Shift Malam

1240 Words
Permintaan Agam adalah sebuah perintah wajib yang harus dipatuhi. Baru hari pertama, tetapi kalimat itu sudah tertanam di benak Cia. Selain karena Agam adalah atasannya, Cia juga paham dengan sifat pria itu. Percuma jika ia membantah karena ini memang bagian dari pekerjaannya. Dengan langkah mantap, Cia berjalan memasuki rumah sakit dengan kantong plastik di tangannya. Sesuai permintaan Agam. Cia harus mengantar makan malam pria itu ke rumah sakit, lebih tepatnya ke ruang inap Dika. Hal itu juga yang membuat Cia menahan emosinya karena Agam yang tengah menjaga Dika saat ini. "Permisi, Pak." Cia membuka pintu pelan. Agam yang tengah duduk di sofa menatap kedatangannya sebentar dan kembali fokus pada laptopnya. "Kamu telat dua menit." "Cuma dua menit, Pak. Saya naik ke ke sini kan jalan bukan terbang." "Tetap saja waktu saya terbuang." Dih! Waktu gue yang habis buat lo doang! Cia mencibir dalam hati. Tingkah perfeksionis Agam benar-benar menjengkelkan. "Kok Kak Dika pindah kamar, Pak?" tanya Cia meletakkan makanan yang ia beli di atas meja. "Karena saya punya uang," jawab Agam menutup laptopnya. Seketika Cia menatap Agam sinis. "Iya, tau kok. Nggak perlu nyindir juga." Tanpa menjawab Agam mulai membuka makanannya. Dilihat dari penampilan tubuhnya, sepertinya pria itu langsung ke rumah sakit setelah pulang tadi. Tas kerja yang berada di sampingnya juga seolah menjadi bukti. "Pak Agam nginep di sini?" "Hm." Cia mengangguk dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk. Meski Febi sudah memijat punggungnya, tetapi rasa lelah itu belum juga hilang. Ditambah dengan Agam yang secara tiba-tiba memintanya untuk membeli nasi goreng. Nyamannya sofa membuat tubuh Cia menjadi lebih rileks. Tak heran, karena Agam memindahkan Dika ke ruangan VIP. Hal itu membuat suasana menjadi lebih tenang dan nyaman. Haruskah Cia berterima kasih? Pria itu menggunakan uangnya sendiri untuk ruangan ini dan Cia tidak perlu menggantinya. Dengan begini Cia berharap jika pemulihan Dika akan semakin cepat dengan fasilitas yang ada. "Kamu beli makanannya berapa?" tanya Agam bingung. Cia mulai menunjukan cengiran khasnya. "Saya beli tiga, Pak. Saya juga laper soalnya." "Yang satunya?" "Ya, buat saya juga." Agam menatap Cia kaget. Pandangan itu lagi-lagi membuat Cia berdecak kesal. "Jangan protes, Pak. Saya begini juga karena habis kerja rodi," cibir Cia mulai membuka makanannya. Ikut menikmati nasi goreng favoritnya. "Saya nggak pernah minta kamu buat kerja sama saya." "Terpaksa. Adik Bapak yang minta." Cia menggunakan nama Febi sebagai bentuk perlindungan. Dia terlalu gengsi untuk mengakui jika ia memang membutuhkan uang. Meskipun sebenarnya Agam sudah tahu, tetapi Cia tidak mau mengakuinya secara jelas. Meskipun hanya bawahan, harga dirinya di depan Agam harus tinggi. Suara getaran ponsel di atas meja membuat fokus Cia teralihkan. Dia melirik ponsel Agam dengan penasaran. Jarak mereka yang tidak terlalu jauh memhuat Cia bisa membaca nama pemanggil itu dengan jelas. Seketika perasaannya kembali memburuk saat mengetahui siapa yang menghubungi Agam. Bahkan tanpa sadar sendok plastik di tangannya patah karena genggamannya, membuat Agam menatapnya aneh. Pria itu sendiri tidak berniat menjawab panggilan itu. Agam Justru mematikannya dan memasukan ponselnya ke dalam tas. "Kok nggak diangkat, Pak?" tanya Cia tidak bisa menahan diri. "Bukan urusan kamu." Cia mengangguk mengerti. "Iya, juga, sih. Mbak Nadira memang bukan urusan saya." "Habisin makanan kamu dan pulang." "Kenapa? Mau telponan sama Mbak Nadira ya? Kalau saya ganggu, saya bisa pulang sekarang." Cia sudah bersiap untuk pergi. Namun Agam menatapnya tajam. "Duduk," perintah Agam. "Saya bisa lanjut makan di rumah, Pak. Biar nggak ganggu Pak Ag—" "Duduk, Cia," ujar Agam tenang. Cia tidak lagi membantah. Dia langsung terduduk dengan lemas. Kepalanya menunduk dan ia mulai menarik napas panjang. Seketika jantung Cia mulai berdegup kencang. Sial! Hanya karena memanggil namanya, Cia dibuat tidak berkutik. Menyebalkan! "Saya beli minum dulu." Dengan cepat Cia berlalu keluar ruangan. Jika terus berada di dalam sana entah hal gila apa yang bisa ia lakukan. Untuk pertama kalinya setelah kembali bertemu, Agam memanggil namanya selembut itu. Di dalam lift, Cia berusaha keras untuk tidak tersenyum. Dari pantulan kaca, dia menunjuk dirinya sendiri. "Dasar lemah! Cuma dipanggil nama aja, jangan letoy lu!" geramnya. "Tapi gemes," lanjut Cia kembali lemas dan bersandar pada dinding lift. Seolah tenaganya habis untuk terus memutar memori Agam saat menyebut namanya. Cia memutuskan untuk ke kafe depan rumah sakit. Tidak mungkin jika ia kembali dengan tangan kosong. Alasan yang ia buat memang spontan, tetapi harus tetap dilakukan. Selama menunggu dua es kopi pesanannya, Cia memanfaatkan waktu untuk menenangakan diri. Mempersiapkan dirinya sendiri jika Agam kembali menyebut namanya seperti tadi. Cia menyentuh dadanya yang bergemuruh. Ada rasa kesal dan senang yang ia rasakan. Kesal karena rasa itu masih ada dan senang karena ia bisa kembali merasakan perasaan itu. Bingung? Percayalah, Cia lebih bingung dengan perasaannya sendiri saat ini. "Kak Alicia. Kopinya, Kak." Suara panggilan itu membuat Cia tersadar. Dengan segera dia mengambil kopinya dan bersiap kembali rumah sakit. Selama perjalanan, dia masih mencoba untuk menenangkan hatinya. Lebih tepatnya Cia meyakinkan diri jika apa yang terjadi bukanlah sesuatu yang berarti. Ya benar, Cia terlalu berlebihan dalam menyikapi apa yang Agam lakukan tadi. Di dalam kamar Dika, Agam sudah selesai dengan makanannya. Cia datang dan memberikan satu minuman yang ia beli. Sebagai teman jika pria itu akan lembur malam ini. "Terima kasih." "Untuk kopi ini biar saya yang traktir," ucap Cia tersenyum. "Dalam rangka?" "Karena Pak Agam udah mau jaga Kak Dika malam ini. Padahal harusnya saya yang jaga." Agam memiringkan kepalanya sambil berpikir, "Nggak perlu berterima kasih. Besok gantian kamu yang jaga." Senyum Cia pun menghilang. Dia menatap Agam dengan pandangan kesal. Perasaan Cia saat di dekat Agam seperti roller coaster. Kadang berada di atas dan kadang berada di bawah. Namun seringnya berada di atas, sama dengan emosinya yang selalu memuncak. "Kan ada perawat, Pak." "Kamu pikir Dika bisa panggil perawat?" Cia meringus dan menatap Dika yang tengah tertidur. Melihat kondisi pria itu, sepertinya itu tidak mungkin. Keadaan Dika masih belum membaik meskipun sudah ada beberapa kalimat yang ia ucapkan. "Bete, ah. Nggak jadi traktir Pak Agam!" Cia mengambil kembali kopi yang ia beri dan mulai berkemas. Dia akan pulang sekarang. "Permisi, selamat telponan sama Mbak Nadira!" Cia keluar dari kamar dan menuju ke satu perawat yang tengah berjaga. "Sus, ini saya belikan kopi. Nggak boleh ditolak. Minum aja biar nggak ngantuk. Semangat kerjanya," ucap Cia tanpa jeda sambil memberikan kopi yang awalnya untuk Agam. Setelah itu dia benar-benar pergi, mengabaikan panggilan dari perawat itu. Entah kenapa Cia sangat kesal dengan tingkah Agam. Dia tahu jika dirinya memang salah di sini dan sudah semestinya juga ia harus menjaga Dika. Cia mau melakukannya, tetapi saat Agam menyuruhnya, ada rasa kesal yang ia rasakan. Cia tidak sebodoh itu untuk tidak melakukan tanggung jawabnya. Ditambah lagi dengan nama Nadira, hal itu membuat kekesalan Cia semakin menjadi-jadi. Berbeda dengan Cia yang kesal, di dalam kamar Dika, Agam masih duduk dengan tidak percaya. Apalagi saat Cia mengambil kopinya lagi karena marah pada dirinya. Entah kenapa bukannya kesal, Agam malah tersenyum tipis. Dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Cia yang menurutnya sangat lucu. "Pak Ag—am," suara lirih itu membuat Agam terkejut dan mulai menghampiri Dika. "Ada apa?" Siapa sangka Dika malah tersenyum melihatnya. Seketika rasa khawatir Agam menguap. Ada apa? "Kamu kenapa?" "Tadi Pak Agam senyum." Agam tersadar dan menatap Dika tidak percaya. Pria itu memanggilnya hanya untuk membicarakan hal ini? Agam tahu jika ia memang jarang tersenyum, bahkan Dika memberikan julukan tersendiri pada senyumnya, yaitu senyuman mahal. Senyum yang memang jarang ia keluarkan dan tunjukan pada semua orang. Namun kali ini senyum itu muncul dengan sendirinya untuk seorang gadis yang bernama Cia. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD