Ada Hati Yang Terluka

1097 Words
Yola dan Tirta sibuk mempersiapkan pernikahannya. Dengan dibantu event organizer ternama, Yola terlihat bahagia dengan apa yang ia rasakan. Walaupun harus berjauhan dengan anak semata wayangnya, Alinka. Pekerjaan Alin sebagai model memang sedang mendapatkan banyak berkah. Mendapatkan kontrak eksklusif dengan Beauty Skin setelah melewati serangkaian tes dan Alin dengan baik melewati itu semua. “Alin lagi apa ya, Mas? Udah makan belum ya?” Yola terlihat gusar, mengecek ponselnya berkali-kali, berharap Alin menghubunginya sekedar menanyakan kabarnya. “Anaknya lagi kerja, jangan direcokin. Sekarang lagi poin meeting dengan management. Eh, udah makan siang kayaknya. Kamu sudah yakin, mau pakai yang itu?” Tirta memastikan pilihan kostum calon istrinya. “Iya, simple dan gak banyak bling-bling. Malu sama umur, Mas.” Yola memamerkan senyum terbaiknya kepada Tirta. “Alah, kamu enjoy aja. Namanya hidup, semua orang berhak dapat kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya,” jawab Tirta meraih punggung tangannya dan menggenggam penuh kasih. “Tapi, aku khawatir Mas. Telepon aja kali ya?” Yola masih belum puas sebelum mendapatkan jawaban dari anaknya sendiri. “Ya sudah, daripada kamu gak tenang,” jawab Tirta merogoh ponselnya mencoba menghubungi Nina, sahabatnya sekaligus manager Alin yang sekarang ia percaya untuk menemani Alinka kemanapun. “Iya, Pak.” Nina langsung menjawab panggilan telepon dari Tirta. “Alin bisa diganggu sebentar gak ya, Nin? Mamanya bawel mulu dari tadi nanyain,” ucap Tirta kepada Nina. “Boleh, kebetulan kami sedang makan siang, Pak.” Nina menyerahkan ponselnya kepada Alin agar berbicara langsung dengan Tirta. “Iya, Om?” Alin menyapa Tirta seperti biasanya. “Ini lho, Mama kamu bawel banget dari tadi. Tuh, bicara sendiri yah,” jawab Tirta sambil merubah panggilan teleponnya menjadi video call. “Mama, ada apa?” Alin berubah sumringah melihat wajah Yola yang masih berada di tempat designer langganan Tirta. “Kamu gak kangen sama mama? Baru juga berapa hari udah lupa sama mama,” ucap Yola sendu. “Kan kerja Mama, Alin gak main lho. Lagian ada Om Tirta yang nemenin Mama,” jawab gadis itu terkekeh kecil. “Ya kamu kasih kabar mama dong, lagi apa dimana, kan mama mau tahu, sayang,” ucap Yola kepada anaknya. “Iya, Ma. Maaf, barusan juga selesai meeting poin sama orang Beauty Skin. Ini lagi makan siang, Ma. Mama jangan sampai telat makan yah,” jawab Alin menenangkan wanita yang melahirkannya itu. “Ya sudah, nanti malam mama call ya?” Yola masih penasaran dengan pekerjaan yang diambil anaknya. Ia ingin bertanya lebih jauh karena sebelumnya, ia tidak sempat bertanya banyak hal mengenai pekerjaan itu. Alin yang sempat melihat interaksi Yola dan Tirta, seperti teriris hatinya. Kemesraan yang ditunjukkan mamanya, membuat Alin sadar, tidak ada gunanya berharap kepada pria yang akan menjadi ayah tirinya itu. Menggenangnya air di pelupuk matanya, sempat ia tahan walaupun akhirnya jatuh juga. “Sudah Lin, Lo dapat yang lebih baik kok. Tapi sabar yah,” ucap Nina sambil mengusap mata Alun perlahan. NIna dengan sabar mengusap punggung Alin untuk memberikan kekuatan kepadanya. “Okeh, Alinka gak boleh cengeng. Ayo, kerja keras bagai kuda jika kau mau kaya raya,” ucap Alin sambil mengatur nafasnya yang sempat tersegal. “Minum dulu, Lin,” kata Nina menyerahkan gelas berisi air mineral. “Terima kasih,” jawab Alin setelah menghabiskan satu gelas air dari Nina. Alin melanjutkan pekerjaan hingga selesai, walaupun sempat terganggu karena telepon dari Yola yang bertanya hal yang sama, gadis itu tetap meladeni wanita yang melahirkannya itu dengan sabar. “Mama, Alin pulang dulu ke hotel yah. Besok ada flight pagi ke Denpasar, ALin gak boleh terlambat, lho” jawab Alin meminta pengertian Yola. Alin ketika menerima panggilan video call dari Yola ketika sudah berada di lobby hotel. Sengaja Tirta memberikan hotel terbaik di sekitar tempat acara agar Alin dapat beristirahat dengan nyaman. “Oke, kamu masih sama Nina?” “Hadir Tante, Nina lagi bawain barang Alin, dibantu sama orang hotel,” jawab NIna terkekeh kecil. “Oke, kalau begitu, selamat beristirahat. Tante mau jalan dulu sama Om Tirta. Sepintas, Alin dan Nina melihat Tirta memeluk Yola dari belakang sebelum mematikan ponsel. “Kita makan malam dulu apa gimana, Lin?” Nina bertanya kepada sahabatnya sekaligus artisnya itu. “Masih sore, nanti dulu lah. Lagian, Mama kenapa sih? Gak biasanya Mama kayak gitu, khawatir sih iya, tapi gue jadi gak tenang,” omel Alin kepada sahabatnya. “Sabar yah, maklumin aja. Kalian kan gak pernah pisahan jauh-jauh. Tuh, Pak Tirta kirim reservasi atas nama Lo. Kita makan di resto hotel kalau Lo mau,” jawab Nina berbinar. Pasalnya hotel berbintang lima itu terkenal cukup mahal bagi artis baru sekelas Alin yang pendapatannya masih standar. “Gila itu Om, kasih upetinya gak kira-kira. Kalau misal gue minta bayarin tas yang kemarin itu, mau gak ya dia,” ucap Alin terkekeh kecil. “Lo sebut aja, dia pasti kasih kok. Lagian, Pak Tirta udah transfer gue banyak buat Lo belanja, kalau mau sok aja, mumpung masih ada waktu ngemall.” Nina menunjukan bukti transfer dari Tirta yang ia terima siang tadi sebelum makan siang, di saat Alin sedang melakukan meeting dengan perusahaan yang mem[ercayai dirinya sebagai BA. “Kok Lo baru bilang?” Alin menatapnya kesal. “Hey, Lo dari tadi sibuk ngobrol sama temen-temen model Lo dan pengarahan. Ya kali gue embat duitnya,” jawab Nina terkekeh. “Cus lah, gue beli tas yah?” Alin mengedip-ngedipkan matanya genit. “Najis!” Nina tertawa puas, karena Alin kembali ceria. “Mandi dulu lah, lanjut ngemall. Yes, tas impian gue,” kata Alin sambil membuka pintu kamar hotelnya. Demi menjaga adab kesopanan, Alin menghubungi Yola terlebih dahulu untuk meminta izin kepada Tirta jika akan mempergunakan uang pemberiannya. "Pakai Lin, gak usah minta izin segala. Memang itu uang buat kamu," jawab Tirta kepada Alin, calon anak sambungnya. "By the way, makasih banyak, Om. Alin jalan dulu sama Nona, titip Mama yah," pamit Alin kepada Tirta. Jika sudah seperti ini, Alin merasa harus berakting sebagus mungkin dan yang jelas, membuang jauh-jauh rasa cemburunya kepada Yola, mamanya sendiri. "Astaga, Tuhan! Takdir macam apa ini, gak lucu kalau gue harus saingan sama Mama," gumam Alin sambil memakai handuk kimononya. "Gue udah neh, Lo buruan." Nina yang baru keluar dari kamar mandi meminta Alin bergegas. "Iye bawel!" Alin terkekeh kecil melihat Nina yang sewot kepadanya. Di dalam kamar mandi, dibawah guyuran air shower yang hangat, Alin merenungkan dirinya jika harus satu rumah dengan Tirta. Setiap hari, ia akan melihat kemesraan pria yang dicintainya dengan sang Mama. "Gak bisa, gue harus cari alasan yang kuat biar gak serumah sama Mama. Ini gak baik buat gue dan Mama," gumam Alin menyelesaikan mandinya segera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD