Bertemu Mantan

967 Words
“Pa,” panggilku lirih saat duduk berdua dengan laki-laki yang menjabat tangan Mas Reza untuk mengucap ijab kabul lima tahun lalu. “Diam. Papa masih nggak habis pikir apa yang terjadi sama kamu dan Reza.” Lidahku kelu, tidak bisa berucap apa pun. Saat penghakimanku telah tiba. Ganjalan yang Papa simpan pasti akan diluapkan seluruhnya. “Papa udah dengar semua dari Mama. Lihat kan sekarang kenapa Papa nggak suka sama Reza?!” Sejak awal, Papa memang tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Mas Reza. Namun, karena aku terlalu mencintainya, Papa akhirnya mengalah. Tapi sekarang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar jatuh cinta pada Mas Reza? Atau dia hanya ada di saat aku kesepian? Aku mengembuskan napas kasar dari mulut, tak bisa menyangkal. Semua kesuksesan yang Mas Reza dapatkan memang berkat bantuan Papa. Tanpa koneksi beliau, mungkin sekarang dia hanya karyawan pabrik yang gajinya sebatas UMR. Jangankan memiliki perumahan dan mobil, mencukupi biaya hidup sehari-hari saja pasti kurang. “Na, dari awal Papa sudah peringatkan kamu. Dia itu pengecut, nggak mau berjuang. Bahkan untuk melamar kamu pun, Papa yang harus memaksa dia. Kamu terlalu dibutakan oleh cinta, nggak pakai logika. Laki-laki macam dia cuma tahu enaknya. Mana mau dia berjuang dengan otaknya?” “Pa—” “Apa? Kamu mau bela suamimu yang nggak tahu diri itu?!” Aku berusaha membuka mulut, tapi Papa langsung menyela dengan suara yang semakin meninggi. Papa mendengus kesal, merasa perjuangannya sia-sia. Rasa frustrasi jelas tergambar di wajahnya. “Sebenarnya Papa udah memperkirakan ini. Diam-diam, Papa yang minta Om Wirawan buat lepas Reza sendiri. Dia itu nggak ada skill di bagian marketing. Manfaatin tampang doang nggak ada gunanya, Na!” Papa berdiri, berkacak pinggang sebelum melanjutkan. “Dia ada di puncak kariernya karena punya tim yang solid. Tapi begitu tim dirombak, hasilnya langsung anjlok.” Aku hanya bisa mendengarkan dalam diam. Rasanya seperti dibekap rasa bersalah yang semakin menghimpit. “Perusahaan bahkan harus bayar denda karena salah satu unit rusak waktu dikirim ke pelanggan. Kerja mereka nggak bener. Kirim barang kok cuma dibungkus ala kadarnya. Alasannya buru-buru. Itu konyol, Na! “Mereka cuma nggak mau repot. Nggak mau susah. Beda banget sama tim yang sebelumnya. Pulang pagi pun mereka rela!” Aku menundukkan kepala, tak berani menatap Papa. Semua ini memang salahku. Aku terlalu percaya pada Mas Reza dan Joyce. Mereka adalah dua orang terdekat yang kupikir bisa kutitipi segalanya. Tapi ternyata aku bodoh, baru sadar sekarang. Hening menyelimuti kami. Papa menarik napas panjang beberapa kali, dan aku semakin merasa takut. Tidak berani menatap matanya yang penuh amarah. “Benar yang Mama bilang, aset yang kamu punya sekarang, semua atas nama Reza?” Papa akhirnya menanyakan hal yang paling aku takutkan. Aku hanya bisa mengangguk lemah. Memang itulah kenyataannya. “Astaga, Nadya! Kamu itu bukan cuma kemakan cinta buta, tapi juga jadi bodoh, ya!” Papa meraup wajah, semakin kesal dengan fakta yang kembali menamparnya. “Ayo sekarang ikut Papa! Kalau Papa diam, kamu bakal jadi gelandangan nantinya!” Pria lima puluhan itu meraih kunci mobil yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Aku terkesiap, menatap tangan Papa yang kini sudah mencengkeram lenganku. Wajahnya sama sekali tidak bercanda. “Ayo!" Tubuhku sudah berpindah tempat dengan cepat. Papa dengan ketegasannya, memaksaku mengikuti langkahnya. Bahkan, tak segan menyalak saat aku belum juga memakai sabuk pengaman. “Kita ke mana, Pa?” Takut-takut aku bertanya. Meskipun aku putri semata wayangnya, tetap saja beliau akan mengomel atau menghukumku kalau aku melakukan kesalahan. “Kamu nggak perlu banyak tanya!” Mobil mulai melaju meninggalkan rumah dan bergabung dengan kendaraan lainnya. Terik matahari semakin membuat suasana hati kami terasa tak nyaman. Panas. Gerah. Lima belas menit berlalu, mobil terhenti di pelataran sebuah gedung pencakar langit yang tampak megah. Beliau membawaku ke salah satu firma hukum kepercayaannya. Beberapa orang memperhatikan kami begitu memasuki gedung ini. Seorang resepsionis membungkukkan badan, menyambut kami dengan senyum ramah. “Firman ada?” tanya Papa to the point setelah menerima id card khusus pengunjung. Aku juga mendapatkan kartu serupa. “Pak Firman sedang ada meeting di luar. Bapak sudah membuat janji sebelumnya?” Si wanita berpakaian merah tersenyum canggung, menunggu jawaban Papa. “Hubungi dia. Bilang saya menunggunya sekarang juga.” “Baik, Pak. Saya akan segera menghubungi Pak Firman. Silakan, Bapak dan Ibu bisa menunggu di sana.” Resepsionis itu menunjuk ruangan dengan dinding kaca di sebelah kanan lobi. Papa kembali menarik tanganku ke arah ruang tunggu. Ada kursi sofa dengan meja panjang di depannya. Tanpa perlu diperintah olehnya, aku sudah menempati satu sudutnya. Entah apa yang ada di kepala Papa. Mungkin mengusahakan harta gono-gini agar aku tetap bisa mendapatkannya. “Na, Papa nggak mau kamu sengsara. Apa yang menjadi hakmu, harus kamu dapatkan. Kita minta bantuan Firman. Papa yakin dia bisa meng-handle urusan ini.” Aku diam tak merespons. Terserah Papa sajalah. Aku tak peduli. Menit-menit berikutnya nasihat Papa kembali menyapa telinga. Mengungkit kekurangan Mas Reza dan kebodohanku. Tak kurang dari sepuluh menit Papa berceramah. Emosinya sedikit mereda, tak meluap-luap seperti sebelumnya. “Siang, Pak Bagaskara. Ada yang bisa saya bantu?” Terdengar suara seorang pria yang membuatku seketika mengangkat kepala. Tatap mata kami bertemu di titik yang sama, membuatku tidak bisa bernapas lega seperti sebelumnya. Pun sama dengan pria itu. Sosoknya yang tegap sempurna, berdiri tiga langkah di depanku. Mulutnya terbuka, tapi tak bersuara. Susunan kata yang ada di kepalanya tak bisa diucapkan sama sekali. Dia sepertinya terkejut melihatku di hadapannya. Namun, bukan itu yang membuatku terhenyak. Dia menatapku tanpa berkedip, tatapan penuh kerinduan. Sebagai seorang wanita dewasa, aku bisa mengartikannya. Dia masih tetap menyukaiku, sama seperti dulu. “Apa kabar, Nana?!” Suara Firman terdengar bergetar menahan emosi. Dia salah tingkah, menyentuh hidung seperti kebiasaannya saat gugup dan itu sukses membuat dadaku sesak. Kami bertemu kembali setelah sekian lama terpisah. Bagaimana ini? Bagaimana caraku menghadapi dia yang pernah membuat hatiku porak-poranda?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD