17. Mila Malang

1013 Words
Dinginnya malam menusuk kulit. Gelapnya udara menyesakkan d**a. Jendela kamar yang terbuka memberi jalan bagi angin untuk menyusup, menerbangkan pelan helaian rambut seorang gadis yang tengah tertegun menatap layar ponsel. Gadis yang mengenakan baju tidur warna pink yang awalnya tiduran langsung duduk ketika melihat Video yang baru masuk ponselnya. Tubuh Nina seketika kaku. Nafasnya tertahan, tersangkut di tenggorokan tiap matanya menatap adegan demi adegan di layar. Tanpa terasa setetes demi setetes air matanya jatuh berderai. Tak sanggup mendengar tangis pilu adiknya meminta ampun. Mila diperkosa. Nina membuang muka, wajah nya merah menahan isak, dadanya sesak menyimpan tangis. Srak… Nina menenggelamkan wajahnya di bantal, tak sanggup lagi menyaksikan Mila menjerit histeris, tak kuasa melawan pria bertubuh besar yang merobek bajunya, pria itu bahkan tak segan memukul saat gadis itu di rasa merepotkan. Gedebruk… pria gundul bertubuh gempal itu membanting tubuh Mila ke lantai. Nina tanpa sadar menjerit panik. ‘Tidak…, jangan jangan lakukan ini pada Mila…,’ Nina menjerit dalam hati, kepalanya menggeleng-geleng syok, dan tangannya otomatis membanting ponselnya di atas kasur saat adiknya akhirnya ditindih si gundul. Nina tak sanggup lagi menatap adegan adiknya menangis putus asa. Buru-buru Nina menghentikan video itu. Tangis Mila bagai belati yang mengiris hatinya, sakit, menghantam hatinya bertubi-tubi, memukul perasaannya tanpa henti. “Kamu iblis Samuel, kamu iblis!” pekik Nina tertahan. Nina memukuli ponselnya dengan bantal. Ancaman kemarin ternyata bukan hanya gertakan anjing belaka. Nasi telah menjadi bubur, tak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Mila, gadis itu telah di perkosa. Dan semua karena kelalaiannya sendiri. Nina menggigit semakin keras bibirnya yang bergetar, menahan isak. Tak tahu harus mengadu pada siapa. Tini terlalu tua untuk ikut campur masalahnya, khawatir jika sesuatu yang buruk justru terjadi padanya, bagaimana kalau Tini ternyata justru teman Samuel? Ah…, sial! ‘Bagaimana kalau aku mengadu pada orang tua Hilda? Mereka sangat sayang padaku.’ tiba tiba ide cemerlang muncul di otak Nina. Gadis bodoh, sadarlah Nina, yang mereka sayangi itu Hilda, bukan kamu! Masalah malah bertambah kalau kamu mengadu pada mereka. Aaa… Kaki Nina memukul mukul kasur frustasi, ternyata ia benar-benar sendirian di dunia ini. Tring… tring… tring… Suara ponsel sejenak membuat Nina di tarik dari kesedihan. Wajahnya merah, lembab, basah oleh air mata. Nama yang tertera di layar membuat nafasnya tercekat, Samuel. Tangan Nina gemetar saat mengangkat telepon itu. “Kamu binatang, Samuel!” makinya, suaranya parau bercampur tangis. “Masih berani melawan aku?” Suara itu dingin menyimpan ancaman. “Sampai mati pun aku akan melawanmu!” suara Nina bergetar menahan emosi. “Tuhan nggak tidur, Samuel! Kamu pasti dapat balasan!” Tawa pongah terdengar. “Tapi Tuhan selama ini mendukungku, hahaha…” Nada congkaknya membuat Nina muak. “Lawan aku lagi, dan Mila akan kupersembahkan untuk banyak pria.” “Kamu... kamu biadab, Samuel! Sebenarnya apa maumu? Selama ini aku selalu lakukan semua permintaanmu!” “Jangan pernah mencoba kabur lagi,” jawabnya dingin. Nina membisu. Mila yang tak tahu apa-apa kini jadi korban. Maafkan aku, Mila. ini semua salahku. Tut! Telpon di putus oleh Samuel. Nina menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya lemas, emosinya terkuras, jiwanya serasa dikoyak. Maafkan aku, Mila. Sekali lagi aku gagal melindungimu. Masih pantas kah dirinya dipanggil kakak? *** Udara pagi terasa berat. Sinar matahari baru menembus jendela, tapi suasana ruang rapat di rumah mewah itu sudah panas. Bukan karena AC rusak, melainkan karena amarah yang nyaris meledak dari wajah seorang pria. Bara pagi itu tengah melakukan meeting via zoom, tak bisa berkumpul di gedung utama yang terletak di Jakarta karena sedang berada di Kalimantan. Namun keadaan yang darurat, protes di perusahaan nya menggema di dimana-mana. Pabrik di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua semua sedang ramai mendesak dirinya agar mundur, bagaimana bisa pria seperti dirinya meniduri wanita sembarangan, pergaulannya bebas. Oke semua itu bisa saja dimiliki anak muda. Tapi masalahnya Bara telah menegaskan dirinya di channel-nya jika dia pria baik-baik yang menggaungkan kesehatan mental pria, karena itu sangat berpengaruh pada apapun yang dipimpin, itulah rahasia Bara bisa mempunyai perusahaan, semakin berkembang pesat di tangan dinginnya, menjadi panutan banyak anak muda karena kepribadiannya yang positif, memberi banyak nasehat masuk akal cara mengolah keuangan agar bisa cepat kaya, memberi banyak motivasi anak muda agar menjadi pria sukses Wajah Bara memerah. Ia berusaha berbicara tegas, menahan diri agar tak melampiaskan amarah. “Inti dari pertemuan ini kalian harus menghadapi protes karyawan dengan kepala dingin. Berikan surat pengunduran diri pada setiap karyawan yang masih ngotot protes, ini hari ke tiga mereka protes, sepertinya mereka serius mau keluar.” Salah satu direksi bertanya hati-hati, “Bagaimana kalau mereka benar-benar mundur, Pak? Kita bisa rugi besar.” “Biarkan saja keluar,” jawab Bara datar. “Masih banyak orang yang butuh kerja. Lagipula, perusahaan mana yang bisa kasih mereka sepuluh juta sebulan selain aku?” Bara tersenyum miring. “Tapi, bagaimana kalau mereka serius? Kita bisa rugi besar kalau banyak karyawan yang mundur tiba-tiba. Proses produksi terhambat, distribusi bisa terganggu, belum lagi barang mentah kalau di biarkan terlalu lama bisa rusak.” "Kita harus ambil resiko," jawab Bara dingin. “Boleh saya beri masukan, Pak Bara?" Salah satu dewan komisaris yang sejak tadi diam kini bersuara. "Silahkan,” jawab Bara, lehernya bergerak-gerak tegang. "Semua keributan ini terjadi karena ulah anda sendiri. Lain kali berpikirlah seribu kali sebelum bertindak." ruangan sontak hening. Mata-mata melebar, terkejut dengan kata-kata komisaris yang sangat berani pada salah satu pemilik Holding Jagat Raya Mineral selain ayahnya. “Terima kasih atas nasehatnya,” ujar Bara kaku, jakunnya bergerak menelan ludah. “Tapi kalian juga harus tahu, kalau aku dijebak. Semakin tinggi pohon berdiri, semakin kencang angin berembus. Cukup sekian pertemuan hari ini. Rapat di tutup.” Bara menutup rapat dengan cepat. Nafasnya berat, darahnya mendidih. Langsung meletup saat melihat salah satu stafnya masih berdiri di ruangan sambil tersenyum menatap ponsel. “Kenapa masih di sini, hah?!” Suara Bara meledak. “Keluar! Kalian pikir aku bayar buat lihat hp?!” “Ba-baik, Bos!” Sebelum pergi, salah satu staff, menyikut pria yang sedang main hp, lalu buru-buru pergi. “Bereskan para demonstran di pabrik! Kalau jam dua belas masih ada yang demo, kalian yang kupecat!” Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD