Melemah

1253 Words
    “Kenapa harus ada wawancara, Sayang?” tanya Ken sambil duduk di sampingnya sang istri yang kini sedang make over.     “Kak, Aku kan selebriti jadi setiap tindakanku mereka pasti sangat penasaran,” ucap Muya sambil terus memoleskan lipstik merah muda di bibir mungilnya.     “Tapi kondisi kamu masih lemah, Sayang, kamu kelelahan dan aku tidak mau terjadi sesuatu hal lagi sama kamu, Sayang!” ucap Ken sambil menatap sang istri yang masih asyik dengan lipstiknya.     “Tenang, Kak, aku sudah baikan, kok. Kakak jangan khawatir, ya!” Muya menyimpan lipstiknya dan berbalik arah menatap sang suami yang sedang bertanya padanya. Mata mereka bertemu, senyum manis terlihat di bibir Muya yang ranum. Ken tak berdaya dengan senyuman milik istrinya.     “Baiklah, Sayang, tapi janji jangan terlalu lelah!” tegas Ken membalas senyuman sang istri dan menggenggam erat tangannya dengan lembut namun erat. Mereka saling bertatap mata. Bahkan usia pernikahan mereka baru satu hari. Namun Muya tak bisa lepas dari pekerjaanya sebagai selebriti. Ken memang belum terbiasa akan aktivitas Muya. Dan Ken harus bisa memahami semua kegiatan Muya, karena dengan cara seperti itulah Ken bisa membuktikan bahwa dia sangat mencintai Muya dan selalu mendukung karier sang istri.     “Matamu begitu indah, sampai aku tidak bisa lepas memandangku," ucap Ken menatap mata Muya yang begitu redup.     “Apa Kakak mulai belajar menggombal?” tanya Muya dengan senyumannya.     “Tentu saja tidak, itu bukan gombalan, itu hanya ekspresi bahagia bisa memilikimu, Sayang," ucap Ken hendak memeluk Muya namun tiba-tiba saja pintu kamar diketuk oleh seseorang. Sehingga Ken mengurungkan niatnya untuk memeluk sang istri.     “Nona, wartawan sudah menunggu Anda!” beritahu salah satu pelayan. Muya mengangguk sambil tersenyum.     “Bagaimana penampilanku, Kak?” tanya Muya.     “Sangat cantik,” ucap Ken dengan senyumannya.     Muya lalu keluar dari kamarnya ditemani oleh sang suami. Muya tampil begitu manis dengan mini dress warna pink yang membuatnya tampil lebih segar dari biasanya. Make up minimalisnya juga menyulap semua orang yang menatapnya menjadi sangat terkesan dan mempesona.     Cantik, hanya itu yang bisa digambarkan untuk Muya saat ini. Wajah pucatnya hilang tertutup oleh make up-nya. Ken berjalan berdampingan dengan Muya. Mereka hendak wawancara dengan wartawan yang sudah menunggunya semenjak pagi hari. Kini Muya dan Ken sudah duduk berdampingan di depan para wartawan yang ingin mengabadikan momen ini.     Satu persatu wartawan itu terus memberi pertanyaan pada Muya dan Ken. Muya menjawab dengan senyuman semua pernyataan dari wartawan. Membuat semua wartawan begitu terkesan karena keramahan Muya. Ken sendiri hanya menjawab beberapa kata saja karena memang Ken tidak terbiasa    dengan konferensi seperti ini.     Saat ini Muya sedang menceritakan awal mula pertemuannya dengan sang suami. Banyak tawa dari para wartawan mendengar cerita Muya yang begitu asyik. Begitupun Ken hanya bisa tersenyum saja. Acara ini disiarkan langsung di beberapa stasiun televisi. Dan rating penonton naik drastis. Maklumlah Muya saat ini adalah selebriti yang sedang naik daun. Dengan paras yang cantik dan dukungan kuat dari sang ayah Muya berhasil menjadi pusat perhatian netizen.     Keluarga Liau adalah keluarga yang sangat kuat di bidang bisnis. Dengan perusahaan yang sangat besar. Dan Muya adalah pewaris dari keluarga Liau. Sehingga Muya menjadi pusat perhatian seluruh eksekutif muda. Namun sayangnya Muya sudah menjatuhkan hati pada seorang Kenzyu Yaw seorang dokter spesialis bedah yang tampan dan lumayan terkenal.     Kenzyu sekarang adalah pemilik Rumah Sakit Yaw. Sebuah rumah sakit yang dibangun oleh keluarga Yaw. Dengan kariernya sebagai dokter keluarga Yaw tetap mendukung karier Ken. Sedangkan kakak kembarnya Kai memimpin perusahaan Yaw.     Mereka yang sangat mirip tidak bisa dibedakan. Membuat Muya sendiri kebingungan. Muya menceritakan peristiwa wedding dress-nya saat pertama kali bertemu dengan kakak iparnya. Dan itu sontak membuat semua wartawan tertawa.     Tanpa terasa satu jam sudah Muya bersama para wartawan. Dan para wartawan sangat senang dan puas karena Muya dan Ken begitu ramah. Para wartawan pamit untuk pulang dan kini Muya dan Ken terduduk karena lelah. Muya sendiri terlihat sangat kelelahan. Fisiknya belum stabil. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya dan ia sudah sangat lemas.     Muya sudah tidak bisa berbohong lagi akan kondisinya. Dan dia benar-benar kelelahan. Ken baru tersadar keadaan Muya. Ken lalu memegang kening Muya dan memang ia masih demam. Wajah cemas terlintas di mimik muka Ken.     “Apa Kakak bilang, kamu gak akan kuat,” ucap Ken terlihat kecut.     “Aku tidak apa-apa, Kak," ucap Muya lemah.     “Sudah jangan bicara lagi, kamu pembohong,” kata Ken sambil mencoba untuk menggendong Muya. Ken menggendong Muya dan berjalan naik ke lantai dua menuju ke kamar Muya. Muya sendiri hanya bisa pasrah. Karena memang tubuhnya sangat lemah.     "Lain kali aku tidak suka kamu memaksakan seperti ini lagi!” tegas Ken sambil menggendong Muya. Dan kini telah sampai di kamar mereka. Dengan lembut dan perlahan Ken membaringkan tubuh Muya di kasur kingsize-nya.     “Ini tidak apa-apa, Kak, aku tidak mau terlihat sakit di depan mereka,” ucap Muya lemah.     “Sudah jangan bicara lagi, kau sebaiknya beristirahat, aku akan membuatkan bubur untukmu, Sayang." Ken mengelus rambut Muya dengan perlahan. Dan Muya hanya mengangguk dengan lemah. Ken sendiri bergegas berjalan meninggalkan Muya menuju ke dapur. Di dapur Ken mempersiapkan semua bahan untuk membuat bubur abalon.     Seorang pelayan datang menawarkan diri untuk membantu Ken memasak. Namun Ken menolaknya. Ken benar-benar ingin memasak buburnya sendiri untuk Muya. Ken memotong beberapa abalon dan memotong wortel beserta daun bawang. Dengan lihai Ken menggunakan pisaunya. Ken layaknya koki profesional. Selain mahir menggunakan pisau bedah Ken juga sangat mahir menggunakan pisau dapur.     Ken memasak dengan sangat cepat dan lihai. Para pelayan hanya melihat mereka terlihat sangat takjub melihat tuannya sangat ahli memasak. Entah memang Ken ahli memasak semua makanan atau memang Ken hanya ahli memasak bubur saja. Tetapi para pelayan sangat terkesima melihat seorang dokter memasak di dapur. Kini bubur abalonnya telah selesai dia masak.     Ken menyajikan di sebuah mangkok dan membawanya naik ke atas. Terlihat Muya sedang memejamkan mata.     “Apa kamu tertidur, Sayang?” tanya Ken pelan sambil menyimpan mangkok buburnya di nakas sebelah tempat tidur.     “Tidak, Kak, entah kenapa tidak bisa tidur,” ucap Muya perlahan. Lalu Ken membantu Muya untuk duduk dan bersandar di ranjangnya.     “Ayo makan, Sayang!” Ken menyodorkan sendok makan berisi bubur abalon. Ken hendak menyuapi Muya. Muya tersenyum lalu memakan bubur tersebut.     “Apa ini buatanmu, Kak?” tanya Muya Sambil mengunyah bubur abalonnya.     “Hmm,” ucap Ken dengan senyumannya.     “Aku tidak percaya,” ucap Muya dengan senyum nakalnya.     “Kenapa, apa ini tidak enak?”     “Ini sangat enak, Kak, kau harus sering membuatkan aku makanan seperti ini!”     “Tenang saja, Sayangku, aku punya waktu seumur hidupku untuk memasakanmu banyak makanan lezat." Ken menorehkan senyumnya.     “Hebat sekali, Kak, apa saja yang bisa kamu masak, dan kamu belajar masak dari siapa, Sayang?” Muya dengan penuh semangat memakan bubur buatan suaminya tercinta.     “Agak banyak juga, ini Kai yang mengajarkanku memasak, dia sangat pintar memasak. Dia kakak yang sangat perhatian pada adiknya,” ucap Ken dengan senyumannya menceritakan tentang saudara kembarnya.     “Kalian begitu dekat sepertinya, Kak,” ucap Muya.     “Iya kami sangat dekat dan kami saling menyayangi, karena mama dan papa sangat sibuk, maka dia yang menjadi orang tua untuk kami," tutur Ken.     “Oh sangat mengesankan, Kak, aku juga ingin lebih akrab dengan kakak ipar, apa boleh?”     “Tentu saja boleh, kalian orang penting dalam hidupku maka kalian harus akur.” “Baiklah, Kak, tapi, Kak, aku sudah kenyang, bisakah Kakak berhenti menyuapiku makan?”     “Tidak, tidak, Sayang, kamu harus menghabiskan ini, agar kamu tidak diinfus lagi,” ucap Ken dengan senyumannya.     “Ah Kakak tapi aku sudah sangat kenyang, Sayang," rengek Muya dengan manja.     “Tidak bisa, Sayang, kamu harus menghabiskan semua bubur ini, lagian sisa beberapa suap saja, kok, Sayang,” ucap Ken dengan senyumannya.     Dan dengan terpaksa Muya pun menghabiskan semua bubur abalon itu. Ken tersenyum dengan sangat puas karena sang istri menurut. Setelah kenyang Muya akhirnya tertidur di pelukan Ken. Muya terlihat lemah. Ken merasa sangat kasian karena Muya bisa sakit di acara pernikahan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD