Bagian 7. Cemburu?

1902 Words
"Cuit cuit, sudah pandai sayang-sayangan sekarang." Mereka tidak berhenti menggoda. "Ya, pandailah. Bukan lagi sayang-sayangan. Sudah ehem-eheman pastinya," imbuh yang lain. Setelah acara syukuran bersama selesai dan tamu-tamu yang lain pulang, kami masih lanjut bercengkrama. Hitung-hitung reuni kecil-kecilan. Aku dan Zain hanya bisa menanggapi dengan tertawa ringan dan ekspresi salah tingkah plus cengengesan. Mereka tidak tahu saja apa yang sebenarnya terjadi, bahwa pernikahan ini ada karena kondisi yang memaksa. Bukan atas dasar suka sama suka. Bahkan hingga hari ini kami masih dalam tahap adaptasi, merubah orientasi sahabat menjadi hubungan suami istri. Mereka tidak tahu saja secanggung apa rasanya. Pokonya sulit dijelaskan dengan kata-kata. "Assalamualaikum." Setelah cukup lama saling melempar kelakar, perhatian kami teralihkan oleh satu sosok yang baru datang. "Waalaikumsalam." Aku dan semua yang hadir menyahut kompak. Sosok itu melangkah anggun ke arah kami. Bibirnya menguntai senyum manis. Dua ceruk yang ada di pipinya menambah manis senyum itu. Sejenak aku tertegun mengetahui siapa yang datang. Perasaanku yang semula ceria, mendadak berubah sendu. "Cahaya .... Maaf aku terlambat." Dia mengulurkan tangan, menyalamiku sebelum menyerahkan sebuah bungkusan menyerupai kado yang tertenteng di tangannya. "Eh, iya, Rin. Enggak apa-apa," balasku kikuk saat menyambut uluran tangan serta kado darinya, "Terima kasih kamu sudah mau datang." Setelah menyalamiku, dia beralih pada Zain. "Selamat, ya, Zain," ucapnya. Suaranya terdengar bergetar di telingaku. Aku menatap dua mahluk itu dengan perasaan yang sulit kupahami, semacam rasa tidak suka atau tidak rela mereka bertemu dan saling bicara. Terlebih saat Zain menjawab ucapan selamat darinya dengan diiringi senyum manis, serasa ada yang tercubit di dasar hatiku menyaksikannya. Cukup sakit. *** "Rina cantik ya, Bang, pakai jilbab?” tanyaku sekadar ingin tahu isi hati Zain tentang gadis itu. Semua teman-teman sudah pulang. Bahkan juga Umak dan Abah. Kami sedang mengemas perabot yang telah dicuci sehabis acara selamatan tadi. Sebenarnya aku saja yang ingin mengemasnya. Namun, Zain bersikeras membantu meskipun aku sudah memintanya istirahat lebih dulu sebab besok dia harus mengajar seperti biasa. “Iya,” jawabnya singkat di luar dugaannku. Aku tak pelak tersentak, menoleh tidak percaya, menatapnya yang khusuk mengeringkan piring-piring yang menumpuk untuk kemudian ditata di dalam lemari khusus itu dengan perasaan gemas. Jika tidak ingat untuk menahan diri, ingin rasanya kutimpuk kepalanya dengan salah satu piring yang dia pegang. Hatiku terasa panas. Tidak bisakah dia memperkirakan jika jawabannya yang singkat, tetapi tegas itu sangat tidak diinginkan istrinya ini? Tidak bisakah dia sedikit berbasa basi atau berbohong dalam memberikan jawaban? Kukira berbohong dalam hal yang satu ini tidak ada salahnya, apalagi demi menjaga perasaan istri. Boleh cari di dunia ini, jika seorang istri yang suka dan ikhlas suaminya menyebut perempuan lain cantik di depannya, kecuali jika perempuan itu anak mereka. “Mmmm, cantik ya, Bang?” ulangku sinis. Giliran dia yang tampak tersentak, lalu menoleh tidak enak padaku. Apa yang tidak kuketahui tentang Zain dan Rina? Rina, teman kami yang datang terlambat saat acara selamatan tadi sore, sejak SMA menyukai Zain. Menurut teman-teman, Zain memang memukau. Pembawaannya cool, tetapi perhatian. Bertolak belakang denganku yang ceriwis dan kerap bertingkah dan bicara sesuka hati. Anehnya dia selalu sabar menanggapi setiap tingkah polahku yang ceriwis dengan sikap cool dan kedewasaannya, membuatku semakin nyaman menjadikannya sahabat dan tumpuan curahan hati. Zain hanya akan menjadi pendengar yang baik saat aku mengeluh. Dia menanggapi tanpa mengompori. Dia yang selalu siap membantu, menjadikanku semakin tidak bisa lepas dari perannya dalam hidupku. Akan tetapi, hanya sebatas itu. Aku tidak pernah terpukau pada pesonanya seperti yang orang-orang katakan. Terbukti aku tidak pernah untuk berusaha mencari perhatian dengan tampil cantik. Berbeda dengan Rina. Dia cantik dan sangat memperhatikan penampilan bahkan sejak SMA. Body-nya bagus. Pakaian apapun yang membungkus tubuhnya selalu terlihat cantik. Meskipun tidak seksi dan terbuka, pakaian yang dipilihnya mampu menampilkan keindahan tubuh padatnya. Di samping itu, Rina pandai merawat diri. Kulitnya selalu glowing, tidak hanya wajah, tetapi seluruhnya. Lehernya jenjang dan jika ia mengurai rambut hitam panjangnya, aku dan teman-teman kaum hawa saja berdecak kagum, apalagi kaum adam. Rina terus mengejar Zain. Berbagai usaha dia lakukan. Dari yang diam-diam mencari perhatian dengan memberikan penampilan terbaik, hingga secara terang-terangan mengatakan suka dan mengajak Zain menjalin hubungan. Dia bahkan rela kuliah di jurusan yang sama dengan Zain, padahal cita-citanya menjadi polwan. Setelah lulus pun, dia menguntil dengan menjadi guru honor di tempat Zain mengajar agar bisa dekat dengan laki-laki itu. Akan tetapi, semua cara itu belum berhasil membuat Zain luluh. Dulu aku sempat bertanya pada Zain mengapa dia tidak bisa luluh akan kecantikan Rina. Padahal laki-laki lain saja berlomba-lomba untuk mendapatkannya. “Dia memang cantik. Tapi aku tidak suka," terangnya. "Memangnya kenapa enggak suka?" kejarku penasaran. "Aku suka cewek yang pakai jilbab." “Lha, ‘kan tinggal kamu suruh pakai jilbab saja." Saat itu dia diam beberapa lama sambil menatap kosong ke depan. “Kalau aku yang suruh pakai jilbab, nanti pakai jilbabnya bukan karena Allah. Tapi karena aku,” lanjutnya pelan. Aku terdiam dan menilik pada diri sendiri. Entahlah, apakah aku mengenakan jilbab karena Allah atau bukan? Dulu saat ulang tahunku yang ke dua belas, bertepatan dengan moment aku akan masuk SMP, Abah memberi beberapa potong jilbab dan pakaian panjang untukku. Saat itu aku hanya nyengir menerimanya. Jika Rina memiliki rambut indah yang selalu dia gerai, rambutku lebih indah lagi. Beberapa teman yang pernah melihat rambutku menjulukiku tiara sunsilk. Ya, seindah itulah rambutku. Aset dari tubuhku yang mampu menaikkan rasa percaya diriku. Lantas, haruskah aku menutupnya? “Cahaya tahu, di dalam Al Quran, jelas sekali bahwa Allah memerintahkan setiap ayah untuk meminta anak-anak perempuannya mengulurkan jilbab hingga ke d**a. Dan Allah akan menanyakan hal ini kelak pada saat amalan manusia dihisab. Jika Abah lalai mendidikmu, termasuk masalah jilbab ini, maka dapat menahan langkah Abah ke surga. Cahaya mau?” paparnya saat itu sambil menatapku teduh. Tentu saja aku tidak mau. Maka sejak itu aku memutuskan mengenakan jilbab. “Jadi benaran cantik, Bang?” ulangku lagi saat melihatnya bergeming. Persetanlah dengan image yang jatuh karena pertanyaan yang terus kuulang itu. Asal dia tahu, menjaga perasaan istri itu penting. “Ya, cantik. Emang Rina dari dulu cantik ‘kan?,” jawabnya dengan ekspresi sok polos plus muka tak berdosa. Allahu .... Tiba-tiba saja terasa ada sesuatu yang menyesak di d**a. Tanpa sadar tanganku memegang bagian kirinya, berharap organ penting bagi hidupku yang ada di sana baik-baik saja. Tidak kolaps karena terhimpit atau meledak karena terlalu panas. Bang! Ingin sekali aku menjerit agar sesuatu yang menyesak itu keluar. Sekaligus menyadarkan laki-laki itu bahwa apa yang dia ucapkan itu sesungguhnya sesuatu yang terlalu. Akan tetapi, aku hanya bisa diam. “Ish,” rajukku spontan sambil beranjak membawa setumpuk piring dan menyusunnya pada lemari khusus. Tanpa bisa kukendalikan, gerakanku sedikit kasar. “Kesal tahu, Bang!” Andai kalimat ini bisa kuucapkan. Saat sedang menyusun piring-piring itu, tiba-tiba aku merasa dua tangan kekarnya memegangi kedua pundakku. “Kamu cemburu?” tanyanya. Aku bergeming sambil terus menyusun piring-piring yang kubawa. Dia pakai tanya lagi aku cemburu atau tidak? Apa dia tidak bisa memikirkannya sendiri. Eh, tapi, aku bukan cemburu. Hanya tidak suka saja. “Kalau Abang bilang Rina enggak cantik, apa kamu akan percaya. Enggak 'kan? Bahkan Abang yakin nanti akan makin panjang nanyanya?” tuturnya tenang. Aku menghentikan sejenak gerakan tanganku. Benar, sih. Pasti aku akan berkata bahwa dia bohong. Sebab, hanya orang yang tidak bisa melihat yang akan mengatakan Rina tidak cantik. “Rina memang cantik, Sayang. Tapi, secantik apapun Rina dan gadis-gadis lain di luar sana, tetap kamu yang tercantik di mata Abang. Abang hanya ingin melihat kamu seorang. Enggak butuh yang lain,” ucapnya sambil tetap memegang kedua pundakku. Aaahhh, meleleh …. Aku mengulum senyum. Hilang sudah semua kesal di hati. Penuturannya membuatku ingin berjingrak dan bersorak riang. “Ish, gombal.” Hanya itu kalimat yang bisa kuucapkan sambil terus menyusun piring-piring yang tersisa. “Ya, enggak apa-apa gombal sama istri sendiri. Sah! Halal! Dan berpahala!” balasnya. Kemudian dia beranjak membantuku menata perabot yang telah bersih dan kering. "Terima kasih, ya," ucapnya. "Terima kasih untuk apa?" Aku bertanya heran. "Terima kasih sudah cemburu." "Ish, siapa yang cemburu?" "Ya, kamulah, masa Abang." "Mana ada aku cemburu." "Yang tadi cemberut saja dibilang kalau Rina cantik siapa?" "Itu bukan cemburu." "Terus apa?" "Hanya enggak suka saja. Puji-puji perempuan lain." "Sama saja, itu cemburu namanya." "Beda." "Sama." "Beda!" Laki-laki itu tergelak saat kata terakhirku terdengar sedikit keras. “Ayolah, istirahat. Sudah malam, besok juga Abang ‘kan kerja,” ucapku setelah semua beres. Dia mengangguk kemudian meraih pinggangku, menggandengku menuju kamar. “Tidurlah,” ucapnya setelah melabuhkan satu kecupan di keningku. Selalu seperti itu ritual yang dia lakukan untuk mengantarku tidur. Entah mengapa dia tidak mau melakukannya lebih jauh? Apa menunggu aku memberitahunya seperti yang dia sampaikan pada saat malam pertama kami? Jika memang begitu, maafkan istrimu ini, Bang. Sungguh aku belum siap untuk memulainya. “Abang enggak tidur?” tanyaku. “Abang masih ada kerjaan sedikit,” balasnya sambil menuju meja kerjanya yang juga ada di kamar ini. Tangannya bergerak membuka layar laptop dan menekan tombol power. “Nah, 'kan? Tadi kenapa bantu berkemas? Enggak langsung menyelesaikan tugasnya? 'Kan jadi kemalaman?” tanyaku sambil melirik jam dinding. Jarum pendeknya menunjuk hampir angka sebelas. “Enggak apa, sayang. Mumpung abang mau bantu," balasnya ringan. "Tapi Abang jadi telat tidurnya." "Enggak apa-apa." Sejenak suasana di antara kami hening. Aku memilih diam sementara dia mulai sibuk dengan layarnya. “Bang!” panggilku setelah beberapa lama. “Hmm?” “Sepertinya … Rina masih menyukai Abang,” ungkapku hati-hati. Aku tidak bisa menahan kalimat ini. Bayangan sorot mata gadis itu tak pupus dari benakku. Kecewa, sedih, amarah, menyatu di dalamnya meskipun berusaha ia tutup dengan senyum dan kelakar. Dia yang dulu pernah bercerita padaku tentang segenap rasanya pada Zain. Dia yang sangat berharap dapat menaklukkan hati laki-laki yang kini menjadi suamiku itu. Dia yang untuk pertama kali mengenakan jilbab tadi sore, seperti yang pernah kusampaikan padanya bahwa Zain menyukai perempuan berjilbab. “Maaf, Cahaya. Aku enggak bisa datang waktu itu,” ucapnya setelah menyerahkan bungkusan yang tadi ia bawa. “Enggak apa-apa,” jawabku kecut. Aku tahu dia datang di malam resepsi kamu. Namun, kemudian pulang tanpa menyalamiku dan Zain. Apa dia berpikir aku telah menikungnya dari belakang? Ah, ya! Aku memang telah menikungnya. Namun, bukankah aku tidak sengaja? Tidak berniat sejak awal? Lantas, mengapa dia mengenakan jilbab padahal sebelumnya selalu enggan? Apakah dia dendam padaku dan berniat merebut Zain? Tiba-tiba aku menjadi sangat khawatir, bercampur rasa bersalah membuat jiwaku tidak tenang. “Tenang, Zain tidak akan menyukainya. Lihatlah bagaimana dia telah berusaha menakhlukkan Zain sejak SMA?” Satu sisi hatiku berbisik menenangkan. “Tapi itu kan dia belum berjilbab, sekarang 'kan sudah. Lagi pula, hati laki-laki yang telah menikah itu lebih mudah goyah dibandingkan laki-laki single. Ingat, kamu itu telah melukai Rina. Dia bisa berbuat nekad." Sisi hatiku yang lain menghantui. “Tidak apa-apa, Sayang. Abang tidak bisa melarang Rina menyukai Abang. Tapi Abang bisa melarang hati Abang untuk menyukai Rina," ucap Zain tenang dari meja kerjanya. "Abang janji?" "Insya Allah." "Yang yakin, gitu, jawabnya!" "Tentu saja Abang yakin." Aku tersenyum lega. “Sekarang kamu tidur," ucapnya kemudian. "Iya. Sebentar lagi," balasku. "Sudah malam." "Abang juga belum tidur." "Kamu mau nunggu Abang?" "Huum." "Apa kamu mau Abang malam ini?" "Mau Abang bagaimana maksudnya?" Aku mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan pertanyaannya. "Mau ...." Dia tersenyum aneh, kedua alisnya dimainkan naik turun. "Eh!" Aku tersentak sambil serta merta meneguk ludah, paham dengan kodenya. "Iya, aku tidur sekarang," ucapku gagap lalu menyembunyikan kepala dalam selimut. Sementara laki-laki itu tertawa demikian renyah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD