Setelah pertengkaran Alin dan Tirta di apartemen, keduanya belum bertemu lagi. Hubungannya dengan Alin masih hambar dan saling menjaga jarak. Apalagi, pernikahan Tirta dengan Yola semakin dekat.
"Mas kan nanti ketemu Alin, cek yang bener yah, anak itu kadang semaunya," ucap Yola ketika keduanya sedang berbincang di salah satu kedai kopi di area bandara. Hari ini, Yola mengantar calon suaminya untuk pergi ke Denpasar dalam rangka soft opening klinik kecantikan Beauty Skin cabang Denpasar, anak perusahaan dari Pratama Group.
"Alin sudah dewasa, janganlah memperlakukan dia seperti anak SD. Kasih dia kelonggaran dan kepercayaannya." Tirta memberi pengertian kepada calon istrinya.
"Namanya juga khawatir. Mas paham kan maksudnya," jawab Yola merajuk.
"Iya, saya tahu. Tapi, alangkah baiknya kamu coba kasih dia kesempatan. Alin anak baik kok, percaya deh," kata Tirta lagi.
"Ya udah, hati-hati di jalan." Keduanya berpisah di pintu keberangkatan dalam negeri. Tirta masuk ke dalam dengan menenteng tas nya, ditemani oleh satu orang asisten dan pengawal yang menemaninya kemanapun.
Yola kembali ke rumah, diantar oleh sopir pribadi Tirta yang dipercaya untuk menemani Yola kemanapun selama dirinya berada di Denpasar. Sedangkan Tirta sudah berada di dalam pesawat yang baru saja take off.
"Nanti hubungi manager Alin. Minta waktu untuk bertemu," ucap Tirta kepada asisten pribadinya.
"Baik Pak, kebetulan, tadi saya sudah bertukar pesan singkat dengan Nina. Alin sedang syuting di lokasi kedua. Agak sedikit ribet, tapi okelah." Wawan terkadang memiliki inisiatif sendiri jika berurusan dengan hal pribadi Tirta.
"Ah, kamu selalu selangkah lebih duluan," jawab Tirta terkekeh.
Sampai di bandara Ngurah Rai, Tirta dijemput oleh tim dari Beauty Skin menuju hotel. Di tempat itulah, ia akan bertemu dengan tim Beauty Skin cabang Denpasar.
"Apa yang reservasi banyak?" Tirta kembali bertanya kepada Wawan, asisten pribadinya.
"Full, Pak. Semua booking hotel di tempat yang sama dan sebagian malah udah dari kemaren ada disini," jawab Wawan memberitahu dengan memberikan tabletnya. Data member yang akan melakukan treatment dan pembelian produk, nyatanya cukup tinggi.
"Syukurlah, andai saja Bianca tidak berulah saat itu, tentu Beauty Skin sudah jadi miliknya." Sejenak Tirta terlihat murung jika sudah menyangkut masa lalunya.
"Jalan yang dipilih Bu Bianca Berbeda, Pak. Semoga saja, Bu Yola bisa membantu Bapak meneruskan bisnis ini," ucap Wawan membesarkan hati atasannya.
"Kau benar, semoga saja." Tirta tidak ingin larut dalam kesedihan. Masa depan bersama dengan Yola harus ia pikirkan.
Masuk ke kamarnya, Tirta beristirahat sejenak sebelum acara soft opening dimulai. Membersihkan diri lalu makan siang di hotel tempat ia menginap dilakukan tanpa banyak bicara.
"Mobil sudah siap, Pak. Mau jalan sekarang?" Wawan yang mendapatkan informasi dari driver yang sudah menunggu di lobby, bertanya kepada Tirta.
"Oke, kita jalan. Kamu sudah open card saya kan?" Tirta mengingatkan Wawan.
"Sudah, Pak. Aman," jawabnya sambil mensejajari langkah pria itu keluar dari restoran.
Bertempat di tengah kota Denpasar, klinik kecantikan Beauty Skin dipadati pengunjung yang ingin mengetahui secara langsung, produk apa yang mereka luncurkan dan tentu saja beragam hadiah bagi pengunjung yang beruntung membuat antusias mereka.
Tirta turun dari mobil dibantu oleh asisten dan pengawal yang bersiap. Popularitasnya di kalangan ibu-ibu pecinta Beauty Skin menambah value tersendiri baginya.
"Setdah, rame bener, Wan!" Tirta yang baru saja duduk di tempatnya menatap bangga tim nya yang bekerja keras demi acara ini.
"Kan saya bilang, Pak. Udah kayak pasar. Padahal produk ini termasuk luxury. Tapi, memang balik lagi ke selera dan kepercayaan customer terhadap Beauty Skin." Wawan memberikan pendapatnya.
"Ya sudah, ada bisa minta minuman dingin atau apakah. Saya haus, Wan!"
"Hehehe, iya Pak. Sebentar lagi datang. Saya sudah pesan kok," jawab Wawan santai.
"Saya pikir kamu sudah lupa karena banyak wanita cantik yang datang di acara ini, liat, pada bening-bening," ucap Tirta terkekeh. Ia menunjuk kerumunan ibu-ibu dan wanita muda di boot produk yang akan diluncurkan.
"Bisa aja, Pak." Wawan membantu salah satu office girl yang ia mintai tolong untuk membelikan minuman dingin untuk Tirta. Setelah memberikan tips kepada wanita itu, ia kembali menghampiri Tirta yang sedang sibuk dengan tabletnya.
"Minumannya, Pak." Wawan meletakkan beberapa botol air mineral dingin untuk pria itu.
"Terimakasih, ngomong-ngomong, udah pada mulai neh," ucap Tirta melihat dari layar televisi yang disediakan.
"Iya, nanti Bapak muncul kalau sudah dipanggil oleh MC. Kasih sambutan dikit." Wawan menyerahkan list susunan acara yang ia dapat dari panitia.
"Oke juga, event organizer yang bikin acara ini harus kita apresiasi." Tirta terlihat puas dengan konsep acara uang dibuat untuk Beauty Skin.
Begitu namanya dipanggil, ia ditemani oleh Wawan menuju panggung untuk memberikan sambutan. Kedatangan Tirta mendapatkan tepuk tangan meriah dari para member yang hadir di tempat itu. Beberapa menit menyampaikan sambutannya, Tirta sempat membagikan beberapa souvernir eksklusif dari Beauty Skin kepada pengunjung yang beruntung.
Hidangan yang disajikan secara profesional dan tentu saja lezat menunjukkan bahwa Beauty Skin bukanlah merk abal-abal yang anak beredar di pasaran.
"Saya akhiri sambutan ini, dan silahkan menikmati hidangan dari kami. Terima kasih," tutup Tirta sebelum turun dari panggung.
Di salah satu sudut panggung, terlihat Alin sedang berbincang dengan salah satu rekan modelnya. Tirta tidak bisa menyembunyikan api cemburu yang membelenggu dirinya. Keakraban yang terjalin antara Alinka dan Dimas, sejujurnya wajar, namun rasa memilikinya yang terlalu besar, membuat Tirta tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Tuhan, dia akan menjadi anak tiriku. Lalu apa alasanku cemburu, huft. Sebenarnya apa mau hatiku ini," gumam Tirta. Ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk menghampiri Alin karena tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman dengan gadis itu.
"Bapak kenapa?" Wawan melihat gelagat atasannya yang terlihat murung.
"Kamu lihat gak, itu Alin lagi ngobrol sama siapa?" Tirta meminta Wawan melihat di sudut panggung sebelah kiri.
"Hhmm, itu kan Dimas, Pak. Pasangan model Alin di iklan Bapak," jawab Wawan sambil tersenyum simpul. Ia menangkap ada kecemburuan dari cara bicara Tirta kepadanya.
"Oiya, astaga! Saya sepertinya lelah, acara sampai jam berapa?" Tirta memijit pelipisnya sambil berpikir.
"Tidak perlu sampai selesai, Pak. Karena setelah ini, ada sesi treatment langsung dari dokter yang bertugas. Yang sudah daftar tinggal nunggu giliran masing-masing." Wawan menjelaskan jadwal Tirta sebenarnya sudah selesai. Namun, jika ingin melihat secara langsung acaranya pun tidak ada salahnya.
"Tanyakan kepada Nina, jadwal Alin hari ini sampai jam berapa?"
Tirta merasa harus berbicara dengan Alinka sebelum akad nikahnya dengan Yola diselenggarakan. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman yang tidak penting dan menimbulkan hubungan yang tidak harmonis.