Perintah Tuan Agam

1058 Words
Tubuh yang lelah tak bisa lagi terhindarkan. Jam kerja sudah berakhir jam lima sore, tetapi Cia baru bisa keluar kantor jam delapan malam. Dia tidak menyangka jika menjadi sekretaris akan seberat ini. Atau hanya sekretaris Agam yang seperti ini? Cia tahu jika perusahaan keluarga Febi bukanlah perusahaan kecil, tetapi Cia tidak menyangka jika akan sesibuk ini. Oh, ayolah. Tidak banyak kesan baik yang ia rasakan di hari pertama bekerja. Dari awal Cia juga sudah terpaksa. Oleh karena itu dia tidak terlalu menikmatinya. Langit sudah sangat gelap. Di luar kantor, Cia sudah bersiap untuk memesan ojek online untuk pulang. Namun tiba-tiba suara berat memanggilnya. Matanya terpejam erat untuk menenangkan diri. Setelah itu dia berbalik dan tersenyum tipis. "Iya, Pak?" "Pesenin saya taksi," perintah Agam yang lagi-lagi tanpa menatapnya. Pria itu fokus pada ponsel di tangannya. "Bukannya Pak Agam tadi bawa mobil?" "Saya ngantuk, nggak bisa nyetir sendiri," jawabnya singkat dan mulai menatap Cia, "Harusnya kamu yang anterin saya tapi kamu nggak bisa nyetir mobil." Entah kenapa Cia mendengar nada ejekan dari ucapan Agam. Hari sudah malam dan mereka sama-sama lelah. Namun entah kenapa Agam masih memiliki tenaga untuk membuatnya kesal. "Saya kan sekretaris, Pak. Kalau mau dianterin pulang harusnya cari asisten pribadi bukan sekretaris." Agam mengangguk membernarkan. "Sayangnya tugas Dika juga urus keperluan pribadi saya." Cia menatap Agam tidak percaya. "Tapi itu nggak berlaku buat saya, kan?" tanyanya panik. Cia takut jika Agam akan membuatnya repot di luar jam kerja. "Tergantung situasi." Agam mengedikan bahunya santai. Tangan Cia terkepal mendengar itu. Dengan kesal dia mulai memesan taksi sesuai perintah Agam. Jika mereka lebih lama berdua, Cia akan semakin dibuat emosi. Kesabarannya tidak setebal itu. Jika bukan karena atasannya, mungkin Cia sudah menendang Agam dan berlari menjauh. "Kamu nggak pulang?" Cia melirik sekitar dengan bingung. Tidak ada siapapun di sekitar mereka saat ini. Pria itu bertanya padanya? "Pak Agam tanya saya?" "Kamu pikir saya bicara sendiri?" cibir Agam. "Tumben." Ekspresi Cia mulai berubah. Ada ekspresi geli yang ia tunjukan. Namun saat melihat Agam yang hanya diam menatapnya datar membuat senyum Cia menghilang. Nggak asik banget, sih! Setelah itu keadaan kembali hening. Cia memilih untuk bersandar pada tembok sambil memejamkan mata. Dia benar-benar membutuhkan kasur saat ini. Tak lama taksi pun datang. Cia sudah berdiri tegap bersiap mengantar kepergian Agam. Namun anehnya pria itu hanya membuka pintu penumpang dan mulai menatapnya. "Apa?" tanya Cia bingung. "Masuk." "Hah?" tanya Cia bodoh. "Kamu mau di sini lebih lama?" tanya Agam jengah. "Kita pulang sekarang." Cia menutup mulutnya tidak percaya. Mendadak tubuhnya lamgsung merinding. Dia menatap ke sekitar dengan takut. Sepertinya atasannya itu kemasukan hantu kantor yang centil. Jika orang asing yang mendengarnya mungkin akan biasa saja. Namun yang mendengarnya kali ini adalah Cia. Ini bukan kali pertama mereka bertemu. Cia sangat mengetahui bagaimana sikap Agam dan melihat Agam yang seperti ini adalah kejadian langka. Agam mulai menatap Cia kesal. Belum sempat ia berbicara, suara klakson mobil yang datang membuat pandangan Cia dan Agam teralihkan. "Cia! Ayo, masuk!" suara melengking itu membuat Cia menghela napas lega. Tidak sulit untuk mengenali mobil berwarna merah muda itu. Siapa lagi jika bukan Febi. Seperti pahlawan, gadis itu datang di tengah kecanggungan yang melanda. "Saya udah dijemput, Pak. Saya duluan." Cia pamit dan segera masuk ke dalam mobil. Dia dalam mobil, Cia menghela napas lega. Akhirnya dia bisa melarikan diri dari Agam. Bagaimana jika Febi tidak datang? Cia tidak bisa membayangkan betapa canggungnya mereka di dalam taksi. Cia sudah merasakannya tadi siang saat akan rapat, dan dia tidak mau melakukannya lagi. "Terima kasih," ucap Cia. "Sama-sama." Berbeda dengan penampilan Cia yang masih formal. Febi terlihat menggemaskan dengan baju tidur merah mudanya. Tak lupa dengan masker kecantikan yang juga ia pakai. "Kok lo tau gue udah pulang?" Tanpa menjawab, Febi mengambil sesuatu dari kursi belakang dan memberikannya pada Cia. "Gue tau pasti lo lembur. Jadi gue tunggu di kafe depan kantor tadi." Cia menatap kue dan minuman cup yang Febi beri dengan tatapan haru. Lihat, sekonyol apapun Febi. Gadis itu sangat bisa diandalkan. *** Suara sendawa keluar dengan sempurna dari mulut Cia. Matanya terpejam menikmati pijatan Febi pada punggungnya. Rasanya begitu nikmat tiada tara. Cukup untuk mengurangi rasa lelahnya di hari pertama bekerja. "Mulai dari sekarang, lo bakal sering lembur. Itu yang gue liat dari kerjaan Kak Dika dulu." ucap Febi tiba-tiba. "Kalau gue tau jadi sekretaris itu seberat ini, pasti udah gue tolak." Febi meringis mendengar itu. Ada rasa bersalah yang ia rasakan, tetapi di sisi lain dia juga senang karena bisa bekerja bersama Cia. "Eh, bentar." Cia bangun dari rebahannya dan mulai menatap Febi lekat. "Apa bener Kak Dika juga urus semua keperluan pribadi Kak Agam?" Febi mengangguk tanpa ragu. "Iya, bahkan Kak Dika lebih tau Kak Agam dari pada gue." Cia mulai merengek dan meremas rambutnya kesal. "Tapi Kak Agam nggak akan gitu ke gue, kan?" "Gue nggak yakin," ucap Febi ragu. "Tapi gue yakin. Setelah apa yang pernah terjadi dulu kayaknya dia nggak bakal ganggu gue lebih jauh." Febi hanya bisa mengangguk. Dia masih tidak yakin dengan keyakinan Cia. Agam bukanlah pria yang sering menggunakan perasaan. Pria itu sangat realistis dan profesional. Apapun yang pernah terjadi di antara Cia dan Agam di masa lalu, sepertinya tidak berefek apapun untuk Agam. Saat akan kembali berbaring, suara dering ponsel mulai terdengar. Cia dan Febi saling bertatapan satu sama lain. Merasa jika isi pikiran mereka sama saat ini. "Please, nggak mungkin, kan?" tanya Cia tersenyum miris. Febi tertawa paksa dan menggeleng, "Kayaknya mungkin. Siapa lagi yang telepon lo malem-malem gini?" "Bisa aja nyokap gue." Cia berusaha untuk berpikir positif. Dengan santai dia bangkit untuk mengambil ponselnya di kamar. Di ruang tengah, Febi menunggu sambil menggigit jarinya. "Satu..." Tiba-tiba Febi mulai berhitung. "Dua..." "Tig—" "Sialan!" teriak Cia keras. "Kan..." Febi mengangguk dan mulai duduk dengan posisi tegap. Siap mendengarkan segala umpatan Cia. Suara langkah kaki mulai mendekat. Seperti dugaan Febi, Cia datang dengan sumpah serapahnya. "Kakak lo gila ya?!" "Kenapa?" "Malem-malem gini minta beliin makanan. Mana maunya gue yang beliin langsung lagi. Kan sial—" Cia tidak bisa melanjutkan ucapannya dan memilih untuk meremas ponselnya kesal. "Ya, mau gimana lagi?" Febi berucap hati-hati. "Oke. Nggak apa-apa." Cia mengangguk dan berbalik untuk ke kamar. Dia akan bersiap-siap sebelum pergi. Sebelum keluar apartemen, Cia menyempatkan diri untuk menatap Febi lekat. "Pokoknya kalau suatu saat kakak lo tiba-tiba sakit. Lo nggak usah bingung. Itu gue yang santet." *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD