Part 5

1244 Words
Sebesar apapun keinginan Ananta untuk menghindari Sarah, nyatanya ia tak bisa. Rasa hutang budi karena pekerjaan yang baru saja didapatkannya selalu menghantui dirinya. Ingin rasanya Ananta memilih untuk berhenti dari pekerjaannya. Hanya saja rasanya terdengar egois. Seakan ia tidak memiliki rasa tanggung jawab sebagai seorang wanita dewasa. Bagaimana bisa dia bersikap tidak dewasa seperti itu? Ditariknya napas dalam-dalam lalu dibuangnya sedikit lebih kencang. Baiklah, mungkin sekaranglah waktunya ia membuktikan pada dirinya sendiri jika masa lalu bukanlah hal yang paling ditakutinya saat ini. Termasuk pria yang telah merenggut kebahagiaannya sepuluh tahun yang lalu. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya. Dipandangnya satu pesan yang belum dijawabnya sejak kemarin. Sarah : Apa kamu baik-baik saja? Segera kabari aku. Dan satu hal lagi, aku berharap kamu datang ke acara reuni itu. Dipilihnya kotak jawaban sebelum akhirnya Ananta menggerakkan jarinya di atas layar. Me : Aku baik-baik saja. Jangan khawatir dan maaf karena sikapku kemarin sempat mengejutkanmu. Soal reuni yang kamu bicarakan, aku akan datang. Send. Ya, Ananta telah memutuskan untuk datang ke acara reuni tersebut. Walaupun bukan Chris Joshepa-lah yang paling ditakutinya. Melainkan pria lain. Pria yang selama ini selalu ada di hatinya. Pria yang telah mengambil tempat spesial di dalam hatinya. *** Chris memandang langit malam dari balik kaca jendela kamarnya yang besar. Segelas anggur merah disesapnya sedikit. Di hadapannya pemandangan malam ibukota tampak indah dalam gemerlapnya malam. Seperti malam itu, malam dimana untuk pertama kalinya ia merasakan yang namanya kalah dan sakit hati. Sepasang tangan muncul dari balik punggungnya dan memeluknya erat. "Apa yang sedang kamu pikirkan malam ini?" bisiknya dari telinga Chris. "Tidak ada," jawab Chris singkat lalu menyesap red wine di tangannya. "Mengapa kamu tidak bisa berbohong sekali saja untuk menghiburku?" ucap perempuan itu lagi. Dengan malas Chris melepaskan pelukan perempuan di belakang tubuhnya lalu memutar tubuhnya sehingga sekarang mereka saling berhadapan. "Sarah, kamu tahu aku bukan laki-laki seperti itu." Ucapan Chris berhasil membuat Sarah tertawa. Ia meraih red wine milik Chris lalu menenggaknya sampai habis. "Tunangan macam apa kamu yang hanya bisa menolakku," ucapnya kesal. "I'm sorry. Tapi aku harap kamu tahu jika pertunangan ini terjadi hanya untuk menguntungkan kedua belah pihak keluarga kita? Bukan karena keinginan kita," kata Chris dingin mengingatkan. Sarah memutar kedua bola matanya dengan malas. Selalu jawaban itu dan itu yang diberikan oleh Chris ketika ia meminta pria itu untuk bersikap sekali saja sebagai seorang tunangan yang sebenarnya. Entah harus bagaimana caranya untuk meluluhkan hati Chris yang seperti es itu. Padahal sudah satu tahun sejak mereka bertunangan. Namun, tak ada tanda pertunangan tersebut akan berlanjut menjadi pernikahan hingga saat ini. Padahal keluarganya terus mendesak dirinya untuk segera menikah dengan Chris Josepha. Seorang pewaris Axie Hotel. "I know. Kamu terus mengucapkan kalimat itu berulang kali layaknya sebuah robot yang sudah diprogram." Chris tersenyum kecil. "Katakan aku bisa terima perihal itu. Tapi, kapan kamu akan menikahiku?" Detik berikutnya senyum di bibir perlahan Chris memudar. "Pernikahan? Mengapa harus ada pernikahan jika bertunangan saja sudah menguntungkan kedua pihak keluarga kita?" Sarah memandang wajah Chris lekat-lekat. Dari balik bulu matanya ia menemukan wajah tampan dengan manik cokelat dihiasi hidung terlukis sempurna. Wajah yang selalu tersimpan dengan baik di dalam benaknya sejak dulu. Dan Sarah menginginkan pria tampan di hadapannya ini menjadi miliknya. Sudut bibirnya yang tipis terangkat sedikit. Seakan diam-diam sedang menertawakannya. "Karena aku ingin menginginkan kuasa penuh atas Axie Hotel." Dan juga dirimu ucapnya dalam hati. "Sehingga menikah denganmu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkannya. Bukankah begitu?" tanya Sarah dengan dagu terangkat. Pantang baginya terlihat lemah di hadapan tunangannya jika tidak ingin mendapatkan kekalahan meski pedang di tanganmu telah patah. "Axie Hotel." Chris mendengus. "Imbalan apa yang akan aku dapatkan jika aku memberikanmu Axie Hotel tanpa pernikahan?" Kedua sudut bibir Sarah naik ke atas. "Aku punya satu jawaban yang akan membuatmu langsung menyerahkan Axie Hotel kepadaku tanpa perlu menikahiku." Juga aku punya rencana lain supaya pada akhirnya kamu tidak memiliki pilihan lain selain menikahiku. Chris terdiam. Otaknya sedang berpikir keras. Perempuan cantik namun berbisa seperti Sarah tidak boleh diremehkan. Luarnya saja yang tampak cantik tapi siapa yang tahu jika dalamnya dia adalah seorang ular berbisa yang mampu membunuh siapapun yang menghalangi langkahnya. Pebisnis seperti dirinya tidak boleh terperangkap oleh tubuh ular tersebut sehingga tidak digigit oleh bisanya. "Kalau kamu ingin tahu, datang saja ke acara wawancara staff Axie Hotel nanti." Selesai mengucapkannya Sarah mengedipkan sebelah matanya lalu melangkah keluar dari kamar penthouse miliknya. Meninggalkan Chris Josepha yang terdiam ditempatnya. Sehingga ketika hari Ananta harus interview, Chris memandang kedatangan Ananta dari balik dinding jendela kantornya yang sangat besar. Wajah itu, wajah yang selalu datang di dalam mimpinya masih terlihat sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Hanya saja tidak ada lagi rambut yang tergerai bebas di bahunya. Meski begitu hanya dengan melihat sosok Ananta dari kejauhan saja mampu membuat darahnya berdesir. Memacu seluruh adrenaline di dalam tubuhnya sehingga semangat yang dulu sempat meredup kembali membara. Ananta Ariestya, akhirnya aku menemukanmu kembali. Itulah alasan dibalik penerimaan Ananta sebagai karyawan di salah satu hotel berbintang lima. *** Siapa sangka jika acara reuni tersebut sangat megah layaknya pesta pernikahan? Ballroom besar berlapis karpet merah menutupi semua lantai ruangan. Lampu kristal seharga motor tergantung indah di atas langit-langit ballroom. Pemandangan megah di hadapan mata Ananta ini lebih dari sekedar sebuah kata reuni. Entah siapa saja yang rela membuang uangnya cuma-cuma hanya demo reuni seperti ini. Mungkin mereka yang kelebihan stok uang. "Ananta," panggil seseorang dari balik tubuhnya. Refleks Ananta menoleh dan saat itulah ia menemukan seraut wajah sedang tersenyum kepadanya. Saat itu jugalah Ananta mengenali wajah perempuan yang memanggil namanya. Meski tidak muda lagi tapi temannya itu tidak banyak berubah. "Amel! Kamu Amel, kan!?" tebak Ananta antusias. "Iya! Ini aku Amel!" Setelah yakin tidak salah orang mereka pun berpelukan. Melepas rindu karena sudah lamanya tidak bersua. Amelia teman satu meja Ananta saat mereka duduk di kelas dua belas. "Apa kabar? Udah lama banget ya nggak ketemu! Padahal aku terus cari info tentang kamu setelah kelulusan. Tapi kamu kayak hilang ditenggelam bumi. Menghilang dalam sekejap tanpa seseorang pun yang tahu ke mana kamu pergi!" Mendengar ucapan Amel alhasi Ananta tersenyum pahit. Kenangan akan hari di mana dia tidak pernah datang lagi ke sekolah kembali muncul ke permukaan. "Maaf. Aku ada urusan mendadak jadi tidak sempat bilang pada siapapun, termasuk kamu," sahut Ananta sebisanya. Amelia menggeleng cepat. Mencoba memahami apa yang terjadi pada Ananta meskipun kenyataannya dia tidak tahu perihal apa yang sebenarnya telah menimpa temannya itu. "It's okay. Aku ngerti kok." Detik selanjutnya ia mengedarkan pandangan matanya. "By the way udah ketemu siapa aja?" "Aku baru saja tiba. Jadi, aku baru saja bertemu denganmu. Kamu sendiri bagaimana?" "Sama. Yuk kita keliling bareng!" Ananta menggeleng. "Kamu duluan aja. Aku pengin ke toilet dulu. Kebelet." "Oke. Nanti cari aku di sayap kanan aja ya. Aku mau ke situ. Siapa tau ada temen se-geng kita dulu," kata Amelia. Selesai berpisah Ananta segera melangkahkan heels-nya keluar ballroom menuju toilet yang letaknya tidak jauh dari situ. Diayunkan langkahnya sedikit lebih cepat. Karena letak toilet wanita bersisian dengan toilet pria, Ananta harus melewati toilet pria lebih dahulu. Sehingga ketika ia melewati pintu toilet pria, tiba-tiba saja seseorang keluar dari pintu tersebut sebelum Ananta sempat menghentikan langkahnya. Alhasil tubuhnya yang mungil menabrak sosok tinggi tersebut. Sontak Ananta langsung memejamkan kedua matanya kuat-kuat karena ia tahu jika dirinya akan membentur lantai. Untunglah pria tersebut berhasil menangkap pinggangnya. Alhasil tubuh Ananta tidak mencium lantai. Dengan mata tertutup Ananta menarik napas lega karena selamat dari benturan. "Terima kasih," ucapnya tersenyum seraya mengangkat wajahnya untuk melihat malaikat penolongnya. Sayangnya senyum itu langsung menghilang dalam hitungan detik ketika Ananta berhasil melihat wajah malaikat penolongnya. Karena pria yang dikiranya sebagai malaikat penolong nyatanya bukanlah malaikat penolong. Melainkan malaikat maut yang telah mengambil kehidupannya sepuluh tahun yang lalu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD