“Terima kasih.”
Keyshia tidak tahu harus beraksi seperti apa saat Ashton mengatakan hal itu. Dia saja tidak lama ini baru mengetahui jika Ashton sudah tidak memiliki seorang ibu dan pembicaraan tentang orang yang sudah tidak ada itu terlalu canggung untuk mereka lakukan.
“Tadi kamu sangat percaya diri. Lalu kenapa kamu malah tidak yakin dengan penilaianku?”
“Karena ekspresimu,” jawab Keyshia jujur.
“Memangnya seperti apa ekspresiku?”
“Seperti ini.” Keyshia memperaktikkan bagaimana ekspresi Ashton ketika melakukan suapan pertamanya. Kedua alisnya akan berkerut dalam dengan ekspresi yang serius. Lalu beberapa saat kemudian dia akan mengangguk, seakan dia membenarkan apa yang sudah dia kira sebelumnya. Bagi Keyshia, itu tentu ekspresi yang tidak menunjukkan ketertarikan.
“Ya Tuhan.” Ashton menahan tawanya. “Aku bahkan tidak menyuruhmu untuk memperagakannya.” Melihat orang lain memperaktikkan ekspresinya, Ashton jadi merasa malu.
“Bukankah kamu bertanya seperti apa ekspresiku?” Wajah Keyshia mulai memerah menahan malu.
“Kamu bisa saja menjelaskannya dengan kata-kata. Tapi, yang tadi sangat menghibur.”
“Ah… hahaha, begitu ya.” Keyshia tertawa canggung. Dia berharap terlihat mempesona dihadapan Ashton, tapi kenapa dia malah merasa seperti badut sekarang?
“Tawamu terdengar terpaksa.”
Keyshia mengerjapkan matanya. Apa Ashton baru saja dengan berani mengomentarinya? Ternyata Ashton memang tidak pernah ragu untuk mengatakan pendapatnya.
“Itu karena aku merasa malu.”
“Tidak perlu merasa malu di depanku.”
“Akan kuusahakan.”
Seketika suasana mendadak sepi. Keyshia yang memang bukan seorang yang aktif memulai pembicaraan jika tidak diberi topik, tidak tahu harus berbasa-basi apalagi dengan Ashton. Dia yang sudah mengharapkan makan malam yang hangat, bagaimana bisa menjadi dingin seperti ini?
“Aku kira kamu akan membawa mobil.” Ashton memecah keheningan.
Keyshia yang memang diam-diam memperhatikan Ashton, sedikit terkejut saat mendengar Ashton bertanya. Pria itu bahkan bertanya tanpa menatap ke arahnya sedikit pun karena terlalu sibuk memandangi daging ayam yang ada di atas piring.
“Aku tidak punya mobil.”
Gerak tangan Ashton terhenti untuk sesaat. Dia tampak sedikit kaget mendengar ucapan Keyshia.
“Ternyata kamu sangat peduli dengan lingkungan.”
“Tidak, itu karena aku tidak punya banyak uang saja.”
Jawaban Keyshia seketika membuat Ashton merasa canggung. Dia sudah mengatakan sesuatu yang tidak perlu. Tapi sesaat kemudian suara tawa terdengar yang membuat Ashton mau tidak mau menatap Keyshia. Perempuan di depannya ini ternyata tidak peduli dengan penilaian seseorang dalam hal kekayaan.
“Sebenarnya, ini juga alasanku mau memasak. Aku tidak punya cukup uang untuk mengajakmu makan malam di restoran mewah. Aku pikir dengan ini ketulusanku bisa tersampaikan jika aku benar-benar ingin membalas kebaikanmu. Jika saja tidak ada kamu malam itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.”
Ashton tidak bisa berkata-kata lagi mendengar pengakuan Keyshia. Jika dia perhatikan, Keyshia memang bukan perempuan yang berpenampilan mewah dengan menggunakan barang branded.
“Aku sangat terkesan dengan makan malam ini,” puji Ashton untuk menghentikan rasa canggung yang awalnya disebabkan oleh ucapannya itu.
“Aku senang mendengarnya.” Senyum tipis dan ketulusan dari ucapan Ashton membuat Keyshia tersenyum. “Dan ternyata kamu bukan seperti yang kubayangkan.”
“Memangnya, seperti apa aku di matamu?”
“Awalnya aku kira kamu pria menakutkan yang memiliki kehidupan yang liar.” Dengan berani Keyshia mengungkapkan pendapatnya.
Dilepasnya alat makan itu dengan sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi. Pandangan Ashton lurus menatap Keyshia dengan serius.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya Ashton penasaran. Dia tampaknya penasaran dengan penilaian Keyshia, seorang perempuan yang baru ditemuinya tidak lebih dari empat kali.
“Dari aura, cara berpakaian, dan dari ekspresimu. Itu semua membuatmu terlihat seperti itu. Tapi yang paling berperan tentu ekspresimu yang terlihat datar dan dingin, tapi kadang-kadang kamu tampak seperti pria nakal.”
“Begitukah?”
“Iya, tapi siapa yang menyangka jika kamu memiliki sisi yang lembut.”
Lembut, itu terdengar asing bagi Ashton. Tidak pernah ada yang mengatakan dirinya itu lembut.
“Sepertinya kamu tidak punya mata.”
“Aku juga berpikir seperti itu.” Keyshia malah mendukung ucapan Ashton. “Tapi tidak mungkin bukan jika pria kasar bisa membuat lagu yang menyentuh hati seperti itu?”
Ucapan Keyshia terus mengejutkan Ashton.
“Aku membuat lagu karena uang.”
“Kamukan sudah kaya? Kamu bahkan tidak perlu terjun menjadi produser atau pun komposer untuk mendapatkan uang karena perusahaan itu milikmu.”
“Itu milik Ayahku dan dia terlalu pelit padaku. Jadi aku harus bekerja keras sepertimu. Apalagi aku orang yang tidak pernah puas.”
“Ah, begitu ya. Aku kira lagu itu kamu buat dari perasaan terdalammu.”
“Apa kamu menikmati lagu itu?”
“Sangat. Lirik dan musiknya membuatku hanyut sampai berpikir jika itu adalah kisahku sendiri. Bahkan saat aku sendiri dan mendengarkan lagu itu, tanpa sadar aku menangis. Bagiku itu sebuah masterpiece. Aku yakin lagu itu bisa memenangkan penghargaan,” puji Keyshia yang memang sangat suka lagu yang dimainkan oleh Utopia, grup baru dari Hebe. Dia bahkan memutar lagu itu terus menerus saat dia berada di rumah.
Mendengar seseorang memuji lagu yang dia buat membuat Ashton senang. Apa yang ingin dia sampaikan tampaknya tersampaikan dengan baik.
“Aku mengatakan ini bukan karena kamu ada di depanku. Aku memang sangat menyukainya. Bahkan bukan hanya aku, orang-orang di internet bahkan mengatakan hal yang serupa.” Keyshia memperlihatkan daftar lagu yang sering dia putar. “Lihat, lagu ini ada di bagian teratas.”
Keyshia, perempuan di depannya ini awalnya terasa mencurigakan. Memaksa untuk membalas kebaikan yang dari awal dapat Ashton tebak jika itu semua akan berakhir dengan makan malam. Tapi siapa sangka jika itu hanya prasangka buruknya saja.
“Senang mendengarnya jika kamu sangat menyukai lagu itu.”
“Aku bahkan berencana untuk mendengar lagu buatanmu yang lainnya.”
“Tidak banyak yang seperti itu.”
“Aku penikmat musik. Jadi aku tidak terpaku pada satu genre saja.”
“Semoga kamu menyukai yang lainnya.”
Obrolan tentang musik itu berakhir, begitu juga dengan piring mereka yang akhirnya bersih. Sepotong puding buah kemudian Keyshia berikan. Ini akan menjadi makanan penutup mereka sebelum semuanya berakhir.
Kali ini ekspresi Ashton tidak terlalu terlihat seperti sebelumnya. Kerutan di alisnya tidak terlalu dalam yang membuat Keyshia berpikir jika puding buahnya tidak sesuai dengan selera Ashton.
“Apa rasanya kurang kamu suka?”
“Ini sedikit kurang manis.”
“Apa kamu suka manis?!” tanya Keyshia heboh. Jangan sampai perkiraannya salah jika Ashton adalah pria yang suka makanan yang tidak terlalu manis.
“Selama manisnya dalam batas wajar, aku menyukainya.” Setelah mengatakan itu, Ashton menyadari jika tatapan Keyshia tampak aneh. “Apa itu terlihat aneh?” tanyanya bingung.
“Ini karena biasanya teman-temanku meminta yang tidak terlalu manis. Jadi, kupikir hal itu akan berlaku untukmu juga.”
“Semua orang memang sering berpikir seperti itu. Apalagi bagi orang yang baru mengenalku.”
Keyshia mengangguk membenarkan. Dia memang sudah terlalu percaya diri tanpa bertanya tentang makanan kesukaan Ashton. Tapi jika dia melakukan itu, bisa-bisa Ashton akan merasa curiga.
“Oh ya, bagaimana dengan temanmu itu? Apa kamu tidak menceritakan kejadian waktu itu?” Ashton akhirnya mengingat hal yang ingin dia tanyakan.
“Dia terlalu mabuk hingga tidak mengingat jika aku pergi bersamanya.”
“Temanmu itu bahkan tidak menelepon sama sekali. Tampaknya dia benar-benar melupakanmu malam itu.”
“Dia memang melupakanku. Bahkan dia kaget saat melihatku baru pulang pagi harinya.”
“Dia kaget karena kamu tidak pernah tidak pulang, kan?”
Keyshia mengangguk membenarkan. “Tapi setelah itu dia meminta maaf padaku. Dia menyesal karena sudah melupakan hingga membuatku dalam bahaya.”
“Jangan memaksa dirimu untuk pergi ke tempat seperti itu lagi. Apalagi hanya berdua saja. Itu sangat berbahaya bagi gadis yang terlalu polos sepertimu.”
“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku.”
Kata khawatir itu membuat Ashton tertawa mendengarnya. Keyshia pun sadar jika ucapannya itu seharusnya tidak dia ucapkan tanpa berpikir panjang.
“Aku tidak mengkhawatirkanmu. Hanya saja bisa saja tidak akan ada yang mau menolongmu lagi.”
Pipi Keyshia memerah karena menahan malu.
“Aku akan berhati-hati.”
Acara makan malam itu pun berakhir. Keyshia membantu Ashton untuk membereskan semua kekacauan yang dia buat. Membereskan semua itu dalam diam hingga membuat Keyshia merasa tertekan. Untungnya itu semua cepat bersih yang membuat Keyshia bisa bernapas lega.
“Aku akan mengantarmu pulang.”
“Hah?!” Saking tidak percaya dengan apa yang dia dengar, Keyshia sampai mencari anak rambut yang menutupi telinganya, padahal rambutnya itu sudah dia buat agar tidak menghalangi dirinya saat makan.
“Aku tidak tega melihatmu pulang sendirian, apalagi ini sudah malam.”
Ini hal yang Keyshia inginkan saat itu dan baru sekarang dia mendapatkan tawaran antar pulang ini.
“Tidak, tidak usah.”
Tapi Keyshia malah mengatakan kalimat penolakan yang membuat Ashton mengernyit bingung.
“Apa kamu takut? Aku akan menggunakan mobilku yang lain.”
Dia punya mobil yang lain, tapi waktu itu dia tega menyuruhku untuk pulang sendirian, batin Keyshia menahan kesal.
“Bukan karena itu. Aku hanya saja tidak ingin merepotkanmu lagi.”
“Apa kamu yakin?”
“Ya. Aku sangat yakin.”
“Ya sudah kalau begitu.”
Ternyata dia tidak memaksa, Keyshia menatap Ashton takjub. Ini memang yang dia inginkan. Dia ingin membuat Ashton berpikir jika dia memang berniat merebut hati pria itu. Tentu saja Keyshia sudah memiliki rencana cadangan agar bisa dekat Ashton lagi. Rencananya itu ada pada jaket yang lupa dia bawa. Tidakkah dia memang selalu beruntung dalam kesialan?
Akhirnya Keyshia keluar juga dari rumah Ashton. Dia sudah memesan taksi sebelumnya. Untuk kali ini, dia akan naik taksi sampai ke depan apartemennya karena transfortasinya ini ditanggung oleh atm yang diberikan Sheena.
“Tapi aku tidak menyangka jika jalan ini terlihat sangat menyeramkan saat malam hari!” pekik Keyshia.
Sekarang dia menyesal sudah menolak keinginan Ashton untuk mengantarnya pulang. Tapi jika dia tidak seperti itu, Ashton akan menganggapnya seperti perempuan lainnya.
Keyshia merengut sedih. Ini sudah terlanjur, jadi dia hanya perlu menahan ketakutannya.
“Lain kali aku tidak akan menolaknya,” gumam Keyshia.