“Maksud, Abang?” Pertanyaan yang sama untuk respon dari dua pernyataannya yang berbeda aku lontarkan. Menjadi asing? Asing yang bagaimana lagi? Seperti ini saja sudah sangat menyiksaku. Namun, dia hanya bergeming. Tidak ada suara yang terdengar menanggapi pertanyaanku. Diam, dingin, sungguh menyebalkan. Mungkin, akan lebih baik jika dia ungkapkan saja murkanya dengan ekspresi kemarahan. Bahkan mungkin bentakan akan kuterima. Paling tidak segala kata yang meluahkan isi hatinya bisa kudengar. Tidak seperti ini, hanya bisu. Bagaimana aku tahu apa keinginannya? Bagaimana aku menjelaskan jika ekspresi diamnya cukup membuatku gentar untuk bicara? “Abang ke masjid dulu,” ucapnya seraya beranjak. Meninggalkanku dengan pertanyaan yang tak terjawab, dengan berjuta kebingungan tak terjelaska

