Kejutan Hari Pertama

1135 Words
Entah sudah berapa kali Cia menghela napas kasar dalam beberapa jam terakhir ini. Dia mengedipkan matanya beberapa kali karena rasa panas yang ia rasakan. Menghadap layar laptop sejak tadi membuatnya mulai lelah. Bukan hanya mata melainkan punggung juga. Dia tidak menyangka jika bekerja menjadi sekretaris akan serepot ini. Bahkan hal kecil pun harus ia kerjakan. Seperti saat ini. Dia baru saja melakukan konfirmasi ulang ke restoran yang akan menjadi tempat rapat mereka nanti. Secara mendadak, sekretaris dari salah satu peserta rapat memberi kabar jika tidak menyukai daun bawang. Mau tidak mau Cia harus menghubungi restoran untuk mengganti menu makanan yang aman. Dering telepon kembali berbunyi. Cia dengan segera mengangkat telepon kantor itu dengan sigap. Ternyata dari pihak keamanan di lantai bawah. "Selamat siang. Saya dari keamanan lantai satu. Ini ada kiriman bunga untuk Pak Agam. Mau diambil atau diantar saja, Bu?" Cia melirik jam tangannya sebentar. Terlalu lama jika ia yang mengambilnya sendiri. "Tolong bawa ke atas ya, Pak." "Baik, Bu. Saya meluncur." "Terima kasih." Panggilan terputus dan Cia kembali fokus pada laptopnya. Keningnya berkerut saat merasa ada sesuatu yang aneh. Sepertinya Agam tidak memiliki acara atau kegiatan khusus yang harus diapresiasi dengan bunga hari ini. Namun kenapa ada seseorang yang mengirimkan bunga? Dalam rangka apa? "Permisi, Bu. Ini bunganya." Cia tersadar dari lamunannya dan menerima buket bunga itu cepat. "Terima kasih ya, Pak." Sebelum memberikannya pada Agam. Entah kenapa rasa penasaran Cia mulai datang. Buket di tangannya berukuran cukup besar dan memerlukan dua tangan untuk membawanya. Terselip amplop kecil di sela-sela bunga. Dengan hati-hati ia mengambil dan membukanya. Untuk Agam Mahawira, Terima kasih untuk yang kemarin. Semangat ya kerjanya :) Dari Nadira Santoso. Mata Cia membulat membaca pesan itu. Entah kenapa rasa kesal mulai ia rasakan. Cia sadar jika bunga itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Terihat dari pesan yang ditulis, sangat pribadi. "Gabut banget Mbak Nadira ngirim ginian," cibir Cia mulai masuk ke dalam ruangan Agam. Wajah kesal masih terlihat di wajahnya. Entah kenapa perasaan Cia yang awalnya sudah kesal karena lelah berubah semakin kesal dengan datangnya buket bunga ini. "Ada kiriman bunga, Pak." "Dari?" tanya Agam tanpa menatap Cia. "Tulisannya sih dari Nadira Santoso." Mendengar nama itu, Agam mulai mengalihkan pandangannya pada Cia. Tangannya terulur untuk mengambil bunga itu. "Dalam rangka apa?" tanya Agam menatap bunga itu bingung. Cia mengedikan bahunya tak acuh. "Ucapan terima kasih dan kasih semangat, Pak." "Semangat?" tanya Agam dengan dahu berkerut. Lihat, bahkan pria itu juga merasa aneh. "Iya, kasih semangat," jawab Cia. "Ngapain dikasih semangat. Emang Pak Agam tipes?" lanjut Cia pelan. Sayangnya masih bisa di dengar oleh Agam. Agam hanya meliriknya sekilas dan mengangguk. "Kamu boleh keluar." Bukannya keluar, Cia malah maju satu langkah. "Kalau boleh tau, Nadira itu siapa, Pak?" Agam menatapnya aneh. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir pria itu membuat Cia mulai gugup. "Jangan salah paham. Maksud saya siapa tau Pak Agam mau kirim bunga juga nanti biar saya siapkan," elak Cia. "Nggak perlu. Kamu siap-siap, 10 menit lagi kita berangkat rapat." Cia mengangguk dan berjalan ke luar ruangan dengan malas. Pertanyaan di kepalanya masih belum terjawab. Siapa Nadira Santoso itu? "Cia?" panggil Agam tiba-tiba. Cia dengan cepat berbalik. Merasa senang jika Agam berubah pikiran dan menjawab pertanyaannya. "Lain kali ketuk pintu dulu." Bahu Cia kembali jatuh. Dia mengangguk dan berbalik pergi. Di luar ruangan, Cia dikejutkan dengan Febi yang terlihat menguping di depan pintu. Melihatnya yang keluar, Febi hanya menunjukan cengiran khasnya. "Ngapain lo?" tanya Cia aneh. "Nggak apa-apa. Kirain ada perang dunia III." Cia hanya diam dan kembali ke mejanya. Tidak berniat menanggapi Febi karena ia masih marah. Sudah jelas jika sahabatnya itu menjebaknya untuk bekerja di sini. Febi sengaja untuk tidak menyebut nama Agam agar Cia mau menerima pekerjaan ini. "Lo masih marah?" tanya Febi sedih. "Satu minggu. Gue nggak mau main sama lo satu minggu." "Nggak mau, Cia." Seperti sudah jurus andalan, Febi mulai merengek. Benar-benar si bungsu manja yang tak mau dibantah. "Lepasin, gue mau siap-siap." Rengekan Febi mendadak hilang. Dia langsung berdiri dengan tegak. "Mau ke mana? Lo nggak lagi mengundurkan diri, kan?" Cia memutar matanya jengah. Meskipun kesal, mengundurkan diri masih belum ia pikirkan untuk saat ini. Bagaimana bisa dia mengundurkan diri di hari yang sama ia menandatangai kontrak kerja? "Cia, jangan tinggalin gue." Akhirnya Febi kembali memulai drama. "Siapa yang mau resign? Gue mau pergi rapat." Cia benar-benar gemas dengan tingkah Febi. "Oh." Febi terkekeh. "Jadi kita nggak bisa makan siang bareng, dong?" "Udah gue bilang gue nggak mau main sama lo satu minggu!" "Kelamaan Cia!" Febi menghentakan kakinya kesal, "Lima menit aja." Cia memilih diam. Dia bisa ikut gila jika menanggapi kegilaan Febi. Cia tahu jika gadis itu berusaha untuk menarik perhatiannya kembali. Untuk kali ini Febi tidak akan tergoda. "Jangan marah, dong. Gini, deh. Sekarang lo bilang mau apa, ntar gue kasih tapi lo harus maafin gue." Cia mulai menaikkan dagunya angkuh. Jika sudah begini maka ia harus memanfaatkannya. Cia mulai berpikir, apa yang sekiranya ia inginkan dan bisa Febi lakukan? "Oke, gue cuma mau tanya sesuatu, tapi lo harus jujur." Febi tersenyum senang. "Gampang banget. Oke, mau tanya apa?" "Siapa Nadira Santoso?" Senyum Febi langsung menghilang. Perubahan ekspresi itu ditangkap jelas oleh Cia. Seketika dia mulai panik, takut akan jawaban Febi. Namun Cia benar-benar ingin mengetahuinya sekarang. Pasti ada sesuatu di sini. "Kok lo bisa tau Nadira? Dari siapa?" tanya Febi menelan ludahnya susah payah. "Jangan balik tanya. Sekarang jawab, siapa itu Nadira Santoso?" "Dia— dia itu—" Cia berdecak kesal. Kenapa Febi mendadak gugup? Hal itu semakin membuat Cia penasaran akan Nadira Santoso. "Dia anak rekan kerja Kak Agam, kok." Mata Cia menyipit mendengar itu. Merasa curiga dengan jawaban Febi yang tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya. Jika hanya rekan kerja kenapa ia segugup itu? "Kalau lo nggak jujur, gue nggak mau main sama lo satu bulan." "Cia!" kesal Febi. "Makanya jawab." Febi menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. "Dia mantan pacar Kak Agam." Seperti tersengat listrik, tubuh Cia berubah kaku. Bahkan Febi mulai menatapnya khawatir. Cia tahu jika seharusnya dia tidak seperti ini. Namun entah kenapa hatinya berkata lain. "Cia, lo nggak apa-apa?" Febi mulai menyentuh punggung Cia. Cia menggeleng dan terkekeh. "Nggak apa-apa, lah. Emang gue kenapa?" Febi menatap Cia prihatin. Meskipun hubungan Cia dan Agam tidak baik, tetapi hubungan Cia dan dirinya sangat baik. Apapun yang terjadi pada hidup Cia, sudah dipastikan jika Febi mengetahinya. Termasuk dengan masa lalu Cia dan kakaknya yang buruk. Oleh karena itu, dia sangat tahu apa yang sahabatnya itu rasakan saat ini. "Nggak lama kok, Ci. Cuma tiga bulan." "Tetep aja mereka pacaran," gumam Cia pelan. Febi menyesal sudah memberi tahu hal sensitif itu pada Cia. Melihat sahabatnya yang sedih membuat Febi sadar. Setelah bertahun-tahun berlalu, dia pikir Cia benar-benar membenci Agam. Namun kenyataannya adalah sebaliknya. Rasa benci itu hanyalah sebuah tameng semata, untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD