Setelah menunjukkan pesan dari Joyce tentang kehamilannya, dia masuk ke kamar mandi, membuatku mengenang masa lalu kami berdua.
"Om, tolong sampaikan permintaan maaf saya ke Nana. Dia nggak mau angkat telepon. SMS juga nggak dibalas," ucapku malam itu, sehari sebelum terbang ke Eropa demi mengambil beasiswa di salah satu universitas ternama.
Om Bagaskara mengangguk, menepuk pundakku dan mulai bercerita masa kecil Nadya, putri kesayangannya yang lebih sering dipanggil Nana. Meski satu jam lamanya kami bercengkerama di beranda, Nana menolak turun dari kamarnya. Dia hanya mengintip dari jendela saat aku melangkah keluar melewati pintu gerbang.
"Kamu nggak harus ambil tawaran beasiswa itu!" Suaranya yang melengking sebulan sebelumnya masih terbayang di kepala. Saat itu aku mengungkapkan keputusanku menerima tawaran beasiswa dari sebuah yayasan.
"Na, ini demi kebaikan kita berdua. Aku serius sama kamu, tapi aku juga harus serius sama masa depanku. Nggak mungkin yatim piatu kayak aku, layak bersanding sama putri semata wayang Pak Bagaskara. Apa kata orang nantinya?"
Nana menghempas tanganku, berdiri dengan cepat sampai membuat es teh di atas meja tumpah. Tapi, itu tidak lebih penting dari protesnya karena tidak setuju dengan keputusan akhirku.
“Kalau kamu tetap pergi, kita nggak ada hubungan lagi. Kita putus!”
Nana berlari mencegat taksi dan meninggalkan aku sendiri. Berhari-hari kucoba menemuinya, tetapi nihil. Hanya Om Bagaskara dan Tante Anita yang minta maaf padaku atas keras kepala anak kesayangan mereka itu.
Aku pikir Nana tidak akan datang ke bandara, tapi dia tiba-tiba muncul saat aku sudah melewati petugas imigrasi. Tangisnya menggema, membuat orang-orang memusatkan perhatian padanya. Dia berteriak memintaku tinggal, tapi sebagai seorang pria, aku punya harga diri untuk diperjuangkan. Mimpi-mimpi masa depan. Meski itu artinya, aku harus kehilangan gadis yang aku cinta.
Suara pintu yang terbuka membuat lamunanku terjeda. Refleks wajahku menoleh ke sebelah kanan di mana Nana keluar dari kamar mandi yang ada di ruang kerjaku. Wajahnya basah dengan mata yang masih terlihat sembap.
Aku berdeham lirih, berusaha mengusir rasa sesak yang entah datang dari mana. Setidaknya aku harus profesional dalam bekerja.
"Bisa kita bicarakan kasus ini dengan kepala dingin, Na?" tanyaku sambil menunjuk berkas yang diantarkan oleh asistenku dua menit yang lalu. Itu form kosong yang harus diisi nama dan data-data klien sebelum kami mengambil tindakan hukum.
"Silakan isi dulu form-nya."
Nana mengangguk, kembali duduk di depanku. Ku lihat dia sesekali menarik napas dalam, mengembuskannya dari mulut. Tangannya masih gemetar saat kuulurkan pena padanya. Dia pasti syok, terguncang psikisnya.
"Sudah berapa lama kamu menikah dengan tergugat?" tanyaku dengan suara yang aku usahakan setenang mungkin, menyembunyikan gemuruh di dalam dadaku.
"Lima tahun. Hari ini tepat anniversary yang kelima."
Satu jarum tajam menghunjam ulu hatiku, membuat penyesalan itu datang lagi. Jika saja aku memaksakan diri pulang, mungkinkah Nana membatalkan pernikahannya dengan Reza?
"Seperti yang Papa bilang, aku terlalu bodoh dan memercayai Mas Reza sepenuhnya. Dia yang pegang kendali semua aset kami, bahkan kepemilikan restoran, mobil, rumah, termasuk buku tabungan, semua atas nama dia. Cuma kios kecil sama pick up tua yang menggunakan namaku karena Papa yang mengurusnya."
Aku mengangguk, menatap selembar kertas berisi tuntutan Nana.
"Kamu mau ambil semuanya?"
Kali ini Nana menggeleng, "Nggak semua. Aku cuma mau hak asuh Bima ada di tanganku. Kalau aset itu masih bisa kita perjuangkan, aku bersedia ikuti prosesnya. Kalaupun nggak, nggak masalah. Bima jauh lebih penting dari segalanya."
Aku terdiam beberapa detik, menatap wajah cantik yang menyimpan kesedihan di matanya. Sesayang itukah seorang ibu pada anaknya? Kenapa aku tidak mendapatkan kesempatan seperti itu?
"Tadinya aku nggak kepikiran buat menggugat harta gono-gini, tapi Papa yang mendesakku sampai memaksaku ke sini. Setelah lihat pesan dari Joyce, entah kenapa rasanya aku nggak rela jerih payahku selama ini jatuh ke tangan dia. Jadi, mungkin memang ini keputusan yang terbaik. Karena Mas Reza mungkin nggak akan pernah mendaftarkan perceraian kami, aku yang akan menggugat cerai. Keputusanku udah bulat. Kamu bisa bantu urus sisanya, kan?"
Ini pertama kalinya Nana menatap mataku lekat-lekat. Akan tetapi, ini sama sekali bukan Nana yang kukenal. Sorot matanya yang selalu memancarkan keceriaan, sekarang penuh oleh kekecewaan berbalut dendam dan kemarahan. Aku hampir tidak mengenalinya. Apa yang ada di dalam kepalanya?
"Bisa kan hak asuh Bima jatuh ke tanganku?"
Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi, berusaha mencari kata yang tepat agar Nana tidak terguncang.
"Saat terjadi perceraian, seorang Ibu berhak mengasuh anak yang berusia di bawah 12 tahun. Setelah anak itu mencapai usia yang disebutkan sebelumnya, dia berhak memilih antara Ayah atau Ibu sebagai pemegang hak pengasuhan. Tapi dalam kasus tertentu, seorang Ibu juga bisa kehilangan hak asuh jika dia memiliki riwayat buruk seperti pernah tersandung kasus kriminal, maupun ketidakmampuan dalam hal finansial."
Raut wajah Nana yang semula terlihat sedikit lega, sekarang tampak lebih keruh dibandingkan sebelumnya. Dia bahkan sampai menggigit bibir bawahnya karena khawatir.
Meski tak menyuarakan isi hatinya, tapi aku tahu berbagai pikiran buruk pasti memenuhi kepala Nana. Dia mungkin akan semakin terguncang jika harta dan anak semata wayangnya hilang dari genggaman.
"Na, masih ada berkas yang harus kamu lengkapi," ucapku setelah beberapa menit berlalu dalam diam.
"Berkas apa saja?"
Aku mengambil selembar kertas dan menuliskan dokumen apa saja yang akan digunakan untuk mengajukan gugatan cerai terhadap Reza.
"Surat nikah asli, salinan surat nikah yang sudah dilegalisir dan bermaterai, salinan KTP, salinan kartu keluarga, juga foto kopi akta kelahiran anak bermaterai dan dilegalisir."
Aku menyerahkan lembaran kertas itu ke Nana.
"Jika ingin melanjutkan proses gugatan cerai dengan urusan harta gono-gini, kamu juga harus menyiapkan dokumen lain seperti bukti kepemilikan kendaraan, surat tanah, rumah, juga aset lainnya."
Kedua bahu Nana luruh, tampak putus asa.
"Ada apa?" tanyaku pada akhirnya. "Semua dokumen itu dipegang sama suamimu?"
Dia mengangguk lemah.
"Oke, kita ambil sekarang."
"Eh? Sekarang?!" Nana terhenyak, mengangkat wajahnya yang semula menunduk.
"Ayo!"
Aku mengambil jas di belakang kursi, memakainya dengan cepat dan mengambil ponsel serta kunci mobil. Jika aku membantunya bercerai dari Reza, bukankah ada kesempatan bagiku untuk memilikinya?