Part 8

1060 Words
Sierra adalah perempuan yang dikenal Peter ketika ia masih kuliah. Perempuan yang berasal dari tanah air yang sama dengan dirinya itu sukses menarik perhatian Peter. Kecantikan dan hobinya yang menyukai perpustakaan membuat hati Peter terobati karena adanya persamaan akan dirinya dan Ananta. Siapa sangka jika Sarah pun memiliki perasaan yang sama. Sehingga ketika Peter tidak ingin kehilangan perempuan yang disayanginya untuk kedua kalinya dia melamar Sierra. Malam itu Sierra tampak cantik dalam balutan gaun merah ketat yang membungkus tubuhnya yang ramping. Kecantikannya tidak dapat dibandingkan dengan Ananta. Jika disandingkan mungkin mereka seperti Sierra yang merupakan tas mewah buatan Paris dan sedangkan Ananta adalah tas murah buatan konveksi di dekat rumahnya. Hal inilah yang membuat Sierra tampak pantas berdiri di sisi Peter. Bukan dirinya. Seharusnya sejak dulu ia sadar jika dirinya dan Peter tidak sederajat. Kepolosan dan perasaan yang dimiliki olehnya dulu telah menutupi kebenaran yang seharusnya tampak begitu jelas jika mereka tidak akan pernah bisa bersama. "Anda sangat cantik dan sangat serasi dengan Peter," puji Ananta tulus. "Terima kasih. Kamu terlalu memuji kami terlalu tinggi," jawabnya diiringi senyum ramah di bibirnya. Bukan saja wajahnya yang canti. Suaranya pun terdengar merdu. Belum lagi perempuan itu menjawab ucapan Ananta dengan nada yang begitu ramah. Benar-benar perempuan sempurna. Peter sangat beruntung bisa memilikinya. "Um...kalau begitu boleh aku pamit untuk ambil minum?" kata Ananta pamit undur diri. Sejak pertemuannya dengan Peter rasanya oksigen di sekitarnya semakin menipis. Sesak memenuhi dadanya. Satu-satunya cara untuk memulihkan dirinya adalah segera menjauh dari pasangan di hadapannya saat ini. Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukannya. "Tentu..." jawab Peter tak punya banyak pilihan. Ananta memberikan senyum paling ramah-lebih tepatnya kaku-yang bisa ia bentuk saat ini sebelum akhirnya melangkah pergi dari situ. Sesampainya di sudut ruangan, ia meraih segelas air bening lalu menenggaknya sampai habis. Melepeskan kesesakan yang sejak tadi mengganggunya. "Aku tidak menyangka kamu sehaus itu. Seperti orang yang tersesat di gurun pasir bertahun-tahun,” ujar suara bariton yang sukses membuat Ananta tersedak dibuatnya. Uhuk! Uhuk! Butuh tiga menit bagi Ananta untuk meredakan batuknya akibat tersedak akan kehadiran Chris yang sukses membuat jantungnya terkejut seperti terkena serangan bom atom. "Chris! Apa kamu ingin membunuhku!?" protesnya tidak terima. Dengan santai Chris mengangkat kedua bahunya. "Mana mungkin aku punya niat untuk membunuh ibu dari anakku." Kedua mata Ananta membesar seakan hendak melompat dari rongganya. "Kamu masih mengkhayal! Sadarlah! Tidak ada anak di antara kita!" "Aku tidak percaya kalau belum ada buktinya. Maka dari itu aku akan mencari bukti apakah kamu memiliki anak dariku atau tidak.” "Sulit dipercaya! Bagaimana bisa ada pria seperti kamu!? Sebaliknya, bukankah seharusnya kamu bersyukur jika kejadian malam itu tidak membuahkan hasil!?" Chris menggeleng. "Sebaliknya Ananta. Aku akan lebih bersyukur jika kamu hamil." "Mengapa?" "Karena itu artinya aku bisa memilikimu seutuhnya." Untuk sesaat keheningan memenuhi mereka. Tak ada kata-kata yang terlontar di bibir mereka. Namun, pandangan mata mereka memiliki makna yang hanya dimengerti oleh keduanya. Mengapa? Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Karena aku mencintaimu. Mengapa? Apakah mencintaimu memerlukan alasan? Aku tidak mengerti. Begitu juga aku. "Keinginanmu itu hanya untuk memenuhi ego-mu sendiri Chris. Jadi lebih baik lupakan masa lalu diantara kita dan mulailah membuat masa depan yang baru," kata Ananta penuh luka di setiap ucapannya. Mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu sangatlah tidak mudah. Tapi pada akhirnya ia tahu, bertemu dengan Chris itu artinya dia harus siap membuka luka lama. Luka yang tidak akan pernah bisa disembuhkan apapun obatnya. "Aku akan pergi. Aku mohon, jangan ikuti aku. Dan satu hal lagi, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku." Selesai mengatakannya tanpa memberikan kesempatan bagi Chris untuk menjawab, Ananta langsung memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan tersebut. Tanpa memedulikan beberapa sapaan dari satu atau dua temannya yang dikenalnya. Sesampainya di rumah, Ananta langsung melepaskan kepengapan yang sejak tadi menyerang dadanya. Sungguh malam ini adalah malam terberat setelah sepuluh tahun yang lalu. Bertemu dua orang pria dari masa lalunya sangatlah menguras energinya. Belum lagi emosinya yang berhasil di acak-acak oleh Chris. Sunggu melelahkan. Perlahan Ananta menjatuhkan bokongnya di atas sofa panjang miliknya. Lalu memejamkan kedua matanya dengan harapan malam itu segera berlalu dan esok ia bisa kembali melalui hidupnya dengan damai tanpa adanya kehadiran Chris maupun Peter. Alhasil entah mengapa Ananta merasa kesepian di dalam kesendiriannya. *** Perlahan Ananta mulai membuka kedua kelopak matanya. Warna putih langsung menyambut penglihatannya. Di mana ini? Segera ia berusaha untuk menggerakan tubuhnya untuk bangkit berdiri. Namun rasa sakit di bawah perutnya memaksanya untuk kembali berbaring. Apa yang terjadi? "Lo udah sadar?" tanya sebuah suara yang dikenalnya. Ananta memiringkan wajahnya dan Chris tampak sedang duduk di salah satu sofa single yang terletak di sudut kamar. Sejak kapan dia di situ? pikirnya. "Apa yang terjadi?" tanyanya lemah. Chris tidak langsung menjawab. Satu menit berlalu barulah ia menjawab diiringi sebuah senyum yang baru pernah dilihatnya. Senyum kemenangan. "Kita baru saja melewati malam yang indah." Kening Ananta bertautan. Apa maksudnya? Otaknya bekerja keras mencoba berpikir keras untuk memutar ulang kejadian semalam. Seingatnya ia sedang menunggu kehadiran Peter di lantai atas hotel tempat mereka menginap. Namun entah berapa lama ia menunggu, Peter tak kunjung menampakan batang hidungnya. Padahal Ananta sangat menantikan malam itu. Namun sayangnya malam yang seharusnya menjadi malam indah menjadi malam terkutuk. Karena seseorang menutup mulutnya dengan kain dan tak lama kemudian Ananta tak mampu mengingat apapun. "Apa yang udah lo lakuin ke gue?" "Menurut lo apa yang dilakukan laki-laki dan perempuan dalam satu kamar?" "Lo..." Saat itulah Ananta menyadari situasinya saat ini. Rasa nyeri di bawah perutnya merupakan akibat perbuatan Chris. Laki-laki itu telah...mengambil mahkotanya! "Lo laki-laki b******k!!!" Di ambilnya sebuah bantal dan sekuat tenaga dilemparkannya ke arah Chris. Namun hasilnya sia-sia. Tenaganya tidak cukup untuk melayangkan bantal tersebut. Isak tangis perlahan lolos dari bibirnya. Bulir-bulir kristal seakan berlomba lolos dari rongga matanya. Bagaimana bisa hal ini terjadi pada dirinya!? Apa salahnya sampai ia harus menerima kenyataan pahit ini!? Chris bangkit berdiri dan menghampiri Ananta. "Gue nggak akan minta maaf. Sebaliknya bila hal ini membuat lo hamil. Gue akan tanggung jawab. Gue bukan laki-laki yang akan melarikan..." Buk!! Kali ini bantal lain mengenai wajahnya. Namun Ananta tidak merasa puas. Layaknya nasi yang telah menjadi bubur tidak akan pernah kembali menjadi nasi. Begitu juga dengan kejadian malam ini. Mahkota yang telah direnggut pria b******k macam Chris tak akan pernah bisa kembali. Siapa sangka Ananta meraih gelas kaca di atas nakas, memecahkannya dan dengan kepingan kaca ditangannya dia melukai pergelangan tangannya. Dihadapannya Chris yang tidak menyangka dengan tindakan mengejutkan Ananta membelalak. Secepat mungkin ia berusaha menyelamatkan perempuan itu, tapi Ananta menolak. Ia mendorong tubuh Chris sekuat tenaga sampai akhirnya ketika cairan merah itu terus menerus mengalir, perlahan kesadarannya pun menghilang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD