Alin diantar oleh Nina untuk bertemu dengan Tirta, kesalahpahaman yang terjadi diantara keduanya memang harus diselesaikan. Setelah pekerjaan Alin selesai di sebuah mall tak jauh dari apartemen tempat ia dan Nina berasa selama di Jakarta.
"Gue sama Om Tirta sampai bohongin Mama, Na! Coba bayangin kalau sampai ketahuan.“ Alin sudah mulai terisak. Suaranya yang serak menandakan ia sudah menahan sesak di dadanya terlalu lama.
“Lo janjian dimana sama si Om? Gue harus anterin Lo, setidaknya mastiin Lo berada dimana, Lin.“ Nina mengerti keadaan sahabatnya yang sedang terpuruk.
“Dia nunggu gue di apartemennya,“ jawab Alin sambil terisak.
“Lo kirim pesan ke si Om, minta di jemput atau gimana biar Lo gak sendirian. Atau gue temenin?“ tawar Nina kepadanya.
“Gak usah, Lo anter aja ke tempat dia. Om Tirta udah w******p nungguin.“ Alin menghapus jejak air matanya. Ia merasa Tuhan sedang mengerjainya.
“Oke, tapi mukanya jangan sedih gitu, Lin.“ Nina berusaha menghiburnya dengan mentoel-toel kedua pipi Alin.
“Aihhh, sakit! Lu pikir pipi gue squisi?“ Alin memanyunkan bibirnya protes.
“Ya udah, gue temenin yah. Setidaknya, gue pengen liat muka Om Tirta kayak apa. Jaga-jaga Alin.“ Nina meminta temannya turun, mereka sudah sampai di lobby apartemen dimana Tirta tinggal.
Alin mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Tirta, ia belum menemukan pria itu sampai Alin melihat lagi ke arah lift. Dimana Tirta baru saja keluar dengan mengenakan kaos putih dan celana jeans membuat penampilannya jauh dari kesan om-om genit.
“Sorry, udah lama?“ Tirta meraih koper milik Alin dan menyapa Nina juga.
“Barusan, Om. Kalau gitu, saya tinggal dulu. Nitip Alin, jangan diapa-apain ya Om!“ seru Nina berpamitan kepada Tirta dan Alin.
“Makasih, Nin.“ Alin memandang sendu sahabatnya yang mulai menjauh.
“Sini Om bawain, ini pasti berat.“ Tirta mengambil alih koper mini milik Alin.
“Lebih berat bawa hatiku, Om. Koper ini kecil dan ringan!“ ketus Alin yang sudah tidak sabar ingin menghabisi pria itu.
Tirta memilih tidak menjawab ucapan ketus Alin, ia tidak mau memancing emosi wanita muda di sampingnya. Tirta membukakan pintu apartemennya dan mengajak Alin masuk.
“Minum dulu, Om udah siapin makan malam. Setidaknya diisi dulu perutnya sedikit.“ Tirta menyodorkan botol air mineral dingin untuk Alin dan menuntutnya ke ruang makan.
Alin menurut, lebih baik ia mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum menghajar Tirta yang membuatnya sakit hati. Badannya tak bertenaga karena sudah terlalu lama menyimpan amarah.
“Makasih,“ kata Alin. Bagaimanapun juga ia masih menghargai Tirta yang sudah susah payah menyiapkan makan malamnya. Keduanya berpindah ke ruang tengah, Alin yang sudah selesai makan menjadi lebih bertenaga dan dapat berpikir normal.
“Jadi, Om mau jelasin dari mana?“ tanya Alin tegas dan dingin. Ia menatap benci Tirta.
“Om minta maaf, Lin. Sungguh, Om benar-benar tidak tahu.“ Tirta meraup wajahnya kasar. Ia sama sekali tak menyangka terjebak hubungan percintaan serumit ini.
"b******k, laki-laki biadab!" Alinka menampar keras Tirta, ia sama sekali tak percaya dengan ucapan Tirta.
“Om bisa batalkan pernikahan dengan Mamamu tapi Kau ikut aku Ke New York, bagaimana?“ Tirta menawarkan solusi. Tirta menahan tangan Alin ketika ia akan menamparnya lagi.
“Tidak, Om harus tetap menikah dengan Mama! Tapi Alin ada syarat dan Om tidak boleh melanggar,“ kata Alin menjawab tawaran Tirta.
“Baiklah, katakan apa syarat darimu?“ Tirta sudah terlihat kewalahan menghadapi amukan Alin kepadanya.
“Ijinkan Alin ke Jakarta, melanjutkan pendidikan dan bekerja disana. Lalu, setiap bulan kasih Alin bukti nafkah yang Om kasih Ke Mama. Satu lagi yang paling penting, jika Om nyakitin Mama, Alin sendiri yang akan bunuh Om,“ ucap Alin penuh penekanan.
“Astaga, kenapa kamu jadi mengerikan seperti ini, Alin!“ Tirta meraup wajahnya tak percaya dengan ancaman dari Alin.
“Demi Mama, Alin gak mau Mama tersakiti untuk kedua kalinya, deal?“ Alin mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Tirta sebagai tanda persetujuan.
Akhirnya Tirta menyanggupi permintaan Alin, wanita muda yang sedang dekat dengannya beberapa bulan terakhir. Kini, ia harus menghadapi kenyataan harus memilih salah satunya. Ibu atau anaknya.
Alin masih tidak puas untuk menghajar pria itu. Ia berusaha menampar pria itu lagi, namun kekuatan tangan Tirta lebih dari dirinya. Sekuat tenaga, ia menahan tangan Alin agar tidak memukulnya lagi.
“Kita bicarakan baik-baik, tolong jangan seperti ini, Alin.“ Tirta yang masih menahan tangan Alin berusaha mengajaknya berdamai.
“Om gak ngerti perasaan Alin! Om jahat!“ Alin tersungkur, ia terduduk di lantai karena tidak kuasa menahan genangan air matanya.
“Om ngerti, Om minta maaf.“ Tirta berusaha memeluknya namun ditepis oleh Alin.
“Om harus tetap nikahi Mama, Alin gak akan maafin kalau sampai pernikahan ini batal,“ ucap Alin terbata. Ia masih menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Oke, Om pastikan persiapan pernikahan dengan Yola selesai secepatnya. Tapi, bagaimana dengan kamu?“ Tirta menatap frustasi Alin yang masih enggan ia sentuh.
“Jangan ganggu Alin lagi, jadilah suami yang baik buat Mama. Susah payah kami mulai percaya dengan yang namanya laki-laki, tolong jangan rusak kepercayaan itu.“ Alin sekuat tenaga berbicara tentang kesetiaan.
“Baiklah, Om janji sama kamu. Tapi, tolong jangan benci Om,“ pinta Tirta kepada Alin.
“Om akan jadi Papa tiriku, gak ada alasan untuk benci. Alin hanya butuh waktu sendiri,dan jangan sampai Mama tahu,“ jawab Alin mendengar permintaan Tirta.
“Oke, Om akan kasih transfer buat kamu berlibur. Terserah mau kemana, mungkin kamu akan lebih baik. Gimana?“ Tirta menawarkan solusi.
“Sama Nina, kalau boleh Alin ajak dia.“ Alin mengangkat kepalanya menatap Tirta. Wajahnya memerah karena tamparan Alin cukup keras. Timbul rasa bersalah, namun Alin memilih untuk menyembunyikan.
"Boleh, kamu atur sendiri mau kemana dan tolong jangan menghakimi saya seperti ini, Alin." Tirta tanpa banyak menunggu meraih ponselnya untuk mentransfer sejumlah uang kepada Alinka. Budget liburan mewah sudah di depan mata, Tirta harap dapat mengobati sedikit kekecewaan Alinka kepada dirinya.
"Alin mau ke Bangkok, siapa tahu bisa buka online shop untuk tambahan jajan Alin." Gadis itu masih berurai air mata. Sambil terisak, ia menjawab pertanyaan Tirta dengan mengusap pipinya yang basah. Terlebih, rasa sakit hatinya terhadap pria itu cukup menyesakkan d**a.
"Terserah kamu, mau seperti apa juga. Yang jelas, kamu tidak boleh keluar dari dari proyek Beauty Skin." Tirta mengingatkan Alin tentang proyek iklan yang banyak diminati oleh para model profesional. Selain karena produknya yang sudah menasional, Pratama Group sebagai pemilik resmi Beauty Skin bukanlah perusahaan sembarangan.
"Oke, kita profesional aja." Alin menatap benci Tirta yang telak menyakiti hatinya.
Alin memilih tidak menginap di apartemen Tirta, selain karena ia menghormati ibunya, Alin ingin menenangkan diri.
“Yakin kamu mau ke tempat Nina malam-malam begini?“ Tirta bertanya sekali lagi kepada Alin.
“Nina belum tidur, kami mau jalan besok ke mall,“ jawab Alin sambil merapikan riasannya.
“Oke, besok biar sekretaris kantor yang datang, kamu butuh apa aja bilang sama dia. Hhmm, Om mau jalan sama mama kamu.“ Tirta memberitahu jadwalnya kepada Alin.
Tirta mengantar Alin ke apartemen Nina, wanita itu sudah lebih baik setelah meluapkan emosinya kepada Tirta. Setelah memastikan Alin bersama dengan Nina Tirtia kembali ke apartemennya untuk beristirahat. Tak lupa, ia meminta anak buahnya untuk menjaga Alin dari jarak yang tidak menimbulkan kecurigaan gadis itu.
"Wataknya keras sekali, menakutkan, eh tidak, mengkhawatirkan. Padahal,Yola begitu lembut dan keibuan. Kenapa Alin bisa seberingas itu," gumam Tirta dalam hati. Ia sedang memeriksa luka bekas tamparan Alin tadi. Tak lupa bekas cakaran tangan Alin uang mengenai d**a bidangnya membuat Tirta hanya mengelus d**a.
"Kayaknya perlu pakai salep untuk sementara, besok harus ke dokter kulit. Sampai kayak gini, Yola bisa curiga." Tirta kembali memakai kaos oblongnya lalu keluar dari kamar mandi.
Tirta meraih ponselnya untuk memeriksa laporan dari anak buahnya. Ia mendapatkan pesan singkat yang memberitahukan bahwa Alin sedang bertemu dengan seorang pria di kedai kopi di area apartemen tersebut.
"Awasi tapi jangan sampai berlebihan, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu dengan anakku. Satu lagi, pastikan minuman dan makanan yang dikonsumsi Alin aman untuk dirinya. Paham." Tirta memberikan perintah tegas kepada anak buahnya agar tidak lengah. Dari foto yang dikirim anak buahnya kepada dirinya, Tirta tidak mengenal pria yang bernama Alim itu. Sekalipun ada Ninda di sampingnya, ia tetap tidak ingin melakukan kesalahan lagi.
"Baik, Pak. Sepertinya mereka akan pergi ke suatu tempat. Apa perlu kamu ikuti?"
"Ikuti kemana dia pergi dan sampai kembali ke apartemennya. Apapun yang terjadi, sampaikan padaku. Jika Alim masuk ke club malam atau sejenisnya, kau juga sudah tahu harus berbuat seperti apa." Tirta kembali tidak tenang. Setiap Alin berada di luar jangkauannya, perasaan khawatirnya mendominasi pikirannya.
Tirta bersantai sejenak sambil menunggu kabar dari anak buahnya lagi, dengan meletakkan ponselnya di meja. Lamunannya buyar karena panggilan telepon dari Yola membuat jantungnya hampir copot.
"Astaga, gak ibu gak anak, sama aja. Bisa-bisanya buat jantungku mau copot." Tirta mengelus dadanya karena kaget. Ia meraih ponselnya lagi untuk menjawab telepon dari calon istrinya.