Rumpiin Duda

1010 Words
Bagi Alin, Reyhan memang ganteng dan menarik. Namun, kedatangan pria itu dalam kehidupannya sekarang kurang tepat karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. “Sayangnya Alin lagi berduka, patah hatinya lumayan dalam. Hadeh," gumam Nina dalam hati. Ia memperhatikan interaksi Reyhan dan Alin yang terbilang aman. "By the way, kalian kesini ada yang antar apa gimana?" Setelah membayar makan malamnya bersama Alin dan Nina, ia berinisiatif ingin mengantar kedua gadis manis itu. "Kami dapat fasilitas dari kantor, Pak. Ada driver yang nungguin," jawab Nina kepada Reyhan. "Baiklah, aman yah. Sayang, pada cantik-cantik kalau tidak dikawal, bahaya," ucap Reyhan Sempat bertukar nomor ponsel dengan Alin dan Nina, Reyhan mengantar kedua gadis itu hingga ke lobby untuk kembali ke hotelnya. Selama perjalanan, Nina hanya senyum-senyum sendiri. "Lo kenapa? Gak kesambet kan?" Alin yang tak sengaja menangkap basah Nina dari kaca spion mobil, terheran dengan sikap managernya itu. "Gak Lin, itu orang handsome, ya gak sih, CEO lagi." Lagi-lagi Nina memprovokasi Alin. "Lo kepo bener, sampe cari tahu sejauh itu? Dari kang Cepu kah dari si Mbah?" Alin sudah tidak heran dengan Nina yang tingkat rasa ingin tahunya termasuk tinggi. "Google sih, paling valid dan gak dibumbui. Ganteng Alin," ucap Nina sambil menarik-narik kaos yang ia kenakan. "Hahahaha, Lo kata nikah cuma modal ganteng doang? Banyak pertimbangannya Nina sayang," jawab Alin terkekeh. "Lo yang dibahas udah nikah aja, memang udah pengen Lo?" Nina tahu, Alin masih berusaha menyelesaikan pendidikannya di sebuah universitas di Jakarta. "Iyalah, gue gak mau patah hati sia-sia. Cari pasangan untuk menikah, visi misi jelas dan halal!" Alin menegaskan jika ia tidak ingin terjebak hubungan tidak jelas. Suka sama suka tapi tidak terikat pernikahan. "Cieee, kalau Lo mau nikah ya sama yang seperti Pak Reyhan. Ganteng, mapan dan berpengalaman," jawab Nina memberi pendapat. "Model doi agak mustahil sih kalau gak ada bini," ucap Alin ragu. "Duda say, anak satu. Bisalah," kata Nina terkekeh. "Gila Lo! Dah ah, gue ngantuk. Besok syuting lagi kan?" "Iya, habis ini molor ye, biar besok gak kesiangan," jawab Nina lagi. "Okelah, gue juga ngantuk," ucap Alinka. Keduanya sudah sampai di lobby hotel, setelah mengucapkan terima kasih kepada driver yang mengantarnya, Alin dan Nina kembali ke kamarnya. "Lin, kostum buat besok agak terbuka dikit. Gue dah siapin sunblock," ucap Nina setelah berganti pakaian tidur. "Masih sopan kok, kenapa memangnya?" Alin menaikkan alisnya heran. "Lo kayak gak tahu Tante Yola aja, dia udah komplain sama Pak Tirta. Hehehe," jawab Nina memberi tahu. "Astaga, Mama!" Alinka menepuk jidatnya sendiri, tak habis pikir dengan sang mama. "Ya wajar lah, orang tua. Lo jangan protes lagi, ntar dapat petuah lagi kayak gue. Yah, kecuali Lo mau aja sih," jawab Nina. "Alin, kamu nanti kalau udah seumuran mama, juga kayak gini. Percaya deh sama orang tua. Nurut aja," ucap Alinka menirukan gaya bicara Yola. "Hahaha, persis. Asli deh." Komentar Nina membuat Alinka terbahak. "Gue anaknya, ya durhaka lah kalau gak mirip," jawab Alinka. "Ya ya, percaya gue," sahut Nina. Ia sedang menyiapkan keperluan untuk Alin besok. Karena tempat syuting cukup jauh dari hotel dan memakan waktu seharian. "By the way, Bapak tadi lumayan juga yah, handsome dan manis gitu." Ucapan Alin menjadi bahan ejekan Nina. "Hhmm, baru sadar? Lo dah ketemu dua kali lho, Lin." Nina geleng-geleng kepala melihat reaksi Alin yang malu-malu. "Dih, makanya jangan pake kacamata kuda. Sesekali lihat di sekeliling Lo, kayak gimana. Gak salah kok," ucap Nina bijak. "Mulai, kata-kata mutiara keluar lagi," sahut Alinka memutar bola matanya. "Lo kalau gak dikasih wejangan suka belok. Sesekali jangan terlalu baik sama laki. Yang ada Lo sakit hati mulu." Ucapan Nina memang ada benarnya. Alinka termasuk bucin jika sudah memutuskan untuk mencintai seorang pria tanpa pandang bulu. Apakah pria itu layak atau tidak. "Hmmm, iya bawel! Jadi, tema rumpi malam ini duda beranak satu neh?" Alinka tertawa karena saat ini kehidupan asmaranya diisi oleh pria berusia matang dan berstatus duda. "Yah, duda semakin bersinar," jawab Nina tak mau kalah. Keduanya sudah berbaring di ranjang untuk mengistirahatkan tubuh masing-masing. "Apanya yang bersinar? Dompetnya?" Alin tertawa kecil sambil menutupi wajahnya. "Tuh pinter kan sekarang. Ya gak masalah sih, penting bukan milik orang aja," ucap Nina berpendapat. "Lagian, hidup gue akhir-akhir ini banyak duda bertebaran. Kagak ada yang single apa ya di Jakarta, status jomblo gitu," kata Alin. "Pasti ada, tapi Lo kebetulan aja ketemunya mangga matang. Bukan yang mentah," jawab Nina lagi. "Tua maksud Lo?" "Iyalah, tapi gakpapa lagi. Kan siapa tahu sefrekuensi sama Pak Tirta," ucap Nina setelah menganalisa beberapa hal dari Reyhan dan Dimas. "Dih, Lo kira doi mau sama gue yang sekuter ini? Pasti doi mintanya yang selevel lah sama dia. Gue apaan, mahasiswa belum lulus. Masih minta jajan sama Mama, gak deh Nin," jawab Alinka. "Kalau dah cinta, gak akan ada lihat yang seperti itu. Cinta ya cinta aja. Gak butuh sebab dan kriteria njlimet," sahut Nina. "Sok tua, Lo!" "Dah tidur aja, besok bakal sibuk kita." Nina mematikan lampu kamar agar keduanya nyaman beristirahat. Sedangkan Reyhan, duda beranak satu yang sedang menjadi topik pembicaraan dua gadis cantik itu sedang berjibaku dengan pekerjaannya. Ditemani segelas kopi, ia duduk sambil memandangi malam. "Dua tahun sudah kamu pergi, hari ini, aku bertemu gadis manis. Kurasa aku suka padanya. Boleh kan?" Reyhan menatap foto wanita terindah dalam hidupnya. Begitu cepat Tuhan mengambilnya, membuat Reyhan sempat oleng dan tidak memiliki semangat hidup. Mengalami keterpurukan, membuat dirinya tertutup dan tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun. Dia tahun Reyhan berproses hingga bisa merelakan sang istri yang berpulang lebih dulu. "Pulang dari Denpasar, aku akan datang dan bawakan bunga kesukaanmu." Reyhan mengusap foto terakhir dengan mendiang sang istri ketika mereka berlibur ke Jepang. Negara yang diimpikan akan menjadi tempat tinggal ketika mereka sudah menua, sayang, takdir berkata lain. Sekilas, sifat Alin memang mirip sang istri yang cenderung cuek kepada orang asing. Reyhan tidak mempermasalahkan itu, perlahan, ia akan mencari cara untuk mendekati Alinka. Gadis cantik yang mencuri perhatiannya pada pandangan pertama. Gadis yang berhasil menggetarkan hatinya setelah mati bersama dengan kepergian sang istri tercinta. Reyhan berharap, Alin adalah jawaban dari doanya selama ini. Wanita baik yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD