bc

Gara-Gara Kesalahan Semalam, Dua Pria Tampan Berebutan

book_age18+
36
FOLLOW
1K
READ
billionaire
love-triangle
family
HE
decisive
bxg
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

(R18+) Reverse Harem, Perlu kebijaksanaan dalam menelaah cerita ini - Bening hanya ingin menghancurkan mantan kekasihnya. Sayangnya, ia malah terjebak di antara Calvin Mahendra dan Samuel Sebastian—dua pria yang tidak pernah kalah dalam mendapatkan apa yang mereka inginkan namun memiliki rahasia besar yang tak pernah orang tahu bahwa mereka terkena kutukan setelah sebuah malam di Paris. Kutukan itu adalah "Anu-nya"ga bisa berdiri sampai mereka bertemu Bening dalam ketidak sengajaan.

.

Berebut untuk mendapatkan Bening karena dia adakah " OBAT " siapa yang berhasil memenangkan?.

.

"Habiskan satu malam bersamaku." Samuel tersenyum.

.

"Jangan dengarkan dia." Calvin menarik Bening ke sisinya. "Kalau kau ingin bermain api, pilih pria yang bisa membakarmu sampai habis."

chap-preview
Free preview
Target
"Nggak cuma wajah kamu yang kurang cantik, tapi tubuh kamu juga kurang..." Gian menggantung kalimatnya, sementara tangannya bergerak di udara, menggambarkan sebuah kurva meliuk yang menghina bentuk tubuh lawan bicaranya. Bening mengepalkan tinjunya amat erat. Kuku-kukunya memutih, menahan amarah yang membuncah di d**a. “Kurang cantik? Lalu, selama ini kamu anggap aku apa?” protes Bening. “Ning…jangan merajuk kaya anak kecil. Semua di lingkaran kita tahu, kamu kekasihku. So, what? Ini bisnis, kamu harus profesional!” Gian menjelaskan dengan penjelasan yang menurut dia sebuah kebenaran. “Profesional katamu?” Bening sudah hampir menangis, tapi dia tahan. "Intinya, aku nggak bisa memberikan proyek ini ke kamu. Nilainya sangat tinggi, Ning. Ada potensi klien bakal menaikkan nilai investasi kalau proyek ini berada di tangan yang tepat," tambah Gian dengan sikap acuh tak acuh. "Tangan yang tepat itu... maksudmu Bella?" potong Bening. Suaranya bergetar menahan perih. "Kamu sudah tahu?" Gian justru terkekeh miring, melemparkan tatapan meremehkan yang menyakitkan. Kata-kata makian sudah tertahan di ujung lidah Bening. Namun, dia mati-matian menelannya kembali. Dia tahu, mengamuk hanya akan membuatnya terlihat menyedihkan dan tidak berdaya di mata pria itu. Lima tahun. Bening telah mengorbankan masa mudanya, sebagai lulusan terbaik dan termuda dari kampus, dia bisa mendapatkan kesempatan melanjutkan kuliah sampai S3 tapi atas nama cinta dia mendampingi Gian membangun kerajaan bisnisnya. Memeras otak dan keringat demi mendampingi Gian, yang semua dimulai dari nol. Kemampuan negosiasi dan insting bisnis tajam miliknya adalah pilar utama kesuksesan perusahaan mereka. Namun hari ini, Gian menendangnya begitu saja demi Bella—wanita dari masa lalu pria itu yang tiba-tiba datang mengusik. "Kamu nggak perlu marah dan merasa diremehkan, Ning. Kamu tetap punya peran penting di proyek ini," ucap Gian tanpa dosa. "Menjadi asisten Bella?" sahut Bening sengit. "Iya, Ning. Bantu dia. Kamu harus tahu... aku cuma memanfaatkan Bella demi meloloskan proyek ini. Perempuan yang akan aku nikahi nanti tetap kamu," bisik Gian seraya mengulurkan tangan, mencoba menarik pinggang Bening ke dalam pelukannya. Plak! Bening menyentak tangan itu dengan kasar. "Masih marah?" tanya Gian santai. Bening tidak sudi menjawab. Dia berbalik, melangkah keluar dari ruangan Gian dengan hati yang hancur berkeping-keping sekaligus diselimuti rasa kecewa yang mendalam. “Membantu Bella? Kalau memang dia begitu kompeten kenapa masih membutuhkan bantuannya?” Bening menangis, menghapus air mata dengan punggung tangannya dengan perasaan hancur. Dan, rasa sakit itulah yang menuntun langkah Bening malam ini ke sebuah pesta gala mewah. Ini adalah perjamuan tertutup yang hanya dihadiri oleh kaum elite papan atas dan tamu-tamu undangan eksklusif. Bening bahkan harus membayar sangat mahal kepada pihak panitia dalam ruangan demi mendapatkan selembar surat undangan agar bisa menembus pengamanan ketat tempat ini. Tujuannya ke sini hanya satu: Calvin Mahendra. Pria itu adalah salah satu investor utama dalam proyek raksasa yang sedang diincar oleh Gian. Bening bertekad merebut perhatian Calvin demi membalas dendam. Gaun malam berbahan satin berwarna putih dengan detail mutiara membalut pas di tubuh ramping Bening, senada dengan kulitnya yang putih bersih, membuatnya nampak seperti malaikat. Di bawah temaram lampu kristal aula, matanya yang tajam menyapu ruangan, mencari sosok Calvin Mahendra. Namun, emosinya yang belum stabil membuat konsentrasinya terpecah. Langkahnya yang tergesa di atas lantai marmer licin, berpadu dengan efek segelas sampanye yang baru diminumnya, mendadak membuat kepalanya berputar. Krek! Malang tak dapat ditolak, hak sepatu stiletto nya patah. Tubuh Bening kehilangan keseimbangan dan langsung limbung ke depan. Dia memejamkan mata pasrah, bersiap merasakan benturan keras dengan lantai marmer yang dingin dan—rasa malu! Namun, tubuhnya tidak pernah menyentuh lantai. Dua pasang lengan kekar yang kokoh tiba-tiba menangkapnya secara bersamaan dari dua arah yang berbeda. "Hati-hati, Signorina," sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan terkesan dingin berbisik tepat di telinga kanannya. Aroma kayu cendana yang mahal dan menenangkan langsung merayap masuk ke indra penciumannya. "Sepertinya dewi keberuntungan sedang sengaja menjatuhkanmu ke pelukanku malam ini," sahut sebuah suara lain di sisi kirinya. Nada bicaranya terdengar lebih santai, namun menyimpan getaran menggoda yang amat berbahaya. Bau parfum maskulin yang segar dan tajam menusuk hidung Bening. Bening tersentak dan langsung membuka matanya. Detak jantungnya seketika berhenti. Dia kini terjebak di tengah-tengah kepungan dua pria bertubuh jangkung dengan ketampanan luar biasa yang sanggup membuat seluruh wanita di aula itu menahan napas. Di sebelah kanannya, berdiri seorang pria dengan setelan tuksedo hitam berpotongan sempurna. Tatapan matanya tajam sedingin es, memancarkan otoritas mutlak yang tak terbantahkan. Rahangnya tegas dan tegas. Pria itu adalah Calvin Mahendra! Target utamanya, pria yang memegang kendali atas nasib bisnis Gian. Sementara di sebelah kirinya, berdiri seorang pria dengan kemeja velvet berwarna navy yang kancing atasnya sengaja dibuka, menampilkan senyum miring yang mematikan. Matanya yang berwarna coklat gelap menatap Bening dengan binar ketertarikan yang pekat, seolah baru saja menemukan mainan baru yang paling menarik di dunia. Pria itu adalah Samuel—atau yang biasa disapa Sam—salah satu miliarder muda terkaya yang terkenal eksentrik, berkuasa, sekaligus berbahaya di dunia bisnis. Posisi mereka saat ini teramat intim. Tangan kekar Calvin mendekap pinggang ramping Bening dengan begitu protektif, sementara tangan Sam menahan bahu polos Bening yang terbuka, mencegah tubuh wanita itu merosot jatuh. Bening benar-benar terkunci erat di antara d**a bidang dua pria paling berpengaruh di kota ini. "Lepaskan dia, Sam. Dia hampir jatuh karena kecerobohanmu yang berjalan terlalu cepat," ucap Calvin dingin, matanya menatap Sam dengan kilatan permusuhan yang kentara. Sam justru terkekeh. Bukannya menjauh, tangannya malah merosot turun ke lengan Bening, mengusap kulit halusnya dengan gerakan berani yang sensual. "Aku? Justru jalanku sudah benar, Cal. Kamu yang tiba-tiba memotong jalurku karena ingin mencuri start" Ketegangan mendadak merayapi sudut aula tersebut. Aura intimidasi dan d******i dari Calvin dan Sam saling berbenturan di udara, membuat atmosfer di sekitar mereka terasa begitu menyesakkan hingga Bening sulit bernapas. "Kamu mengenalku?" tanya Calvin tiba-tiba, kini mengalihkan netra segelap malamnya langsung ke manik mata Bening, mengabaikan kehadiran Sam sepenuhnya. Sebelum Bening sempat menjawab, Sam sudah menarik tubuh Bening lebih rapat ke arahnya, memangkas jarak di antara mereka hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Jangan hiraukan dia. Ikut denganku, dan aku akan mengganti sepatumu dengan apa pun yang kamu inginkan malam ini. Termasuk diriku." Bening terpaku, otaknya mendadak macet. Rencana awalnya hanya ingin memikat Calvin demi menghancurkan Gian. Namun sekarang, dia justru berakhir menjadi pusat pusaran konflik di antara dua pria tampan kelas atas yang tampak siap saling mencabik demi memperebutkannya. Jreep! Tiba-tiba, seluruh lampu di aula utama padam total. Blackout. Pekikan kaget langsung terdengar bersahut-sahutan dari para tamu undangan dalam kegelapan. Dalam kepanikan Bening merasakan pergelangan tangannya ditarik dengan kuat. Seseorang menariknya ke arah kanan, sementara orang yang lain mencengkeram pinggangnya dan menariknya ke arah kiri dalam detik yang sama. Tubuhnya terombang-ambing di tengah kegelapan. Hingga tiba-tiba, sebuah sentuhan bibir yang panas, basah, dan menuntut langsung membungkam bibir Bening dengan kasar namun penuh gairah di tengah kegelapan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
754.1K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
986.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
364.0K
bc

Not just, the Beta

read
350.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook