“Mau kemana kamu?" Suara berat seorang membuat jantung Nina hampir copot. Brak… tubuh Nina tiba-tiba di dorong Samuel merapat di dinding. Tepat berada di pintu keluar toko.
“Samuel?” Nina menggigit bibirnya gugup. "Ke-kenapa kamu ada di sini?” Nina benar-benar tak menduga, pria itu benar-benar mengawasi dirinya. Padahal tadi tak ada mobil mencurigakan di depan rumah. Dari mana Samuel tau dirinya sedang keluar? Ah, pasti dari satpam. Beni kan anak buah Samuel. Ah sial.
“Aku yang harusnya tanya. Kenapa kamu keluar diam-diam dari toko? Mau melarikan diri lagi?"
“Iya!" Tantang Nina akhirnya. “Percuma menyembunyikan nya. Pria itu memang sudah tau rencananya yang selalu ingin kabur.
“Kemarin kamu melarikan diri, sekarang mau melarikan diri lagi? Kamu memang benar-benar tidak bisa di beri peringatan baik-baik Hilda."
“Aku bukan Hilda!" Tekan Nina dengan wajah menantang.
“Aku yang mengatur hidupmu. Terserah ku panggil Nina atau Hilda." Samuel tersenyum miring.
“Oh ya?" Nina memincingkan matanya. “Kamu sekarang nggak bisa lagi mengaturku Samuel. Orang tua Hilda menyayangiku. Aku bisa minta apapun pada mereka."
"Coba saja kalau bisa!” Samuel berbisik lirih, wajahnya semakin dekat dengan Nina. "Kamu milikku Hilda. Nggak ada yang bisa menghalangi rencanaku, termasuk orang tua palsumu!”
“b******k kamu, Samuel." Nina memukul bahu Samuel, berusaha menjauhkan wajah pria itu. “Aku nggak akan bisa lagi kamu atur!"
Samuel menangkap tangan Nina. “Kamu memang sulit diatur, Hilda. Jangan salahkan aku kalau aku benar-benar mengambil tindakan pada Mila.”
“Lakukan saja!" Pekik Nina tertahan, menarik tangannya dari genggaman Samuel. Nina tau pria itu hanya menggertak.
"Oke.”
"Samuel?” Sebuah suara membuat Nina dan Samuel sama-sama melihat ke arah sumber suara. Mata keduanya serempak melebar.
Begitu juga dengan Bola mata Yanto yang juga ikut melebar, tak percaya melihat Samuel mengurung tubuh putrinya di dinding dengan tubuhnya.
“Maaf, Om,” katanya datar. “Saya cuma... Ingin bicara sama Hilda.”
Nafas Yanto menghela berat, berjalan mendekat ke arah Samuel. Tangannya lalu menepuk pelan bahu pria itu. “Aku ngerti perasaan mu.” Yanto menarik nafasnya. “Gimana kalau kita bicara sambil makan? Aku juga mau ngomong sama kamu.”
Samuel tak punya pilihan selain mengangguk.
***
Beberapa saat kemudian, Nina, Samuel, Rina dan Yanto sudah duduk bersama di sebuah kafetaria Mall. Ketegangan masih terasa di udara.
Nina lega, walau gagal melarikan diri, ia bersyukur karena bisa lepas dari intimidasi Samuel. Berkat Yanto, tak ada lagi drama Samuel memarahi dan menekan dirinya. Dan kini waktunya untuk mengurai masalah antara dirinya dan Samuel.
Nina sempat sebal, saat Yanto dan Rina berkali-kali minta maaf pada Samuel. Menganggap semua perjuangan Samuel dahulu, mengobatkan Hilda ke berbagai klinik, bahkan ke Singapura, Samuel juga tak segan merogoh uang pribadinya untuk keperluan pribadi Hilda yang harusnya jadi tanggung jawab orang tua, merawatnya seperti seorang suami, namun semua sia-sia setelah Hilda sembuh, gadis itu tak membalas cinta Samuel, melupakan pengorbanannya, justru bercinta dengan Bara, teman semasa kuliah Hilda. Mengkhianati cinta Samuel yang tulus.
Samuel tersenyum tipis sambil mengangguk, ada dua ekspresi yang ditangkap Nina. Satu, wajah tenangnya seolah menjawab bahwa ia sudah bisa menerima keadaan. Dua, Pria itu puas, orang tua Hilda berhasil ia perdaya sepenuhnya, menganggap dirinya sebagai pahlawan, tak tau jika Samuel sebenarnya adalah penjahat.
Sebelah tangan Samuel kemudian merogoh saku kemejanya. Meletakkan sebuah ponsel di depan Nina.
“Maaf baru sempat mengganti hp mu yang hilang,” ucap Samuel sambil meletakkan sebuah ponsel di depan Nina.
Yanto menggeser ponsel itu kembali padanya. “Sudah cukup kamu memberi banyak pada Hilda, lagipula kecelakaan itu bukan salahmu. Mulai sekarang simpan saja uangmu, gunakan untuk keperluanmu yang lebih penting.”
Samuel tersenyum tipis. “Ini bukan hp biasa, Om. Di dalamnya ada foto-foto Hilda sebelum kecelakaan. Siapa tahu bisa bantu mengembalikan ingatannya.” Ujung mata Samuel melirik penuh arti ke arah Nina. Dan Nina tau, pria itu memaksanya untuk menerima. Atau adikmu akan menerima akibat perbuatanmu? Huh…!! Nina hafal betul arti tatapan Samuel.
Rina menggenggam tangan Nina lembut. “Simpan hp ini ya? Siapa tahu beneran bisa bantu kamu ingat sesuatu?”
Nina memaksakan senyumnya, kepalanya lalu mengangguk.
Dan pertemuan tak di sengaja sore itu membuat Samuel diam-diam menyimpan senyum puasnya. Rencananya sejauh ini berjalan lancar. Hilda yang sesungguhnya meninggal tanpa menimbulkan pertanyaan, Nina berhasil tidur dengan Bara, dan orang tua Hilda menganggap dirinya sebagai pahlawan, meminta maaf padanya karena merasa bersalah, Hilda yang harusnya mencintai dirinya justru menggoda Bara, dan dirinya jadi korban Hilda.
Samuel sialan!
***
Malam sudah larut.
Nina terbaring di ranjangnya, menatap layar ponsel yang menyorot lembut di wajah sendunya. Sisa lelah dari perjalanan siang tadi belum juga hilang, tapi pikirannya terus kembali ke kejadian saat pulang dari mal.
Ia masih ingat jelas, langit sudah gelap, jalanan ramai oleh lampu kendaraan, dan suara Yanto yang menggelegar di dalam mobil memaki Bara. Rina mengeluh, marah pada Yanto agar merendahkan suaranya, telinganya bisa tuli kalau Yanto terus teriak. Yanto akhirnya memang merendahkan suaranya, tapi dia tetap marah-marah karena gagal menghubungi Bara, katanya Bara sedang di Kalimantan untuk urusan bisnis.
Dalam perjalanan pulang, Nina sempat ragu agar mobil Yanto masuk ke sebuah perkampungan, meminta nya agar melewati jalan di sana. Dan hatinya langsung bersorak saat Yanto menurutinya, melewati lingkungan tempat rumah aslinya dulu berdiri. Rumah yang menyimpan banyak kenangan keluarganya yang dulu, dan disanalah Mila tinggal, adiknya, satu-satunya keluarganya yang tersisa. “Entah kenapa aku ingin lihat tempat itu,” katanya lirih waktu itu. “Rasanya…, seperti ada yang spesial.” Nina pura-pura lupa ingatan.
Namun ketika mobil melewati halaman depan rumahnya, rumah itu nampak sepi, tak ada Mila. Matanya menatap kosong rumah yang dulu selalu penuh tawa. ‘Ke mana kamu, Mila?’ bisiknya penuh rindu. Hatinya serasa diremas, kerinduan yang lama ia pendam akhirnya pecah juga. Di balik senyum palsu dan segala kepura-puraan, air matanya jatuh diam-diam malam itu.
“Ada apa, Sayang? Rina memeluk bahu Nina. “Ada yang kamu ingat?" Tanya nya.
Nina menggeleng, “aku nggak tau, tapi aku sedih banget, Ma.”
“Pelan-pelan saja, Sayang. Mama yakin ingatanmu pasti pulih," Rina membelai sayang rambut Nina.
Kini, di kamar yang sunyi, Nina menatap layar ponselnya lagi. Membuka media sosial, hatinya langsung tercekat saat mendapati foto dirinya tanpa mengenakan apapun sedang mendongak, wajahnya memang jelas sedang menikmati buaian bibir Bara di lehernya, tapi tubuhnya dan Bara yang tanpa mengenakan apapun di buat blur. Foto yang sangat memalukan. Dan foto-foto itu ada di mana-mana, Viral.
Komentar-komentar pedas membanjiri kolom unggahan itu, menelanjangi aibnya tanpa ampun.
Dada Nina berdegup keras. Ia teringat bagaimana Bara pernah memperlakukan dirinya, bagaimana cara pria itu memberinya kenikmatan, kenikmatan yang tak bisa ia lupakan, namun kenikmatan itu pula yang membuat dirinya benci pada diri sendiri. Mengapa ia bisa terbawa suasana, b*******h tanpa ujung, hingga membuat dirinya malu menghadapi dunia.
Nina memejamkan mata, menahan sesak.
Syukurlah, waktu di mal tadi, tak ada yang mengenalinya. Tapi tetap saja, rasa malu itu menjerat seperti rantai dingin yang tak bisa ia lepaskan.
Pikiran Nina lalu melayang pada Bara. Di tengah kebenciannya, ada juga rasa kasihan. Skandal itu menghancurkan reputasi Bara. Banyak orang yang dulu mengaguminya kini berbalik menghujat. Channel milik Bara, yang terkenal dengan konten inspiratif tentang keuangan dan bisnis anak muda, dibanjiri komentar sinis dan seruan boikot.
Bahkan, ada juga video tentang para karyawan di pabrik milik Bara mulai melakukan protes. Isu-isu miring bermunculan, bahwa semua kesuksesannya hanyalah hasil “bekingan” dari orang tuanya yang berkuasa.
Nina menarik napas panjang. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan, marah, sedih, atau iba? Semuanya bercampur menjadi satu, membuat dadanya terasa berat.
Tiba-tiba notifikasi masuk di ponsel Nina. Tak banyak nomer yang ia simpan. Hanya ada Tini, Yanto, Rina, dan Samuel. Dan pesan itu dari Samuel. Pria itu mengirimi sebuah Video.
Tangan Nina seketika bergetar ketika membuka video. Beberapa detik kemudian, matanya membulat lebar.
Wajahnya pucat. Nafasnya tercekat.
“Tidak… ini tidak mungkin...” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.
Seketika hati Nina hancur. Dunia seakan runtuh di hadapannya.
Bersambung…