Sebagai model, Alin akhirnya mendapatkan pekerjaan sampai beberapa hari sebelum acara pernikahan Yola dan Tirta dilangsungkan.
“Yang benar kamu, Lin. Ini mama lho yang mau nikah, kamu keberatan?“ Yola yang sedang berbincang dengan anaknya protes karena banyaknya pekerjaan Alinka.
“Mama, bukan seperti itu. Mama kan tau kalau Alin pengen banget dapat iklan itu,“ ucap Alin memelas.
“Ya tapi itu jauh lho, Nak. Kamu sama siapa di Denpasar. Yang ngingetin kamu makan juga gak ada,“ kata Yola mencemaskan anaknya.
Karena sedang fokus berbicara, Yola dan Alim tidak menyadari kedatangan Tirta. Pria tampan itu datang dengan membawakan cheesecake kesukaan Alin.
“Ribut apa Bik Yem?“ tanya Tirta kepadanya.
”Biasa, Pak. Neng Alin ambil kerjaan diluar kota dan Bu Yola keberatan,“ jawab Bik Yem.
“Oiya, Alin kan model iklan,“ gumam Tirta.
Alin yang masih berusaha mendapatkan izin dari Yola tampak mulai putus asa. Ia memanyunkan bibirnya kesal karena Yola masih berat melepas anak gadisnya.
“Gak ada siapa-siapa yang mama kenal disana, Mama takut kamu dijahatin orang. Kerjaan yang lain aja sayang,“ kata Yola memberi Alin pengertian.
“Ambil saja, Lin. Nanti Om akan minta Nina temani kamu selama di Denpasar dan Surabaya. Ada asisten juga yang bantu kamu nanti,“ ucap Tirta yang memasuki ruang keluarga, tempat dimana Alin dan Yola sedang berdebat.
“Jangan, Mas. Kerjaan itu lama dan juga jauh, siapa yang jamin Alin disana,“ jawab Yola keberatan.
“Aku yang jamin, kebetulan iklan itu untuk produk Beauty Skin. Masih anak perusahaan Pratama Group, aman kok.“ Tirta berusaha meyakinkan calon istrinya. Sementara Alin, ia masih sedih karena belum mendapatkan izin dari Yola.
“Yakin Mas, boleh bawa asisten atau sejenisnya?“ tanya Yola tak percaya.
“Boleh, untuk sementara Nina bisa bantu Alin. Kebetulan mereka kan berteman Sudah, jangan sedih lagi,“ ucap Tirta kepada Alin. Ia meletakkan paper bag cheesecake kesukaan Alin di meja.
“Waaah, cheesecake,“ ucap Alin berbinar menatap paper bag tersebut.
“Ada kue aja lupa,“ kata Yola mendengus kesal. Perhatian Alin seketika teralihkan, gadis itu langsung membawanya ke dapur untuk diletakkan di piring saji.
“Jangan kayak gitu, Alin kan sudah cukup dewasa. Kasih kelonggaran, lagian itu iklan punya saya kok,“ kata Tirta kepada Yola.
“Masalahnya kan hampir satu bulan, Mas. Dan ini menjelang pernikahan kita,“ jawab Yola tak terima.
“Dan kesempatan Alin dapat iklan itu juga gak mudah, ada sederet tes dan segala macam yang harus dia lewati untuk jadi bintang iklan. Kamu tega matahin semangat dia?“ Tirta berusaha menjadi penengah.
“Gak sih, tapi kalau Mas jamin kalau Alin disana aman ya gak masalah.“ Yola akhirnya mengalah. Bayangan wajah kecewa Alin membuatnya merasa bersalah kepada anak semata wayangnya itu.
Masalah izin Alin akhirnya terselamatkan berkat bantuan Tirta yang menjamin keamanan dan keselamatan gadis itu. Siang ini, Alin dan Nina berangkat ke Surabaya untuk menjalani syuting pertamanya. Sederet persiapan sudah Alin lakukan dengan bantuan Yola. Wanita itu tetap cerewet mengingatkan anaknya mengenai banyak hal.
“Alin, tidak ada alkohol dan sejenisnya. Mama tahu kamu tidak minum, tapi jangan coba-coba ya Nak.“ Yola mengelus rambut panjang Alin.
“Iya, Mama ini kayak Alin mau kemana aja sih. Mama, Alin cuma mau ke Surabaya dan itu kerja. Ada karyawan Om Tirta juga yang nemenin disana,“ kata Alin menenangkan Yola.
”Kamu ini, suatu saat kalau kamu udah punya anak pasti paham perasaan mama,“ jawab Yola.
“Iya, Ma. Alin sayang sama Mama.“ Alin berkaca-kaca menatap wajah sayu Yola yang akhir-akhir ini kurang tidur.
“Harus, kalau tidak sayang Mama. Kamu mau jadi Malin Kundang?“ tanya Yola terkekeh.
“Mama ih, kalau gitu, Alin jalan dulu sama Nina,“ ucap Alin kepada Yola. Gadis itu akan berangkat ke Surabaya bersama dengan Nina dan satu orang kepercayaan Tirta.
“Ya udah, hati-hati dijalan,“ jawab Yola melepas kepergian Alin.
Di dalam mobil, Nina yang langsung dihubungi oleh Tirta mendapatkan banyak nasehat dari pria yang akan menjadi ayah tiri Alin.
“Nina, saya titip anak saya. Tolong ingatkan waktu makan dan lainnya.“ Tirta dalam pesan singkatnya kepada Nina.
“Baik, Pak. Terima kasih atas kepercayaannya,“ jawab Nina profesional.
Untuk menjaga profesionalisme, Alin enggan menanggapi pesan singkat Tirta kepada sahabatnya. Ia lebih memilih mendengarkan lagu dengan earphone selama perjalanan ke bandara. Setelah sampai di Surabaya pun, Alin masih enggan membahasnya. Kata-kata Tirta yang menganggapnya anak membuatnya sedih sekaligus terbaru. Ini menandakan bahwa pria itu benar-benar mencintai Yola. Namun disisi lain, harus ada yang dikorbankan untuk kebahagiaan Yola.
Selalu ada hati yang terluka dikala cinta diantara dua insan telah menyatu. Karena sesungguhnya cinta itu egois dan tidak mengenal kompromi. Alin menghabiskan waktu istirahatnya untuk mendengarkan lagu di kamar hotel yang sudah disiapkan panitia. Ia duduk sudut ruangan sambil menunggu kedatangan Nina yang sedang sibuk mengatur acara untuk esok hari.
“Anak saya,“ gumam Alin mengingat kata-kata Tirta pada Nina tadi. Alinka merasa Tuhan masih mengujinya lagi. Berharap, dengan giat bekerja sedikit mengobati kekecewaannya. Jatuh cinta dan mengagumi seseorang tidaklah salah, Alinka percaya jika suatu saat nanti akan ada pangeran yang hadir untuk membahagiakan dirinya.
Untuk saat ini, Alin mengesampingkan urusan asmara nya. Dengan meniti karirnya di dunia model, ia berharap dapat mengobati patah hatinya terhadap Tirta.
“Belum tidur, Lin?“ tanya Nina yang baru saja masuk kamar.
“Belum, lagi tanggung neh,“ jawab Alin sambil memainkan ponselnya.
“Lo lapar lagi gak? Kalau mau kita pesan salad buah di resto,“ tawar Nina kepada Alin.
“Gak deh, gue mau tidur aja. Lagian besok bakalan padat acaranya. Isi baterainya harus cukup,“ kata Alin meletakkan ponselnya membantu Nina yang kesusahan mengambil sesuatu.
“Bilang dong, Nin. Kamu ini,“ kata Alin terkekeh melihat sahabatnya kesulitan membuka kopernya.
“Puas banget Lo ngejek gue. By the way, itu Pak Tirta bawelnya sama kayak Tante Yola. Pusing gue ladenin, segala kostum diurusin. Ini baru pertama kalinya seumur-umur owner turun gunung ngurusin hal kayak gini,“ kata Nina mengeluh.
“Ya mungkin itu yang buat Mama sama Om Tirta cocok, mereka sama-sama posesif ke orang yang mereka sayang, gue gak tau harus seneng atau sedih disini,“ jawan Alin lesu.
“Sabar ya Lin, namanya jodoh udah ada jalannya. Siapa tahu Lo kenalan sama temennya Pak Tirta yang ganteng rupawan orang dan dompetnya,“ ucap Nina menghiburnya.
“Lagak Lo so iye, ogah ah. Gue mau yang biasa-biasa aja,“ jawab Alin sambil membayangkan artis Korea kebanggaannya.
“Lo gak mikirin artis Korea itu kan?“ tanya Nina melempar Alin dengan bantal sofa.
“Suka-suka gue, gak dosa ini,“ jawab Alin yang membuat Nina lebih tenang. Alin mulai ceria kembali walaupun ia tahu, hatinya masih dirundung kesedihan.