Bertemu Lagi

1046 Words
Proses syuting iklan Beauty Skin berlangsung lancar, syuting di tempat terbuka seharian membuat Alin lelah. Menjelang malam, ia dan Nina kembali ke kamarnya untuk beristirahat. “Lo mau spa apa gimana? Pak Tirta udah kasih Lo fasilitas, Lin?” Nina menawarkan kepada Alinka. “Dia yang bayarin?” Alin menaikkan alisnya tidak percaya. “Astaga, iya Alin sayang,” jawab Nina sambil memutar bola matanya malas. “Hehehehe, baiklah. Aku mau deh, Lo juga sekalian temenin gue yah,” ucap Alin sambil merapikan rambutnya di depan cermin. "Gak jadi mandi neh?" Nina meledeknya karena wajahnya berubah ceria ketika tahu jika ia tidak perlu mengeluarkan uang sendiri. "Gak deh, kan nanti mandi juga, lagian gue masih cantik kan?" Alin menaik-turunkan alisnya menatap Nina menggoda. "Dih, udah ayo. Jangan lupa bawa handphone, jaga-jaga kalau Tante Yola call," ucap Nina sambil menghubungi orang salon untuk konfirmasi reservasi. untuk konfirmasi reservasi. Tempat spa rekomendasi Tirta yang berada di kawasan Kuta memang menjadi salah satu pilihan dikala penatnya pekerjaan Alin. Setelah seharian berjemur di bawah terik matahari, gadis itu memanfaatkan fasilitas dari Tirta untuk memanjakan tubuhnya. “Oke juga tempatnya, besok-besok, gue nginep sini mau lah, Nin. Lo bilangin Om Tirta yah,” ucap Alin sambil membubuhkan tanda tangannya di meja resepsionis. “Hmmm, ntar deh gue bilangin. Sambil kasih laporan hasil syuting besok yah,” jawab Nina. Keduanya sudah berada di ruang perawatan. Sejenak merilekskan tubuh agar kembali fit untuk esok hari. “Besok syuting sampe jam berapa?” Dari gelagatnya, Nina tahu jika Alin ingin mengunjungi tempat tertentu. “Lo mau kemana memangnya?” Nina menanggapi dengan santai ucapan Alin karena ia sudah hafal betul tabiat sahabatnya. “Nusa Penida,” jawab Alin tanpa beban. “Lo yang bener, kita harus cepet balik Jakarta kalau ini kerjaan beres,” jawab Nina geleng-geleng kepala. “Masih ada waktu beberapa hari lah, Nin. Gue pengen extend,” bujuk Alin dengan wajah melasnya. “Yang pertama, gue cek jadwal Lo, kedua harus izin sama Tante Yola dan Pak Tirta,” jawab Nina tegas. “Ish, gak asyik. Udah di Denpasar mah mending langsung capcus aja,” gumam Alin sambil menikmati pijatan dari terapis di salon tersebut. “Astaga!” Nina memilih diam dan tidak menanggapi ucapan Alin. Andai saja Alin tahu jika pekerjaannya sebagai managernya cukup berat, karena Tirta dan Yola memberikan sederet aturan yang tidak boleh dilanggar oleh Alin. Puas merelaksasi tubuhnya, Nina mengajak Alin ke sebuah restoran untuk makan malam. “Hard Rock yuk,” ucap Nina berusaha menghibur Alin. “Boleh deh, lapar juga neh,” jawab Alin. Keduanya baru saja keluar dari salon tersebut. Menuju ke salah satu tempat hangout kekinian. Suasana “Lo duduk dulu deh, gue ke toilet dulu,” ucap Nina. "Gak pake lama, Nina. Gue lapar," jawab Alin terkekeh. "Bawel!" Sahut Nina menjulurkan lidahnya meledek Alinka. Suasana cafe semakin malam semakin ramai, Alin memesan minuman sambil menunggu Nina. Alunan musik yang diperdengarkan di cafe tersebut menambah suasana romantis. "Sayangnya gue sendirian, coba ada pasangan kayaknya gak akan sepi kek gini," ucap Alin dalam hati. Melihat sekelilingnya yang dipenuhi pasangan yang sedang dimabuk cinta. "Hhmm, permisi, maaf, sendirian?" tanya Reyhan kepada Alin. Karena kondisi cafe sedang ramai tak sepertinya tidak ada kursi kosong, ia menghampiri Alin, wanita yang menabraknya di restoran kemarin. Pilihan terbaik daripada ia menumpang duduk di meja orang asing. "Eh, Bapak yang saya tabrak kemarin bukan ya? Silahkan, ayo duduk sini, Pak. Kebetulan saya lagi nunggu manager saya," ucap Alin ramah. "Terima kasih, kebetulan saya lagi sendiri ini," jawab Reyhan terkekeh. Suatu kebetulan yang ia harapkan bisa bertemu dengan Alin di tempat ini. "Wah, rame neh." Nina yang sudah selesai dengan urusannya kembali duduk di mejanya. Wajah Nina berbinar ketika pria yang memberikan kartu nama kepadanya kemaren berada di tempat yang sama dengannya dan Alin. "Kebetulan neh, lagi rame. Gak ada meja kosong. Saya gak reservasi sih tadi, salahnya itu," ucap Reyhan kepada Alin. "Gakpapa Pak, kita juga cuma berdua. Lumayan ada yang jagain kita disini, hehehe." Nina tertawa kecil. "Oke deh, belum pada pesan makan kan? Ayo pesan, saya yang traktir deh," kata Reyhan membuat Alinka berbinar. Baginya menyenangkan jika ditraktir makan dan dapat membeli sesuatu yang berguna untuk investasi. Inilah motto hidup Alin saat ini. "Hhmm, lumayanlah dapat gratisan. Asyik," ucap Nina antusias. Reyhan hanya tertawa kecil melihat dua gadis cantik di depannya cukup antusias hanya karena ditraktir makan malam. Ia memanggil pegawai cafe yang kebetulan lewat untuk meminta buku menu. “Sekalian pesan deh Mas, kami sudah lapar,” ucap Reyhan kepada pegawai tersebut. “Pak, makasih lho udah traktir kita,” ucap Alin malu-malu setelah menyampaikan menu pilihannya kepada pegawai restoran itu. “Sudah, makan aja belum kok udah makasih,” jawab Reyhan tertawa. “Ngomong-ngomong, dalam rangka apa ke Denpasar, Pak?” Nina cukup luwes ketika berhadapan dengan orang lain, nyatanya bisa mengimbangi Alinka yang cenderung kaku dan agak introvert. “Ya kerja aja sih, lihat progres villa saya di Tabanan. Kalian?” “Saya juga kerja Pak, jadi model iklan skincare,” jawab Alin. “Ouwh, paham. Jadi, berapa lama disini?” tanya Reyhan lebih lanjut. “Besok malam balik Jakarta dan ada scene syuting lagi di daerah Lembang, Pak,” jawab Nina. “Hmmm, baiklah. Tinggal di Jakarta?” “Iya, Pak. Kenapa?” Alin menatap Reyhan. Terlihat kurang nyaman, namun Alin berusaha menyembunyikannya untuk menghargai Reyhan. “Saya ada cafe di daerah Sudirman, kapan-kapan mampir yah,” jawab Reyhan sambil menerima makanan pesanannya yang sudah datang. “Boleh, Pak. Share aja alamatnya ke nomor saya, kan saya managernya,” jawab Nina. Karne terlalu bersemangat, Alin sampai menginjak kaki Nina. Gadis itu cukup pasif jika berurusan dengan lawan jenis. Berbanding terbalik dengan Nina yang lebih ekspresif. “Baiklah, gak boleh langsung yah,” jawab Reyhan meledek Nina. “Biar saya kelihatan kerja, Pak. Saya sudah dibayar mahal sama orang tuanya.” Pengakuan Nina membuat Alin tepok jidat. Bisa-bisanya Nina seterbuka itu dengan orang lain. “Oke, paham saya.” Reyhan manggut-manggut. “Maaf Pak, saya artis dan harus jaga image,” ucap Alim tiba-tiba. “Iya, tidak masalah. Saya paham kok,” jawan Reyhan mempersilahkan Alin dan Nina menyantap makan malamnya. Tanpa kedua gadis itu sadari, Reyhan memperhatikan keduanya. “Astaga, dua gadis ini sama-sama cantik. Tapi, memang Alin memiliki pesona tersendiri,” gumam Reyhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD