Dua Pendosa

999 Words
WARNING ADULT CONTENT! "Di sini?" tanyaku setelah menatap nomor di samping pintu gerbang bertuliskan A15. Sebuah rumah dua lantai yang terlihat mewah dengan halaman yang luas. "Iya." "Yakin kita selesaikan hari ini, Na? Setelah aku ketemu suami kamu, aku pantang mundur kecuali kamu sendiri yang mencabut tuntutan itu nanti." "Aku udah siap. Apa pun resikonya. Mas Reza harus tanggung jawab kalau Joyce beneran hamil. Jadi, cepat atau lambat, kami memang akan berpisah." Aku mengangguk, merasa cukup lega saat melihat tekad kuat yang Nana tunjukkan. Tak ada lagi air mata maupun kesedihan di wajahnya. Justru dia terlihat seperti wanita yang begitu kuat. "Ayo!" Jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya, mengikuti langkah Nana yang sudah lebih dulu keluar dari mobil. Tangannya sigap merogoh pengait di belakang pintu gerbang dan langsung menggesernya, mempersilakanku masuk lebih dulu. Lampu taman bulat berwarna putih belum menyala, begitu juga dengan lampu kristal yang menggantung di teras. Padahal sebentar lagi gelap. "Sepi, Na. Suamimu nggak di rumah?" Dia mengangkat bahu, "Nggak tahu." Aku dan Nana melangkah masuk. Siapa sangka, pemandangan tak senonoh terlihat di atas kursi sofa. Seorang wanita dengan rambut pirang mendongak dengan wajah kaget. Bajunya tersingkap sampai pinggang, menungging berpegangan kursi sofa. Di belakangnya, Reza merem-melek menikmati lembah yang memenuhi kebutuhan biologisnya. Meski wajahnya terkejut, tapi gerakan pinggulnya tidak berhenti. Terus maju mundur berusaha mencapai puncak. "Na ... Nadya?!" Suara wanita itu tercekat di tenggorokan sebelum mengeluarkan desahan menjijikan. Tangannya berpindah dari kursi sofa ke belakang, menarik tangan lawan mainnya. Nana refleks berbalik badan, tidak sengaja menabrak d**a bidangku dan membuat tatapan kami saling beradu untuk sesaat. Matanya berkaca-kaca, tampak jelas sakit hati dan terluka. Aku tidak bisa berkata-kata, tapi juga tidak berhak merengkuh Nana ke dalam pelukan. Aku di sini datang sebagai pengacara yang harus bekerja dengan profesional. Maka, dengan cepat aku mengenyahkan perasaan pribadi dan fokus menatap dua orang pendosa yang kelimpungan membenahi penampilan mereka setelah memisahkan diri. 'Dasar binatang!' umpatku dalam hati, mengepalkan tangan dan memperhatikan pria yang sudah memberikan sambutan tak terduga atas kedatangan kami. "Mas," panggil Joyce sambil menyembunyikan tubuhnya di belakang Reza, menatap takut-takut ke arahku dan Nana. "Kamu pulang sana!" "Tapi ...." "Pulang!" Joyce menatap Reza dengan pandangan tak percaya. "Mas ngusir aku?" "Pergi!" Joyce mengerutkan kening karena heran. "Aku lagi hamil anak kamu loh, Mas. Selama ini aku selalu nurutin ucapan kamu, termasuk main sandiwara di depan Nadya. Sekarang dia datang, kamu usir aku?" Plak! Kali ini tamparan mendarat di wajah Joyce, membuat tubuhnya terhuyung dan berakhir jatuh terduduk di kursi sofa. Jika saja dia jatuh ke lantai, mungkin janin di dalam kandungannya bisa luruh. Dia keguguran. Sayangnya, keberuntungan tampaknya masih berpihak pada wanita itu. "Pergi sekarang atau aku nggak akan nikahi kamu!" Joyce terisak, menggigit bibir bawahnya sebelum berlari keluar dari rumah itu. Satu pemandangan yang cukup mengejutkan untukku. Selama ini, aku banyak menangani kasus hukum, tapi belum pernah membantu masalah perceraian suami istri dengan hubungan yang rumit seperti ini. Sebuah perselingkuhan yang tertangkap basah oleh sang istri untuk kedua kalinya. Benar-benar luar biasa bejatnya seorang Reza. Suara kemarahan Joyce terus terngiang-ngiang di telingaku. Dia hamil dan jadi peliharaan Reza selama ini, tapi itu tidak lebih penting dari kalimat berikutnya. Seminggu terakhir Reza butuh pelampiasan karena depresi. Itulah benang merahnya. Pantas saja dia belum mendaftarkan perceraiannya dengan Nana. Ternyata ego dan sedikit logikanya belum menemukan kesepakatan. Seperti kata Pak Bagaskara, Reza tidak akan berani menceraikan Nana karena itu akan berimbas pada pekerjaannya. Bisa jadi, dia belum yakin bisa menguasai seluruh aset milik istrinya karena ayah mertua dan ayah angkat Nana adalah dua orang yang sangat berpengaruh di kota ini. Membuat keduanya murka adalah kiamat kecil untuknya. "Selamat sore, Pak Reza. Bisa saya minta waktu Anda sebentar? Perkenalkan, saya Firman Alamsyah, juru bicara sekaligus kuasa hukum yang akan mewakili Ibu Nadya Kinanthi." Reza mengerutkan keningnya, "Kuasa hukum?" Aku menyunggingkan senyum. "Benar, Ibu Nadya ingin mengajukan gugatan cerai sekaligus tuntutan harta gono-gini atas seluruh aset yang selama ini beliau kumpulkan. Sedikit banyak saya sudah mendengar, ah ... bahkan menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri tentang apa yang terjadi di sini. Beliau tidak ingin lagi mempertahankan rumah tangganya dengan Anda. Kedatangan kami kemari untuk—" "Pergi kalian!" usir Reza dengan suara tercekat di tenggorokan. Tubuhnya gemetar luar biasa, terlihat dari acungan jarinya yang bergoyang-goyang halus. Satu hal yang membuatku ingin tertawa rasanya. Dia benar-benar bukan orang yang berpengalaman. "Aku nggak akan nyerahin satu sen pun aset atas namaku." Aku menyeringai, mendekat ke arah Reza yang langsung mundur dua langkah. Matanya bergerak gelisah, berusaha mencari pertolongan. Tubuhku yang tegap dan kekar berisi jelas tidak akan kalah dari tubuh kerempengnya. Sekali sentak, aku bisa mematahkan tulang tangan maupun kakinya. Belum lagi tatapan tajam yang kuhadiahkan, benar-benar berhasil mengintimidasinya. "Pak Reza, apa Bapak pernah dengar sebelumnya tentang seorang pria yang ditemukan tak bernyawa di dalam koper? Apa Anda ingin mencoba rasanya? Sesak atau tidak?" "Jangan mengancam. Sa ... saya nggak takut!" Suara Reza jelas menunjukkan kebalikan dari ucapannya. Dia ketakutan. Aku jadi semakin semangat mempermainkannya. "Tenang saja, Pak. Saya bukan seorang kriminal dan tidak akan pernah menjadi kriminal demi menyingkirkan pria seperti Anda. Jika Anda tidak bisa bersikap kooperatif dengan saya, saya sama sekali tidak keberatan memviralkan video asusila Anda barusan." Mata Reza membola, semakin kalut. "Penjepit dasi yang saya kenakan ini, dilengkapi dengan micro camera. Apa Bapak ingin melihat kembali kegiatan 'menyenangkan' tadi?" bisikku yang membuat wajah Reza merah padam. Suaraku begitu lirih, tidak akan bisa didengar Nana yang masih berdiri mematung di ambang pintu. "Ka … kamu mau apa?!" Aku kembali menyeringai, "Saya hanya ingin meminjam seluruh bukti kepemilikan aset yang Anda miliki untuk dibuat salinannya. Tenang saja, saya punya mesin fotokopi portable di mobil, jadi saya tidak akan membawa dokumen itu kabur. Saya hanya ingin menggandakannya." Reza lari tunggang langgang, memasuki sebuah kamar dengan tergesa. "Firman, kamu apain Mas Reza? Kenapa dia ...." "Kita lihat aja, Na. Oke?" Kening Nana berkerut, membuat kedua alisnya hampir bertaut. Dia pasti penasaran, tapi aku tidak akan terlalu jujur padanya. Mempermainkan Reza, rasanya menarik juga. Siapa suruh sudah membuat Nana menderita?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD