Ananta membersihkan tenggorokannya yang tercekat. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
Chris menarik wajahnya dan langsung menatap sepasang manik cokelat milik Ananta. Seolah-olah sedang mencari jawaban di dalam sana.
"Jangan berpura-pura Ananta. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Dan itu adalah anakku,” bisik Chris.
Untuk beberapa detik mereka saling pandang tanpa satu katapun terucap sampai akhirnya terdengar dengusan dari Ananta. "Kamu terlalu naif Chris. Atau jangan-jangan kamu berharap hubungan yang terjadi di malam terkutuk itu membuahkan hasil??" bisiknya menahan emosi. "Jangan bodoh Chris. Meski hal itu terjadi, aku pasti akan menggugurkannya!" Dari balik bulu matanya jelas sekali amarah tampak jelas dari wajahnya. Belum lagi cengkeramannya yang semakin kuat ketika mendengar pernyataan tersebut. "Sekarang lepaskan aku sebelum aku berteriak meminta pertolongan."
Untuk sesaat Chris terdiam. Otaknya bekerja keras menelan semua ucapan Ananta sampai akhirnya perlahan-lahan cengkeramannya mulai mengendur. Pikirannya kacau dan saat itulah Ananta mengambil kesempatan untuk melepaskan diri dan melangkah pergi dari situ. Meninggalkan Chris dengan beribu pertanyaan dan persepsi di dalam kepalanya. Apa semua yang dikatakan Ananta benar? Atau hanya sebuah bualan belaka untuk menutupi kebenaran dari dirinya?
Terlepas dari pertemuan itu dengan langkah lebar-lebar Ananta berjalan cepat. Berharap Chris tidak mengejarnya. Beruntungnya harapan itu terkabul. Sambil menarik napas lega dan bersikap biasa saja ia kembali melangkah masuk ke dalam ballroom. Namun, ada satu pemandangan yang menarik perhatiannya ketika pandangan matanya jatuh pada sesosok pria berjas abu-abu yang tampak sedang asyik berbincang-bincang dengan geng Dessy. Meski wajahnya tidak terlihat, tapi Ananta tahu siapa dia hanya dengan melihat punggunya saja. Punggun yang sama seperti yang ada di dalam ingatannya. Tanpa sadar langkahnya membawa dirinya memutari pria itu hingga akhirnya ia dapat melihat dengan jelas wajah pria itu. Wajah yang dirindukannya selama ini. Wajahnya yang tak jauh berbeda dari dulu selain bertambah dewasa.
"Iya... untung aja Sarah hubungin gue. Kalau nggak mana gue tau bakalan ada reuni..." ucapan pria itu berhenti setelah matanya menangkap sosok Ananta yang berdiri tak jauh darinya. "Ananta.." bisiknya yang berhasil membuat Dessy and the genk ikut menoleh dan sukses membuat perempuan itu menjadi pusat perhatian.
Ketika melihat wajah yang pernah sempat dirindukannya beberapa tahun yang lalu membuat napas Ananta sempat berhenti untuk beberapa detik. Manik cokelat yang sedang memandangnya saat ini mengingatkannya akan pertemuan pertama mereka sepuluh tahun yang lalu. Di mana binar-binar penuh kekaguman terpancar jelas dari dalam sana. Membangkitkan gejolak asmara yang telah disimpannya rapar-rapat dengan baik di dalam hatinya. Tapi sepertinya semua usahanya sia-sia. Karena hanya dengan melihat wajahnya lagi Ananta dapat merasakan getaran di dalam hatinya lagi.
Seharusnya ia tidak datang ke acara reuni ini!
Reuni ini hanya membangkitkan kenangan pahit yang telah dikuburnya dengan sangat baik. Juga cinta yang telah ditenggelamkan ke dalam dasar hatinya kembali muncul ke atas permukaan.
"Peter," balas Ananta pahit.
Tanpa memedulikan reaksi teman-temannya Peter pamit dan menghampiri tempat di mana Ananta berdiri tak jauh dari kerumunan itu. Sehingga membuat beberapa pasang mata tertuju ke arah mereka.
Senyum merekah tercetak di bibir Peter. Senyum yang masih sama dengan sepuluh tahun yang lalu. "Kamu Ananta, kan?"
"Ya..." jawab Ananta singkat. Karena dia sendiri tak tahu harus bersikap bagaimana. Haruskah ia bersikap seperti layaknya teman lama ataukah sebagai wanita yang yang melarikan diri darinya karena tak ingin Peter mengetahui seberapa rusaknya dia sepuluh tahun yang lalu akibat perbuatan yang dilakukan oleh Chris.
"Kamu nggak berubah. Apa kabar?" sapa Peter hangat diiringi uluran tangan yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Bagaimana bisa dia melupakan kemungkinan kejadian seperti ini akan terjadi? Atau karena selama ini di dalam pikirannya selalu dipenuhi rasa sakit yang disisakan Chris hingga ia melupakan pria yang berdiri di hadapannya? Ia terlalu fokus akan pertemuannya kembali dengan Chris daripada perasaannya pada Peter.
Dengan kemeja kotak-kotak biru yang digulung hingga siku yang membalut tubuh tegaknya, Peter tidak banyak berubah. Sebaliknya ia tampak lebih dewasa dan matang. Rahangnya yang kokoh dihiasi beberapa bulu halus samar yang menambah kejantanannya. Manik cokelatnya tetap lembut. Hidungnya tegak lurus selalu menambah ketampanannya diatas bibirnya yang tipis. Meyakinkan diri Ananta akan fakta dimana saja perempuan yang melihatnya pasti tidak ingin melepaskan pandangan matanya.
"Seperti yang kamu lihat sendiri. Aku baik," jawab Ananta berusaha untuk bersikap biasa saja.
Peter menarik sebelah sudut bibirnya. "Syukurlah kalau begitu. Tapi sepertinya kamu terkejut melihatku bisa berada di sini, bukan begitu?"
"Bisa dikatakan begitu. Siapa sangka kamu yang telah menetap di LA akan kembali hanya untuk acara reuni seperti ini.” Ananta memandang Peter yang tersenyum tipis.
"Kamu pintar." Peter menatap manik cokelat Ananta lekat-lekat. "Semua ini aku lakukan dengan harapan bisa bertemu kembali denganmu walaupun aku tahu kemungkinan untuk bertemu denganmu sangatlah kecil. Apalagi jika mengingat bagaimana kamu menghilang sepuluh tahun yang lalu. Tapi beruntungnya aku bisa kembali bertemu denganmu lagi.”
Mendengar penuturan Peter membuat Ananta tersenyum pahit. Hati kecilnya ingin berteriak dengan harapan seandainya Peter tahu alasan kepergiannya. Sayangnya ia tak bisa melakukannya. “Apa… kamu sudah bertemu dengan Chris?” tanya Peter hati-hati.
Ananta memandang wajah Peter sesaat sebelum akhirnya mengangguk pasrah.
Sontak detik berikutnya pandangan mata Peter yang lembut perlahan berubah menjadi mata penuh amarah. Membuat Ananta mengepalkan cengkerammnya pada tali tas yang sedang dipegangnya. Mengapa pria itu tampak marah? Apa alasannya?
"Mengapa kamu berbohong padaku?"
Kening Ananta menyatu. Benaknya bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Peter. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Sepuluh tahun yang lalu, mengapa kamu membohongiku?" Peter memajukan wajahnya. Matanya memandang iris Ananta lekat-lekat. "Membohongiku dengan mengatakan jika kamu tidak mencintaiku. Padahal sebaliknya kamu sangat mencintaiku!" bisiknya penuh penekanan. Dan entah mengapa ketika selesai mengatakannya akhirnya sesak d**a yang selama ini menghimpit di dalam dadanya perlahan mulai menghilang.
Ananta menelan salivanya dengan sulit. "Kamu tahu dari mana hal itu?” tanyanya terbata.
"Kamu tidak perlu tahu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjelaskan kebenarannya kepadaku.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”
“Jelaskkan atau aku bisa melakukan hal jahat yang tidak bisa kamu duga karena kamu telah membohongiku.”
Ananta membasahi bibirnya yang terasa kering sebelum menjawab. "Memang aku mencintaimu. Tapi sepuluh tahun sudah berlalu dan semua kebenaran itu tak ada artinya."
Tanpa diduga Peter mencekal lengannya.
"Kamu bohong!" desisnya penuh penekanan.
"Aku tidak berbohong! Apa gunanya berbohong setelah sepuluh tahun berlalu? Tak ada untungnya bagiku. Atau kamu mau kita memulai lagi dari awal layaknya anak sekolah yang sedang mengalami cinta pertama? C'mon Peter, kita sudah dewasa. Bukan lagi anak remaja yang sedang puber. Jadi gunakan akal sehatmu! Sekarang lepaskan aku atau aku akan berteriak,” kata Ananta sambil berusaha untuk bersikap biasa saja karena ada beberapa pasang mata yang mulai berbisik satu sama lain. Membuat Ananta ingin segera mengakhiri pembicaraan diantara dirinya dan Peter sesegera mungkin.
Di samping itu Peter tampak terdiam. Bibirnya terkunci rapat. Otaknya menelaah semua ucapan Ananta. Apakah semua yang dikatakan perempuan yang berada di hadapannya ini benar? Ataukah hanya usaha untuk mendorong dirinya lagi?
Dengan kasar Ananta mengambil kesempatan itu untuk menepis lengannya hingga akhirnya terlepas. "Sadarlah... nasi telah menjadi bubur. Tak ada yang bisa kamu lakukan perihal yang terjadi sepuluh tahun yang lalu,” kata Ananta mengingatkan.
"Honey!" Tiba-tiba suara seorang perempuan berhasil menyadarkan keduanya. "Aku cari kamu kemana-mana, ternyata kamu ada disini," omelnya.
Peter dan Ananta menoleh bersamaan untuk mencari sumber suara. Saat itulah seorang perempuan cantik yang tampak seperti model itu datang menghampiri tempat di mana mereka berdiri. Kemudian tanpa diduga Peter merangkul pinggang perempuan itu dan mencium pipinya di depan Ananta. "Sorry, aku ketemu temen lama jadi lupa diri. O iya kenalin dulu nih temenku, Ananta. Dan ini Sierra, istriku." Senyum merekah di bibir Peter seakan mengatakan, this is my revenge for you.
***