasa. Ridho memang aneh, itu yang membuatnya bisa berteman dengan Febi. Mereka sama-sama aneh. Tunggu, apa artinya dia juga aneh? "Emang nggak pernah makan sama Kak Dika?" tanya Cia. Febi mengangguk, "Selama ini Kak Dika selalu ngikutin Pak Bos." Cia meringis mendengar itu. "Jadi bener ya, tugas Kak Dika itu sekalian jadi aspri?" "Gue pernah denger kalau Pak Bos pernah minta Pak Dika buat laundry daleman," ucap Ridho berbisik. Cia meringis mendengar itu. Berarti dia termasuk beruntung karena Agam tidak memperlakukannya seperti Dika. Cia tidak bisa membayangkan jika ia diminta untuk melakukan hal di luar nalar seperti itu. "Bahkan ada gosip yang bilang kalau mereka itu—" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, pukulan keras mendarat di kepala Ridho. Siapa lagi jika bukan Febi. "Lo ngomongin kakak gue?!" tanya Febi tidak terima. "Gosip apa yang lo maksud?" Cia dan Ridho dengan kompak meringis. Mereka lupa jika ada Febi di sini. Meskipun gadis itu juga karyawan kantor, tetapi ada hak istimewa yang ia miliki. Yaitu hubungan darah dengan pemimpin kantor. "Gue nggak ghibah, kok. Kata Mama gue ghibah itu nggak boleh," jelas Ridho. "Lah, terus itu?!" "Hanya menyebarkan informasi. Kayak WoM-nya anak marketing, Word of Mouth." Ridho berusaha untuk mengelak. Tawa Cia pun meledak. Ridho yang memiliki wajah dan ekspresi tenang membuat suasana menjadi lebih lucu. Ekspresinya berbanding terbalik dengan Febi yang selalu heboh. "Awas aja. Gue bilangin Emak lo, ntar!" ancam Febi. "Jangan, dong." Ridho mulai panik. Satu hal yang Cia ketahui dari Ridho, yaitu anak Mami. Mereka kembali berbincang santai. Dengan membahas topik lain tentu saja. Menyebut nama Agam sama saja seperti memancing huru-hara. Sebisa mungkin mereka tidak akan melakukannya. "Bukannya itu Pak Agam?" tunjuk Ridho pada seseorang. Cia dan Febi kompak menoleh. Benar apa yang dikatakan Ridho. Pria itu terlihat masuk ke dalam kafe. Namun ada sesuatu yang aneh di sana. Pria itu tidak datang sendiri. Melainkan ada seorang wanita cantik di belakanya. "Mbak Berbie," gumam Ridho dengan mulut terbuka. Dilihat dari wajahnya, pria itu terpesona dengan wanita yang datang bersama Agam itu. "Siapa dia?" gumam Cia pelan. Dia bertanya pada dirinya sendiri. Namun sayangnya Febi mendengar ucapannya dan mulai panik. "Cantik banget. Mama gue harus tau." Ridho mulai mengeluarkan ponselnya. "Lo kenal, Feb?" tanya Cia tidak bisa menahan diri. "Nggak, kok. Gue nggak kenal." Febi menjawab dengan gugup. Mata Cia menyipit melihat tingkah Febi. Dia merebut kopi yang tengah Febi minum membuat sahabatnya itu terkejut. "Lo pasti kenal," cerca Cia. "Jangan sotoy, deh." Febi merebut kopinya kembali dan meminumnya cepat. Semakin membuat Cia curiga. "Siapa dia?" "Gue nggak ta—" "Lo lupa aturan persahabatan kita yang ke-3?" potong Cia cepat. Febi menelan ludahnya susah payah. "Tidak boleh ada kebohongan di antara kita," jawabnya pelan. "Nah, itu lo inget!" Febi mengangkat kedua tangannya pasrah. "Oke, kalau lo memang mau tau." "Siapa namanya?" tanya Ridho dengan ponsel yang bertengger di telinganya. Ternyata sedari tadi ia tengah menelepon seseorang. "Dia Nadira Santoso." Mata Cia langsung terpejam dengan napas tertahan. Ternyata ada baiknya Febi berbohong. Mengetahui fakta yang ada memang menyesakkan hati. "Nama si barbie hidup itu Nadira Santoso, Ma. Kayaknya pacar Pak Agam," ucap Ridho masih berbicara pada ibunya di telepon. Febi berdecak melihat tingkah Ridho. Dia beralih pada Cia dan meringis. Ini yang tidak ia sukai. Melihat sahabatnya sedih. "Cia, lo nggak apa-apa?" Cia mengangguk dan tersenyum. "Nggak apa-apa, lah. Emang gue kenapa?" kekehnya. Cia kembali mencuri pandang pada Agam dan sialnya mata mereka bertemu. Mereka saling bertatapan selama lima detik sampai akhirnya Cia mengalihkan pandangannya. Tidak, Cia harus bisa menahanya. Dia tidak boleh lepas kendali seperti dulu. Kejadian masa lalu tidak boleh terulang kembali. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD