Melemah vol 2

828 Words
    Angin sore berembus sedikit kencang. Pria tampan itu berdiri dan bersandar di pagar balkon lantai dua kamarnya. Matanya tertutup seperti sedang memikirkan sesuatu. Embusan napas berat membuatnya terlihat tidak tenang. Sesaat sore itu sangat sepi,tidak ada satu orang pun di mansion-nya. Hanya ada beberapa pelayan yang sengaja tidak memperlihatkan diri.     Kai lalu menghela napas berat. Pikirannya berkecamuk kebingungan menghampirinya. Antara ingin pergi dan menetap. Itu yang dia pikirkan saat ini. Tetap di tanah air, atau berangkat ke Paris. Kebingungan itu sungguh membuatnya sangat gusar. Apalah daya dia hanya seorang anak yang harus menuruti keinginan sang ayah. Namun dia sendiri lebih nyaman tinggal di Paris.     Sore itu dia hanya menghabiskan secangkir kopi tanpa memakan apa pun. Perutnya sudah berbunyi meminta makanan, namun kebingungannya mengalahkan rasa laparnya. Kai membuka mata dan langsung mengambil HP-nya. Kai hendak menelepon seseorang.     “Hallo.” Suara di seberang telepon suara manis seorang gadis.     “Kio,” ucap Kai dengan suara yang berat.     “Kenapa, ini siapa? Lupakan, aku akan menutupnya,” ucap gadis itu terdengar dengan nada marah.     "Eiit, stop jangan ditutup teleponnya, Kio, kamu mulai nakal sekarang."     “Mau apa?”     “Ayolah jangan galak seperti itu Kikio, Kakak berjanji tidak akan meninggalkanmu.” Kai meneguk kopinya.     “Benarkah?!” teriak gadis itu sangat terkejut.     “Tentu saja benar.”     “Baiklah, Kakak, aku akan pulang, tunggu aku, Kak!” ucap gadis itu dengan semringah.     "Eh, sudahlah, pulangnya besok saja, nanti kamu akan sampai larut malam kalo kamu pulang sekarang!”     “Tapi aku rindu Kakak," rengek gadis dengan nama Kikio itu dengan manja.     “Iya, iya Kakak tau, tapi kamu pulangnya besok saja ya, Kakak akan jemput kamu."     "Ya ampun benarkah, apa ini mimpi?” Gadis itu menjerit senang.     "Eh ko teriak seperti itu, jelas ini bukan mimpi, dasar gadis manja,” ucap Kai sedikit terkekeh.     “Karena aku senang, Kak."     “Iya Kakak tau, sabar dan tunggu Kakak oke!”     “Iya, Kak, Kio pasti bakalan tunggu Kakak, tapi ....” Ucapan gadis cantik itu terhenti membuat suasana agak sedikit sunyi.     “Tapi kenapa?” tanya Kai dengan suara agak pelan.     “Apa Kakak rindu padaku?” Kio bertanya dengan suara yang bergetar seolah dia sedang menahan tangis.     “Kenapa bertanya?     “Karena aku ingin tau, Kak!”     “Sudah tau jawabannya masih saja bertanya,” ucap Kai tertawa pelan.     "Lantas kenapa kamu tidak pernah menjengukku? Kamu pulang demi Kak Ken bukan demi aku, kamu     keterlaluan, Kak, aku sedih."     "Eh ceritanya sedang cemburu ya?”     “Iya, kamu sudah tau, Kak, masih saja membuatku semakin cemburu, kamu memang selalu lebih menyayangi Ken daripada aku," gerutu gadis itu merajuk pada sang kakak.     “Gadis Bodoh, mana ada?”     “Bodoh Kakak bilang?”     “Iya bodoh.”     “Kenapa Kakak bilang aku bodoh, Kakak memang tidak pernah menyayangiku, Kakak hanya menyayangi Kak Ken saja," rengek Kio dengan manja.     “Tentu saja kamu bodoh, karena tak bisa merasakan rasa sayang Kakak buat kamu, Kakak sayang sama kamu Kio," tutur Kai dengan lembut.     “Kalo Kakak memang, Sayang, apa Kakak tidak akan pergi lagi?” Kai hanya terdiam lemah. Entah apa yang harus dia ucapkan pada adik bungsunya. Dia begitu lemah saat ini. Bukan lemah dari hal fisik, tetapi lemah karena dia tidak bisa menolak keinginan adik bungsunya. Sepertinya ayahnya Tuan Yaw memang sengaja agar Kikio melemahkan hatinya. Kai adalah sosok yang sangat mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.     “Kenapa diam?” tanyaan Kio memecahkan lamunan Kai.     “Kio, Kakak lemah karenamu, Kakak tidak akan pergi lagi, Kakak akan selalu mendampingimu, oke?" ucap Kai pelan dan itu membuat Kikio tersentuh.     “Kakak janji tidak akan pergi lagi ‘kan?” tanya Kio dengan penuh harap.     “Iya Kakak akan berjanji, Kakak janji tidak akan meninggalkanmu lagi adik kecilku yang cengeng," ucap Ken bersungguh namun diakhiri dengan umpatan manis.     Membuat Kio terasa sungguh senang. Terdengar suara isakan dari mulut gadis lucu itu. Sepertinya memang gadis itu sangat terharu karena kakak kesayanganya tidak pergi lagi meninggalkanya. Kasih sayang Kai terhadap Ken dan Kio memang besar dan tiada duanya. Kai sangat mencintai keluarganya melebihi apa pun. Mencintai adik-adiknya melebihi dirinya sendiri. Dan itu adalah salah satu kelemahan terbesar Kai. Kai kuat dalam segala hal namun dia akan melemah ketika berhubungan dengan kedua adikadiknya terutama Ken saudara kembarnya.     Apalah arti hidupnya tanpa kebahagiaan adikadiknya. Sejak dulu dia akan selalu mengalah untuk kedua adiknya. Membiarkan dirinya terhujani untuk memayungi kedua adiknya. Rasa sayang dan tanggung jawabnya sebagai seseorang kakak memang sangat dahsyat melebihi sebuah badai. Kasih sayang yang tak berbatas membuat dirinya hanya hidup hanya untuk kebahagiaan keluarganya saja. Karena itulah Kai di mata Ken dan di mata Kio adalah sosok seorang kakak sekaligus seorang ayah.     Rasa sayang yang tumbuh sedari mereka masih kecil. Dan tak bisa terhapus oleh waktu. Bahkan mereka memperkuat perasaan mereka sehingga jika salah satu merasakan kesakitan maka mereka, akan merasa sakit yang sama pula. Kai selalu menjaga adiknya sebisa dan semaksimal mungkin. Dia takkan mempedulikan dirinya sendiri karena dia sangat tak bisa melihat kesedihan di mata adik-adiknya.     “Ya sudah, Kio, sekarang kamu tutup teleponnya, dan mari kita istrahat aja, oke?”     “Baiklah, Kak, aku akan segera istirahat agar besok aku bisa pulang dengan memperlihatkan wajah cantikku,” tutur gadis itu sangat bersemangat.     “Oke, Baby, tutup, Sayang, telrponnya.”     “Oke, Kak,” ucap gadis itu lalu menutup teleponnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD