Seminggu pasca pernikahan, Zain meminta izin kepada Abah dan Umak untuk memboyongku ke rumah pribadinya. Kedua orang tuaku sebenarnya sedikit keberatan. Satu minggu bagi mereka terlalu cepat untuk kami pindah. Mereka ingin kami tinggal lebih lama lagi. Bahkan kalau bisa kami menetap saja selamanya bersama mereka.
Akan tetapi, Zain kukuh dengan keinginannya. Dia menyampaikan alasan yang sebenarnya klise, tetapi memang sangat tepat dan mengena. Zain ingin belajar menjadi kepala keluarga yang mandiri.
Rumah yang akan kami tempati, dibangun Zain sejak beberapa tahun lalu. Aku ingat ketika akan membangun rumah itu, dia memintaku memilih desain yang bagus menurutku. Katanya, aku mewakili istrinya nanti karena sebagai perempuan barangkali akan mengerti keinginan sesama.
Tata ruang, perabot, hingga warna rumah juga aku yang diminta untuk menentukan. Bahkan pada saat menentukan lokasi rumah itu dibangun, dia meminta pertimbanganku.
Malam itu, kami mengepak barang-barang yang akan dibawa pindah besok.
“Barang-barang yang dari Andra ditinggal saja ya, Dek,” ucapnya di tengah kesibukan kami mengepak, “Nanti Abang belikan yang baru." Dia melanjutkan.
Barang-barang dari Andra yang Zain maksud adalah barang hantaran yang masih utuh dalam kemasan cantiknya. Belum ada satu pun yang aku buka.
Saat aku membatalkan pernikahan, keluarga Andra sebenarnya menuntut ganti rugi dengan mengembalikan hantaran tiga kali lipat. Akan tetapi, ketika kusampaikan alasan pembatalan, lengkap dengan bukti berupa gambar dan video panas Andra bersama kekasihnya saat itu, mereka akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan aku tidak wajib mengembalikan sama sekali.
Meskipun tidak mengembalikan, aku pun tidak berminat untuk mengambil barang-barang pemberian Andra. Oleh karena itu, hingga detik ini barang-barang itu masih rapi dalam kemasannya.
“Bang, aku boleh tanya, enggak?" Tidak menanggapi ucapannya, aku justru teringat sesuatu dan merasa penasaran.
"Apa?" Dia menatapku dengan dahi berkerut.
"Saat akan membangun rumah waktu itu, Abang banyak meminta pendapatku. Apa Abang memang berharap suatu saat kita memang akan menikah?” tanyaku.
Bukankah dia mengatakan mencintaiku sejak SMA? Jadi barangkali dia memang berharap untuk menjadikanku Nyonya di rumah itu. Jika memang benar begitu, so sweet juga dia. Aku terkekeh bangga dalam hati. Sesekali ge-er tidak apa-apa 'kan?
“Mengapa tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan?" tanyanya dengan dahi semakin berkerut.
"Abang bilang barang-barang dari Andra ditinggal saja, tidak usah dibawa, Adek malah bertanya tentang rumah." Ia menatapku dengan makna yang tidak bisa kuselami. Apa mungkin dia berpikir aku merasa sayang jika barang-barang Andra ditinggal di sini?
“Emm, iya. Barang dari Andra ditinggal saja. Enggak perlu dibawa. Enggak akan dipakai juga," balasku,
"Cuma tadi aku tiba-tiba teringat saja waktu dulu Abang mau bangun rumah ini, sibuk tanya aku tentang ini itu."
Dia tersenyum, kemudian menghentikan aktivitasnya dan menatapku yang sesekali sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.
“Ya,” jawabnya singkat.
"Ya, apa?" balasku bingung.
"Ya, benar kalau dulu Abang memang berharap kita akan menikah suatu saat. Abang juga sengaja bangun rumah itu untuk kita berdua. Makanya desain interior dan ekteriornya sesuai selera kamu."
"Memang benar begitu?" Aku bertanya memastikan.
"Ya, benar. Untuk apa bohong."
“Terus kenapa Abang enggak cepat-cepat lamar aku kalau memang punya harapan seperti itu?”
Tumben aku sudah bisa nyerocos di depannya. Sudah lancar dan tidak kikuk atau canggung lagi.
“Apa kamu pasti mau? Abang takut bisa-bisa nanti setelah dilamar, kamu malah menjauh. Waktu itu Abang berpikir, yang penting tetap bisa dekat dengan kamu saja sambil memastikan perasaan kamu,” tuturnya, “sekarang saja setelah menikah, Abang tetap belum bisa menaklukkan hati kamu.”
Dia kembali melanjutkan mengepak barang-barang pribadiku yang lumayan banyak.
“Ish, ternyata Abang bucin,” ledekku sambil terkekeh.
"Biarin," balasnya ringan.
"Eh, tapi, kalau memang cinta, kenapa Abang enggak memperjuangkanku?” tanyaku penasaran.
Kenapa dia justru membiarkanku menikah dengan Andra? Bahkan dengan sukarela membantu menyiapkan pernak pernik pernikahanku dengan laki-laki itu. Dia tidak menunjukkan sikap keberatan atau rasa cemburu sama sekali layaknya orang yang mencintai.
Setelah menyelesaikan semua aktivitasnya, Zain segera menghampiriku lalu menghenyakkan tubuhnya disampingku.
Tangannya terangkat dengan cepat merangkul bahuku, lalu tiba-tiba saja bibirnya mengecup lembut pucuk kepalaku.
Aku yang sama sekali tidak menduga atas tindakannya, terhenyak kaget. Tanganku serta merta memegang d**a, mengawasi nasib jantung yang langsung saja menari tidak karuan dibuatnya.
Entah irama apa yang diikuti, yang jelas organ itu berlompatan tak tentu arah di dalam rongganya. Suaranya berdegup lantang yang aku yakin dalam jarak sedekat ini pasti kedengaran oleh laki-laki itu.
Ingin rasanya aku melepaskan rangkulannya agar dia tak mendengar riuh suara di dalam dadaku. Namun, kenyataannya aku hanya bisa diam. Tubuhku memaku di antara tangan kekarnya.
“Waktu itu kamu belum menjadi hak Abang untuk diperjuangkan. Kalau sekarang beda. Walaupun saat ini kamu tidak menginginkan pernikahan kita dan mungkin terkesan terpaksa menjalaninya, tapi kamu hak Abang sepenuhnya. Jadi sekarang Abang akan mulai memperjuangkan kamu sampai kamu menginginkan pernikahan ini," terangnya,
“Bajunya masih ada lagi yang mau dikemas?” Dia melepaskan tangannya dariku.
Aku menarik napas agak panjang kemudian mengembuskannya kembali. Lega rasanya. Jantung yang sejak tadi menari kencang dan berlompatan di rongga d**a, perlahan melambat.
Akan tetapi, kenapa setelah d**a terasa lega, hatiku justru merasa kecewa saat ia melepaskan tangannya? Aku justru ingin tetap dirangkul olehnya, menikmati setiap degupan jantung walau rasanya tidak karuan.
***
Rumah Zain terletak di desa Raja. Salah satu desa yang ada di kecamatan Ngabang, kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Aku menduga desa ini dinamakan demikian karena di sini terdapat keraton Ismahayana yang merupakan tempat tinggal raja-raja pada jaman dahulu.
Zain orang yang cukup berorientasi ke depan. Pandai melihat peluang bisnis. Dia berbeda dari para lelaki lajang pada umumnya yang berprinsip menikmati masa sendiri sepuasnya. Zain mampu memanage keuangan dengan baik. Jika menilik gaya hidupnya, dia tidak pelit. Cukup menikmati hidup.
Sejak SMA dia sudah pandai berbisnis. Dia mulai dari bisnis online pakaian distro sebagai dropshiper. Teman-teman yang orang tuanya cukup berada dan royal menjadi pangsa pasarnya. Kemudian dia mulai menyetok cukup banyak pakaian, bertukar status dari reseller menjadi agen. Bisnis ini dia geluti hingga kuliah.
Namun, pada tahun pertama kelulusan Zain melihat pasar pakaian murah lebih diminati di kota ini sehingga dia menyewa ruko untuk mengembangkan bisnisnya.
Tentang bisnisnya itu aku tidak terlalu paham. Dia pun tidak terlalu melibatkanku. Peranku hanya sebatas teman yang kecipratan untung. Makan gratis, belanja gratis, sudah biasa. Bukan untuk memanfaatkan, cuma memang rasanya sedekat itu persahabatan kami.
Orang tua Zain bukanlah orang berada. Membuka warung kelontong kecil-kecilan hanya cukup untuk memenuhi makan sehari-hari. Zain membiayai sekolah dan kuliahnya atas jerih payah sendiri.
Kini kesuksesannya mampu mengangkat derajat orang tuanya. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya perempuan, baru saja lulus S1 manajemen ekonomi. Saat ini, adiknya lah yang membantu kedua orang tuanya mengurus toko milik Zain. Zain sendiri memilih fokus sebagai guru PNS.
Rumah Zain, yang kini adalah juga rumahku, bergaya minimalis dua lantai.
“Kenapa bikin rumah gede amat?” tanyaku waktu itu.
“Aku mau nanti setelah menikah, punya anak yang banyak,” balasnya sambil tertawa lepas.
Huft!
Jadi sekarang aku lah yang bertugas mengeluarkan anak yang banyak itu.
Lantai satu rumah ini terdiri dari tiga kamar tidur. Satu kamar utama, satu kamar tamu, dan satu kamar yang katanya untuk anaknya kelak saat masih kecil.
Setelah agak besar, anaknya akan tidur di kamar lantai atas. Yang paling aku senangi dari rumah ini adalah halamannya yang cukup luas, dengan tanah yang sengaja ditanami rumput hijau. Kelak, halaman ini akan kusulap menjadi taman yang indah.
Sore ini rencananya kami akan menggelar selamatan sebagai ucapan syukur pindah rumah, sekaligus memohon segala keberkahan dalam rumah tangga. Tetangga sekitar, keluarga, dan beberapa teman dekat saat sekolah kami undang.
“Akhirnya benaran jodohkan? Dulu juga dibilangi enggak percaya,” kelakar beberapa teman yang hadir.
“Iya, pakai malu-malu meong. Malu-malu, tapi mau. Untung enggak malu-maluin,” timpal yang lain.
Zain menanggapi semua ledekan itu dengan santai. Berbeda denganku. Kelakar teman-teman itu membuatku salah tingkah dan kikuk.
“Eh, tapi aneh, deh. Seingatku nama yang diundangan itu bukan nama Zain."
Deg! Jantungku berdetak tidak nyaman.
Pertanyaan yang kutakutkan akhirnya muncul juga. Orang-orang yang jeli pasti akan merasa heran, mengapa nama yang di kartu undangan berbeda dengan orang yang bersanding denganku?
Aku melirik sahabatku, eh, suamiku itu dengan rasa tak menentu. Sejenak kulihat dia pun melirik ke arahku sambil tersenyum.
Apakah Zain akan menceritakan semuanya? Duh, mau disembunyikan di mana mukaku jika mereka tahu Zain menikahiku hanya untuk menutupi malu keluargaku? Bahwa aku dikhianati calon suami beberapa jam sebelum hari H?
Lalu, akan seperti apa tanggapan teman-temanku? Apakah mereka akan mengejek dan menertawakan nasibku yang malang? Aku menggelengkan kepala, menolak bayangan-banyangan buruk kejadian yang akan muncul.
“Apalah arti nama di undangan. Yang penting itu nama saat ijab qabulnya. Ya kan, sayang?” tuturnya manis.
Manisss benar-benar manis. Dia menutup aibku dengan cara yang sangat manis, membuatku serasa melayang di samudera madu.
Aku hanya mampu menanggapi ucapannya yang manis itu dengan dengan senyum tersipu.
Terlebih ketika semua teman yang hadir menyoraki, “cieeee, so sweet.” Rasanya pipiku panas terbakar malu.