Melawan Hati

1133 Words
Untuk menghibur diri, Alin berangkat jalan-jalan ke mall bersama dengan Nina, sahabatnya. Keduanya menaiki sebuah taksi menuju salah satu mall terbesar di Surabaya. "Ini mall keren juga, gak kalah sama yang di Jakarta." Alin turun dari mobil taksi online di salah satu lobby Tunjungan Plaza Surabaya. Suasana yang cukup ramai sore itu, sedikit memperbaiki mood nya yang sempat turun. “Terbesar, Lin. Gak kalah sama Taman Anggrek. Ngumpulnya orang kaya di Surabaya kalau belanja,” jawab Nina sambil menutup pintu mobilnya. Ia berjalan mensejajari Alin yang sudah menunggunya di dekat pintu masuk. “Lo mau jajan apa gimana? Makan maka masih beberapa jam lagi, lho.” Nina membuka ponselnya untuk melihat tenant apa saja yang berada di mall tersebut. “Ngopi aja lah, pengen yang dingin segar, gimana?” Alin meminta Nina mengantarkannya ke sebuah kedai kopi. “Oke, ada salad juga yang bisa kamu makan sambil nunggu malam.” Nina mengajaknya ke TP 2, sesuai petunjuk yang ia dapatkan dari ponselnya. “Coba ada Mama, bakalan rame neh.” Celetukan Alin membuat Nina turut prihatin dengan kondisi sahabatnya. Ia mengusap pundak Alin dan mengatakan bahwa semuanya akan indah pada waktunya. “Memang, gak semudah bicara, Lin. Tapi, aku yakin, kamu bisa lewati ini semua,” jawab Nina optimis. “Semoga saja Tuhan dengar ucapanmu, kita lihat saja kedepannya. Mungkin, saat ini ada baiknya gue kerja dan meniti karir dengan serius,” jawab Alin kepada Nina. “Bagus, Lo paham juga maksud gue,” jawab Nina lega. “Pesen salad dong, boleh cheating gak sih, gue pengen kentang,” ucap Alin malu-malu. “Udah gue duga, Lo pasti minta kentang. Jadi, makan malam Lo gak bisa nasi kalau mau kentang.” “Salad aja sih, pulang dari sini, gue minta jus buah saja tanpa gula,” jawab Alin terkekeh. “Pinter banget Lo ngadalin gue,” jawab Nina sambil melambaikan tangan ke salah satu pegawai kedai tersebut. Sambil menunggu pesanan datang, Alin dan Nina melanjutkan pembicaraan mengenai pekerjaan di Denpasar besok, keduanya mendiskusikan mengenai kostum mana yang akan dipakai Alin, mengingat konsep iklan tersebut berada di pantai dan bernuansa warna-warni. “Konsepnya memang colorfull gitu ya, Nin?” Alin bertanya sekali lagi kepada Nina. “Iya, beda konsep dengan yang di studio tadi, lebih simple. Ini, Lo kudu siap-siap kepanasan aja sih. Gue udah request syutingnya mulai pagi.” Nina yang paham dengan kondisi di lapangan berusaha membuat Alin senyaman mungkin. Apalagi, Tirta sebagai pemilik perusahaan sekaligus calon ayah tirinya meminta Nina secara pribadi untuk mengurus Alin. “Sunscreen gue aman gak? Kalau perlu kita beli lagi buat stok, gue butuh yang spray untuk outdoor. Jadi, gak rusak make-up,” jawab Alin sambil melihat-lihat lokasi yang ditunjukkan Nina dari tabletnya. “Mending beli lagi deh, spray mudah habis, kalau Lo gak pengen gosong juga,” ucap Nina memberi saran. “Oke, besok jadwal padat merayap yah. Gue cuma ada waktu istirahat sebelum makan siang. After lunch, kita meeting dengan mereka?” “Yoi, Lo ada pasangannya nanti. Ini orangnya, ganteng sih, namanya Dimas.” Nina menunjukkan foto-foto Dimas dari akun media sosial pria yang akan dipasangkan dengan Alin nanti. “Dia kalau gak salah main sinetron juga, kan?” Alin memperhatikan salah satu foto pada saat pria itu tengah syuting di sebuah gedung. “Iya, pemain sinet juga. Ganteng lagi,” ucap Nina terkekeh. “Ish, mending makan dulu yuk. Tuh, punya kita datang,” ucap Alin sambil menunjuk salah satu pegawai yang datang menghampiri meja mereka. “Hmmm, makanan aja, cepat Lo!” Karena kehausan, Nina menyesap minumannya terlebih dahulu hingga setengah. “Kayaknya, Lo perlu air mineral juga. Boleh lah, dua ya, Mbak. Makasih,” ucap Alin sambil membuka ponselnya, membaca pesan singkat yang masuk dari Yola yang menanyakan keberadaannya. “Call aja sih, biar tenang juga Tante Yola,” saran Nina karena tahu, sudah pasti Yola mengirimkan banyak pesan singkat kepada anak semata wayangnya. “Iya, gue video call malah. Biar Mama tahu, gue sama Lo lagi ngemall,” jawab Aln sambil menunggu jawaban dari Yola. “Ma, lagi dimana?” Alin melihat Yola sepertinya sedang berada di sebuah rest area. “Mau pulang, kan habis nemenin Om Tirta lagi pertemuan,” jawab Yola menunjukkan senyum manisnya kepada Alin. “Ouw, Mama lagi mau ngopi?” Alin melihat Yola digenggam tangannya oleh Tirta. “Iya, Lin. Kamu lagi ngemall yah?” Tirta ikut ambil suara. “Iya neh, Om. Ya udah, titip Mama yah, Alin mau keliling dulu, bye!” Alin menutup sambungan video call tersebut, di samping karena tidak ingin mengganggu kebersamaan sang mama dengan calon ayah tirinya, hatinya belum bisa menerima kenyataan tersebut. “Sabar yah, Lin. Jalan aja yu.” Nina berusaha untuk menetralisir suasana hati Alin yang sedang tidak baik. “Oke deh, gue mau tas yang tempo hari, Nin.” Alin membuka ponselnya, menunjukkan salah satu merk ternama dengan salah satu item keluaran terbaru yang ingin Alin beli. “Beli lah, Lo dikasih jajan banyak sama Pak Tirta,” jawab Nina meledeknya. “Kembar yuk, beda warna aja. Lo kan manager gue, kudu update juga dong,” ucap Alin sambil menunggu Nina menyelesaikan pembayaran. “Terserah Lo, asal gue gak dipotong gaji aja sih,” jawab Nina menggoda Alin. “Duit dari Om Tirta lebih dari cukup, Nin. Lagian gue maruk amat kalau sampai potong gaji Lo,” ungkap Alin. “Ya kali aja, Lo pengen beli yang berlogo H itu,” jawab Nina menggodanya. “Gue, mending beli tanah sekampung daripada beli yang ada huruf H nya. Gak ada benefit lain kecuali dianggap mampu beli tas mahal itu. Yang lain gak ada,” jawab Alin rasional. “Lo belum butuh aja untuk sekarang, karena Lo masih kategori pendatang baru,” ungkap Nina menjelaskan. “Lagian, apa bagusnya tas itu sih, cuma logo H. Udah gitu nyusahin pula, kudu pake gembok segala ribet!” Alin mengomel ketika ada yang membahas tas yang diagung-agungkan para sosialita itu. “Astaga, Lin. Gue heran, Lo normal gak sih, segitunya sama benda mati,” jawab Nina merangkulnya masuk ke sebuah gerai tas yang Alin cari. “Bukan, gue cuma gak suka harganya aja. Lo paham kan maksudnya,” jawab Alin terkekeh kecil. “Paham sih, tapi Lo ingat, suatu saat Lo bakalan pakai tas itu. Mau gak mau, suka gak suka, itu simbol kaum sosialita, Lin.” “Kita lihat aja nanti, gue bisa berpenghasilan seperti mereka apa tidak. Dan gue gak mau maksain diri gesek kartu gue demi tas itu, Ogah!” “Oke, bisa dimengerti, Lo bagus pakai yang warna coklat itu deh, kalau hitamnya terkesan tua,” kata Nina berpendapat. “Terus, Lo mau yang mana?” “Gue ambil model lain deh, ini aja, boleh gak?” Nina mengambil tote bag berukuran besar. Pertimbangannya, ia butuh menyimpan banyak barang untuk dirinya sendiri dan Alin tentunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD