Langit siang itu gelap. Awan hitam menggantung menumpahkan isinya sedikit demi sedikit, membasahi batako jalanan kecil menuju tempat tambang. Lampu-lampu kuning menyala tak berguna di sepanjang jalan. Para anak buah Bara berbaris, memberi salam singkat saat dirinya baru turun dari mobil. Udara pulau ini selalu berbau sama, batubara, solar, dan ketakutan. Bara berjalan tegap tanpa suara, tubuh tinggi dan atletisnya yang berlapis kemeja hitam tampak basah di beberapa bagian, Jeki berjalan di belakangnya sambil memayungi. Abo, pria paruh baya yang jadi tangan kanannya di pulau ini tampak kekar dan sehat di usianya yang hampir menyentuh enam puluh tahun. Bara di temani Abo berdiri di tepi pit. Dari tepi jurang tambang, memandangi ratusan pekerja yang masih bergerak. Di kejauhan, suara ex

