"Firman, nggak bisa besok aja?"
Suara Nana tercekat di tenggorokan, tampak tidak nyaman saat mobilku mulai memasuki gerbang perumahan tempat tinggalnya. Dia akhirnya buka mulut, tak hanya diam.
"Kenapa? Kamu belum siap ketemu suamimu yang sebentar lagi bakal jadi mantan itu?"
Alih-alih menjawab, dia justru meremas tas di pangkuannya. Aku terpaksa menepikan mobilku, mengajaknya bicara. Keraguan bergelayut di matanya.
"Kalau aku sama Mas Reza beneran pisah, apa Bima akan baik-baik saja? Yang paling dirugikan dari sebuah perceraian adalah anak-anak. Nggak sedikit yang kekurangan kasih sayang dan pada akhirnya lari ke hal-hal negatif. Apalagi Bima masih masa tumbuh kembang. Dia pasti akan kehilangan sosok ayah."
Aku meraup wajah dengan tangan sambil menarik napas dalam-dalam. Tanganku bergerak mengambil ponsel yang ada di saku. Nana butuh diyakinkan agar berpisah dari pria itu. Sekali selingkuh, suatu saat nanti pasti akan melakukan hal yang sama.
"Mas Dani, tolong cari tahu akun sosial media Reza Handika dan Joyce. Mereka suami dan sahabat Nadya Kinanthi."
Kulihat Nana melirik ke arahku, tapi mulutnya terkatup rapat. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk berisi link sosial media milik dua orang itu.
Tanpa membuang banyak waktu, aku menelusuri media sosial dengan ikon warna biru. Akun Reza tak ada yang aneh, hanya foto-foto dengan Nana dan putra semata wayang mereka. Namun, kejutan kutemukan di akun kedua milik Joyce.
"Kamu nggak berteman sama akun facebo*k Joyce yang ini?" tanyaku sambil mengarahkan ponselku padanya.
Nana menggeleng setelah mengerutkan kening. Nama yang tertera di sana memang bukan nama asli, tapi foto profilnya jelas Joyce.
"Kamu terlalu percaya sampai buta dan nggak menyadari mereka diam-diam menjalin hubungan. Bahkan, foto-foto mesranya udah dari beberapa tahun lalu."
Aku menyerahkan ponselku pada Nana. Tampak foto Joyce di sebuah kafe, sedang memegang es krim sambil mengerling sebelah mata ke arah kamera.
"Kamu zoom in. Lihat baik-baik siapa yang mengambil foto itu."
Jari Nana bergetar, menyentuh layar ponselku dengan keraguan yang terlihat jelas. Matanya membulat sebelum berkaca-kaca. Dia sudah melihat pantulan wajah suaminya yang tampak di dinding kaca di belakang Joyce. Reza ada di sana bersama Joyce.
Detik berikutnya, Nana menggulir layar ponsel ke bawah. Ada foto Joyce makan di sebuah restoran sambil berpegangan tangan dengan seorang pria. Meski wajahnya tak terlihat, tapi jam tangan yang digunakan oleh pria itu sama dengan jam tangan Reza.
Nana menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia masih belum percaya sudah dikhianati berkali-kali. Hatinya menolak logika yang tertangkap mata.
"Udah cukup!"
Aku mengambil ponsel dengan sedikit kasar saat melihat Nana kehilangan kesabaran dan menggeser foto-foto Joyce dengan emosi.
Tangis Nana pecah tanpa bisa dicegah. Tangannya terkepal, memukul-mukul d**a yang terasa sesak tak terkira. Ketulusannya pada Reza justru dibalas luka sebagaimana pepatah air su-su dibalas air tuba.
Aku hanya bisa diam, menatap matahari yang kembali ke peraduannya sambil melirik arloji di pergelangan tangan. Hampir pukul enam sore. Sebenarnya ini sudah di luar jam kerjaku, tapi aku juga tidak bisa membiarkan urusan ini berlarut-larut. Masih begitu banyak proses yang harus dilewati untuk mengurus perceraian seseorang.
"Na," panggilku dengan suara serak, berusaha tidak mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
"Kamu masih cinta sama Reza?"
Nana terkesiap, menatap mataku lekat-lekat. Ekspresi wajahnya tidak terbaca.
"Maaf kalau aku lancang bertanya hal seperti itu, tapi kamu sudah jadi klienku, Na. Kalau kamu masih cinta sama suami kamu, mungkin lebih baik proses ini tidak usah dilanjutkan."
Nana tak lantas menjawab, tampak berpikir keras. Pasti dia punya banyak pertimbangan.
"Oke, karena kamu masih bimbang, malam ini kamu pikirkan matang-matang, Na. Kita bicarakan lagi besok. Kalau kamu mantap mau menggugat suami kamu sekaligus memperjuangkan harta gono-gini, aku siap memperjuangkannya. Segala cara bakal aku lakukan supaya kamu dapat hak asuh anakmu."
Dia mengangguk lemah, tapi tak bisa menyembunyikan rasa bimbang yang sejak tadi mengganggunya. Wanita itu seolah terombang-ambing, meragukan hubungannya dengan Reza, bisa berlanjut atau stop sampai di sini.
Tanganku memutar kunci mobil dan menghidupkannya, bersiap membawa kendaraan itu keluar kompleks perumahan. Aku tidak bisa memaksa. Biarkan dia mengambil keputusannya sendiri.
"Tunggu!" Suara Nana mencegah gerakan tanganku memutar kemudi. Aku menoleh ke arahnya, menunggu kata berikutnya.
"Kita ke rumah sekarang. Walaupun mungkin ini sakit buat aku, tapi aku nggak mau berlarut-larut dibodohi."
"Kamu yakin?" tanyaku sangsi dan dia mengangguk sebagai jawaban.
"Dari awal Mas Reza pasti udah merencanakan ini semua. Kalau gak, gimana bisa dia yang ambil kendali semua aset aku? Mungkin aku yang terlalu bodoh, dibutakan sama cinta dan perhatian semu dari dia. Dia datang di saat aku butuh sosok teman setelah kamu pergi."
Deg!
Detak jantungku seolah berhenti satu detakan bersama jarum tajam yang menghunjam dan membuat dadaku sesak.
"Mas Reza sejak ospek udah naruh perhatian ke aku. Dia kasih hukuman karena aku bengong waktu dia lagi kasih penjelasan. Sejak saat itu, kami sering bertemu. Aku yang lagi patah hati, disirami perhatian-perhatian kecil yang lama-lama membuatku merasa nyaman.
"Perlahan tapi pasti, Mama tahu hal itu dan jadi minta bantuan Mas Reza buat jaga aku. Cuma dia satu-satunya teman di kampus. Itu juga yang membuat Om Wirawan langsung merekrut Mas Reza begitu wisuda. Dia anggap Mas Reza layak dapat tempat khusus di perusahaan karena bisa 'momong' aku."
Aku menarik napas dalam, bisa mengerti alur cerita yang baru saja diungkapkan. Hubungannya dengan Reza bukan berdasar suka sama suka sejak awal, tapi hanya karena kesepian . Nana yang rapuh dan kesepian, menerima perhatian yang saat itu dibutuhkan karena aku meninggalkannya.
"Acara lamaran, Papa sama Om Wirawan yang berinisiatif. Mereka takut aku hamil di luar nikah karena kita sering jalan berdua. Semua mereka yang atur. Begitu aku wisuda, kami langsung nikah dan Papa lepas kami berdua. Uang yang didapat dari hadiah pernikahan, sebagian aku pakai buat buka usaha katering dan sebagian buat ambil kredit rumah."
Suara Nana sudah lebih baik, tidak lagi parau seperti sebelumnya setelah minum air mineral yang aku berikan. Aku siap membalaskan sakit hati Nana. Akan kubuat dua orang itu membayar pengkhianatannya!